
Jangan lupa like komen dan vote setelah membaca kakak semua.
Happy Reading
💐💐💐💐💐💐
"Dan dia juga yang akan bertanggung jawab untuk itu." Henry masih sibuk dengan pemikirannya, begitupun Adel.
Belum juga mereka menemukan jawabanya, Tuan Wira kembali berucap. "Dan saya juga akan mengumumkan pertunangan mereka minggu depan." Suasana semakin riuh, dua kabar bahagia ini. Pertunangan putri dan pangeran kerajaan bisnis. Tentu akan menjadi hal menarik yang wajib mereka hadiri.
Henry berjalan mendekati Adel. "Tadi pagi Eyangmu makan apa?" Tanyanya setengah berbisik.
"Makan apa maksudmu?" Adel semakin dibuat bingung.
"Itu tadi ucapannya barusan, apa dia habis keselek biji pete? Sampai dia mengumumkan pertunangan untuk kita." Henry mulai berpikir, dia mengetukkan telunjuknya di dagu runcingnya.
"Aku juga tak tau, mungkin Eyang kerasukan jin kribo." Mereka berdua sibuk akan pikiran masing-masing. Tentu saja keduanya shock, tak ada angin tak ada hujan mengumumkan pertunangan.
Saat suasana sudah terkendali, Tuan Wira menyudahi acara rapat hari ini. "Sekian pengumuman dari saya. Rapat hari ini selesai." Tuan Wira meninggalkan ruang rapat, dengan senyum tak memudar dari wajah senjanya. Mereka berdua pasti kaget dengan berita ini.
Tetapi Tuan Wira sudah membicarakannya dengan Tuan Abimanyu, mengenai perjodohan anak dan cucu mereka yang sempat tertunda. Dan Tuan Wira hanya mengetes Henry, ternyata Henry lulus dalam ujian yang dia berikan.
Tuan Wira segera menghubungi Tuan Abimanyu. "Saya sudah umumkan, mengenai pertunangan mereka." Ucap Tuan Wira saat telepon sudah terhubung. Namun tak lupa mereka saling mengucapkan salam.
"Berita bagus Tuan, saya sangat bahagia." Tuan Abimanyu begitu senang, hingga tak menyadari keberadaan orang-orang disekitarnya. Dia sedang memimpin rapat, menggantikan Henry.
__ADS_1
"Baiklah Tuan, saya akan menghubungi Anda lagi nanti." Tuan Abimanyu menyadari beberapa pasang mata yang menatapnya penuh tanya. Suasana hati yang senang, membuat rapat berjalan lancar.
Di ruangan Tuan Wira, Adel dan Henry masuk bersamaan, mereka tak menerima keputusan sepihak itu, bahkan dua orang itu tak mengetahui sama sekali tentang berita pertunangan ini. Tuan Wira sengaja memberikan kejutan untuk mereka.
"Tuan, apa maksud dari perkataan Anda tadi?" Henry duduk bersebelahan dengan Adel. Mereka saling melirik, memikirkan cara agar acara tersebut tak berlangsung.
"Iya Eyang, kenapa tak membicarakanya dengan kami." Adel memonyongkan bibirnya.
"Aku rasa tidak perlu, lagian sekarang kalian juga sudah tahu kan?" Eyang Wira dengan santainya, dia menyandarkan kepalanya, pada senderan sofa single yang dia duduki.
"Maafkan Eyang, sebaiknya kita bicarakan hal ini dirumah. Sekarang kalian berdua pulanglah!" Tuan Wira mengibaskan tangannya, mengusir mereka secara halus.
Henry menundukkan kepalanya. "Maaf Tuan, saya tidak bersedia." Henry mengungkapkan penolakannya. Dia tak berani menatap Tuan Wira, karena ia sendiri masih belum bisa menata hatinya sendiri.
Tuan Wira menegakkan duduknya. "Haiihhh... Kalian ini bukan lagi bocah kemarin, lalu apa kata orang nanti? Adel selama ini kurang baik apa? Dia bahkan rela mendekam di tempatmu untuk merawat anakmu itu." Tuan Wira sangat kecewa atas penolakan Henry.
"Saya tahu itu, tetapi untuk menikah saya belum siap." Suaranya sedikit bedirgetar, namun inilah keputusannya. "Saya permisi." Henry segera meninggalkan ruangan, dia tak bisa berlama-lama disana.
Henry melajukan mobilnya sangat kencang, dia mengutuki ucapannya sendiri, kenapa dia bisa mengucapkan kata-kata itu. "Maafkan aku, aku belum siap, aku belum bisa membuka hatiku. Aku takut, takut kamu juga akan meninggalkanku." Henry menepikan mobilnya di sebuah danau, dimana dia tercebur bersama Adel.
Senyum getir yang samar dari bibirnya, bahkan bekas tinju yang tadi ia dapatkan. Sekarang mulai membiru, tetapi tak sesakit hatinya saat ini. Henry melemparkan kerikil yang dia temui disekitar danau, sekarang suasana sepi, karena masih jam kerja. Terlebih sekarang masih terhitung tengah hari.
Henry meraup wajahnya kasar. "El, maafkan Daddy, Daddy memang menginginkan kebahagiaanmu, dan akan melakukan apapun untukmu, tetapi tidak untuk yang satu ini. Aku tak mungkin mempermainkan pernikahan. Adel berhak bahagia."
Henry memegang dadanya yang terasa sesak, suaranya tercekat ditenggorokan. Matanya memerah menahan tangisnya, selain El, hanya masalah ini yang bisa membuatnya selemah ini. Dua kali ia ditinggalkan, membuatnya sulit untuk membuka hati pada cinta yang baru. Saat ini prioritasnya hanya El.
__ADS_1
Beberapa saat Henry disana, akhirnya memutuskan untuk menemui El. Hanya bayi itu yang bisa mengobati setiap letih dan rasa sakitnya.
Henry memarkirkan mobilnya, disana belum nampak mobil Tuan Wira. Untunglah dia tak perlu lagi bertemu dengannya. Hari ini juga, dia akan membawa El pulang, kesehatan El sudah membaik, meski masih harus bertemu dokter beberapa kali.
"Mom, kau disini?" Tanya Henry saat melihat Mommynya disana. Sebelumnya dia sudah dipersilahkan masuk Bibi Yan. Henry melihat El yang antusias menyambutnya. El sedang bermain bersama Wulan saat Henry datang.
"Hello Baby, Daddy datang." Henry merentangkan tangannya, El segera berlari kearahnya. Henry mengangkatnya, berputar beberapa kali.
"Apa kau senang? Hmmmm." Henry menghadiahkan banyak ciuman di wajah gembil El. Pipi gembilnya sudah seperti semula, bahkan El terlihat begitu menggemaskan sekarang. Dia sudah banyak berubah, tak lagi murung.
"Nak, dimana Adel? Kenapa kalian tak pulang bersama?" Ibu Sari baru saja turun dari kmarnya dilantai dua. Henry sedikit gugup menjawabnya.
"Emmm, itu masih ada urusan, bareng Tuan, emm Eyang Wira." Henry tak berani menatap lawan bicaranya. Dia sibuk bermain dengan El, membuat mobil dan kereta dari mainan lego. "Oh iya Mom, Ibu, hari ini El akan pulang."
"Pulang kemana?" Sahut Tuan Wira tiba-tiba sudah berdiri disamping Henry. Adel langsung naik, menuju ke kamarnya. Tak sanggup jika harus bertemu El, dia akan semakin tersiksa jika harus berpisah dengan El. Terlebih Henry tak lagi membutuhkannya.
"Tuan, Anda sudah pulang?" Henry mengulurkan tangannya, namun diabaikan. Dia menarik kembali tangannya. Dan kembali disibukkan dengan El.
"Temui aku diruang kerjaku, ada beberapa hal yang ingin ku bahas." Tuan Wira menuju ke kamar miliknya. Ibu Sari dan Nyonya Amel saling melempar pandangan, mereka tak tahu masalah apa yang sebenarnya terjadi. Padahal sikap Tuan Wira kemarin sudah lebih baik. Kesalahan apa yang Henry perbuat? Batin Nyonya Amel.
Kedua wanita itu belum mengetahui tentang pertunangan Adel dan Henry. Itu adalah Ide Tuan Wira dan Tuan Abimanyu. Mereka baru akan memberi tahu jika sudah selesai masalah dikantor Wiranata. Tetapi tentang pengumuman itu, sungguh hasilnya diluar dugaan Tuan Wira.
Dia tak mengira Henry akan menolaknya, menurut Tuan Abimanyu, dia tak dekat dengan wanita manapun. Terlebih sikap Henry yang akhir-akhir ini melunak jika berdua dengan Adel. Berdua mengasuh El mereka terlihat kompak, layaknya pasangan sungguhan.
TBC
__ADS_1
TERIMA KASIH