Ibu Untuk Tuan Muda

Ibu Untuk Tuan Muda
S2-39


__ADS_3

Happy Reading


💐💐💐💐💐💐


Kecemasan Wulan akhirnya terbayarkan, saat rombongan Tuan memasuki halaman rumah Wulan.


"Akhirnya kalian sampai disini juga." Wulan menghambur pada Adel yang sedang membawa El.


"Mamaaa..." El merentangkan tangannya. Disambut gembira oleh Wulan.


"Tuan, Nyonya, silahkan masuk." Wulan mempersilahkan mereka masuk.


"Ama senang bisa melihat rumah kamu Lan."


"Terima kasih Ama, justru Wulan yang senang Ama bisa ikut kesini." Wulan membantu Ama.


Ibu dan Lintang serta beberapa kerabat dekat Wulan menyambut tamu istimewa mereka. Meski tak terlalu mewah, namun rumah mereka cukup besar untuk menampung Tuan Abimanyu dan rombongan.


"Silahkan Tuan, Nyonya. Saya Ibu nya Wulan dan ini Lintang, adiknya." Ibu Yuli memperkenalkan diri.


Namun Wulan masih didepan pintu. Celingukan mencari seseorang yang paling dia tunggu. "Adel,...."


"Aku tau apa yang ingin kamu tanyakan, sekarang kita masuk. Dan bicara didalam." Adel mengajak Wulan masuk, El ikut dengan Sisi dan Nyonya Amel yang masuk terlebih dahulu.


"Kamu cantik banget hari ini." ucap Adel memuji.


"Berarti biasanya gak cantik?"


" Cantik, tapi hari ini lebih cantik."


Adel sengaja mengalihkan perhatian Wulan, semoga Henry dan Arga cepat menyusul.


"Ya kan mau ketemu pangeran." ucap Nyonya Amel. Membuat perhatian Wulan kembali pada daun pintu yang masih terbuka lebar.


Dimana dia? acara penting juga bisa terlambat. Huh dasar menyebalkan.


"Gak usah dicari, pangeran mu sengaja membuat kejutan." ucap Adel menenangkan.


Sedangkan dibelakang sana, keluarga sibuk membicarakan calon suami Wulan. Seperti apa dia, yang gosipnya anak orang paling kaya di Jakarta. Bahkan mobil yang mereka tumpangi adalah edisi terbaru dan hanya ada beberapa di dunia.


...----------------...


Ditempat lain, Arga telah selesai diobati. Dia harus mendapat jahitan akibat pelipisnya yang robek. Begitupun Pak Sopir yang memar. Dan lecet disiku kanan.


"Pak, saya sudah menyuruh orang jemput Bapak, sebaiknya Bapak kembali ke Jakarta." ucap Henry.


"Baik Tuan, maaf karena kecerobohan saya, membuat Tuan terluka." Pak Sopir ketakutan, karenanya, Arga dan Henry jadi celaka.

__ADS_1


"Bapak gak usah takut, saya justru berterima kasih. Kalau Bapak tidak bertindak cepat, mungkin akibatnya akan lebih fatal." Arga sedikit tersenyum.


"Bapak tunggu disini, sebentar lagi orang yang menjemput Bapak datang." Henry dan Arga meninggalkan Pak Sopir. Mereka harus segera menuju rumah Wulan.


"Ga, kamu tau mobil yang tadi di depan kita?" tanya Henry, pandangan matanya masih fokus pada jalanan.


"Aku gak lihat ada plat nomornya, dia juga kabur begitu saja." ucap Arga disebelahnya. Mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah Wulan. Henry sudah memberitahu Tuan Abimanyj dan istrinya. Bahwa tak ada lagi yang perlu dicemaskan.


"Kau tenang saja, orang ku sudah bertindak." Arga menolehkan kepalanya. Meski masih sedikit nyeri, namun Arga berusaha menahannya. Terlebih dokter sudah memberikan anti nyeri padanya. Yang terpenting lukanya tak terkena air untuk beberapa hari.


"Kita harus selidiki lebih lanjut, pasti orang itu mengincar kamu." Henry mengeratkan genggamannya pada setir kemudi.


"Yang aku takutkan Wulan dan keluarganya juga."


"Ya kita pikirkan nanti, yang terpenting sekarang kau baik-baik saja. Dan kita harus segera menyusul mereka. Bidadari mu udah gak sabar ketemu kamu." Henry terkekeh ketika mengingat ekspresi Wulan yang Adel kirimkan padanya.


"Hmmm... gak usah ngeledek." Arga sengaja mengabaikan pesan dan panggilan dari Wulan. Dia tak ingin Wulan semakin cemas.


"Nah, mereka datang juga." ucap Ama yang duduk menghadap ke pintu. Membuat perhatian semua orang teralihkan pada Henry yang lebih dulu turun.


"Ganteng banget ya." ucap saudara Wulan yang duduk disebelah Ibu.


Sembarangan, dia itu suamiku. batin Adel.


Namun sedetik kemudian, El berteriak dan berlari kearahnya. "Daddyyy..."


"Hai sayang, maaf Daddy lama." Henry meraih putranya, dan membawanya dalam gendongannya.


"Aiya DUREN SAWIT."


"Apaan tuh?"


"Duda keren sarang duit, makanya Wulan mau sama dia."


Suara-suara itu sampai ditelinga Adel, membuat telingannya terasa panas. Begitupun wajahnya yang memerah menahan marah. Namun semua semakin riuh saat Arga mengekori Henry dengan bucket bunga ditangannya.


"Masih mending yang itu."


"Iya, gak kalah ganteng juga."


"Sssttt... kalian jangan bikin malu." Wulan menghunuskan tatapan tajam pada kelima saudaranya. Mereka datang hanya ingin menyaksikan seperti apa calon suami Wulan yang katanya kaya raya itu.


Sebenarnya lain dengan hari ini, bahkan disaat keluarga Wulan kesusahan, mereka yang hari ini menganggap saudara tak ada satupun yang berniat membantu. Justru mengolok Wulan dan Ibunya atas penderitaan mereka.


Bibi dan sepupu Wulan dari pihak ibu, yang kehidupannya bisa dibilang lebih baik dari Wulan. Hanya bisa mencela, karena perbuatan Ayah Wulan yang menurut mereka mencemarkan keluarga.


"Maaf aku terlambat, tadi kita beli bunga dulu." ucap Arga memberikan bucket bunga pada Wulan.

__ADS_1


"Akhirnya kamu datang. Aku takut terjadi sesuatu dengan kalian." Wulan menyambut Arga, dan mengambil bucket bunga mawar merah yang diberikan untuknya.


"Ada apa dengan kening mu?" Wulan memperhatikan wajah Arga yang masih tertutup perban.


"Gak apa, dia hanya berlatih aktrobat semalam. iya kan Ga." Henry mengedipkan sebelah matanya. Tak mungkin menceritakan kejadian yang sebenarnya.


Aku tahu ada yang kalian sembunyikan dariku.


"Emm ya, aku hanya terbentur. Karena kurang hati-hati." ucapnya berbohong.


Maaf Lan, Aku hanya gak ingin membuat kalian khawatir padaku.


"Baiklah karena kedua putra saya sudah datang, saya akan menyampaikan maksud dan tujuan kami kesini." Tuan Abimanyu berdiri, menyampaikan tujuannya untuk melamar Wulan.


"Jadi dia calon suami Wulan. Ibu aku mau juga." rengek gadis disebelah Lintang.


"Iya Bi, udah ganteng, kaya, idaman banget."


Dasar sepupu gak tahu malu. Udah datang numpang makan, masih banyak tingkah pula.


Lintang dan Ibu Yuli merasa risih dengan adanya mereka, namun apa boleh buat. Mereka berdua hanya bisa membiarkan saja. Yang terpenting tak berbuat hal-hal yang merugikan.


Acar berlangsung khidmat, perwakilan keluarga Wulan menyambut baik niat Arga dan keluarnga Syahreza. Begitupun Ibu Yuli yang merasa lega, Wulan berada ditangan yang tepat. Arga bisa membuat Wulan bahagia, sekaligus melindunginya dari Ayahnya.


Terlebih sikap Nyonya Amel dan keluarganya yang begitu menyayangi Wulan. Hal itu membuat Ibu Yuli sangat bersyukur.


"Ibu, terima kasih selama ini sudah merawat dan mengajari Wulan. Wulan sayang Ibu." Wulan memeluk Ibunya, disusul Lintang yang juga ikut memeluk Kakak dan Ibunya.


"Ibu sangat bahagia, kamu bisa menemukan kebahagiaan mu."


Nyonya Amel juga ikut terharu. "Huuu huuu..."


"Mom, jangan tertawa, kita ini semua terharu." Henry sengaja meldek Mommy.


"Siapa yang tertawa? gak lihat ini air mata?" Nyonya Amel memelintir putranya yang suka jahil. Hingga Henry mengaduh kesakitan.


"Aduh Mom malu banyak orang."


"Biarin, dasar menyebalkan."


Hal itu membuat semua orang ikut tertawa, termasuk Wulan dan Ibunya yang tengah menangis haru.


Suasana tiba-tiba hening, berubah menjadi menakutkan. Saat seorang datang membawa celurit ditangannya.


"Siapa yang mengizinkan kalian? Aku gak setuju."


TBC

__ADS_1


Siapa dia? dan mau apa sebenarnya? tetap ikuti kelanjutannya ya.


TERIMA KASIH


__ADS_2