Ibu Untuk Tuan Muda

Ibu Untuk Tuan Muda
S2-9


__ADS_3

Happy Reading


💐💐💐💐💐💐


Perjalanan menuju tempat orang tua Wulan memakan waktu hampir 3 jam. Lewat tengah hari mereka baru sampai disana. Rumah orang tua Wulan berada di luar kota, membuatnya jarang berkunjung karena jadwal seorang dokter begitu padat dulunya.


"Apa masih jauh?" tanya Arga ketika mereka melewati tugu perbatasan desa. Tak ada jawaban, membuat Arga melirik kursi disebelahnya.


"Dia malah tidur, dia kira aku ini supir apa?" Arga menggerutu, tetapi dia juga tak tega membangunkan Wulan yang terlelap. Semalam Wulan kurang tidur karena El rewel.


Arga menghentikan mobilnya di sebuah warung, yang menyajikan pemandangan indah dibawah sana. Yah mereka berada di atas bukit, desa kelahiran Wulan berada di kaki gunung.


"Hmmmm... udara disini sangat sejuk, meskipun siang hari tapi tak terasa panas. Jauh dari polusi seperti Jakarta." Arga berbicara pada dirinya sendiri, dia membuka kaca mobil.


Wulan mengerjapkan matanya, melihat sekeliling, ternyata dia tertidur cukup lama. "Kenapa berhenti disini Tuan?" tanyanya mengusap wajahnya perlahan.


"Sudah puas tidurnya?" ucap Arga datar.


"Belum, tapi kita hampir sampai." Wulan mengusap lehernya.


"Hah, kau kira aku ini supir? aku lelah, istirahat dulu." Arga meninggalkan Wulan di dalam mobil.


"Tuan, tunggu aku." Wulan mengikuti Arga, karena tidak hati-hati, Wulan hampir terjatuh. Beruntung seseorang membantunya.


"Wulan, kamu Wulan kan?" tanya orang itu.


"A Ozy," sahut Wulan, dia mengenali nya sebagai teman sewaktu sekolahnya dulu.


"Kau sedang apa disini? sudah lama sekali aku tak melihatmu, kudengar kamu sudah sukses dikota."


"Hehehe.. aku hanya bekerja sebagai pengasuh bayi disana." Wulan merendah, kenyataanya memang seperti itu.


"Ehm, kita lanjut perjalanan," suara Arga menyadarkan Wulan akan keberadaanya.


"Tapi, kita..." Arga kembali kedalam mobil setelah membeli dua botol air kemasan dan beberapa cemilan.


"Cepat sedikit, dasar lelet." Arga membanting pintu mobil, Wulan segera berpamitan.


"A, Wulan duluan ya, sudah ditunggu," ucapnya melambaikan tangan.

__ADS_1


Cih, sok akrab. Siapa orang itu? Berani sekali senyum-senyum sok ganteng. Hah, apa peduliku, terserah juga apa yang mau dia lakukan.


"Iya Tuan," Wulan duduk disebelah kursi kemudi.


Bukkk


Arga melemparkan minuman dan makanan ringan dipangkuan Wulan. "Apa ini Tuan?" Arga hanya diam, kembali melajukan mobilnya. Sekarang dia tak mengikuti GPS, hanya mengandalkan petunjuk dari Wulan.


Wulan mengintip isi kantong berwarna biru didepannya. Ada minuman dan beberapa camilan, membantu Wulan agar tetap terjaga, lagi pula dia harus mengawasi jalanan agar tak tersesat.


"Didepan belok kiri setelah persimpangan. terus ikuti jalan, ada toko kelontong kita berhenti disana." ucap Wulan dengan mulut tak berhenti mengunyah.


"Bisakah kamu berhenti mengunyah, kalau sedang bicara," ucap Arga ketus.


"Maaf, aku hanya... uhuk uhuk..." Wulan terbatuk.


"Sudah ku bilang, jangan makan sambil berbicara," Arga membantu mengelus punggung Wulan.


"Tuan tolong dikondisikan tangan Anda." Wulan yang sudah merasa lebih baik. Arga segera menarik tangannya, dia mengutuki tindakannya sendiri yang diluar kendali.


"Mau apa di toko kelontong?" Arga menepikan mobilnya.


"Kenapa kita lewat jalan tikus?" Arga masih belum mengerti. Padahal disebelah gang ada jalanan yang cukup lebar.


"Menurut saja, atau lebih baik Tuan tunggu disini." Wulan hendak pergi, Arga menahan tangannya.


"Aku akan mengantar mu, seperti permintaan Nyonya." Arga juga ingin bertemu dengan keluarga Wulan.


"Tunggu," Wulan memperhatikan penampilan Arga dari ujung rambut sampai ujung kepala.


"Tuan jangan turun, disini sebentar, saya balik lagi." Wulan menuju toko kelontong, kembali dengan sebuah kantung keresek berwarna hitam. Arga mengernyit heran, mungkin dia membeli sesuatu untuk ibunya. Pikir Arga, siapa sangka dia membeli sandal japit sesuai ukurannya.


"Lepas jas yang Tuan kenakan," Arga menutupi tubuhnya dengan menyilangkan kedua tangannya.


"Apa yang mau kau lakukan? Ini ditempat umum." Arga semakin heran dengan Wulan yang menatapnya penuh arti.


"Cepat, waktu kita tidak banyak," ucap Wulan ketus. Dia memaksa Arga melepas jas, dasi dan sepatu yang dia kenakan.


"Masih kurang," Wulan melepaskan kancing lengan baju Arga, dan menggulungnya sampai siku, sehingga memperlihatkan otot lengannya. Dia juga mengacak rambut Arga sedikit. "Nah sudah, sekarang pakai ini."

__ADS_1


"Apa? kenapa aku harus pakai itu? gak mau, pakai sepatu ini cukup." Arga tak mau memakai sendal itu, lagi pula apa maksud Wulan merubah penampilan Arga juga belum diketahui.


"Nanti kamu juga tau maksudku." Wulan meninggalkan Arga begitu saja. Langkah Arga yang panjang berhasil menyusul Wulan yang jauh didepannya. Tak lupa mengunci mobil dan menitipkan pada pemilik toko kelontong.


"Siapa itu yang bersama Wulan? sepertinya dia orang kaya, dilihat dari mobil yang dia pakai." bisik seorang Ibu yang melintas.


"Halah, mungkin cuma supir, itu mobil bosnya." ucap yang lainnya.


"Iya bener, lagian kan tau sendiri Bapak nya Wulan orang nya gitu, mata duitan." Kelompok ibu-ibu membicarakan orang yang baru saja meninggalkan tempat itu.


"Jangan bilang Wulan simpanan om-om kaya." Arga yang mendengar itu membuatnya tersulut emosi.


"Tolong jaga ucapan Anda, dia tidak seperti yang kalian pikirkan." Arga memberikan tatapan tajam pada Ibu yang memgenakan daster merah itu. Dia kembali mengikuti Wulan, sedangkan yang dibicarakan hanya acuh, menghiraukan kicauan orang yang dia temui.


"Cakep sih, tapi galak," gumam seorang disampingnya.


Kehidupan mu lebih menyedihkan dari yang aku bayangkan, sebenarnya hal apa lagi yang tak ku ketahui. Kamu terlalu menyimpan banyak kejutan untuk ku.


Sampai didepan rumah minimalis, dengan cat yang sudah memudar. Meski begitu rumah ini cukup terawat dengan pot bunga yang berjajar rapi di dekat halaman. "Tuan tunggu disini," Arga menurut. Dia duduk dikursi teras rumah Wulan.


Baru saja Wulan hendak mengetuk pintu, ayahnya muncul dibalik pintu. "Masih berani kamu pulang? Dasar anak durhaka, untuk apa kamu pulang hah?" bentak lelaki paruh baya yang sedikit mabuk, hal itu terlihat dari bicaranya dan bau alkohol yang menyeruak.


Plakkk


Sebuah tamparan mendarat dipipi Wulan, membuatnya memerah membekas jari tangan. "Wulan mau ketemu Ibu," ucapnya pelan, dia memegangi pipinya yang terasa panas.


"Jangan harap kamu bisa bertemu Ibu mu, sebelum kamu memberi uang, hahaha..." Ayah Wulan menyeringai, dia merampas tas jinjing yang dibawa Wulan. Dan mendorongnya, Arga segera menangkapnya.


"Tolong jaga sikap Anda, jangan kasar dengan perempuan, apalagi dia putri Anda." Arga yang sedari tadi memperhatikan tak tinggal diam melihat Wulan terus disakiti.


"Heh, siapa kau berani membelanya?" ucapnya sinis.


"Saya calon suami Wulan." Arga berucap dengan tegas, tak ada sedikitpun keraguan disetiap kata yang dia ucapkan.


"Hahaha... Calon suami kata mu? Kamu ini punya apa sampai berani mengakuinya calon istri?"


"Ayah cukup, sampai kapan ayah akan seperti ini?" Wulan tak bisa lagi membendung air matanya. Arga yang melihat itu hatinya bagai tersayat bilah pisau. Kehidupan yang Wulan lalui sangat menyedihkan.


TBC

__ADS_1


TERIMA KASIH


__ADS_2