
Happy Reading
💐💐💐💐💐💐💐
Wulan masih merenung, besok hari dimana Arga dan Henry serta Adrian berangkat ke Lombok. Tetapi sampai sekarang, Arga tak juga memberitahukan padanya. Mungkin dia terlalu sibuk sampai tak sempat memberitahu Aku. Pikir Wulan.
"Mungkin besok sekalian berangkat Arga akan memberi tahunya." gumam Wulan pelan. Dia masih berusaha berfikir positif seperti yang dikatakan Adel.
Sementara itu, Adel sedang bergelayut dilengan sang suami. Seperti ini lah saat dia menginginkan sesuatu. "Ada apa? hmm." Henry sudah hafal dengan tingkah Adel, pasti ada maunya mengapa dia terus menempel padanya.
"Emmm... Dad, berapa lama disana?" Adel tak mungkin langsung bertanya tentang Arga padanya. Dia mulai sedikit membelit pertanyaannya.
"Paling lama 4 atau 5 hari, Kamu mau ikut?" tanya Henry mencubit pelan dagu Adel.
"Gak, bukan itu. Aku kan hanya bertanya."
"Kamu pasti takut kangen sama Aku ya." Henry menaik turunkan alisnya.
"Hmm... Yang ada Kamu yang gak mau jauh dari Aku. Oh ya, Arga ikut sama mu kan?" tanya Adel sedikit pelan.
"Tentu sayang, kan Aku sudah pernah bilang sebelumnya."
"Dad, Arga jarang main kesini ya sekarang?" tanya Adel mulai menyinggung Arga, banyak hal yang ingin dia tahu tentang Arga dari suaminya.
"Jangan bahas Arga lagi." jawab Henry ketus.
"Bukan begitu maksud ku, tapi Wulan yang ingin bertemu Arga. Aku kan sudah ada suami ku yang tampan ini." padahal didalam hati Adel sangat geli mengingat ucapannya barusan. Demi Wulan tak apalah menyanjung suamninya sendiri.
"Kenapa bukan dia yang bertanya pada ku? Kenaoa harus Kamu?"
Haddeuh, salah mulu nih.
"Dad, jangan marah dong, Aku kan cuma tanya. Daddd..." Adel menggoyangkan lengan suaminya.
"Kalau tanya laki-laki lain lagi, Kamu memang harus di hukum. Ini bibirnya harus dihukum." Henry segera membungkan bibir Adel dengan bibirnya.
"Dad, Aku serius mau tanya." Adel menjauhkan dirinya dengan mendorong Henry. "Please, lagi pula dia bukan orang lain. Kan masih keluarga kita." Adel menampilkan wajah semanis mungkin.
"Baiklah, rayu Aku, memohonlah dengan tulus." Henry menyeringai penuh kemenangan. Kesempitan memang harus dimanfaatkan.
"Dad, maksudku suami ku sayang. Jangan marah lagi ya." Adel bergelayut manja dilengan sang suami. Hidungnya mengendus aroma maskulin yang terasa candu baginya. Tangannya bergerilya di dada bidang sang suami.
"Sayang, jangan menggoda ku."
"Tau ah, katanya tadi Aku harus merayu." Adel menghentikan aktifitasnya dengan wajah ditekuk.
"Merayu dan menggoda itu beda sayang. Dan Kamu malah menggoda ku, mengajak berperang."
"Bodo amat, mau tidur." Adel membalikkan badan, mennutupi dirinya dengan selimut.
"Iya iya maaf, jadi apa yang ingin kamu tahu tentang Arga? Aku pasti akan menjawabnya sesuai apa yang Aku ketahui." Henry mengacak rambutnya, pertanda buruk jika Adel sudah merajuk. Malam ini pasti jendralnya harus puasa.
Adel tersenyum licik, triknya berhasil. Namun dia masih pura-pura acuh, padahal di dalam hatinya sangat senang.
"Sayang, ayolah!" Henry memelas, dia berusaha menarik selimut. Namun Adel memegangnya cukup erat.
"Sayang, maaf ya. Sekarang buka dong selimutnya." Henry mematikan pendingin ruangan.
Kita lihat aja, sampai kapan Kamu akan bertahan.
Dan benar saja, Adel mulai merasa gerah. Dia mengintip sedikit, Henry sedang memunggunginya dan pura-pura tidur.
__ADS_1
Demi Kamu Lan, Aku harus menurunkan ego ku di depan si manusia kutub ini.
...----------------...
Keesokan paginya, Henry telah bersiap dengan koper yang telah disiapkan Adel semalam. Adel bersikeras mengantar Henry sampai ke bandara. Meski Henry sudah melarangnya. "Lan, Kamu sudah siap?" ucap Adel pelan saat mereka berpapasan di tangga. Wulan hanya menganggukkan kepalanya.
"Daddyyy..." El berlari menghampiri Daddy yang baru saja menyelesaikan sarapannya.
"Sayangnya Daddy udah rapi, mau kemana? hmm." Henry menaruh El di pangkuannya.
"Itut Daddy, liat pecawat. Itu loh yang telbang di atas. nguing nguing..." El memperagakan tangannya keatas seperti sedang bermain pesawat.
Henry tersenyum senang, sangat bangga bisa melihat tumbuh kembang El yang semakin hari semakin lincah dan aktif. "Iya sayang, besok kalau Daddy libur kita naik pesawat ya."
El mengangguk antusias. "Otey, cama Mami, cama Daddy, cama Mama Lan, cama Papa Ga. Oma juga, Apa juga, Ama juga." semua dia sebutkan di absen satu per satu.
"Gak usah janji, kalau susah ditepati." ucap Adel.
"Bisa, bisa diusahain. Hehehe..."
Dering ponsel Henry diatas meja menjeda aktifitas mereka. Arga sudah berangkat dari apartement miliknya. Mereka sengaja bertemu di bandara untuk mempersingkat waktu.
"Sayang, kita berangkat sekarang." Henry melirik jam yang melingkar dipergelangan tangan kirinya.
"Lan, ayo kita berangkat." teriak Adel, Wulan berada di dapur mengambil bekal untuk El. Bocah itu belum sarapan, pasti nanti meminta makan di jalan.
"Iya tunggu sebentar." Wulan menyusul Adel dan Henry yang telah lebih dulu meninggalkannya.
Diperjalanan, El tak henti bertanya. Apa yang dia lihat pasti akan dia tanyakan.
"Apa itu Dad?"
"Apa itu Mam?"
"Bus."
Sampai akhirnya dia merasa lapar dan meminta makan. Beruntungnya Wulan sudah mempersiapkan bekal untuknya. El duduk dipangkuan Adel, disuapi oleh Wulan.
Satu jam perjalanan, mereka tiba di bandara. Arga dan Adrian sudah menunggu. Mereka mengenakan pakaian formal, karena sesampainya mereka disana. Akan langsung menghadiri jamuan makan siang di hotel yang telah disiapkan. Sekaligus membahas kerja sama lebih lanjut.
Arga melirik Wulan yang mengekor di belakang Adel. Begitupun Wulan, namun tak ada yang berani memulai untuk menyapa. "5 menit, kalian perlu bicara." ucap Henry pada Arga.
Menarik lengan Wulan. "Ikut Aku." Arga memisahkan diri dari rombongan. Wulan hanya menurut, mengekori Arga sampai mereka berhenti di tempat yang lumayan sepi.
"Aku..." ucap keduanya bersamaan.
"Kamu dulu." ucap Arga.
"Kamu aja duluan." Wulan memgibaskan kedua tangannya di depan.
"Maaf Lan, akhir-akhir ini Aku sibuk mengurus proyek ini. Dan tak sempat memberitahu mu. Tapi Aku yakin Kamu pasti sudah tahu walaupun Aku tak memberitahu mu." Arga menghela nafas sejenak, Dia sydah memutuskan untuk membuka hatinya untuk Wulan.
Awalnya Arga berfikir tanpa cinta mereka bisa menikah. Namun semuanya itu salah, Arga tak akan bisa. Jika dia masih terus terbelenggu dengan masa lalunya.
"Aku tau ini bukan saat yang tepat, tapi Aku harap Kamu bersedia menunggu ku kembali. Ada sesuatu yang ingin Aku ceritakan padamu." Arga mengusap pipi Wulan perlahan. Membuat sang pemilih merasa panas di wajahnya. Pipi nya merona, meski Arga hanya ingin dia menunggunya, setidaknya ada harapan.
"Ya, Aku pasti akan menunggu mu." Wulan mengangguk pelan. Dia memberanikan diri menatap Arga yang lebih tinggi darinya.
"Waktu sudah habis." Adel menyeringai dibelakang Arga. Membuat keduanya saling menjauh.
Aku sudah tahu tentang masalalu mu. Tetapi akan lebih baik jika Wulan bukan tahu dari orang lain, melainkan Kamu sendiri yang memberitahunya.
__ADS_1
Adel hanya bisa membatin, perjuangannya semalam tak sia-sia. Meski harus membayar mahal untuk itu.
"Aku pergi." ucap Arga melambaikan tangannya.
"Semoga selamat sampai disana. Aku menunggu mu." Wulan membalas lambaian tangan Arga. Membuat keduanya tersenyum penuh arti.
"Aku juga menunggu mu." Adel memaksakan senyumannya, dia hanya ingin meledek pasangan yang baru saja akur.
Adel bersama El dan Wulan mengantar mereka sampai di pintu masuk keberangkatan. Mereka menggunakan jetpri yang terparkir ditempat khusus, sehingga tak perlu mengantri dan berdesakan.
"Bye Dad.... Bye Papa... Bye Om..." El kiss bye dari jauh.
Begitupun Adel yang menyambut lambaian tangan dari suaminya. Namun entah mengapa ada rasa tak rela dalam dirinya melepas kepergian sang suami kali ini. Karena meski sering ditinggal ke liar kota, hanya satu dua hari saja sudah kembali.
"Lan, jaga El sebentar. Aku mau ke toilet sebentar." Adel menyerahkan El yang duduk distroler anak.
"Jangan lama, Aku tunggu disini." Wulan mengajak El duduk tak jauh dari tempatnya berdiri.
...----------------...
Adel sedang merapikan pakaiannya yang basah karena air dari wastafel. Dengan ponsel di sebelah tangannya. "Maaf saya sedang terburu-buru. Anda tidak apa-apa?" ucap seseorang yang menabrak Adel hingga ponselnya terlempar cukup jauh.
"Iya gak papa." orang itu membantu Adel berdiri, dan memapahnya menuju kursi panjang yang tak jauh dari sana.
"Saya bisa sendiri." Adel menolak, meski begitu, orang itu tetap memaksa Adel. Setelah duduk, Adel baru teringat ponselnya yang terjatuh. Dan orang yang menabraknya tadi sudah pergi dengan tergesa.
"Duhh, bodoh banget sampai lupa." Adel menepuk keningnya, mengutuki kebodohannya sendiri.
"Maaf, apa ini milik Anda?" ucap seorang wanita memberikan ponsel Adel yang sedikit retak diujung layarnya.
"Ah ya, terima kasih." ucap Adel penuh sopan.
"Iya, maaf saya menginjak ponsel Anda tadi. Tapi saya akan mengganti rugi." ucap wanita itu menampakkan rasa bersalah. Dia membuka tas selempangnya, mencari sesuatu didalam sana.
"Tidak perlu, maksud saya terima kasih atas niat baik Anda. Tetapi Anda tidak perlu mengganti rugi. Lagi pula ponsel saya masih bisa digunakan." Adel menolak dengan halus.
"Tapi saya merasa..."
"Tidak perlu, maaf saya harus pergi." Adel meninggalkan wanita itu, bagaimanapun mereka tidak saling memgenal. Dan baru saja bertemu, apalagi tempatnya saat ini terbilang sepi dari pengunjung. Adel harus waspada, apalagi ditempat umum.
Adel berjalan cepat mencari Wulan dan El. Celingukan mencari kesana kemari, namun tak kunjung menemui mereka. "Wulan kemana sih? katanya nunggu disini." Adel menempelkan benda pipih ditangannya. Berusaha menghubungi Wulan, namun tak kunjung dijawab oleh pemiliknya.
Adel mendesah frustasi. Berulang kali melakukan hal yang sama, namun hanya suara operator yang di dengarnya.
Maaf nomor yang Anda tuju tidak dapat menerima panggilan ini. Silahkan coba beberapa saat lagi.
"Ya ampun Adel, Kamu dari mana aja sih? Ditungguin dari tadi lama banget." Wulan yang datang tiba-tiba dengan mendorong El. Dengan menenteng kantong kresek berwarna putih.
"Tadi ada sedikit insiden." ucap Adel, merasa lega karena bisa bertemu dengan Wulan. Beruntunglah ada beberapa anak buah Bejo yang ada disana, namun Wulan dan Adel tak mengetahuinya.
"Baju Kamu kenapa basah begitu?" Wulan melirik bagian dress Adel yang basah.
"Sudahlah! Kita pulang sekarang." Adel mensejajari Wulan. Mereka tak langsung kembali ke rumah. Melainkan singgah di mansion terlebih dahulu.
Ditengah perjalanan, Adel kembali teringat dengan seseorang yang menabraknya di depan toilet tadi. Dia merasa dejavu dengan orang itu, namun Adel segera menepisnya. Mungkin hanya perasaannya saja.
TBC
TERIMA KASIH
"
__ADS_1