
Dukung terus Baby El, dengan like komen dan vote sebanyak-banyaknya.
Happy Reading
💐💐💐💐💐💐💐
Tuan Abimanyu sangat geram dengan tingkah putra bodohnya. Ingin sekali rasanya menenggelamkan Henry di dasar samudera yang sangat dalam. Bisa-bisanya dia mempunyai pemikiran bodoh seperti itu.
Duduk disamping Tuan Wira. Dia sangat malu dengan tindakann Henry padanya. "Maafkan saya Tuan, saya tak bisa mendidik dia dengan baik. Apapun caranya saya tetap akan melanjutkan kerjasama kita. Tolong Tuan jangan membatalkan apa yang telah kita sepakati."
"Dengan atau tanpa pernikahan Adel dan Henry, saya tetap akan melanjutkannya. Sekali lagi saya meminta maaf untuk Henry. Saya sangat menyesal Tuan." Emosi yang baru meredam kini mencuat jika mengingat apa yang dilakukan Henry.
Menepuk bahunya pelan. "Saya sudah memaafkanmu, lagipula ini bukanlah kesalahanmu, bukan, bukan kamu yang seharusnya meminta maaf. Saya juga tak menyalahkan siapapun disini. Ini semua salah saya." Tuan Wira berusaha tenang, walaupun hatinya bergemuruh.
Henry sudah meninggalkan ruangan, dengan wajah yang kusut. Bekas tangan Tuan Abimanyu masih jelas terlihat memerah. Namun Henry mengabaikannya. Dia sendiri tak ingin menyakiti orang lain. Tetapi tindakannya lain, justru menebarkan kebencian untuk orang lain.
"Aku tak punya pilihan lain, ini yang terbaik. Kamu berhak bahagia dengan orang yang cintai. Tanpa harus mengorbankan perasaanmu sendiri." Henry membuka dompetnya, disana ada potret seorang gadis kecil yang imut dan menggemaskan sedang tersenyum.
Dia adalah orang yang sama dengan yang ada diruang kerja Tuan Wira. Henry sudah menyelidiki siapa gadis itu, dia adalah teman masa kecilnya. Sebelum dia pintah dan bertemu dengan Arga. "Sekarang kamu sangat cantik, bahkan kamu lebih dewasa dari umurmu."
Gadis kecil yang menolongnya, saat dirinya tersesat disebuah danau. Ketika ia diajak Ama berjalan-jalan dulu. Henry yang aktif, bermain-main hingga terpisah dengan Ama dan keluarganya. Itu adalah piknik yang pertama dan terakhir untuknya. Dia tak mau lagi, karena hampir saja kehilangan nyawanya disana.
__ADS_1
"Kamu tidak apa-apa nak?" Ibu Sari menarik Henry ketika dirinya hendak terjatuh kedanau. Ibu Sari sering membawa Adel kemari saat liburan. Waktu itu ayahnya Adel masih ada. Jadi walaupun sederhana tetapi sangat bahagia. Ibu Sari membawa Henry bertemu Adel dan ayahnya.
"Hai tatak, nama amu capa?" Adel masih belum jelas mengucapkan kata-katanya. Tangan mungilnya mengulur, meminta Henry untuk menyambutnya.
"Nama atu Adel, nama tatak capa?" Adel masih tak menyerah, akhirnya Henry menyambut uluran tangan itu. "Henry" jawabnya singkat.
"Ihhh tatak dak boleh gitu, halus cenyum, tata ibu talo cenyum jadi tantik." Adel kecil memang sangat ceriwis. Tak heran jika dia cepat akrab dengan orang baru. "El sayang, kakak ini kan cowok bukan cantik, tapi tampan."
"Ooo tampann."
"Dimana orang tuamu nak?" tanya Ayah Adel. Dia celingukan mencari keberadaan orang tua Henry. Dia hanya menggeleng tanda tak tahu.
"Yah, kita antar kebagian informasi, nanti kan diumumkan." Ibu Sari memberi ide. Dengan menggendong Adel, dia membimbing Ibu Sari berjalan. Sebelumnya mereka merapikan peralatan yang digunakan untuk piknik. Ibu Sari menggenggam tangan Henry.
"Terima kasih Bibi." Henry mengucapkan rasa terima kasihnya, karena telah membantunya menemukan Ama dan Mommynya. Sebelum bertemu Ama, Henry sempat bermain dengan Adel. Dan juga kedua orang tuanya.
"Sama-sama sayang, lain kali jangan terpisah lagi yah." Ibu Sari mengusap kepala Henry dengan lembut. Sungguh rasanya luar biasa sekali. Itulah awalnya Henry mengenal keluarga Adel. Mereka saling berkunjung satu sama lain. Tak lama setelah itu, Henry dan keluarganya pindah ke Jakarta. Dan Adel dibawa pergi oleh ibunya, tak lama setelah ayahnya meninggal dunia.
"Ternyata kamu masih sama, sangat cerewet" Henry sedikit menunggingkan bibirnya yang terasa kaku. Dia masih menikmati indahnya taman, yang menyuguhkan keindahan berbagai bunga dan kolam ikan yang menyejukkan mata.
...----------------...
__ADS_1
Adel sekarang duduk manis disebuah kafe tak jauh dari danau. Kekesalan dan air matanya sudah menyurut. Dia sedang menikmati coklat panas kesukaanya. Ada yang mengatakan bahwa salah satu manfaat coklat panas, mampu membantu orang menenangkan hati yang gelisah. Bener nih thor? Katanya sih.
Dipandanginya wajah rupawan dihadapannya. Mungkinkah ini suatu kebetulan? Sehingga dirinya bisa berjumpa dengan Rey. "Apa sudah puas memandangiku?" Perkataan Rey membuat Adel tersadar, dan segera memalingkan wajahnya. Dia sangat malu ketahuan mencuri pandang dengannya.
Wajahnya terasa memanas sekarang. "Ada apa hmm? Dan wajahmu kenapa memerah?" Rey terus menggoda Adel. Melihat Adel yang tersipu membuatnya gencar mengeluarkan kata-kata manisnya.
Adel memegangi pipinya yang semakin memanas, mungkin sudah semerah tomat sekarang. "Kak, diamlah! Kenapa dari dulu kau senang sekali menggodaku?" Suara Adel ketus, tetapi dihatinya dia merasa senang. Bisa bertemu lagi dengan Rey.
"By the way, Kak Rey ngapain disini? Bukankah Kakak sudah kembali ke Jerman?" Adel bertanya sambil sesekali menyeruput cairan coklat kehitaman dicangkirnya. Terkadang dia meniupnya karena masih terasa panas. Namun dicuaca sore yang mendung membuatnya cocok untuk menemani hawa dingin disekitar danau.
"Aku merindukanmu." Rey mengedipkan sebelah matanya. Itulah kebiasaan Rey, suka sekali berucap kalimat yang membuat orang salah tingkah. Tetapi tak semua gadis dia perlakukan seperti itu. Hanya orang tententu saja, seperti Adel sekarang. Sifatnya yang humoris membuat orang salah mengartikan sikapnya.
Banyak orang yang mengejarnya, bahkan menyatakan cinta padanya. Tetapi tak satupun yang nyangkut dihatinya. "Kak, jangan membuatku terbang, nanti kau akan menjatuhkanku kedasar jurang." Adel mendengus, paham dengan sikap Rey yang seperti itu.
"Aku serius Jasmine, aku sedang tidak bercanda." Rey memasang wajah seriusnya. Namun Adel malah balik menertawakannya. "Hahaha... Sejak kapan Kak Rey jadi baperan gini?" Rey terpesona dengan tertawa Adel. Sudah lama sekali dia merindukan Adel yang seperti ini. Ceria, dan tegar menghadapi setiap kesulitan yang dilaluinya.
"Sekarang kau sudah berani? Hmmm" Rey mencolek hidung Adel dengan sendok, yang dia gunakan untuk mengaduk capucino dicangkirnya. "Kakak, kau mengotori hidungku." Adel mengerucutkan bibirnya. Rasanya tak ada yang lebih membahagiakan selain melihat ekspresi Adel. Dia bisa menjadi wanita dewasa dalam sekejap. Tetapi dihadapannya dia tetaplah Jasmine, gadis yang dia kenal.
"Sudahlah! Ada masalah apa sebenarnya? Sampai membuat gadisku bersedih seperti ini? Apa karena suamimu itu?" Rey bertanya dengan wajah tegas, saat ini dirinya tak lagi ingin bercanda. Dia menyatukan kedua tangannya diatas meja. Membuat dia terlihat dewasa, dan ketampanan berlipat.
TBC
__ADS_1
TERIMA KASIH