Ibu Untuk Tuan Muda

Ibu Untuk Tuan Muda
Marah


__ADS_3

Haiii readers tercinta, terima kasih yang masih setia dengan Baby El, dan atas dukungan yang kalian berikan.


Yang belum, semoga berkenan meninggalkan jejak like, komen, dan vote ya.


Happy Reading


💐💐💐💐💐💐💐


Nyonya Amel segera mendatangi Ama, semua pengunjung telah dibubarkan paksa. Dia tak menyangka akan seperti ini kejadiannya.


"Bukahkah kau sudah pulang?" gumam Nyonya Amel.


"Arr, kau belum pulang?" tanya Ama.


Henry baru saja datang, dengan wajah garang. Benar benar seperti singa buas yang hendak memangsa. Dia terlihat sangat marah. "Ama, Mom, kita pulang sekarang!" ucap Henry dengan wajah datar.


Adel memandangnya dengan raut heran, apa yang sebenarnya terjadi? Ada banyak pasukan Bejo. Dan manusia kutub itu, bukankah dia seharusnya berada di kantor?


Berbagai macam pertanyaan berputar dikepalanya. Tetapi Adel memilih diam. Begitupun dengan Ama dan Nyonya Amel, mereka berdua menyadari ada yang tidak beres disini. Tetapi tak ada yang berani membantah. Melihat wajah Henry, Ama yakin bahwa ada masalah yang sangat serius, sampai Henry turun tangan sendiri.


Mereka pulang dalam diam, di perjalanan hanya ada ocehan El. Henry bersama Adel dan El satu mobil. Sedangkan Ama dan Nyonya Amel di mobil belakang bersama Bejo.


"Maafkan saya Tuan," ucap Adel dengan rasa takut.


"Ini semua salah saya, kalau saja saya...."


"Kau diamlah!" Henry memotong ucapan Adel dengan nada tinggi. Bentakan Henry membuat El ketakutan, bayi itu menangis sejadi jadinya. Adel berusaha menenangkannya, namun ia lupa bahwa semua keperluan El ada dimobil Bejo.


Aku harus bagaimana ini? Sepertinya El sangat takut, karena suara manusia kutub itu. Seperti habis makan toa masjid. Kalau aku bicara, nanti malah tambah ngegas dia.


Mau tak mau Adel mengeluarkan jurus andalannya. Ia menaikkan kaos yang dia pakai. "Heiii mau apa kamu hah?" suara Henry sedikit pelan.


"Menenangkan El," ucap Adel polos.


"Lalu apa hubungannya dengan kau menaikkan bajumu itu?" tanya Henry.


"Hanya ini satu satunya cara Tuan," Adel membela diri.


"Apa kau berniat menggodaku hah?" suara Henry meninggi.


"Bukan begitu Tuan." Adel kehabisan kata kata untuk menjelaskan.


"Hah terserah kau saja, cepat kau buat bayi itu diam. Sangat berisik, mengganggu saja," Henry menutup telinganya. Akhirnya Adel melanjutkan niatnya.


"Heiii dasar wanita gila, berhenti sekarang." Henry mendengus, menyuruh supir untuk menepi.


"Keluar kau," ucapnya pada supir itu. Tak menunggu dua kali, sang supir keluar dari mobil.


"Tuan kenapa tidak sekalian Anda keluar?" tanya Adel mengernyit.


"Ah ya aku juga."


Melihat mobil didepannya berhenti, Bejo menghentikan laju mobilnya. "Ada apa Jo?" tanya Nyonya Amel.


"Itu Nyonya, mobil Tuan Henry berhenti," ucap Bejo.

__ADS_1


Belum sempat turun, Henry segera menghampiri mereka. "Ada apa Ar?" tanya Ama.


"Dimana perlengkapan bayi itu?" tanya Henry dengan wajah datar. Dua nenek itu mengernyit.


Bejo yang tahu maksud tuan nya segera membuka bagasi. Dan menyerahkan bag backpack berwarna navy.


"Ini Tuan," ucap Bejo. Henry langsung membawanya, kembali kemobil yang tadi ditumpanginya.


"Ada apa ya Mel?" tanya Ama pada menantunya.


"Mungkin El lapar Ama," ucap Nyonya Amel santai.


"Kau lihat! Dia lucu sekali menenteng tas bayi," ucap Ama terkekeh, dia menunjuk Henry yang memakai tas dengan sebelah bahunya.


"Yah kau benar Ama," mereka terkikik bersama.


"Oh My Gosh, apa yang sedang kau lakukan?" Henry menutup kedua matanya.


Apa yang sebenarnya ada diotak wanita gila ini, sudah dua kali dia berusaha menggodaku. batin Henry.


Adel terlonjak, ia segera menutupi gunung tandusnya. Tadi ia sedang memberi El ASI, karena El tantrum jika tidak segera ditenangkan.


"Tuan kau jangan mengintip," Adel tak kalah emosi.


Dasar manusia kutub, dia pasti sengaja ingin mengintip. Dasar mesum, tidak bisakah dia menunggu sebentar saja. ucap Adel dalam hati.


"Aku tak berminat, ini." Henry memberikan bag backpack dengan membelakangi Adel.


Adel dengan susah payah meraih tas itu, tetapi El sudah tertidur.


Ternyata dia ingin membantuku, haruskah aku berterima kasih? Tidak perlu, orang seperti dia tak butuh rasa terima kasihku.


" Ya Tuan," jawab Adel. Mereka melanjutkan perjalanan, El tertidur dipangkuan Adel. Henry sesekali melirik El melalui kaca spion.


Hampir saja Daddy kehilanganmu sayang, setelah ini, tak akan kubiarkan lagi wanita gila ini membawamu keluyuran. Terlalu berbahaya berada diluaran, kalau perlu kubuat kau selamanya didalam mansion. batin Henry.


20 menit berikutnya mereka semua sampai dimansion keluarga Syahreza. Tuan Abimanyu sudah menunggu mereka. Dia sudah mengetahui kejadian di Mall, hampir saja dia kecolongan. Tetapi dia juga tak bisa menyalahkan siapapun, semua murni kebetulan.


"Kalian istirahatkah dulu, setelah itu kita berkumpul di gazebo. Terkecuali Adel, kau jagalah baby El," ucap Tuan Abimanyu.


Semua orang bubar kekamar masing masing. Didalam kamar El, Rena sedang duduk manis menyilangkan kakinya.


"Enak banget ya, bisa jalan jalan, cuci mata gratis," sindir Rena.


"Tentu saja Nona, kita bersenang senang disana. Iya kan El?" kata Adel, ia sengaja memancing Rena.


"Taaaaa taaaa..." Baby El memainkan tangan mungilnya.


"Huhh, dasar menyebalkan, aku bosan sekali dirumah ini sendirian. Seperti dipenjara." Gerutu Rena.


"Kan ada bibi Mey, ada banyak pelayan lain juga," ucap Adel.


"Ya tapi tak ada ocehan El."


"Sudahlah Ren, lain kali kita ajak El kesana bareng yah," Adel menghibur Rena.

__ADS_1


"Yah itu harus," jawab Rena.


Sebenarnya dia gadis yang baik, namun ucapanya terkadang suka tak disaring. Dan agak kekanakan. Adel sedikit banyak sudah mengetahui sifat Rena ini. Karena kebersamaan mereka beberapa bulan lalu.


"Kau mandilah, biar kujaga El," ucap Rena.


"Baiklah, Nona," seru Adel. Dia segera menuju kamar mandi, rasanya sudah sangat tidak nyaman. Ia juga menyiapkan air hangat, untuk memandikan El nantinya.


Digazebo halaman belakang.


Keluarga Syahreza semua sudah berkumpul, tak terkecuali Arga. Dia baru saja sampai 10 menit yang lalu.


"Baiklah, dengan adanya kejadian hari ini. Mulai sekarang, kemanapun Mami, Mommy dan El pergi, harus didampingi pengawal," ucap Tuan Abimanyu.


"Yah, ini semua demi kebaikan kalian," ucap Henry.


"Ku rasa hanya El saja Bi, Mami tak perlu pengawal. Tak banyak orang yang mengenali Mami disini," ucap Ama.


"Ama, ayolah, aku tak ingin terjadi hal buruk dengan Ama," ucap Henry.


"Tuan benar Nyonya, kita harus berjaga. Kali ini kita tak tahu apa yang rival kita rencanakan," ucap Arga.


"Mommy juga keberatan, kalau pengawal bayangan tak apa lah," ucap Nyonya Amel.


"Hah, yah kita itu akan terlalu mencolok mata, kalau ada yang membuntuti kita," sanggah Ama.


"Ga, apa kau sudah membawa orangnya?" tanya Tuan Abimanyu.


"Ya Tuan, mereka berdua sudah terlatih, dan siap untuk bertugas," Arga memanggil dua orang wanita, dengan badan atletis. Mereka adalah pengawal yang disiapkan untuk Nyonya Amel dan Ama.


"Perkenalkan diri kalian," ucap Arga dengan nada tegas.


"Perkenalkan, saya Sisi dan Ini Sasa adik saya," ucap Sisi.


"Kalian mirip sekali?" ucap Ama.


"Sisi? Sasa? itu terdengar seperti makanan, Hahahhaaa..." Nyonya Amel tertawa.


"Mom, ayolah," Tuan Abimanyu memberi tatapan tajam.


"Baiklah!" Nyonya Amel menghentikan tawanya, ia hanya ingin mencairkan suasana yang tegang.


"Garing," sindir Ama.


"Emangnya kerupuk?" Nyonya Amel tak terima.


"Hssssttt..." Henry menaruh telunjuknya dibibir, memberi isyarat untuk diam.


"Kenapa hanya dua orang Ga? Lalu untuk El?" tanya Tuan Abimanyu.


"Tuan tenanglah, Nona Adel bisa menjaga El dengan baik," ucap Arga.


Arga sudah menyelidiki Adel, jauh jauh hari sebelum Adel masuk rumah ini. Hal mengejutkan baginya. Bahwa Adel adalah atlet silat,dan sering mengikuti kejuaraan sebelumnya.


TBC

__ADS_1


Jangan lupa mampir di lapak satunya yah


Terima kasih


__ADS_2