Ibu Untuk Tuan Muda

Ibu Untuk Tuan Muda
S2-61


__ADS_3

Happy Reading


💐💐💐💐💐💐


Hari berlalu begitu cepat, tak terasa besok adalah hari pernikahan Arga dan Wulan berlangsung. Semua orang sibuk mempersiapkan diri, akad nikah akan diadakan pagi sekali. Mereka semua menginap di kediaman Syahreza menuju tempat acara bersama-sama.


Sementara sebagai perwakilan keluarga mempelai wanita, ada Adel serta Ibu Sari dan Tuan Wiranata , tak lupa si gembul El. Nyonya Amel dan Tuan Abimanyu sebagai orang tua Arga, ada juga Edo dan Alvin yang datang bersama pasangan masing-masing.


Edo sudah menikah dua bulan setelah Henry meresmikan Adel sebagai istrinya. Dan saat ini istrinya sedang mengandung hampir 4 bulan. Sementara Dokter Alvin, ia bertemu kekasihnya yang seorang model. Gak nyambung? Ya disambungin aja lah.


Ceritanya Dokter Alvin bertemu kembali dengan kekasih cinta monyetnya dulu yang sekarang sudah berhasil menjadi model terkenal di luar negeri. Karena keduanya masih single, mereka memutuskan untuk menjalani lebih dulu pertemuan mereka.


Balik ke acara Wulan dan Arga.


"Calon manten kenapa bengong sendirian?" Adel menegur Wulan yang duduk di balkon kamarnya, berulang kali Adel memanggilnya, tetapi tak ada jawaban. Dan pintu kamar juga tidak dikunci.


Wulan tak menanggapi Adel, ia masih sibuk dengan semua pemikirannya. Bayangan kejadian demi kejadian melintas begitu saja dalam memorinya. Membuatnya kembali merasa sedih akan perpisahan. "Lan..." Adel menepuk pelan bahu Wulan.


Wulan terlonjak hingga berjingkat, ia terkejut melihat Adel yang sudah berdiri di sebelahnya. "Adel, Kau mengagetkan ku saja." Wulan mencubit pelan lengan Adel.


"Gak kena, wekkk." Adel menjulurkan lidahnya.


"Ada apa Kamu kesini?"


"Seharusnya Aku yang bertanya, sedang apa Kamu disini malam-malam. Sendirian pula." Adel mendudukkan tubuhnya diseberang Wulan, dan meraih minuman hangat yang sudah mulai dingin milik Wulan.


"Itu minuman ku." protes Wulan menarik kembali gelas miliknya.


"Pelit."


"Biarin, kalau mau bikin baru gih." Wulan mengenggak habis sisa minuman yang ada ditangannya.


"Kamu belum jawab Aku, kenapa? galau?"


"Iya Aku serasa mimpi, seperti baru kemarin Aku datang ke rumah ini menjadi dokter untuk El. Sekarang, Aku akan segera menyandang status istri dari seorang Arga." Wulan menerawang jauh, mengingat moment dimana dia harus menjadi pengasuh untuk El bersama-sama dengan Adel.


"Jadi Kamu nyesel?"


"Nyesel, kenapa gak dari dulu aja." canda Wulan, namun senyum cerah itu segera meredup jika mengingat Ayahnya yang tak lagi ingin menemuinya.


"Ada apa lagi? Harusnya kan Kamu bahagia, bisa menjadi adik ipar ku." Adel menggoda Wulan. Namun Wulan tak merespon.


"Aku sedih, dihari bahagia ku, satu-satunya orang tua yang Aku miliki, bahkan tak bisa hadir disana." Wulan tak bisa lagi membendung air matanya. Adel berdiri untuk memeluk Wulan.


"Mungkin beliau memiliki alasan sendiri mengapa ia tak bisa menemui mu. Tapi bagaimanapun juga dia tetap ayah mu Lan." Adel ikut menitikkan air matanya, dihari pernikahannya, Ayahnya juga tak bisa hadir disana. Adel mengerti bagaimana perasaan Wulan saat ini.


"Masih ada Aku, masih ada Mommy, Kami semua menyayangi mu. Jangan sedih lagi, besok wajah mu bengkak gak cantik lagi." Adel mencubit pelan hidung Wulan yang memerah.


"Terima kasih, Nyonya Henry." Wulan memeluk Adel erat, ia sudah menganggapnya kakak sendiri. Baginya Adel adalah sahabat, teman dan juga saudara.


"Udah jangan nagis lagi, besok Arga takut lihat wajahmu." ledek Adel menghapus jejak air mata diwajahnya.


"Hais, sampai lupa, Aku diminta Mommy mengantarkan ini untuk mu." Adel melirik nampan berisi makanan untuk Wulan, Nyonya Amel sengaja meminta Wulan makan di kamar. Karena Arga ada di sana. Katanya calon manten gak boleh bertemu sebelum hari H pernikahan.


Kata siapa thor? Kata orang. Heheee


...-------------------...


Arga sudah bersiap, bersama Tuan Abimanyu dan Nyonya Amel, Ama serta pendampingnya. Edo dan Alvin beserta pasangan.

__ADS_1


Mereka berangkat lebih dulu menuju tempat acara. Sedangkan Wulan masih dirias. Lintang, Henry, Adel, Ibu Sari dan Tuan Wira mendampingi Wulan. Disana juga ada Nathan dan Nia, meski belum meresmikan hubungan mereka. Tetapi keduanya cukup dekat akhir-akhir ini.


"Wah, Kakak cantik banget. Beneran seperti princes deh." Lintang terkagum dengan penampilan Wulan, dengan riasan adat sunda. Mahkota di kepala atau biasa di sebut siger, kembang tanjung hiasan dibelakang siger, susunan enam pasang kembang tanjung yang melambangkan kesetiaan seorang wanita.


Kembang goyang yang dipasang diatas sanggul yang berjumlah 5 keping. Tak lupa untaian bunga yang menjuntai atau disebut ronce. Serta pakaian khas sunda berwarna gading senada dengan pakaian yang Arga kenakan. Pakaian untuk prosesi akad nikah, sedangkan untuk resepsi. Wulan menggunakan gaun dan Arga dengan setelan tuxedo.


Adel mengacungkan 2 jempol tangannya, Wulan sudah disulap menjadi ratu sehari. "Gak sia-sia kita bayar mahal kalian." ucapnya pada kedua perias yang mendandani Wulan.


Adel juga mengenakan kebaya berwarna peach, senada dengan pakaian Henry dan juga Lintang, Serta Ibu Sari dan para pengiring mempelai wanita. Sedangkan Nyonya Amel dan Ama serta pengiring mempelai pria menggunakan pakaian bernuansa silver.


"Mama cantik gak El?" tanya Adel saat membawa Wulan keluar dari kamarnya. Tetapi El malah menyembunyikan wajahnya pada Daddy yang menggendongnya.


"Dad, El atut." ucapnya pelan.


"Tetap cantikan Mami." goda Henry mengedipkan sebelah matanya.


"Kalau gak cantik, mana mungkin Daddy mau." celetuk Wulan.


"Hust, kodrat wanita ya cantik Lan, kalau ganteng, tampan nanti yang ada dunia kebalik." Adel sengaja melempar candan untuk mengurangi ketegangan yang Wulan rasakan.


Rombongan mempelai wanita tiba ditempat acara saat pengucapan janji suci Arga akan segera di mulai. Dan Wulan baru diantarkan saat Arga telah selesai dengan ikrarnya.


"Lan jangan nervous, tetap tenang. Senyum yang cantik, nah gitu kan enak dilihat." Adel mengapit Wulan ditengah bersama Ibu Sari, yang lainnya berjalan dibelakangnya.


"Adel, Aku takut, nih jantung ku dag dig dug gak mau berhenti." bisik Wulan.


"Kalau berhenti masuk rumah sakit Lan, lagian ini belum apa-apa. Siap-siap nanti malam, akan lebih ekstrim lagi." Adel terkekeh melihat Wulan yang mulai memucat walaupun ditutup make up.


"Adel, jangan menakuti Aku." Wulan mere*** tangan Adel yang menggenggam tangannya.


Arga menatap Wulan tanpa berkedip, hingga Wulan dituntun di hadapannya. Arga tak menyadari semua itu, yang ada dipikirannya hanyalah ia sangat bersyukur, akhirnya bisa menghalalkan Wulan untuk selamanya.


"Mempelai wanita silahkan cium tangan mempelai pria." ucap MC yang memberi pengarahan.


Arga baru tersadar dan sangat malu ketahuan menatap Wulan dengan tatapan mata belalang. Arga segera mengulurkan tangan kanannya, kemudian mengecup kening Wulan cukup lama.


"Selamat kalian telah resmi menjadi pasangan suami istri, baik secara agama maupun hukum." penghulu memberi selamat untuk pasangan pengantin baru itu.


Wulan mematung saat wali nikah yang menikahkan dia dan Arga mengulurkan tangannya. Tanpa berucap sepatah kata pun. Hanya buliran air mata yang mewakili seluruh kebahagiaan dan rasa haru. Ia sangat bersyukur orang yang dia nantikan bisa hadir di hari bahagianya.


"Selamat nak, jadilah istri yang berbakti untuk suami mu." ucapnya.


Wulan melirik Arga sekilas, Arga menganggukkan kepalanya. Wulan berjalan perlahan, bersimpuh dihadapan Ayahnya. "Terima kasih Ayah. Terima Kasih bersedia menemui Wulan." Ayah Wulan memegangi bahu Wulan dan membawanya dalam pelukkannya. Mendekapnya erat, mencurahkan semua rasa yang selama ini dia pendam.


"Kemarilah nak, Ayah titip Wulan, tolong jaga dia. Sayangi dia dan bahagiakan dia." Ayah Wulan merangkul Arga yang sekarang adalah menantunya.


Suasana haru membuat semua yang hadir ikut merasakan kebahagiaan yang mereka rasakan. "Ayah..." ucap Lintang perlahan.


"Lin..." Wulan dan Arga memberi ruang untuk Lintang, selama hidupnya, ia belum pernah mendapatkan pelukan dari ayah kandungnya setelah ia mulai mengerti.


"Maafkan Ayah Lin... Maafkan Ayah." Lintang menangis haru dalam dekapan seorang Ayah yang selama ini begitu ia nantikan.


"Huuu huuu...." Mommy bersandar pada suaminya, begitupun Adel, mereka semua ikut terbawa suasana.


"Dad, napa pada angis cemua?" tanya El polos.


Adel menghentikan tangisannya, memandang Henry sejenak, lalu memandang El yang terlihat bingung. "Sayang, ini bahagia, bukan sedih."


"Baagia napa angis? angis kan cedih."

__ADS_1


"Terserah kau saja lah." Suasana haru berubah menjadi lucu saat El mulai bicara.


Setelah acara haru biru, serangkaian acara menurut adat berlanjut, tak sampai disana. Siang harinya dilanjutkan acara resepsi, Wulan dan Arga hanya beristirahat sejenak, namun senyum tak memudar dari pasangan pengantin baru ini. Lelah seolah tak terasa, yang ada hanya bahagia yang selalu menghinggapi.


Flash Back On


"Jadi orang itu tak mau menemui ku?" ucap Tuan Abimanyu meninggikan suaranya.


"Maaf, Tuan. Ini sudah peraturannya." ucap petugas yang berjaga di pos.


"Jooo... Kita masuk dengan paksa."


"I-iya Tuan, tunggu sebentar. Saya yang akan membawa orang itu kesini." Tuan Abimanyu menyeringai, awalnya hanya ingin menggertak saja. Tak menyangka jika para penjaga benaran takut.


"Ada apa Tuan menemui Saya?" tanya Ayah Wulan sinis.


"Anda pasti sudah tau apa yang ingin Saya sampaikan."


"Jika Anda hanya ingin membujuk Saya, silahkan Anda pulang sekarang juga."


"Jadi Anda mengusir Saya?" Tuan Abimanyu mulai geram.


"Langsung pada intinya saja." Ayah Wulan malas meladeni Tuan Abimanyu yang pasti akan membujuknya seperti Arga kemarin.


"Hmm... Sebagai seorang Ayah, sudah menjadi tugas kita untuk merawat dan menyayangi anak-ank kita. Sudahkah Anda melakukan itu? Sebagai seorang Ayah, kita wajib menjadi wali nikah untuk putri kandung kita. Sudahkah Anda melakukannya?"


"Apakah Anda merasa sudah menjadi Ayah yang baik dan bertanggung jawab pada anak-anak Anda? sampai Anda begitu sombongnya tak ingin lagi melihat kebahagiaan putri Anda?" Tuan Abimanyu mencecar Ayah Wulan dengan berbagai pertanyaan yang begitu menusuk.


"Sekarang Saya tanya, masihkah pantas Anda disebut sebagai Ayah? Masihkah pantas Anda dipanggil Ayah?" Ayah Wulan meggebrak meja, membuat semua petugas bersiaga. Namun Bejo dan dua orang anak buahnya sudah lebih dulu berjaga.


"Justru karena Saya ini tak pantas, Saya gak mau membuat Wulan malu. Anda sendiri tahu kondisi Saya sekarang. Bagaimana jika orang lain tahu bahwa Ayah Wulan adalah seorang penjahat? Bagaimana perasaannya?" Ayah Wulan terduduk lemas, untuk pertama kalinya ia memperlihatkan air matanya dihadapan orang lain.


"Dan Anda adalah orang terhormat, bagaimana jika ada yang mengetahui, bahwa besan Anda adalah seorang narapidana? Apa kata dunia jika semua orang tahu siapa Saya yang sebenarnya?" Ayah Wulan mengambil nafas sejenak, nafasnya mulai tersengal karena terlalu emosi dan berapi-api.


"Saya gak masalah Tuan. Saya gak peduli jika semua orang merendahkan dan mencela Saya. Tapi jika sampai anak-anak Saya yang menanggung semua hasil perbuatan Saya, Saya gak bisa bayangkan apa mereka akan sanggup menerimanya atau tidak."


Sebagai seorang Ayah, Tuan Abimanyu mengerti semua kecemasan yang Ayah Wulan rasakan. Benar adanya, tetapi mereka juga tak selamanya bisa menutupi hal itu.


Ayah Wulan mulai terbatuk, bahkan mengeluarkan darah dari dahaknya. "Tuan, Saya mohon, perlakukan Wulan dengan baik nantinya." Ayah Wulan pingsan sebelum sempat mengatakan lebih banyak lagi. Para petugas segera membawanya kerumah sakit khusus untuk napi.


"Jadi bagaimana ini Tuan?" tanya Bejo saat dalam perjalanan pulang.


"Atur waktu lagi, kita sudah tak memiliki banyak waktu lagi."


Dua hari setelahnya, kondisi Ayah Wulan sudah membaik, Tuan Abimanyu berhasil meyakinkannya. "Jika Anda ingin menebus semua kesalahan Anda, Anda hanya perlu datang di hari pernikahan Wulan. Ini kartu nama Saya, silahkan hubungi Saya atau asisten Saya ini." Tuan Abimanyu meninggalkan kartu namanya di atas meja, dan menyerahkan semua keputusan padanya.


Ayah Wulan bersedia, asalkan Tuan Abimanyu bersedia merahasiakan penyakit yang di deritanya kepada anak-anaknya. Kanker paru-paru stadium 4. Karena tak ingin membebani keluarganya, Ayah Wulan menutupi semuanya dari keluarganya.


Uang yang selama ini dia minta hanya untuk pengobatannya. Ia jarang pulang karena sering dirawat di rumah sakit. Tagihan membengkak ia berhutang pada rentenir.


Dan kejadian saat Ibu Wulan masuk rumah sakit, Fauzi yang merencanakan itu semua. Dan begitu Ayah Wulan datang, kondisi istrinya sudah kritis. Sebagai orang yang terakhir berada di sana. Tentu dia yang disalahkan.


Flash Back Off


TBC


Nah, yang mau kondangan, gak perlu hadir diacara resepsinya Wulan dan Arga yeah. Sekarang harus mengurangi kerumunan. Cukup kirimkan like komen dan vote sebanyak-banyaknya.


Jangan lupa balik ke cover dan beri rate bintang 5.

__ADS_1


Bagi yang bertanya siapa Soraya? apa hubungan dia dan Arga? yang jelas Author gak akan jelasin disini. Tapi dia orang yang berarti untuk Arga.


TERIMA KASIH


__ADS_2