
Happy Reading
💐💐💐💐💐💐
Meski Adel sudah mengetahui semua kebenarannya, namun Adel masih menghindari Arga. Begitupun Adel yang lebih irit bicara pada Wulan. Adel kecewa pada keduanya yang berusaha menutupi kebenaran darinya.
Seharusnya Kamu menjelaskan pada ku lebih awal, bukan malah Aku tahu dengan sendirinya. Terlebih Kamu Ga, saat itu Kalian selalu bersama.
"Sayang, Kamu lagi mikirin apa sih? masih marah soal kemarin?" Henry mengalungkan kedua tangannya di perut Adel. Memeluknya dari belakang, menghirup aroma tubuh Adel yang terasa candu baginya.
"Dad, apa Kamu tidak menyesal menikah dengan ku?" pertanyaan itu terucap begitu saja dari bibir chery Adel.
"Hei, ada apa?hmm... Bagiku Kamu sangat berarti, Aku sangat bahagia bisa memiliki wanita hebat seperti mu disamping ku. Tak pernah ada penyesalan sedikitpun dalam hidupku." Henry membalikkan tubuh Adel, memegang kedua bahunya. Sehingga pandangan keduanya saling terkunci.
"Tapi Aku hanya wanita cacat, Aku tak bisa memberi mu keturunan." Mata Adel berkaca-kaca, mengingat tulisan yang dibacanya pada kotak kemarin.
"Sayang, kita sudah pernah bicarakan ini sebelumnya. Aku akan tetap menerima mu, lagi pula bukan berarti tidak bisakan. Kata dokter masih ada kemungkinan. Kita tidak boleh menyerah dengan keadaan." Henry menangkup wajah Adel dengan kedua tangannya. Jempol tangannya mengusap buliran diwajah cantik Adel.
Adel tak dapat berkata-kata lagi, meski Henry telah mengatakan tidak, tetapi Adel masih menyalahkan dirinya sendiri. "Maaf Dad..."
Henry meletakkan telunjuknya dibibir Adel. Memintanya untuk tidak lagi membahas masalah itu. "Sssttt.. istriku sayang. Sudah cantik begini mana boleh menangis. Sekarang kita turun ya, semuanya sudah menunggu."
Henry menuruni anak tangga bersama Adel disampingnya. Sesuai janji Arga, beberapa wartawan yang saat itu datang ke kantor telah hadir di acara ulang tahun Adel. Meski awalnya Adel menolak, setelah mendapat penjelasan, akhirnya Adel menurut saja. Semua demi kebaikannya juga.
"Sayang Aku punya kejutan spesial untuk mu." bisik Henry ditelinga Adel.
"Hadiah apa?" Adel menatap heran pada suaminya.
Mengedipkan sebelah matanya, Henry terus berjalan dengan tangan keduanya saling bertautan. "Nanti juga kamu tau."
Seluruh keluarganya juga hadir disana, bagaikan putri, Adel menjadi bintang utama malam ini.
"Mamiii... camat uyang taun.... besde Mamiii..." El menyambut Mami dan Daddy.
"Ini hasil karya El sama Daddy loh." ucap Heny bangga.
__ADS_1
"Silahkan ditiup Tuan Putri." Wulan membawakan kue sederhana dengan lilin menyala diatasnya.
"Terima kasih sayang." Adel mengecup El dan Henry bergantian. Begitupun ayah dan anak itu, diikuti Mommy, Daddy, Ibu Sari dan Tuan Wira juga Ama.
"Nah, sekarang kita ke sana." Nyonya Amel menuntun putri mantunya menuju meja yang telah di dekorasi, dan kue yang menjulang tinggi diatasnya.
"Thanks Mom, Ibu. Aku sayang kalian." Adel merangkul bahu keduanya dengan rasa haru. Mommy dan Ibu yang mendekorasi kue ini sendiri.
Pemburu berita yang hadir tak ingin melewatkan kesempatan langka ini. Puluhan foto bahkan rekaman untuk mengabadikan hari bahagia istri dari pangeran penguasa kerajaan bisnis.
Bukan hanya jarang bahkan bisa dihitung jari, keluarga ini sangat tertutup. Hanya kalangan bisnis yang mengenalnya. Hal itu dilakukan demi keamanan dan kenyamanan keluarga besar Syahreza.
Sepatah dua patah kata telah disampaikan, setelah acara inti. Sekarang saatnya menikmati hidangan. Para pemburu berita semuanya telah diusir keluar oleh tim keamanan. "Selamat menikmati pesta." ucap Henry sebagai tuan rumah.
Ditengah acara, keributan terjadi. Bejo segera berlari untuk mengejar si pembuat onar. Namun ia kesulitan karena banyaknya tamu yang masih dalam ruangan. "Adel, keluar kau." teriak orang itu.
Semua mata tertuju pada laki-laki yang memanggil nama Adel dengan berteriak. Menodongkan senjata tajam, sehingga tak ada yang berani mendekat. "Cepat serahkan ****ng yang bernama Adel padaku."
Bejo meminta seluruh hadirin untuk meninggalkan tempat itu. Semuanya berjaga di posisi masing-masing. Arga mengajak Wulan dan El ke kamarnya, begitupun seluruh keluarga Syahreza dan Wiranata.
"Ya, menantu ku. Tak boleh terjadi apapun pada menantuku." Tuan Abimanyu ikut terbawa emosi.
"Tuan dan Nyonya sebaiknya tunggu disini. Kami pasti bisa menangani ini, dan pasti tak akan terjadi apapun." Arga berusah menenangkan Tuan dan Nyonya Tua. Namun Tuan Abimanyu bersikeras membantu Arga dan juga Henry. Sementara yang lain hanya bisa menunggu.
"Siapa Anda? berani membuat keributan dirumah Saya." tanya Henry tanpa rasa takut.
"Kai seharusnya sudah tau siapa Aku. Hahaha..." laki-laki itu tertawa dengan pongahnya.
"M-mas Hasan, apa Kamu benar Mas Hasan?" Adel melangkah maju, medekati orang yang begitu dia kenali sebelumnya.
"Sayang, berhenti disana. Dia bukan Hasan." Henry mencegah Adel, namun rasa penasaran Adel mengalahkan ketakutannya. Lelaki yang mengaku Hasan itu menarik tangan Adel dan menguncinya dengan benda tajam ditangannya.
"Akhhh bren***k, lepas istriku." Henry mengetatkan rahangnya, tangannya terkepal hingga buku jarinya memutih. Adel berusaha menenangkan diri dengan menarik nafas dalam dan membuangnya perlahan.
"Istri? Bukankah dia masih istri Hasan?"
__ADS_1
"Hasan sudah mati. Dia sudah dikubur 3 tahun yang lalu." Henry berdecih, dengan senyum smirk diujung bibirnya.
"Aku Hasan, Adel, lihatlah! Aku Hasan." lelaki itu tetap bersikukuh bahwa dirinya adalah Hasan.
"I-iya, Ka-kamu Hasan, suamiku. Apa Kamu tega menyakiti istri mu ini?" Adel terpaksa harus berbohong. Perlahan Hasan melepaskan pisau tajam dari leher Adel. Sehingga Adel lebih leluasa bergerak.
Tanpa menunggu lagi, Adel segera menepis pisau itu hingga terlempar jauh. Dengan menggunakan tenaganya, ujung heels yang runcing menancap dijempol kaki Hasan. Membuatnya melepaskan Adel sepenuhnya.
Henry menariknya dalam pelukannya, sehingga Henry membelakangi Hasan. Tanpa diketahui, Hasan mengambil pisau lipat disaku bajunya.
Jlebbb
"Argaaaa..." Adel berteriak sekuat tenaga.
Pisau berlumuran darah, Arga meringis menahan sakit dibahunya. Arga menahan serangan Hasan dengan tangan kanannya. "Tunggu apalagi? cepat tangkap dia." Henry berteriak memerintahkan Bejo dan kawanannya untuk segera meringkus Hasan.
"Dasar bodoh, kenapa Kau tak membiarkan Aku yang terluka.?" Henry memapah Arga yang mulai memucat.
Hanya luka kecil, darah yang keluar juga tak terlalu banyak. Ada yang gak beres.
"Alvin, dimana Alvin? Cepat panggil Alvin kemari." Henry panik menyadari ada racun dipisau yang melukai Arga.
"Sayang, tunggu disini." Henry meninggalkan Adel, memintanya untuk melihat keadaan El. Diantar dua orang pengawal, Adel hanya menurut meski dia sangat takut melihat keadaan Arga.
"Maafkan atas semua kesalah pahaman kemarin. Aku benar-benar tak berniat untuk menghancurkan rumah tangga kalian." ucap Arga dengan menahan sakit, lukanya cukup dalam meski tak terlalu lebar.
"Jangan banyak bicara. Kalau kau merasa bersalah, Kau harus tetap hidup untuk mempertanggung jawabkan perbuatan mu." Henry dibantu Tuan Abimanyu memapah Arga, dan segera membawanya kerumah sakit.
Kenapa jadi begini akhirnya? Aku segera memancing Hasan KW dengan acara seperti ini. Tetapi tak terpikirkan akan membuatmu bertindak bodoh Ga.
Dokter Alvin berusaha mencegah penyebaran racun dengan peralatan seadanya. Dan juga terus memantau Arga agar tetap sadarkan diri.
TBC
TERIMA KASIH
__ADS_1