Ibu Untuk Tuan Muda

Ibu Untuk Tuan Muda
Pergi berlibur


__ADS_3

Tetap dukung Baby El kakak semua, dengan like komen dan vote sebanyak-banyaknya.


Happy Reading


💐💐💐💐💐💐💐


Pagi ini Adel sudah rapi, namun dia hanya sibuk mondar mandir di dalam kamar. Sesekali menggigit kuku tangannya, duduk, lalu kembali berjalan mengitari ranjang. Ibu Sari masuk tanpa mengetuk pintu, karena pintu tak dikunci dan terbuka sebagian.


"Apa uang mu hilang El?" Ibu Sari mendudukan tubuhnya di sofa kamar Adel. "Uang?" Adel tak mengerti dengan ucapan ibu nya.


"Sedari tadi ibu perhatikan kamu mengelilingi kamar sudah berpuluh kali." Adel baru mengerti maksud ibunya. Dia yang bimbang, sedari tadi hanya berputar-putar di dalam kamarnya.


"Bu, aku ingin bertemu El, tapi aku takut kesana." Adel mere*** dress yang dia kenakan, padahal dia baru beberapa minggu tak menginjakkan kakinya disana. Tetapi dia merasa seperti mengunjungi tempat asing.


"Apa perlu Ibu temani?" Namun Adel menolak, di mencoba meyakinkan hatinya. Bahwa tak akan ada hal buruk yang terjadi. Adel berusaha tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Tidak apa Bu, Adel bisa sendiri, hanya sedikit canggung karena lama tak berkunjung kesana." Adel meraih paper bag yang berisi mainan dan pakaian, yang dia beli kemarin.


"Adel berangkat dulu Bu, oh ya Eyang dimana?" Adel ingin berpamitan dengan Eyang Wira, namun Eyang Wira belum kembali. Setiap hari minggu, Eyang Wira akan pergi ke GOR terdekat untuk bersepeda santai bersama beberapa rekan nya.


"Eyang belum pulang, nanti ibu yang sampaikan pada Eyang." Ibu Sari mengantar Adel sampai didepan pintu, tak lupa Adel mencium punggung tangan ibunya. Adel diantar Pak Maman, namun Supir keluarga itu harus kembali secepatnya, karena harus mengantar Ibu Sari dan Bibi Yan.


Kenapa aku seperti mau bertemu bos besar? Suasana ini seperti interview kerja? Begitu menegangkan, tapi kenapa aku harus takut? Lagi pula aku mengenal mereka semua.

__ADS_1


Adel berusaha menormalkan detak jantungnya. Adel tiba di Mansion Keluarga Syahreza, tak ada yang berubah dari tempat ini, hanya terlihat sunyi dari biasanya. Seharusnya hari minggu semua penghuni ada dirumah, karena aktifitas di kantor pasti libur.


Adel membunyikan bel, tak menunggu waktu lama, pintu dibuka oleh Bibi Mey. "Ahh Nona Adel, silahkan masuk." Adel masuk dan duduk di sofa tamu, setelah dipersilahkan duduk oleh Bibi Mey.


"Terima Kasih Bibi Mey" Adel menyunggingkan senyum manisnya. Dijawab anggukan oleh Bibi Mey, kemudian berlalu ke dapur untuk membuatkan minum.


Sepi sekali, dimana Tuan dan Nyonya? Juga tak terdengar suara El. Mungkin mereka ada di taman belakang. Pikir Adel, dia berusaha berpikiran baik.


"Silahkan diminum Nona" Bibi Mey berdiri tak jauh dari tempat Adel duduk. Adel jadi merasa risih diperlakukan seperti tamu. Memang benar dia bertamu, tapi dia merasa tak nyaman.


"Terima Kasih, oh ya, dimana semua orang Bi? Kenapa sepi sekali?" Adel menanyakan keberadaan penghuni mansion.


"Emm ,itu Nona, Tuan dan Nyonya mengantar Nyonya Tua kembali." Adel mengenyeritkan keningnya.


"Maksud Bibi, Ama kembali ke...?" Adel tak melanjutkan kalimatnya, seseorang menyahutnya dari pijakan anak tangga.


Adel masih terdiam, hening, tak ada satupun yang bersuara. Hingga kehadiran Henry kembali mengejutkan mereka. "Kalau kau ingin bertemu El lebih baik lain kali saja, sekarang dia tak ada di mansion ini." Henry hendak melangkah keatas, namun dihentikan Adel.


"Tuan, tunggu" Henry berbalik, Adel langsung mendapat tatapan tajam Henry, dia sadar bahwa dia salah berucap. " Maaf, Tu- maksudku Henry, jika saya tak bisa bertemu El, tolong berikan ini padanya." Adel menyerahkan paper bag yang di bawanya.


Henry menerimanya, tanpa mengucapkan sepatah katapun, seperti biasa, hanya wajah dingin yang dia tunjukkan. Tetapi penampilan Henry saat ini sangat berantakan, lingkaran matanya hitam dan wajahnya kusut, rambutnya juga berantakan. Adel menepis pikirannya, mungkin hanya bangun tidur.


"Terima kasih, tolong beri tahu padanya, kalau aku merindukan El, dan saya akan kembali setelah dia kembali kesini." Adel sedikit berteriak, karena Henry sudah mencapai anak tangga terakhir diatas sana.

__ADS_1


Ada apa dengan manusia kutub ini? sikapnya kembali dingin, padahal sebelum ini dia mulai menunjukkan sisi lembutnya. Kenapa aku harus sedih? untuk apa memikirkan manusia kutub itu. Hah menyebalkan.


Setelah itu, Adel berpamitan untuk pulang. Dari lantai atas, sepasang mata itu tak pernah lepas dari bayangan Adel. Hingga taksi online yang membawa Adel menghilang diujung jalan sana. Henry me***** dadanya yang terasa sangat sakit. Bagaikan ditusuk ribuan duri.


"Maafkan aku, maafkan Daddy El, Daddy memang egois. Tapi ini Daddy lakukan untuk kebaikan mu." Henry terduduk dibalik jendela, rahangnya mengeras, karena menahan amarah. Amarah yang dia tujukan untuk dirinya sendiri.


Mengapa dia begitu lemah, jika menyangkut perasaanya dengan wanita. Kau memang payah, sangat payah Henry.


"Tidak seharusnya kau menutupi ini semua darinya. Bagaimana pun juga, dia yang membuat El bisa bertahan sampai sekarang. Ribuan rasa terima kasih mu bahkan tak akan sanggup untuk membayarnya. Bahkan semua harta yang kau miliki rasanya tak akan cukup untuk menggantinya." Arga hanya bisa melihat kebodohan Henry, kakak angkat yang selama ini dia kagumi.


"Lalu aku harus apa? Apa dia masih bisa memaafkan ku? Apa dia bisa menerima ku kembali, setelah apa yang ku lakukan padanya?" Henry tersenyum getir. Dia tak sanggup jika harus mengingat semua kebodohan yang dia lakukan.


"Setidaknya kita perlu mencobanya, kita belum tahu apa yang dia inginkan" Arga berjongkok disebelah Henry, matanya menatap lekat pada wajah kusut Henry. Beberap hari ini dia tak tertidur dengan lelap.


"Aku tak ingin kecewa, dengan jawaban yang tak seharusnya aku dengar. Apa kau yakin dia bisa memaafkan ku? Dan bersedia kembali untuk El? Bukankah kamu sendiri yang bilang, dia memiliki orang lain di hatinya? Aku memang egois, tapi aku tak akan memaksakan keinginanku. Dia pantas bahagia bersama orang itu" Henry mengingat kembali, saat Adel menangis dalam pelukan seorang pemuda.


Dia adalah orang sama, yang dia temui saat berlibur di pantai. Dia Rey, Reynald, kakak tingkat Adel waktu kuliah dulu. Untuk itulah dia memutuskan untuk menolak tunangan dengan Adel. Dia hanya tak ingin Adel menikah dengannya hanya karena El.


Henry tak ingin lagi kesalahannya terulang, dia menikahi Metta tanpa dasar cinta, dan seiring cinta itu tumbuh, justru kesakitan yang dia terima. "Mungkin ini karma, biar aku yang menanggung semuanya sendiri." Henry menjauhkan diri, menuju ke kamar mandi. Berendam adalah salah satu kegiatan yang dia sukai akhir-akhir ini.


TBC


TERIMA KASIH

__ADS_1


Othor said: Daddy jangan kelamaan berendam, ntar jadi mermaid! Hahaha


Daddy: Mermaid tampan.


__ADS_2