Ibu Untuk Tuan Muda

Ibu Untuk Tuan Muda
S2-32


__ADS_3

Happy Reading


💐💐💐💐💐💐💐


Sesampainya dirumah sakit, Henry segera membawa Adel yang tak kunjung sadarkan diri. Dia berteriak memanggil dokter dan suster disana. Wulan sudah menghubungi Dokter Alvin sebelumnya, mereka sudah bersiap menunggu Tuan Henry di loby rumah sakit.


Dokter Spog yang menangani Wulan juga ada disana, dia sudah menceritakan semuanya pada Dokter Alvin. Dan siap menerima resiko apapun setelahnya. Tetapi sekarang dia harus segera memeriksa kondisi Nyonya Muda Syahreza terlebih dahulu.


"Tolong tunggu diluar, banyak berdoa." Dokter Alvin menutup pintu ruangan. Henry mengacak rambutnya sendiri, dia takut terjadi hal buruk pada istrinya.


"Tenanglah! Dia akan baik-baik saja." Arga duduk dikursi stailess panjang diruang tunggu.


"Bagaimana aku bisa tenang Ga? Aku takut Ga." Matanya berkaca-kaca, kejadian buruk melintas dalam benaknya.


Arga tak bisa lagi berkata-kata, dia hanya menepuk bahu Henry, memberikan semangat untuknya.


Henry berdiri, berjalan mondar-mandir didepan ruangan. Satu jam lamanya menunggu, akhirnya pintu dibuka. "Bagaiman keadaanya?" Henry berlari menghampiri Dokter Alvin.


"Kita bicara diruangan ku." Henry mengekori dokter Alvin dibelakangnya.


"Tunggu, boleh pinjam ponsel mu." ucap Arga. Dokter Alvin merogoh saku celananya dan memberikan benda pipih itu pada Arga.


"Nyonya sudah bisa dipindahkan keruang perawatan. Sebaiknya kamu ikuti mereka." Dokter Alvin melirik Adel yang terbaring diatas brankar. Dia masih enggan membuka matanya, lagi pula Dokter Alvin menyuntik obat tidur padanya.


...----------------...


Diruangan Dokter Alvin.


"Apa yang terjadi padanya?" tanya Henry yang sudah tak sabar.


"Duduklah dulu." Henry menurut, mereka duduk berhadapan. Dokter Alvin menyalakan komputernya, dan juga berkas yang ada ditangannya.


"Sebelum aku bicara, kamu harus dengarkan aku. Apapun yang aku katakan, jangan membuat keributan disini, dan lagi.." Dokter Alvin menghela nafas panjang baru melanjutkan kalimatnya. Dokter Alvin melupakan sikap formal diantara mereka, lagi pula hanya ada mereka bsrdua disana.


"Kau jangan menyalahkan ini pada Adel, dia akan sangat tertekan dan mempengaruhi kesehatannya."


"Sebenarnya ada apa? jangan berbelit-belit, cepat katakan." Henry mulai kesal.


"Janji dulu."

__ADS_1


"Iya-iya, oke aku janji."


"Huh... Kau tau dia menggunakan kontrasepsi?"


"Apa katamu?"


"Hei, aku bilang apa tadi?" Henry hanya menggelengkan kepalanya.


"Baiklah! aku ceritakan semuanya dari awal. Enam bulan yang lalu, istrimu menjalani operasi pengangkatan kista..."


"Hah? Kista?"


"Diam, atau aku tak akan memberitahumu." Dokter Alvin kesal karena Henry susah diajak kerja sama.


"Oke aku lanjutkan, kista ovarium atau cairan yang ada diindung telur, pada dasarnya bisa sembuh dengab sendirinya. Tetapi pada beberapa kasus seperti yang dialami Adel harus menjalani operasi. Dia sudah tahu semenjak kehamilan dia sebelumnya, tetapi kondisinya tak terduga. Ternyata kista membesar dan harus segera diangkat karena dikhawatirkan akan menjadi kanker."


"Apa hubungannya kista dan kontrasepsi?" tanya Henry yang belum mengerti.


"Makanya dengerin dulu." Dokter Alvin mendengus, dan kembali melanjutkan penjelasannya.


"Jadi saat ini Adel hanya memiliki satu ovarium atau sel telur."


"Ya kemungkinan hamil 50% masih bisa, tetapi..."


"Tapi apa lagi?"


"Kau ini cerewet sekali, bisa gak diam sebentar? tunggu aku selesai menjelaskan baru kau bicara." Dokter Alvin meninggikan suaranya. Geram dengan Henry yang selalu ingin bertanya.


"Hmmm..."


"Sebelumnya dia menjalani operasi caesare untuk melahirkan anaknya. Begitupun pengangkatan kista, jadi dia memutuskan untuk menggunakan kontrasepsi. Itu juga saran dokter karena dia harus beristirahat. Takut terjadi hal-hal yang diinginkan. Salah satunya, jahitan akan terbuka jika dia hamil dalam waktu dekat."


"Tetapi IUD juga bukanlah pilihan yang tepat untuknya, keram diperut, nyeri saat haid dan juga pusing bahkan mual adalah salah satu kondisi tubuh Adel tak merespon dengan baik. Atau boleh dikatakan dia alergi terhadap alat koyrasepsi tersebut."


"Kami sudah melepas kotrasepsi tersebut, dan juga sudah melakukan pemeriksaan pada operasi diperutnya, hasilnya bagus. Hanya tinggal menunggunya siuman."


"Saran saya kamu jangan melakukan hubungan kurang lebih satu bulan kedepan untuk memantau keadaanya."


"Apa? satu katamu, apa gak boleh satu hari aja?"

__ADS_1


"Hei kau ini mau istrimu sembuh gak sih?"


"Tapi kenapa dia merahasiakan ini semua dari ku? Apa dia tak menganggapku lagi?" Henry mengepalkan tangannya, amarahnya memuncak diubun-ubun.


"Dia melakukan operasi itu tidak disini, tetapi dirumah sakit lain. Tetapi dokter yang menanganinya sama, dia memasang alat kontrasepsi juga tidak dirumah sakit ini. Dan waktu 6 bulan yang lalu sepertinya waktu itu kamu sedang menjalani pengobatan."


"Tapi kan dia bisa menghubungiku, kenapa harus menanggunya sendiri?"


"Kau kan sudah berjanji tadi, jangan lupa itu. Kamu harus support dia, ini juga sangat berat untuknya, bagi seorang wanita hamil adalah hal yang dia tunggu, ini semua takdir. Dia juga gak mau jika harus mengalami hal ini, tetapi semua kehendak Tuhan."


"Aku sudah jelaskan semuanya, ingat untuk program kehamilan sebaiknya tunggu kondisinya benar-benar pulih. Sekarang kamu temui dia, kasih semangat untuknya."


Sayang, kenapa kau rahasiakan hal sebesar ini dari ku? Kau tak ingin membuatku cemas tapi malah membuatku jantungan. Aku sangat takut, kau tahu? aku sangat takut tadi.


Henry masih diam ditempat, banyak sekali pertanyaan berputar dikepalanya. Dia marah, tapi menyalahkan siapapun tak akan ada gunanya, semuanya sudah terjadi.


Henry berjalan pelan menuju ruang perawatan Adel, setiap yang memandang Henry terkikik melihat penampilannya. Namun Henry menghiraukan itu semua, pikirannya masih berkelana. Mencerna lebih dalam semua ucapan Dokter Alvin.


Arga diluar ruangan Adel, dia tak berani masuk karena tak mungkin dia berduaan didalam ruangan. "Ga, kau sebaiknya pulang, jaga El selama aku disini."


"Tapi,... baiklah! aku pulang, hubungi aku jika kau butuh sesuatu." Henry hanya mengangguk, meninggalkan Arga. Arga keruangan dokter Alvin untuk mengembalikan ponselnya. Sekaligus bertanya apa yang terjadi.


Henry membuka pintu ruang VVIP dengan perlahan, Adel sudah siuman. Namun dia tak berani menatap suaminya, Adel memalingkan wajahnya kearah lain, air matanya tak henti mengalir.


Dia pasti sudah tahu semuanya, dia pasti marah padaku. Aku akan menanggung semua akibatnya. Maafka aku Dad, akhirnya kau mengetahuinya juga.


Henry duduk perlahan disamping ranjang Adel. Lama mereka terdiam, tak ada satupun yang memulai membuka suara.


"Sayang, maafkan aku." kalimat tak terduga yang diucapkan Henry. Adel masih tak ingin menatapnya.


"Kau sudah tahu semuanya? Kau ingin marah padaku? Kau ingin menyalahkanku?" pertanyaan beruntun dari Adel, membuat Henry merasa sesak didadanya. Henry sakit melihat Adel seperti ini, lebih baik dia cerewet dan memarahinya.


Henry mendekap tubuh Adel yang bergetar karena tangisnya. "Menangislah!!! Jangan simpan sendiri." suaranya tercekat ditenggorokan, matanya memerah, perih menahan tangis melihat istrinya tak henti menangis.


"Huuuu... huuu...hikkss."


TBC


TERIMA KASIH

__ADS_1


__ADS_2