Ibu Untuk Tuan Muda

Ibu Untuk Tuan Muda
S2-77


__ADS_3

Happy Reading


💐💐💐💐💐💐


Hari perkiraan kelahiran Adel semakin dekat. Bukan hal mudah dilalui, dengan adanya rintangan yang Adel lalui sebelumnya. Setiap pagi ia selalu berjalan-jalan pagi bersama El dan Mommy. Terkadang Henry juga menemani. Hanya sekedar melakukan peregangan agar otot tubuhnya tak terasa kaku.


Nyonya Amel juga mengundang pelatih senam khusus ibu hamil untuk Adel. Ibu Sari juga sesekali mengunjungi putrinya. Bahkan Tuan Wira terkadang ikut bersamanya. Kondisinya jauh lebih baik dari sebelumnya.


"Dah, Mami. Oma, El ke sekolah dulu." El melambaikan tangannya.


Membalas lambaian tangan El. Sampai mobil yang mengantar El menghilang di balik pagar. Henry berangkat lebih awal. Ada klien penting yang akan ia temui bersama Arga.


Berjalan perlahan, Adel bersiap untuk senam pagi bersama pelatihnya. Sebelum itu, ia hanya makan beberapa suap saja. Rasanya terlalu sesak jika makan terlalu banyak. Sedikit tetapi sering.


"Baby, ada apa dengan mu? Hari ini Kau lebih banyak tidur." Adel merasa ada yang tak biasa. Baby biasanya sangat aktif, apalagi saat Adel merasa lapar. Pasti ia akan berdemo meminta jatah makanan. Tetapi hari ini, Baby dalam kandungannya hanya bergerak sebentar saja saat Henry menyapanya pagi tadi.


"Kau lelah? atau disini sudah terlalu sempit?" Adel terkekeh. Terus mengusap perut yang semakin membulat.


Suara pintu diketuk. Nyonya Amel memberitahu Adel bahwa pelatih senamnya sudah datang. "Adel, Kau sudah siap? Rere sudah datang."


"Iya, Mom. Tunggu sebentar." Adel segera menyudahi kegiatannya. Menggoda Baby yang sepertinya enggan bergerak hari ini. Hanya beberapa gerakan halus namun cukup menggelitik dibalik perut buncitnya.


"Anda cantik sekali, Nyonya." ucap Rere melihat penampilan Adel. Meski hamil besar, tubuhnya tetap terawat. Hanya bagian perut yang terlihat seksi. Begitupun Henry berpendapat, istrinya terlihat seksi dengan penampilannya sekarang.


Meletakkan tangnnya dibahu Rere. Adel hanya menganggapi dengan senyuman. "Haih, Kau selalu menggoda ku Re."


"Ini kenyataan, Nyonya."


"Ya, Mom juga sependapat." Nyonya Amel ikut memuji menantunya.


"Ya, ya. Terserah Kalian aja. Mari kita mulai." Mereka menuju ruang olah raga. Peralatan senam sudah dipersiapkan.


"Hari ini Kita akan mempelajari gerakan baru, untuk membantu melenturkan otot pinggul." Rere menjelaskan gerakan yang akan mereka peragakan hari ini. Perlahan ia memberi arahan untuk Adel ikuti. Gerakan demi gerakan mereka lakukan bersama.

__ADS_1


Adel merasa perutnya sedikit kencang, namun hanya sebentar. Mengabaikan hal itu, mungkin karena gerakan baru yang Rere ajarkan. Berpengaruh pada bagian tubuhnya.


Siang menjelang, El ada les tambahan. Nyonya Amel keluar sebentar untuk membeli beberapa keperluan. Adel seorang diri. Keram di perutnya semakin lama semakin bertambah. Namun masih tak menganggap masalah.


"Nyonya, ada yang bisa Saya bantu." Bi Ning tak sengaja melintas. Ia melihat keringat dingin di wajah Adel.


"Ya, tolong hubungi Dokter Siska, Bi." Adel kembali menguyah buah potong. Rasa sakitnya semakin bertambah.


"Baik, Nyonya." Bi Ning bergegas melakukan apa yang Adel perintahkan. Ia juga menghubungi Nyonya Amel, memberitahu keadaan Adel.


Tak berapa lama, Nyonya Amel datang. Berbarengan Dokter Siska yang juga baru tiba. "Apa ada masalah dengan Nyonya Adel, Nyonya?"


"Aku baru saja keluar sebelumnya. Tadi masih baik-baik saja." Nyonya Amel membuntuti Dokter Siska.


Mengusap peluh di dahinya. Ia berusaha tenang dan berfikir positif. Menghibur dirinya dengan kegiatan ringan di kamarnya. Meski sebenarnya Adel sangat takut.


"Adel, Kau di dalam? Mommy masuk ya." ucap Nyonya Amel. Setelah sebelumnya mengetuk pintu kamar yang sedikit terbuka.


Nyonya Amel menerobos masuk, setelah Adel menjawabnya. Diikuti Dokter Siska, dibelakangnya. "Apa keluhan yang Anda rasakan saat ini?" Dokter Siska meletakkan peralatan medisnya di atas meja.


"Bagaimana, Dok? Apa yang terjadi padanya?" Nyonya Amel menyandarkan kepala Adel di bahunya.


"Sepertinya, Nyonya Adel mengalami kontraksi."


"Tapi kan jadwalnya masih minggu depan, Dok." Adel sudah bisa bicara dengan lancar. Rasa keram diperutnya sudah menghilang.


"Mari kita cek dulu." Nyonya Amel membantu Dokter Siska. Memapah Adel ke ruang pemeriksaan khusus, yang telah Henry siapkan.


Dokter Siska dibantu seorang suster, memeriksa kondisi Adel terlebih dahulu. Sungguh mukjizat, keadaan Adel seperti tak pernah terjadi apapun sebelumnya. Tekanan darah dikatakan normal, padahal tiga hari yang lalu sempat naik.


"Sekarang silahkan berbaring." Suster membantu mengoleskan gel. Dokter Siska menggerakkan transducer dipermukaan kulit perut Adel. Meski memiliki alat USG, namun tak setiap saat Dokter Siska menggunakannya. Karena ada batas maksimal penggunaanya.


Pertama yang di cek adalah detak jantung bayi, sangat baik. Masih dalam batas normal. Berikutnya posisi bayi. Dua minggu sebelumnya, kepala sudah dibawah. Tetapi belum menyentuh panggul. Tetapi hari ini, sudah berubah 180°. Kepala bayi sudah sepenuhnya masuk panggul.

__ADS_1


Dokter Siska tersenyum, sungguh keajaiban Tuhan. Adel dan Nyonya Amel pun merasa heran. "Selamat, Nyonya." Dokter Siska mengulurkan tangannya.


Mengernyit heran, Adel menerima uluran tangan Dokter Siska. Meski ia sendiri bingung. Selamat untuk apa? "Selamat, karena posisi bayi sudah sepenuhnya masuk panggul. Dan rasa nyeri atau keram di perut, karena bayi berusaha menemukan jalan lahirnya. Sekarang ini ia sedang berputar, jadi posisinya seperti ini, dan sekarang begini." Dokter Siska menjelaskan dengan rinci, kondisi yang di alami Adel.


Di kehamilan sebelumnya, ia tak merasakan kontraksi apapun. Dokter langsung memutuskan operasi caesare, karena detak jantung bayinya melemah saat Adel memeriksakan diri. Tanpa persiapan sebelumnya. Bahkan dalam keadaan mendesak.


Menitikkan air mata haru. Adel terus menatap gambar di layar monitor yang memperlihatkan sebagian tubuh bayi dalam kandungannya. Nyonya Amel turut terharu, mereka berdua tak kuasa mendengar pernyataan Dokter Siska.


"Ada apa ini Mom?" Henry masuk tiba-tiba. Dengan nafas terengah, ia tak sabar ingin segera melihat keadaan Adel. Begitu Nyonya Amel mengabarkan keadaan Adel, ia bergegas pulang. Meninggalkan meeting yang baru saja di mulai.


Adel kembali merasakan sakit diperut bagian bawahnya. Memejamkan matanya. Mengusap perlahan perut buncitnya.


"Sayang, jangan membuatku takut." Tangan Henry bergetar mengusap jejak air mata yang membasahi wajah istrinya.


"Hei, anak bodoh. Apa yang Kau pikirkan? Hmm.. Kenapa malah ikutan sedih." Nyonya Amel menyeka sudut matanya.


"Dokter, katakan padaku. Apa yang terjadi pada istriku?" Henry sudah panik, melihat Adel meringis menahan sakit.


"Tuan, mohon tenang. Nyonya..."


"Bagaimana Aku bisa tenang? Kau lihat dia kesakitan." Henry meninggikan suaranya. Ia membantu Adel meninggikan tempat tidurnya. Adel mengusap lengan suaminya. Sakitnya kembali menghilang.


Jangan emosi. Aku gak apa-apa. Arti tatapan Adel padanya.


"Kau dengarkan dulu, biarkan Dokter Siska bicara." Nyonya Amel geram, Henry selalu saja tak sabar. Bahkan ia tak ingin mendengar penjelasan orang lain.


Mau tak mau, Henry harus mendengar penjelasan Dokter. Ia tak ingin melewatkan sepatah kata pun. Henry bernafas lega, keadaan Adel bisa kembali normal. "Lalu, bagaimana rencana operasi yang sebelumnya?"


"Melihat kondisi Nyonya Adel saat ini, Kita masih harus menunggu. Jika memang bayi itu bisa lahir dengan sendirinya, maka jadwal operasi di tiadakan. Tetapi jika ada kondisi darurat, Saya akan segera menyiapkan tindakan pencegahan. Dan operasi di majukan. Saat ini, usia kehamilan Nyonya Adel sudah memasuki 37 minggu 3 hari. Yang berarti usia matang untuk bayi siap di lahirkan."


Dokter Siska masih stand by, ia memantau keadaan Adel dan bayi dalam kandungannya. Ia juga sudah menghunungi pihak rumah sakit. Untuk mempersiapkan semua alat medis. Dokter Alvin yang turun tangan lansung. Sebagai kepala rumah sakit. Jadwalnya memang sangat padat. Tetapi ia harus menyempatkan diri, untuk memberikan pelayanan terbaiknya untuk pemilik rumah sakit itu sendiri.


TBC

__ADS_1


TERIMA KASIH


__ADS_2