Ibu Untuk Tuan Muda

Ibu Untuk Tuan Muda
S2-31


__ADS_3

Happy Reading


💐💐💐💐💐💐💐


Tiga bulan berlalu, semenjak kejadian malam itu, Wulan dan Arga semakin jauh. Terlebih saat ini Wulan tinggal di mansion Henry, dan Arga jarang berkunjung kecuali jika ada keperluan mendesak. Meski mengantar atau jemput Henry, itupun tak masuk ke dalam rumah.


"Lan, sebenarnya ada apa dengan kalian?" tanya Adel disela-sela acara masaknya. Sekarang hari minggu, Adel tak bekerja. Sedangkan Henry dan Arga bermain bersama El di ruangan khusus mainan.


Wulan menghentikan kegiatannya, dia bingung harus cerita dari mana. Tapi semakin dia pendam akan semakin sesak. "Ada apa gimana maksud kamu?" tanya Wulan kembali memotong sayuran. Meski ada koki, tetapi saat libur Adel sering memasak sendiri.


"Ya hubungan kalian, aku perhatiin akhir-akhir ini kamu sama dia jarang ngobrol." ucap Adel tetap fokus pada masakan dihapannya.


"Biasa aja." jawab Wulan singkat.


"Tapi aku lihatnya gak biasa, udah jujur aja. Lagian hanya ada kita berdua disini."


"Aku takut ada yang dengar, readers semuanya juga baca Del."


Adel menepuk keningnya sendiri. "Ya kan kamu wayangnya Wulan."


"Ehehehe.... Sebenarnya aku bingung, Fauzi terus mendesakku supaya kita bertunangan. Tapi aku benar-benar gak ingin memberikan harapan untuknya dengan mengatakan iya."


Adel mematikan kompor dan berjalan mendekati Wulan. "Keputusan ada ditangan mu, tapi setidaknya kamu harus bicarakan masalah mu dengan Arga. Bagaimanapun juga, kalian perlu bicara empat mata."


"Tapi aku takut, aku takut Ayah menyakiti Ibu dan Lintang. Juga Fauzi dia bukan cinta sama aku, hanya..."


"Hanya apa?"


"Dia hanya terobsesi dengan ku."


"Justru itu Lan, kamu harus bisa membuat dia mundur dengan sendirinya."


"Caranya?"


"Nanti aku coba tanya Daddy El." Adel kembali berkutat dengan peralatan dapurnya.


"Jangan, dia kan dekat dengan Arga, nanti yang ada Arga bisa tahu semuanya. Lebih baik jangan."


"W-U-L-A-N, Wulan yang cantik, kamu mau sampai kapan menyimpan ini sendirian?"


"Sam..."


"Kalian ini masak apa sih? dari tadi belum juga selesai. Kita udah lapar nih." Henry tiba-tiba nyelonong masuk ke dapur.

__ADS_1


"Masak batu." jawab Adel ketus.


"Dikira suami mu ini Limbad apa? dikasih makan batu? Lagi pula uang belanja kan gak pernah kekurangan."


"Bawel."


"Lan, kenapa dia?"


"Lagi PMS."


"Apa itu PMS?" Henry menautkan kedua alisnya.


"Cari tau sendiri, udah sana ganggu aja." Adel mendorong tubuh Henry menjauh dari dapur.


"Wanita memang menyebalkan." Henry menggerutu, kembali ke kamar bermain.


Tak berapa lama, makanan telah selesai disajikan. Henry dan El sudah menunggu dimeja makan, Arga masih sibuk dengan laptop dipangkuannya. "Ga, makan dulu. Kerja juga butuh makan, supaya otaknya gak tersumbat." Adel meledek.


"Makan.. makann..." ayah dan anak itu sibuk berceloteh.


"Kalian ini bisa diam gak?" Adel kesal.


"Gak." jawab keduanya bersamaan. Henry menyeringai, merasa ada yang mendukungnya.


"Terserah." Adel malas berdebat.


"El dak mau bobok."


"Terus mau ngapain? mainnya kan udah. Sekarang bobok dulu, nanti sore kita jalan-jalan sama Daddy." ucap Adel menepuk punggung El.


"Cama Mama gak?"


"Ya."


"Mau cama Papa Ga."


"Iya nanti, sekarang bobok dulu." El menurut, tak lama setelahnya Bocah Gembul itu sudah terlelap dengan guling kesayangannya.


"Lan aku ke kamar dulu ya." Wulan hanya mengangguk, dia merebahkan tubuhnya disebelah El. Namun matanya tak juga terpejam, masih memikirkan ucapan Adel.


"Semoga Ibu dan Lintang baik-baik saja. Sebaiknya aku hubungi mereka." Wulan menelepon, tetapi tak dijawab. Akhirnya Wulan terlelap juga bersama El. "Tidur dulu, siapa tahu nanti mimpi ketemu pangeran."


Sementara itu, Adel merasakan nyeri yang luar biasa diperutnya. Biasanya nyeri, tapi tak seperti saat ini. Keringat dingin mulai mengalir, Adel mengigit bibir bawahnya. Menahan sakit yang luar biasa. Adel meraih gawainya, dia harus menghubungi dokter. Sakitnya tak tertahankan.

__ADS_1


Adel berjalan sangat pelan, dengan bepegangan pada dinding. "Dimana aku taruh benda itu?" Adel mencari gawainya, namun tak kunjung menemukan apa yang dia cari. Adel rebahan sebentar untuk mengurangi kram diperutnya.


Sakit tak kunjung mereda, malah semakin menjadi. Adel merasa pusing, benda sekelilingnya seolah berputar. "Ada apa dengan ku sebenarnya?" Adel berkata pada dirinya sendiri.


Henry masuk, untuk mengambil sesuatu yang tertinggal di tas kerjanya. "Mam, kau kenapa?" Adel pura-pura tidur, dengan menutupi sebagian tubuhnya dengan selimut.


"Gak biasanya dia tidur siang, mungkin kelelahan." Henry kembali menemui Arga di ruang kerjanya.


Adel berhasil menghubungi dokter Spog yang menanganinya. "Sebaiknya Anda segera kerumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut." begitulah yang diucapkan sang dokter.


"Gimana mau pergi? gak mungkin kan aku pergi diam-diam."


"Pergi kemana?" tanya Henry yang entah sejak kapan ada disana.


"Itu... ke..." Adel ketakutan, dia berbalik badab dan berjalan mundur hingga langkahnya terhenti. Tak ada lagi jalan, rupanya Adel sudah merapat dengan dinding.


Henry mengernyitkan keningnya, Adel terlihat pucat dan buliran keringat diwajahnya. "Kau sakit sayang?" Henry menempelkan punggung tangannya pada kening Adel.


Tubuh Adel semakin lemas, keningnya terasa dingin dan dia tak ingat apapun lagi. "Heii, sayang bangunlah! jangan membuatku takut." Henry menggoyangkan tubuh Adel yang jatuh dalam pelukannya. Adel tak sadarkan diri.


Henry dengab sigap menggedong tubuh Adel keatas kasur, Henry sangat takut. Dia kembali mengangkat tubuh Adel, untuk membawanya kerumah sakit. "Sayang bangun, jangan membuatku takut." tangannya bergetar, namun masih berusaha menopamg tubuh Adel didadanya.


"Arga, cepat bantu aku." teriaknya menuruni tangga. Arga segera berlari, dan benar saja Henry berlari menuruni tangga dengan Adel dalam gendongannya.


"Ada apa? dia kenapa?" Arga tak kalah panik.


"Cepat Ga, kita harus kerumah sakit." Arga mengambil mobilnya yang terparkir dihalaman. Mereka menuju rumah sakit dengan tergesa.


"Sayang... sadarlah!" Henry berusaha membanginkan istrinya. Perasaanya kacau, takut sedih dan panik.


"Kau tenanglah!" Arga fokus mengemudi, dia harus tenang, tak boleh ikut panik.


Bahkan teriakan Henry membangunkan Wulan yang terlelap. "Ada apa Bi?" tanyanya pada kepala pelayan disana.


"Nyonya, Nyonya pingsan."


"Ooo pingsan." Wulan kembali masuk ke kamar. Nyawanya masih tertinggal di dunia mimpi. "Hah? terus sekarang dia dimana?" tanyanya kembali.


"Tuan sudah membawanya kerumah sakit." Saat itu juga El terbangun, membuat Wulan harus kembali menenangkan El yang menangis.


"Perasaan tadi sehat, ada apa dengannya?" gumam Wulan, sambil menepuk El yang masih mengantuk. Dan bocah itu kembali terlelap.


Wulan mengambil benda pipih diatas nakas. Dia harus tahu apa yang terjadi dengan Adel. Hanya Arga satu-satunya orang yang bisa dia hubungi. Tetapi tak ada jawaban. Begitupun nomor Henry, keduanya tak membawa ponsel. Karena panik, bahkan Henry masih memakai sandal rumah dengan bulu motif kelinci.

__ADS_1


TBC


TERIMA KASIH


__ADS_2