Ibu Untuk Tuan Muda

Ibu Untuk Tuan Muda
Sakit tak berdarah


__ADS_3

Jangan lupa like komen dan vote setelah membaca kakak semua.


Happy Reading


💐💐💐💐💐💐💐


Adel merebahkan sebagian tubuhnya diatas kasur empuknya. Kakinya dibiarkan menjuntai dengan sepatu fantofel masih melekat dikakinya. Matanya menerawang jauh keatas langit-langit kamar. Ingatannya kembali pada kejadian dikantor.


"Seharusnya aku merasa senang, tapi kenapa hatiku berasa sedih?" Adel memang menyetujui keinginan Henry untuk tidak melanjutkan acara pertunangan mereka. Tetapi dia juga tak rela jika harus berpisah dengan El. Dan jauh dilubuk hatinya yang terdalam, hatinya merasa tercubit.


"Apa ini yang dinamakan sakit tapi tak berdarah? Hah, dasar manusia kutub, kenapa aku harus peduli dengannya?" Adel bergegas bangun, menuju kamar mandi. Baru saja meraih gagang pintu, Wulan masuk bersama El. Adel memang tak mengunci pintu kamarnya. Kecuali ketika tidur.


Adel mengurungkan niatnya. "El, cayangg Mami" Adel memeluknya erat. "Miii, passs, miiii" El meronta, karena Adel memeluknya terlalu erat. "Maaf sayang, Mami terlalu bersemangat"


Wulan membereskan baju-baju El, dan beberapa keperluan lain. Adel mengernyitkan keningnya. "Kamu mau kemana Lan?" Rasa penasaran Adel semakin tinggi, sebenarnya apa yang terjadi? Mengapa dirinya yang tak tahu kondisi.


Wulan menghentikan aktifitasnya, dia mendekati Adel. Menatap Adel dengan wajah sulit diartikan. "Aku tak tau, harus memberitahumu bagaimana? Tapi El akan dibawa pulang ke rumah Tuan Abimanyu sore ini. Tuan Henry yang bilang tadi, kalau kita akan pindah."


"Hah? Pindah? Emangnya kenapa kalau El disini? Bukankah harus menunggu El benar-benar pulih? Dokter bilang masih ada beberapa pertemuan lagi supaya trauma El bisa hilang." Adel merasa tak rela jika harus berpisah dengan El. Tetapi diabjuga punya tanggung jawab baru, menggantikan Eyang di kantor.

__ADS_1


"Lebih baik kau tanyakan langsung dengan orangnya. Tapi sekarang dia ada diruang kerja Tuan Wira." Adel menuruni anak tangga, diruang tengah, sekarang sudah sepi. Semua orang disana bubar, hanya ada pelayan yang membreskan sisa makanan dan mainan El.


Sebagian pintu terbuka, namum Adel ragu untuk mengetuk pintu. "Sebaiknya aku tunggu mereka selesai, rasanya sangat tidak sopan mengganggu urusan mereka."Ucap Adel pada dirinya sendiri.


"Saya tak akan menerima imbalan apapun, saya membantu Tuan tulus. Terlebih sudah mengizinkan El tinggal disini." Terdengar Henry sedang berbicara, disana juga ada Tuan Abimanyu. Dia baru saja selesai rapat ketika mendapat kabar bahwa Henry menolak bertunangan dengan Adel. Saat itu juga Tuan Abimanyu meluncur kerumah Tuan Wira.


"Atau mungkin karena saham 45% itu? Anda berniat menikahkan Adel dengan saya? Agar saya bersedia membantu Anda? Sungguh sayabtak menyangka, Anda bisa setega itu. Saya....." Henry tak dapat melanjutkan kalimatnya.


Tuan Abimanyu mengangkat tangannya, dan berhasil mendarat dengan mulus dipipi Henry. Perih, apalagi sebelah masih terasa kaku, bekas pukulan Irawan tadi. "Siapa yang mengajarimu berbicara tidak sopan hah? Daddy tidak pernah mengajarkanmu!!!" Suara Tuan Abimanyu menggelegar, dia sangat murka mendengar ucapan Henry.


"Kau tau? Daddy yang merencanakan perjodohan ini, untuk apa? Untuk El, Daddy tak ingin El kehilangan Mami untuk kedua kalinya. Ini satu-satunya cara agar Adel tetap disamping El. Kau lupa surat ini?" Tuan Abimanyu melemparkan kertas perjanjian antara dirinya dan Adel.


"Jangan pernah mempermainkan hidup orang lain, jika kau tak ingin dipermainkan. Dan soal saham, ini semua diluar dugaan. Cepat minta maaf." Tuan Abimanyu menunjuk dengan jari telunjuknya. Matanya memerah menahan amarah yang memuncak. Bisa-bisanya putra bodohnya perpikiran seperti itu.


Henry masih mendengarkan, Tuan Wira tak menyangka, jika niat baiknya akan disalah artikan oleh Henry. Dia hanya ingin melihat Adel bahagia, beberapa hari hidup tanpa El, seperti orang tak bernyawa. Bahkan dia rela mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkan El.


Tuan Wira menyetujui keinginan Tuan Abimanyu, dia berpikir dengan begitu akan membuat silaturahim kedua keluarga semakin erat. Tapi malah sebaliknya. Perasaanya sangat kecewa, sakit yang luar biasa. Terutama rasa bersalahnya pada Adel. Mungkinkah Adel juga berpikiran demikian?


Demi menyelamatkan perusahaan, dia rela menjual cucu kandungnya, cucu yang bahkan baru dia temukan belum lama ini. Setega itukah dirinya? Tidak, semua itu tidak benar. Dia hanya ingin Adel bahagia, dan menemukan kebahagiaanya.

__ADS_1


"Maafkan aku, seharusnya aku memikirkannya dengan matang. Bukan malah menjerumuskan kalian, aku sama sekali tak berniat menukar cucuku dengan apapun. Aku hanya ingin melihatnya bahagia diusia senjaku." Derai air mata membasahi pipinya, kulit yang berkerut dimakan usia. Hanya menunggu waktu saja.


"Tidak, ini semua salahku, karena memiliki putra bodoh seperti dia." Tuan Abimanyu masih emosi, putra yang dia besarkan, ternyata memiliki pemikiran yang sangat dangkal.


Diluar ruangan, Adel memdengarkan semuanya. Hatinya sakit, bagaikan ditusuk seribu pisau. Serendah itukah dia dan keluarganya? Hanya demi saham dia harus menikah dengan Henry? Adel menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Agar isakan itu tak terdengar oleh siapapun.


Begitu miris nasibnya, dia tak bisa menyalahkan siapapun. Garis hidupnya begitu berliku, Adel berlari menuju garasi mobil. Dia mengemudikannya dengan kencang, entah kemana tujuannya. Yang pasti saat ini dia harus pergi, menjauh dari kedua keluarga ini.


"Sesakit inikah rasanya? Bahkan aku harus menyerah sebelum memulai." Batin Adel, dia menepikan mobilnya di tepi danau. Danau ini tempatnya mencurahkan isi hatinya. Dikala dirinya tak sanggup lagi menyimpannya sendiri.


Disaat terntentu, jika hanyabdia yang menanggungnya, Adel selalu kemari, suasana yang tenang, hijau, dan asri. Membuatnya beetah berlama-lama disini. Adel duduk menelungkupkan kepala pada dua kakinya. Dia hanya ingin menangis, menangis dan menangis.


Meluapkan semua kepedihannya, setiap liku kehidupan yang telah dia lalui. "Aarrrgghhhhhhhhhh" Adel berteriak snagat kencang, seolah-olah sedang membuang semua beban yang ada dibenaknya.


"Tuhannnnn, apa dosa yang telah kuperbuat? Sampai aku harus menebusnya dengan kesakitan yang begitu menyesakkan?" Adel leluasa mengeluatkan semua yang mengganjal diotaknya. Suasana danau sepi, hanya beberapa orang petugas yang melakukan pekerjaanya.


"Seberapa besarkah dosamu itu Nona?" ucap seseorang. Adel mengabaikan orang itu, dia masih menatap kosong pada permukaan danau yang ditumbuhi teratai. Sebagian bunganya mekar, menambah elok pemandangan.


"Bolehkan saya menemanimu?" Tanyanya lagi. Tanpa menunggu jawaban Adel, orang itu duduk disebelahnya. Adel masih bergeming, tanpa merespon keberadaan makhluk asing didekatnya.

__ADS_1


TBC


TERIMA KASIH


__ADS_2