Ibu Untuk Tuan Muda

Ibu Untuk Tuan Muda
Nonton Film


__ADS_3

Jangan lupa tinggalkan like komen dan vote setelah membaca kakak semua.


Happy Reading


💐💐💐💐💐💐💐


Adel pulang dengan perasaan sedih, sedih karena tak berjumpa dengan El. Apalagi sikap Henry yang kembali dingin. Apa hanya karena El, sikapnya melunak ketika mengunjungi El. Bukankah semuanya baik-baik saja? Apakah dia melakukan kesalahan? sampai Henry mengacuhkan dirinya?


Adel merogoh tas selempangnya, dia menghidupkan benda pipih persegi panjang ditangannya. Menghubungi Rey, tapi diurungkan, Adel memasukkan kembali benda pipih tersebut. Namun tak lama, terdengar deringan nyaring dari tas selempangnya.


Tertera nama Rey disana, kenapa bisa kebetulan seperti ini? Baru saja Adel hendak menghubunginya, ternyata Rey menghubunginya lebih dulu. Dengan sedikit malas Adel mengangkatnya pada dering kedua.


"Ya Kak" jawab Adel dengan enggan.


"Kamu dimana? Perasaan suaramu gak semangat gitu?" Rey mendengar suara Adel lebih kecil, tak seperti biasanya.


"Perasaan Kakak aja, ada apa Kakak menghubungiku?" Adel enggan menjawab dia ada dimana, pasti akan tambah panjang jika dia mengatakan yang sebenarnya. Lebih tepatnya, dia malas meladeni Rey yang lebih cerewet akhir-akhir ini.


"Mungkin, kan hari ini minggu, bagaimana kalau kita jalan-jalan, refresh otak sejenak. Kamu mau?" Adel sebenarnya malas, tetapi dia memang butuh teman untuk menghibur diri, menghibur hatinya yang sedang kacau.


"Hmm ya, kita bertemu dimana?" Rey sangat antusias, apalagi Adel tak menolak ajakan untuk pergi bersamanya, semacam kencan.


"Aku jemput kamu dirumah...."


"Jangan, maksud ku, kita bertemu ditempat, aku sekarang diluar, membantu ibu belanja." Adel terpaksa berbohong, tak mungkin dia pulang, lalu pergi lagi.

__ADS_1


"Baiklah, bagaimana kalau kita nonton film? Sudah lama sekali aku tak menonton film" Akhirnya Adel setuju, mereka janjian disebuah Mall ternama, tetapi jauh dari tempat tinggal Adel. Tak mungkin dia mengajak Rey bertemu, di tempat Ibu Sari berbelanja. Apa kata Ibu nya nanti.


Adel sampai lebih dulu, dia menunggu disebuah cafe, tak jauh dari pintu masuk. Adel memesan coklat panas kesukaannya. "Sudah lama menunggu?" suara yang tak asing baginya. Adel mendongakkan kepala, mencari asal suara itu.


"Tu-an, eh Arga, apa yang kamu lakukan disini?" Adel berdiri dari kursinya, menatap heran pada Arga yang tiba-tiba ada dihadapannya.


"Nona sendiri? Apa sedang menunggu seseorang?" Adel mengangguk, dia memang menunggu Rey. Namun ini tak biasanya, sudah 15 menit tetapi Rey tak datang juga. Biasanya dia yang selalu menunggu Adel.


"Maaf jika saya lancang, tetapi saya harus menyampaikannya." Arga menghela nafas panjang, sebelum melanjutkan kalimatnya. Arga menyampaikan maksud dan tujuannya datang kesini.


Flash back On


Saat Henry masuk ke kamar mandi, Arga tak sengaja melihat paper bag yang diberikan Adel. Arga penasaran dengan isinya, dia mengintip isi di dalamnya. Hatinya mencelos, Adel ternyata sangat menyayangi El. Terlihat dari barang yang dia bawakan hari ini.


"El, kamu harus tetap semangat, aku akan membantu sebisa mungkin. Tak peduli jika Daddy mu akan marah padaku, aku hanya tak ingin kamu hidup tanpa kasih sayang seorang ibu seperti ku. Meskipun Wulan ada disampingmu, tapi aku tahu, yang kamu butuhkan adalah Nona Adel" Arga menahan sesak didadanya.


"Berani sekali kamu memukul kepalaku?" Henry mengira Arga sengaja melakukannya, Arga mengetuk pintu asal, sehingga tak memperhatikan Henry yang ada didepan pintu. Ingin tertawa, tapi takut dosa.


"Maaf, aku harus memaksa, pergilah temui Nona Adel. Dia masih sangat menyayangi El, kau lihat ini?" Arga menunjukkan isi paper bag tadi.


"Ini adalah bukti, bahwa Nona Adel tak pernah membenci mu, kalaupun iya, dia masih bisa mengesampingkan egonya. Demi El, dia melakukan ini, tolong buka matamu lebar-lebar." Arga melupakan sopan santun nya. Saat ini dia hanya ingin membantu Henry keluar dari zona nyaman.


"Kalau kau mau, kau saja yang pergi" Henry membanting pintu kamar mandi. Arga mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras, bagaimana bisa ada manusia sebodoh Henry.


"Ku pastikan kamu akan menyesal, dan ketika itu terjadi ku harap semuanya belum terlambat" teriakan Arga menggema, diruangan yang kedap suara tersebut.

__ADS_1


Arga meninggalkan kamar Henry dengan wajah memerah menahan amarah. Baru kali ini dia merasa sangat ingin membunuh orang, kakak angkat yang begitu bodoh.


Arga menyusul Adel, tetapi Adel sudah pergi, dia akhirnya menuju sebuah Mall. Nasib baik masih berpihak padanya, Adel sedang merenung di sebuah kafe. Hal itu tak luput dari pengamatan Arga. Arga memberanikan diri untuk berbicara secara langsung dengan Adel. Apapun resikonya.


Flash back Off


Adel sangat marah, tetapi jauh di lubuk hatinya yang terdalam, dia juga kasihan dengan Henry. Arga buru-buru pergi. Melihat bayangan Rey yang mendekat kearahnya.


"Maaf Nona, saya harus pergi, jika ada sesuatu yang ingin Anda tanyakan, bisa menghubungi saya secara langsung." ucapnya meninggalkan Adel begitu saja, hal itu membuat Adel semakin penasaran. Karena Arga belum sempat mengatakan semuanya.


Apa yang sebenarnya ingin dia katakan? Apa El disana baik-baik saja? Perasaanku menjadi cemas, apa yang terjadi padamu El? Ku harap kau akan baik-baik saja disana. Kamu pasti butuh liburan kan? Apa kamu juga rindu Mami? Mami akan menemui mu lain kali.


"Maaf membuatmu menunggu, mobilku pecah ban, dan aku harus menunggu taksi lewat." Kehadiran Rey membuyarkan lamunan Adel, secepat kilat dia tersenyum padanya. Dia tak ingin Rey curiga, atau dia akan membuat Rey bertindak di belakangnya.


"Eh iya Kak, aku juga belum lama sampai disini" Adel menampilkan barisan gigi putihnya. Rey tak percaya begitu saja, dia menyentuh gelas Adel. Tak lagi panas, itu berarti Adel sudah sampai sejak tadi. Namun ia enggan mempermasalahkan hal sepele seperti ini.


"Tara, aku sudah membeli dua tiket film romantis, kamu suka kan?" Rey menunjukkan dia tiket VIP ditangannya, dulu mereka pernah menonton film horor, Adel cemberut. Karena dia takut hantu, dia lebih memilih genre romantis atau komedi.


"Sejak kapan Kakak suka film romantis?" Adel mengernyitkan keningnya. Seingatnya, pemuda ini lebih menyukai film action dan horor.


"Sejak aku mengenal kamu" Wajah Rey menjadi mode serius. Adel menanggapinya dengan gurauan. "Ayo masuk, sebentar lagi film nya mulai" Adel menggandeng tangan Rey, mereka menuju ruang theater, sebelumnya mereka membeli minuman dan snack untuk menemani mereka.


Sepanjang film diputar, Adel tak fokus pada layar. Dia banyak melamun, terkadang Rey tertawa, karena ini film komedi romantis. Tidak dengan Adel yang selalu datar, pikirannya berkelana entah kemana. Rey menyadari perubahan sikap Adel. Dia juga tak menanyakan, masalah apa yang membuat seorang Adel mengabaikan Rey yang berada di dekatnya.


TBC

__ADS_1


TERIMA KASIH


__ADS_2