
Terima Kasih yang masih setia menanti Baby El, dan juga semua dukungan yang telah diberikan.
Mohon maaf jika konfliknya terkesan berbelit, muter-muter gak jelas. Mohon kritik dan sarannya, karena saya masih sangat awam.
Terus dukung Baby El ya, silahkan tinggalkan jejak like, komen dan vote.
Happy Reading
💐💐💐💐💐💐
"Aku ini Arga, saudara Henry, jadi bisa saja merajuk" ucapnya dengan wajah datar.
"Ah sudahlah, kau harus melihat ini Kak." Ucap Arga tanpa canggung.
"Kau barusan memanggilku apa?"
"Kak Henry" suara Arga tegas.
"I like it, you'r my brother. Oke sekarang apa yang sudah kamu dapatkan?" Henry kembali ke mode serius.
"Hasil yang mengejutkan." Arga memperlihatkan hasil buruannya. Alat pelacak yang ia tanamkan pada Rena berhasil. Menunjukkan keberadaan Rena, di sebuah kawasan perumahan elit di Jakarta Utara.
"Anda tahu Tuan..." Henry kembali menatapnya tajam.
"Kau memang harus dihukum." Ucap Henry sebal.
"Kau tahu, ini juga alamat suami Gaby."
"Aku tak ingin membahas betina itu lagi." Ucap Henry malas.
"Yah, tapi sayangnya, kita harus membahasnya."
"Baiklah, katakan semuanya."
Arga menjelaskan semuanya, bahwa Rena adalah adik angkat Gaby. Dia memanfaatkan Rena, untuk mencapai tujuannya.
Demi menjadi seorang dokter, Rena harus mengikuti semua kemauan Gaby. Ternyata selama ini suami Gaby tak seperti yang diceritakannya tempo hari.
Gaby diusir dari rumah karena kesalahannya sendiri, dan Rena masih tinggal di rumah Gaby yang dulu.
"Baiklah, itu sedikit membantu, tetapi kita harus segera mengetahui siapa Mr. X itu, aku takut dia akan kembali beraksi dan kita tidak dalam keadaan siap."
"Baiklah, Nathan sedang menyelidikinya, ini ada kaitannya dengan perusahaan di London" ucap Arga.
"Bagaimana dengan si penghianat itu?" tanya Henry, raut mukanya terlihat sangat marah.
"Dia masih ditempat, belum melakukan pergerakan. Dan rencana mu berhasil, dia terkecoh dengan ketidak hadiranmu hari ini."
"Yah, kau memang pantas bangga memiliki kakak sepertiku." Henry menyombongkan diri.
"Ceh, kau ini kembali menyebalkan." Arga ingin munt*h mendengar Henry memuji dirinya sendiri.
"Yah, berkat kau." Mereka tertawa bersama. Sudah lama sekali mereka tak menghabiskan waktu bersama. Setelah Henry menikah, dia tinggal dirumahnya sendiri bersama Metta. Jadilah mereka jarang bertemu dirumah.
__ADS_1
"Ga, apa hidupku memang semenyedihkan ini? Kenapa orang yang aku sayangi meninggalkan ku, Apa aku tak pantas menjadi seorang yang dicintai?" tanyanya dengan sedih.
"Bukankah semua orang menyayangimu? Mom, Dad, Ama dan sekarang El. Kalau terhitung aku pun."
"Bukan itu maksudku, tetapi nasib percintaanku, selalu berakhir tragis. Hehhh." Henry tersenyum kecut.
Dua kali dia mencintai wanita, dua kali pula dia ditinggalkan. Bukankah sangat menyedihkan? Hal itu membuatnya takut, dan mengurungkan niatnya mencari ibu bagi El.
"Kau sudah dua kali, sedangkan aku sekalipun belum pernah." Ucap Arga sedih.
"Setidaknya kau tak pernah merasakan sakitnya dikhianati. Bahkan hampir dua kali aku dikhianati oleh orang yang berbeda."
"Sekarang kau hanya perlu memikirkan El, dia membutuhkanmu, apa kau ingin dia merasakan seperti kita? Hidup tanpa kasih sayang ibu sangat menyedihkan, lebih sakit dibanding sakitnya dikhianati." Arga menerawang jauh, mengingat masa kecilnya yang hanya memiliki seorang ayah.
"Kau benar, meskipun aku punya Mom, tetapi dia mengacuhkan ku, bukankah aku lebih miris darimu." Henry mengalihkan pandangannya, ke lampu-lampu taman di belakang mansion.
"Jadi kau tak boleh membiarkan El, merasakan apa yang kita rasakan dulu."
"Yah, kau benar, menurutmu bagaimana dengan Adel?" tanya Henry.
Ku rasa Nona Adel orang yang tulus, dia sangat menyayangi El." Tanpa Arga sadari dia menyunggingkan senyum manisnya.
"Jangan bilang kau jatuh cinta padanya." Henry menyadari ada yang berbeda pada sikap Arga pada pengasuh El itu.
"Maybe" tanpa sadar Arga mengangguk.
"Nooo noooo, aku hanya mengaguminya, sikapnya sangat keibuaan pada El, itu saja." Arga salah tingkah dengan ucapannya sendiri.
"Ya, lalu apalagi? Sudah larut, sebaiknya aku kembali ke kamarku." Arga mengalihkan pembicaraan, dia tak ingin semakin terpancing dengan pertanyaan Henry.
"Hahahaaa.. kau lucu sekali, lihatlah wajahmu bisa bersemu seperti gadis." Henry sangat senang menggoda Arga hari ini. Dia merasa kembali muda, hanya dengan mencurahkan sedikit isi hatinya.
Dasar kakak gak ada akhlak, senang sekali dia menggodaku. Memangnya siapa yang tak menyukai Nona Adel? Parasnya cantik, begitupun hatinya. Meskipun terkadang dia menyebalkan. Ceh, kenapa aku malah memujinya?
Arga menggerutu sepanjang lorong, dia merutuki dirinya sendiri, kenapa bisa tepancing omongan Henry.
Karena berjalan tergesa, ponsel Arga terjatuh. Dia hendak mengambilnya, tetapi ada tangan yang membantunya.
"Kauuu, apa yang kau lakukan disini hah?" Suara Arga meninggi.
"Seharusnya aku yang bertanya, kenapa Tuan malam-malam ada disini?" jawab Wulan.
"Hah, sudahlah, percuma bicara sama pilar sepertimu." Wulan hendak meninggalkan Arga. Namun Arga mencekal tangannya.
"Apa kau bilang? Pilar?" Arga menatap sinis pada dokter anak itu.
"Yah Anda seperti pilar lampu, hanya diam dan tak pernah sda expresso, eh maksudku ekspresi." Wulan menuding Arga dengan telunjuknya.
Arga mengepalkan tangannya, lalu menghemlaskan cekalannya pada Wulan.
"Hahhh, sudahlah, percuma bicara denganmu." Arga pergi begitu saja.
Dasar pilar lampu, menyebalkan, aku kan hanya ingin membantunya. Dia itu hanya bisa memaki orang saja.
__ADS_1
Wulan kembali ke kamar El, melupakan niatnya untuk memgambil air minum ke dapur.
"Lan, kenapa balik lagi?" tanya Adel.
"Itu, anu.." Wulan menggaruk belakang kepalanya.
" Apa kamu takut sendirian? Aku saja yang ambilkan." ucap Adel, dia bergegas kedapur tanpa persetujuan Wulan.
Adel berjalan kedapur, tetapi ia melupakan tempat minum yang akan diisi air. Adel kembali keatas, saat itu pula Henry hendak kedapur.
Dugggg, Adel menabrak sesuatu, karena lampu sengaja tak dinyalakan.
"Awww" Adel memegangi kepalanya. Kemudian dia menjerit.
"Aaaaaa ada raksasa." Adel berteriak, Henry langsung membekap mulutnya.
"Emmmmm emmm"
"Diamlah! Kau bisa membangunkan seisi rumah dengan teriakanmu itu." Henry melepas bekapannya. Dan berjalan menuju saklar lampu.
"Kau tak apa?" tanya Henry. Dia menyalakan semua lampu dapur.
"Tuan, apa yang Anda lakukan disini malam- malam?" Bukanya menjawab Adel malah bertanya.
"Seharusnya aku yang bertanya padamu."
"Jangan-jangan Tuan mengikutiku? Karena ingin menakutiku?" tuduh Adel.
"Heh, kau jangan sembarang bicara, aku lapar buatkan aku makanan." Henry menarik kursi dimeja makan, mengambil segelas air dan meneguknya hingga tandas.
"Ogah"
"Kau berani membantahku?" Henry berdiri, dan menatap Adel tajam.
"Tuan, tugas saya mengurus El, bukan melayani Anda." Adel merasa enggan, ia sebenarnya sangat lelah.
"Ya, tapi El sedang tidur, dia tak membutuhkanmu."
"Tapiii..."
"Kau ini banyak bicara sekali, cepat buatkan aku sesuatu. Atau kau akan menyesal karena membuat orang mati kelaparan?"
Dengan enggan Adel melangkah kedapur, membuka isi kulkas. Apa yang bisa ia masak? Adel menemukan telur dan daging cincang. Ahh ini menu yang sangat mudah. Adel memasak omelet daging untuk Henry.
"Nona, apa yang Anda lakukan? Biarkan saya yang mengerjakannya." Bibi Mey datang, dia merasa tak enak hati membiarkan Adel memasak didapur, terlebih ini sudah tengah malam.
"Tidak apa Bibi, ini hampir matang" ucap Adel. Henry hanya memperhatikan Adel yang berkutat dengan peralatan dapur, dia tampak lihai dengan itu semua.
Sepertinya dia sudah terbiasa dengan urusan dapur. Batin Henry.
TBC
Terima Kasih
__ADS_1