
Happy Reading
💐💐💐💐💐💐
Arga sengaja datang terlambat ke kantor, ia menemani Wulan ke rumah sakit. Ia bahkan mengajak Wulan ke kantor sebentar. Sebemarnya Henry sudah mengizinkan Arga, supaya mengambil cuti hati ini. Tetapi masih ada pekerjaan yang harus dia selesaikan hari ini juga.
"Tunggu diruangan ku sebentar. Aku gak akan lama." Arga mengecup kening Wulan sekilas, ia membawa berkas penting ke ruangan Henry.
"Ga, bukanya Aku sudah bilang, tak perlu datang ke kantor hari ini?" Henry menolehkan kepalanya dari tumpukan berkas yang memerlukan tanda tangannya.
"Aku hanya mampir sebentar, sekalian Aku serahkan dokumen ini." Arga menunjukkan map berwarna biru di tangan kanannya.
"Hmm... taruh disitu, nanti Aku lihat. Bagaimana Wulan? apa sudah lebih baik?"
Wajah Arga berbinar, tampak kebahagiaan yang terpancar disana. Arga menyunggingkan senyumnya lebar, ia tak bisa lagi menutupi rasa senang yang membuncah dalam hatinya. "Kau tau? Aku akan menjadi Papa." ucap Arga dengan bangganya.
"Papa? maksudmu...?"
Arga menganggukkan kepalanya, ia memeluk Henry erat, seolah ingin menularkan kebahagiaan yang ia miliki. "Wulan hamil, dan Aku akan dipanggil Papa. Ini sungguhan, Aku akan menjadi seorang Papa."
Henry masih mematung, perlahan tangannya terulur menepuk punggung Arga. Bagaimanapun juga ini kabar yang membahagiakan untuk keluarga mereka. "Selamat, Aku turut senang." ucap Henry datar. Tetapi Arga tak melihat wajah Henry yang sesungguhnya.
Arga menjauhkan Henry, membuat Henry segera memaksakan senyumnya. "Jaga baik-baik, semoga sehat ibu dan bayinya."
"Itu pasti, kau juga jangan ditunda lagi, El sudah besar sekarang. Sudah saatnya kalian memberinya adik." Henry kembali menepuk bahu Arga, ia hanya menganggukkan kepalanya dan kembali ke kursi kebesarannya.
"Mungkin belum waktunya diberi kepercayaan lagi. Sudah sana temani Wulan." Henry kembali berkutat dengan lembaran kertas yang menumpuk di mejanya. Ia teringat Adel, semoga saja Adel tak akan sedih. Ia juga berdoa agar mereka segera diberi kepercayaan lagi.
Arga tak begitu memperhatikan perubahan Henry, ia terlalu senang dengan kabar gembira tentang kehamilan Wulan. Arga segera meninggalkan ruangan Henry, dan mengajak Wulan segera pulang.
Kabar baik Wulan tentu saja segera tersebar dalam keluarga Syahreza, bahkan Nyonya Amel memutuskan untuk pulang keesokan harinya. Ia sangat antusias menyambut kehamilan Wulan. "Aku akan punya cucu lagi. Ah senangnya." behitulah yang di ucapkan Nyonya Amel.
Nyonya Amel meminta Wulan untuk tinggal di mansion, agar ada yang menjaga dan mengawasinya. Arga menyetujui hal itu, terlebih setelah mendengar penjelasan dokter, bahwa trimester pertama usia yang sangat rentan dan harus dijaga dengan baik.
Meski kondisi Wulan dan janin yang ada dalam kandungannya baik-baik saja, tetapi Arga begitu protektif terhadap istrinya.
Ama juga turut senang, cicitnya akan segera bertambah. Tetapi usia yang sudah renta, membuat Ama tak ikut kembali ke Jakarta. Ama sudah memutuskan untuk menghabiskan sisa hidupnya di London bersama Tuan Edric dan keluarga kecilnya.
Henry memang belum memberitahu kabar kehamilan Wulan pada istrinya. Begitupun Arga dan Wulan, mereka belum sempat bertemu dengan Adel. Lagi pula Adel sibuk bekerja, jadi ia sendiri yang belum mengetahui kabar gembira itu.
...----------------...
"Dad, ada apa Mom meninta kita semua berkumpul disana?" tanya Adel saat dalam perjalanan ke mansion Syahreza. Nyonya Amel ingin membuat acara makan bersama, syukuran kecil-kecilan untuk kehamilan Wulan.
"Mungkin Mommy ingin berkumpul dengan kita. Mom kan sudah 2 bulan di London." jawab Henry seadanya.
"Oma mau bagi oleh-oleh ya Dad?" tanya El dengan antusias, di telepon, Oma nya bilang akan membawakan mainan baru untuk El.
__ADS_1
"Tentu saja. Buat Lintang juga ada loh." ucap Adel.
"Aciikk... El punya mainan balu lagi." El bersorak kegirangan hanya dengan mendengar mainan baru yang entah apa itu.
Sesampainya di mansion, Wulan dan Arga sudah ada disana. Mereka terlibat sendau gurau bersama Tuan Abimanyu dan Nyonya Amel. "Wah seneng banget kayaknya." Adel segera salim kepada ayah dan ibu mertuanya.
"Omaaa... El linduuu..." El segera berlari kepangkuan Nyonya Amel.
"Ah cucuku yang tampan. Sini peluk Oma, sini sayang." Nyonya Amel mengangkat tubuh El yang tak lagi ringan, ia memeluk cucunya dengan sayang.
"Oma, mana mainan El?" tanyanya polos.
"Katanya rindu, ternyata minta hadiah." Nyonya Amel menoel hidung mancung El dengan jari telunjuknya.
"Hehee... tan lindu Oma, lindu beliin mainan juga."
"El tau gak? El mau punya adek bayi loh." ucap Arga, dia mengira bahwa Henry sudah memberitahu Adel sebelumnya.
"Adek bayi? Dimana? Dak ada tuh." El cilngukan mencari adek bayi yang dimaksud.
"Adek bayinya masih kecil, masih dalam peeut Mama Wulan El." ucap Nyonya Amel menjelaskan.
"Aku dipanggil tante dong Kak?" Lintang juga senang, ia akan punya teman baru untuk bermain.
"Mana Oma? Dak ada." El masih bersikeras mencari adek bayinya. Baginya adek bayi ya ada wujudnya. Bayi kecil yang bisa bergerak. Mungkin itu yang ada dalam benak si bocah gembul.
"Boong, dak ada Mama. El Dak liat." El bersedekap tangan. Merasa dibohongi oleh orang dewasa yang ada disekitarnya.
"Iya- iya, tapi Mama gak bohong kok, El akan punya teman main nantinya." ucap Tuan Abimanyu.
"Iya, biar tambah rame kan rumah Mommy." Hahahaa semua orang tertawa bahagia, begitupun Adel. Henry melirik perubahan pada raut wajah istrinya, ia mengerti perasaan Adel seperti apa sekarang.
Adel menelan ludahnya dengan susah payah. Ternyata tujuan Mommy mengajak mereka berkumpul karena hal ini. Tetapi semua orang nampak tak terkejut dengan berita ini. Atau memang hanya dirinya yang tak mengetahui hal itu.
Adel memaksakan senyumnya, ia memberikan selamat kepada Wulan dan Arga. Ia turut bahagia dengan berita yang baru didengarnya ini. Ia juga yakin Henry pasti sudah tahu, tetapi meilih bungkam dan tak memberitahu dirinya.
"Sekarang sudah datang semua, ayo kita makan." ajak Nyonya Amel. Semua makanan sudah dihidangkan di meja makan. Wulan hanya makan beberapa suap, rasanya selera makannya tak menentu sekarang ini. Tetapi untuk morning sickness Wulan tak terlalu berat mengalaminya. Hanya disaat pagi hari itupun tak begitu membebaninya. Hanya rasa malas yang menumpuk dalam dirinya.
"Lan, makannya yang banyak atuh, kan buat dua orang sekarang." ucap Nyonya Amel.
"Iya Mom." Wulan hanya mengangguk, dan berusaha mengunyah makanan yang ada dipiringnya. Bagaimanapun ia harus menghargai niat baik mertuanya.
"Nah, sekarang kan Wulan udah, Adel gak pengin nambah lagi nih?" Nyonya Amel berucap dengan sedikit menyindir.
"Uhukk uhukkk..." Adel yang sedang mengunyah makanan serasa tersangkut ditenggorokan. Entah mengapa mendapat pertanyaan seperti itu, Adel merasa sangat sedih.
Henry segera memberikan segelas air minum untuk istrinya, ia mengusap punggung Adel untuk meredakan batuknya. Padahal Henry sedang menghibur istrinya.
__ADS_1
Semua akan baik-baik saja.
Begitulah arti tatapan Henry padanya. Adel segera mengangguk, tanpa melanjutkan makannya. "Mungkin belum dikasih aja Mom." jawab Henry dengan teris mengelus punggung Adel.
"Kau juga, El sudah besar. Sudah sepantasnya kalian..."
"Mom... Kita sedang makan." Tuan Abimanyu melirik tajam istrinya, meski tak paham situasi yang sebenarnya. Tuan Abimanyu memahani kegundahan dalam hati Henry dan Adel. Nyonya Amel bungkam, ia tak lagi melanjutkan ucapannya.
"Maaf Saya permisi ke toilet." Adel sudah tak dapat menahan sesak di dadanya, ia memilih pergi dari sana menuju ke arah dapur.
Henry segera menyusul istrinya, dan memeluknya dari belakang. Ia tahu Adel sedari tadi menahan gejolak dalam hatinya. "Gak papa, Mommy hanya bercanda. Jangan dimasukkan ke hati."
Henry membalikkan tubuh Adel, ia segera menepis buliran bening diwajah istrinya. "Maafkan Aku Dad." Adel terisak dalam pelukan suaminya, ia menumpahkan segala kesedihannya. Didapur sedang sepi, para pelayan juga sedang makan siang diruangan lain.
Henry mengajak istrinya ke gazebo, ia tak mungkin mengajak Adel kembali keruang makan dalam keadaan kacau seperti ini. "Sayang, maaf Aku tak memberitahu mu sebelumnya. Aku tak ingin membuatmu sedih." Henry duduk saling berdampingan dengan istrinya. Ia menyandarkan kepala Adel pada dada bidangnya.
"Ini bukan salah mu Dad. Seandainya...."
"Ssstttt...." Henry meletakkan telunjuknya dibibir Adel. Ia tak ingin mendengar alasan apapun. "Ini adalah kenyataan yang harus kita hadapi, jangan berandai-andai lagi. Semua ini bukan salah ku, bukan salah mu. Bukan pula salah siapapun, ini hanya ujian yang Tuhan berikan untuk kita."
Henry menagkup wajah Adel dengan kedua tangannya, tatapan keduanya saling mengunci. Henry berusaha menyakinkan Adel, untuk menghadapi semuanya bersama. "Eemmmm sayang Daddy..." Adel memeluk suaminya dengan manjanya. Ia bersyukur masih ada sandaran untuknya.
"Jadi gak boleh sedih lagi ya." Henry mengecup pucuk kepala Adel cukup lama, tanpa melepas pelukan mereka.
"Hmm... Maaf Dad, Aku hanya terbawa suasana. Habisnya semua orang tahu, tapi Aku sendiri gak tahu." Adel mengerucutkan bibirnya.
"Sayang, jangan menggodaku, nanti aku khilaf makan Kamu disini." Henry mengedipkan matanya, tatapan mesum pada bibir istrinya yang mengerucut seakan menggodanya.
"Dad, jangan mulai deh, nanti ada yang lihat." Adel mencubit lengan Henry hingga meringis.
"Aduh sayang, cubitan Kamu enak juga."
"Enak apaan? dicubit ya sakit."
"Kalau Kamu yang cubit jadinya nikmat. Hahaha..."
"Garing, gak lucu tau..."
"Gak lucu tapi istriku ini tersenyum loh." Henry semakin menggoda Adel, sehingga Adel tak lagi murung seperti sebelumnya.
Sayang, semoga Tuhan mendengar doa doa kita. Dan segera memberikan keturunan lagi untuk kita. Dia gak pernah tidur, kita harus terus berharap dan bermimpi. Agar kita lupa bahwa kita sedang bermimpi, dan segera menjadi kenyataan.
Henry tak ingin membuat istrinya semakin sedih. Ia sendiri tak tahu harus senang atau sedih, ia berharap Adel bisa hamil. Tetapi ketika bayangan Metta melintas, ia juga merasa takut yang kuar biasa. Takut kejadian Metta akan terulang lagi. Takut Adel juga meninggalkannya.
TBC
Kalahkan rasa takut mu, hanya dengan menghadapi ketakutan mu. Tetapi jika Kamu hanya bersembunyi, maka ketakutan itu akan selamanya menyelimuti hatimu.
__ADS_1
TERIMA KASIH