
Happy Reading
💐💐💐💐💐💐
Nia berjalan dengan telanjang kaki, hari ini benar-benar apes. Dengan menenyeng sepatu fantofel di tangan kirinya, sedangkan tangan kanan memegangi tas jinjingnya. "Aaarrgghhh mimpi apa aku semalam? udah diselingkuhin, nungguin taksi gak dateng-dateng, jatoh lagi. Dah gitu sepatu pake rusak tidak pada waktunya lagi. Aaaaaaaa..... Si*llll..." Nia berteriak sekencangnya, kakinya menendang kaleng bekas minum yang ada di jalanan.
Klanggg.
Kaleng mendarat di kepala seseorang yang melintas tak jauh dari tempat Nia. Orang itu memegangi keningnya yang memerah, mengumpat kasar pada pelaku yang duduk di kursi tunggu sebuah halte. "Hei Kamu ini harus ganti rugi." ucap seorang pemuda berkacak pinggang dihadapan Nia.
"Bodo amat, ganti rugi apanya? Saya sudah rugi banyak hari ini." ucap Nia tanpa memandang pemuda yang sedang menatapnya tajam.
"Heiii... Kalau bicara lihat orang nya." pemuda itu mengangkat wajah Nia, keduanya terkejut satu sama lain.
"Astaga, kesia*** apalagi ini? kenapa Aku harus bertemu dengannya di saat seperti ini?" Nia menggerutu, kembali menundukkan wajahnya melihat kedua kakinya.
"Seharusnya Saya yang bicara seperti itu. Lihat!!! Kening ku memar karena kecerobohan mu." Nathan, pemuda itu adalah Nathan yang sedang berhenti di minimarket dekat halte bus tempat Nia saat ini.
"Maaf gak sengaja. Siapa suruh Bapak ada disana?" Nia berucap tanpa dosa, dia tak ingin disalahakan.
"Hah, maaf-maaf. Cepat obati." Nathan duduk disebelah Nia.
"Bapak ini gak bisa lihat ya? Bagaimana Aku mengobati? Gak ada yang bisa dipakai buat ngobatin." Nia sangat kesal dengan Nathan yang memaksanya.
Nathan menarik tangan Nia dengan kasar. Nia yang tak siap terhuyung menabrak punggung Nathan yang tegap. "Aduhh... Bapak ini mau apa sih?" Nia meronta berusaha melepaskan tangannya.
"Ikut." Nathan membuka pintu mobil dengan sebelah tangannya. Dia mendorong Nia masuk ke dalam mobilnya. Dan melajukannya tanpa memedulikan Nia yang tak henti mengumpatnya.
Nathan menghentikan mobilnya didepan sebuah klinik. Nia mengira akan mengobati memar di kening Nathan. Namun justru dirinya yang dipaksa masuk. "Duduk." ucap Nathan datar.
Nia hanya menurut, sudah lelah berdebat dengan Nathan sepanjang jalan tadi. Nathan meninggalkannya di kursi tunggu. Tak lama dia kembali dengan seorang dokter wanita.
"Mari ikut saya Nona." ucap dokter dengan ramah. Nia hanya mengernyitkan keningnya.
"Dia yang luka dok, tuh lihat jidatnya." tunjuk Nia pada kening Nathan yang memerah. Nathan menatapnya tajam seolah tak ingin dibantah. Membuatnya harus menuruti ucapan dokter.
"Kalau perlu diperban sekalian mulutnya dok. Biar gak berisik." Nathan meninggalkan klinik, dan membiarkan Nia diobati.
Nathan melirik lutut Nia yang berdarah juga jari jempolnya. Dia segera menarik tangan Nia dan membawanya ke klinik, tanpa memedulikan Nia yang berteriak dan meronta.
"Nona, pacar Anda sangat perhatian. Meski bicaranya sedikit menyebalkan." ucap dokter itu, dia sedang membersihkan lutut Nia yang berdarah juga jempol kakinya yang sedikit membiru dikukunya.
__ADS_1
"Pacar? Dia bukan pacar Saya dok." ucap Nia sewot.
"Anak muda sekarang, pasti kalian lagi berantam ya jadi gak mengakuinya sebagai pacar." Nia hanya mengacuhkan sang dokter, Nia meringis menahan perih saat kapas yang telah dicelup cairan steril menempel di bekas lukanya.
"Tahan sebentar Nona."
Nia telah selesai diobati, jalannya sedikit tertatih menahan sakit yang mulai terasa dipergelangan kakinya. "Apa sudah selesai?" Nathan masih menunggunya.
Bukankah Dia tadi sudah pergi? Untuk apa masih disini?
Nia hanya bisa membatin, dirinya menuju administrasi. Namun Nathan mencegahnya. "Duduklah! Saya sudah melunasi semua tagihannya. Dan pakailah!" Nathan menyodorkan paper bag yang berisi sepatu sendal berbentuk flat, tak seprti yang dikenakan Nia sebelumnya.
"Apa ini?" tanya Nia keheranan.
"Saya bilang pakai, ya pakai aja." ucap Nathan datar.
"Terima kasih." ucap Nia pelan, dia tak menyangka jika Nathan memperhatikan lukanya. Dan bersedia mengantarkannya ke klinik serta membelikan sepatu baru untuknya.
"Jadi Saya harus mengantar mu kemana?" tanya Nathan, saat ini mereka ada di depan klinik.
"Aku bisa pulang sendiri Pak. Bapak gak perlu antarin Saya pulang." Nia bersikukuh ingin pulang sendiri, namun jalanan yang mereka lalui tadi terlihat sepi. Jangankan taksi lewat, orang yang lewat pun sangat jarang.
"Jadi Bapak khawatir dengan Saya?" ucap Nia penuh percaya diri.
Jentikan jari Nathan mendarat di kening Nia, berintungnya ada poni yang menutupinya. "Bapak ih jahat banget, sakit tau?" ucap Nia mengerucutkan bibirnya.
"Gak usah manja. Dan jangan banyak berfikir. Aku hanya gak ingin pekerjaan ku terganggu karena Kamu terlambat. Atau Kamu memang sudah gak butuh pekerjaan ini lagi?"
"I-iya Pak, jangan pecat Saya." Akhirnya Nia hanya bisa menurut. Menunjukkan dimana tempatnya tinggal saat ini.
...----------------...
Lombok, 21.30 WITA.
"Ga, apa Kamu yakin dengan ide ini?" ucap Henry, mereka baru saja kembali ke hotel setelah seharian berada di lapangan.
"Katanya pengin kasih yang beda? menurutku ini juga surprize yang menarik." ucap Arga bersedekap tangan.
"Jadi kapan hadiah itu dikirim?" Henry tak sabar untuk segera menyeselaikan pekerjaanya dan segera pulang.
"Kalau tepat waktu seharusnya besok pagi, barang pesanan mu sudah bisa di antar."
__ADS_1
"Apa Kamu yakin istri ku akan menyukai hadiah dari ku?"
"Suka atau tidak kita lihat besok." Keduanya berpisah, menuju kamar masing-masing.
"Sayang, tunggu Aku pulang. Aku sedang berusaha menyelesaikan masalah disini secepatnya." gumam Henry mengecup potret dirinya dan Adel saat mereka berjung ke Paris.
Lusa adalah hari ulang tahun Adel, Henry sengaja menunda kepulangannya karena ingin memberikan kejutan untuk Adel. Dan juga jarang menghubunginya agar membuat Adel kesal. "Maaf sayang, ini semua ide Arga. Tapi benar, bahkan rasa rinduku semakin tak tertahankan. Meluap-luap seperti air sungai dimusim hujan." Henry tersenyum sendiri membayangkan Adel.
Henry sedang memeriksa laporan pembangunan hotel & resort yang sedang mereka tangani. Namun ada sesuatu yang ganjil pada laporan tersebut. Biaya yang dikeluarkan tak sebanding dengan persentase pembangunan. Dilaporan seharusnya sudah melebihi 40% pembangunan dilakukan. Bedasarkan pehitungannya, namun kenyataanya saat ini belum mencapai 30 %. Yang mana meleset sangat jauh dari perhitungan.
Terlebih lagi, mereka mengancam akan memutuskan kontrak sepihak. Padahal Henry telah menggelontorkan dana yang tak sedikit.
"Ga, retas semua laporan yang ada." Henry tak ingin lagi dipermainkan. Cukup sudah dia mengikuti semua permainan mereka. Saatnya memutar balik keadaan.
"Hah? Aku gak salah dengar?" Arga memasang pendemgarannya baik-baik. Retas meretas bukan lah hal yang sulit untuknya. Tetapi Henry hanya melakukannya saat keadaan mendesak.
"Kau mau selamanya disini?" Henry menjawab pertanyaan Arga dengan pertanyaan.
"Siap Pak Bos Henry."
Arga berkutat dengan komputer jinjing dipangkuannya. "Coba lihat." Arga meraih tangan Henry untuk mendekat padanya. Keduanya saling melempar pandangan, benar kecurigaan mereka. Ada dalang dibalik semua kejadian ini.
"Tunggu, bagaimana dengan CCTV?" Henry menjentikan jarinya. Menemukan secercah harapan dari sana.
"Berhenti disana." Keduanya kembali berfikir, menghubungkan kejadian demi kejadian.
"Ga, kita pulang sekarang." Henry sudah panik, mencemaskan Adel disana.
"Tapi kita gak mungkin terbang dalam kondisi seperti ini." Arga menahan Henry, di luar angin sangat kencang.
"Tapi Aku gak bisa berdiam diri disini. Kita harus memastikan sendiri Ga." Henry mengusap wajahnya kasar. Bagaimana bisa Dia tak menyadari akan sampai sejauh ini akibatnya.
"Kau tenanglah dulu, semoga semuanya belum terlambat." Arga harus mengabari Wulan kejadian yang sebenarnya. Namun tak ada satupun panggilan yang dijawab, bahkan pesan singkat yang Arga kirimkan belum dibaca Wulan.
"Mereka pasti sudah tidur, sekarang sudah tengah malam. Jika kita memaksa, akan lebih buruk lagi resikonya."
Akhirnya Henry memutuskan untuk menginap di bandara, menunggu cuaca baik untuk terbang. Tak hanya Henry, Arga juga panik, tetapi Dia harus memikirkan keselamatan mereka.
TBC
TERIMA KASIH
__ADS_1