
Jangan lupa like komen dan vote setelah membaca kakak semua.
Happy Reading
💐💐💐💐💐💐💐
"Sudahlah! Ada masalah apa sebenarnya? Sampai membuat gadisku bersedih seperti ini? Apa karena suamimu itu?" Rey bertanya dengan wajah tegas, saat ini dirinya tak lagi ingin bercanda. Dia menyatukan kedua tangannya diatas meja. Membuat dia terlihat dewasa, dan ketampanan berlipat.
Adel mengalihkan pandangannya, menatap jauh kearah tepi danau diseberang sana. Dia menghela nafas panjang sebelum bercerita. Rasanya dia memang butuh teman, karena sudah tak sanggup langi menyimpannya untuk sendiri. "Suami dan anakku sudah meninggal."
"Apa? Kapan? Meninggal kenapa?" Rey memberondong Adel dengan pertanyaan. Nampak wajah terkejut darinya. Bukankah dipantai waktu itu semuanya baik-baik saja?
"Sudah hampir dua tahun" Suaranya lirih, kesedihan itu kembali naik kepermukaan. Jika mengingat kepahitan hidup yang dia jalani. Adel menceritakan semuanya, sampai akhirnya dia bertemu El dan menjadi ibu asuh baginya. Adel tak kuasa menahan air matanya, bahkan tisu yang ada dimeja berubah menjadi gulungan sampah yang bertebaran.
Rey meraih kursi disebelah Adel, dengan ragu-ragu menyandarkan kepalanya pada dada bidangnya. Adel yang saat itu masih kalut, hanya bisa pasrah dengan perlakuan Rey. Namun tak lama, Adel segera menarik tubuhnya menjauh. "Maaf Kak, aku jadi terbawa suasana." Adel kembali mengelap hidungnya yang memerah.Perasaanya sedikit lega, karena mencurahkan sebagian beban yang ia tanggung.
"Maaf, kalau pertanyaanku jadi membuatmu sedih. Kamu jadi mengingat kenangan pahit yang sudah kamu kubur dalam-dalam." Rey ikut merasakan kesedihan Adel. Saat ini dia hanya berusaha menghibur Adel.
__ADS_1
"Jadi apa yang akan kamu lakukan? Apa kamu masih ingin menjadi ibu sambung untuk bayi itu?" Rey bertanya dengan hati-hati. Dia tak ingin membuat Adel salah paham. "Aku sudah terlanjur menyayanginya Kak, aku sudah menganggapnya anaku sendiri. Tapi aku juga tak ingin bertemu dengan orang itu." Adel enggan menyebutkan Henry dengan namanya.
Rasanya masih sangat sakit, jika mengingat tuduhan Henry untuk nya. "Aku bingung, tapi aku kasihan dengan El. Dia masih membutuhkan ASI. Dan juga trauma yang dia alami, aku harus membantunya Kak." Tetapi Adel menutupi identitasnya sebagai cucu dari Eyang Wira. Dan tentang penculikan yang membuatnya harus dirawat dirumah sakit.
"Kamu kan masih bisa mengirimkan setok untuknya, bisa menemuinya diam-diam saat Daddynya tak ada dirumah. Selain itu, kamu juga masih bisa terus bekerja." Adel membuat alasan dirinya diterima bekerja disebuah perusahaan ternama. "Atau kamu bisa kerja ditempatku. Kebetulan aku kesini untuk meninjau proyek pembangunan gedung baru untuk cabang baru di Indonesia."
"Jadi itu alasan Kakak kesini? Kakak semakin hebat sekarang, aku kagum padamu." Adel mengusap tangan Rey yang ada diatas meja. Jangan tanya perasaan Rey, seperti sengatan listrik ribuan volt. Sangat senang, sungguh senang.
"Ya, tapi ini bukan saatnya untuk memujiku. Sekarang aku antarkan kamu pulang. Sekarang sudah malam. Besok kita bisa bertemu lagi, dan melanjutkan kisahmu itu."Rey melirik pergelangan tangannya. Sudah jam 20.30 malam. Tak terasa mereka bercerita terlalu lama, 4 jam mereka disana. Bahkan makanan dan minuman yang mereka pesan sudah ludes pindah keperut.
"Aku bawa mobil Kak, aku bisa pulang sendiri." Adel keceplosan, dia mengutuki kebodohannya sendiri. "Kenapa bisa keceplosan gini sih?" Gumamnya sangat pelan. Rey menautkan kedua alisnya. Bawa mobil? Mungkin dari hasil kerjanya merawat bayi Adel bisa membeli mobil?
"Ini sudah malam Adel, tak baik buatmu pulang sendirian." Rey memaksa Adel, dia terpaksa mengiyakan. Nanti bilang saja itu rumah majikannya, tempatnya bekerja. Itu lebih baik, daripada harus mengatakan siapa Adel sebenarnya. Padahal Rey sudah mengetahuinya, melalui berita tadi siang yang mengumumkan Adel sebagai pewaris selanjutnya Tuan Wiranata.
"Kau masih berusaha menutupinya dariku Jasmine." Rey bergumam, mengikuti langkah Adel yang hendak menyetop taksi. Namun dia bergerak lebih cepat, akhirnya Adel diantarkan pulang Rey. Suasana hening, padahal banyak pertanyaan dalam benak Adel yang ingin dia tanyakan mengenai Rey.
Keberadaanya disini, dan tujuan dia disini. Terlebih dia ingin menanyakan kehidupan Rey sekarang. Tetapi karena Adel kelelahan menangis, dia akhirnya tidur ditengah perjalanan. Tanpa memberitahukan alamat Eyang Wira pada Rey.
__ADS_1
Bukan Rey namanya, jika tak bisa menemukan alamat tempat tinggal Adel. Mereka sampai setelah 30 menit perjalanan. Rey juga menyuruh anak buahnya mengantar mobil Adel. Dia menemukan kunci mobil Adel tertinggal dimeja kafe.
"Jasmine, berapa banyak kebohongan yang kamu sembunyikan dariku? Hidupmu sekarang sudah banyak berubah, begitupun dengan sikapmu yang semakin dewasa. Kamu bukan lagi gadisku yang dulu. Tapi kamu bahkan lebih menarik dari gadisku yang dulu." Rey mengusap kepala Adel perlahan, satu tangannya masih fokus pada setir mobil.
Rey hendak membangunkan Adel, tetapi rasanya tak tega jika harus melakukan itu. Dia hendak menggendong Adel kedalam, tetapi ditengah jalan Adel terbangun, dia terjingkat. Terlebih ada Ibu dan Eyang Wira dihadapannya. "Kak, kenapa aku disini? Cepat turunkan aku." Adel memukul pelan dada bidang Rey.
"Mereka sudah mengetahuinya, percuma kamu menyembunyikannya." Rey menarik sudut bibirnya membentuk seringai. Adel masih berusaha mengembalikan kesadarannya. Yang belum sepenuhnya kembali dari alam mimpinya.
"Syukurlah kamu baik-baik saja nak." Ibu Sari merengkuh tubuh putrinya. Dia sangat kuatir, telepon Adel mati, jadi dia tak dapat dihubungi. Dan menurut pelayan yang melihat, Adel mengendarai mobil dengan sangat kencang. Membuat Ibu Sari dan Eyang tak tenang.
Mereka baru menyadari Adel pergi, ketika Henry akan mengajak El pulang. Wulan hendak berpamitan, tetapi Adel tak ada dimanapun. Mereka mengira Adel hanya berusaha menghindar dari El, karena takut tak bisa berpisah dengan El.
"Kalian dari mana saja? Ini sudah malam kenapa baru kembali?" Tuan Wira bertanya dengan wajah dingin. Dia juga tak suka melihat Rey menggendong Adel. "Maaf Tuan, perkenalkan saya Rey, teman Jasmine waktu kuliah." Rey mngulurkan tangannya pada Eyang Wira dan Ibu Sari.
Dengan sedikit malas, Eyang Wira menyambutnya. Berbeda dengan Ibu Sari, pantas saja dia seperti mengenal wajah Rey yang tak asing baginya. "Rey? Teman Adel, kakak kelas Adel itu?" Beberapa kali Rey main kerumah Adel saat kuliah dulu. Jadilah Ibu Sari mengenalnya, tetapi sekarang penampilan Rey jauh berubah.
Lebih rapi, lebih dewasa dia juga tambah tampan dengan setelan jas yang melekat ditubuh atletisnya. Rey manganggukan kepalanya. "Ayo nak, kita duduk dulu, maaf sedari tadi membiarkanmu berdiri."
__ADS_1
TBC
TERIMA KASIH