Ibu Untuk Tuan Muda

Ibu Untuk Tuan Muda
Bagaimana keadaanya?


__ADS_3

Terus dukung Baby El y readers, dengan like komen dan vote sebanyak-banyaknya.


Happy Reading


💐💐💐💐💐💐💐


"Dimana dia?" Tuan Abimanyu bergegas turun, saat mobil yang dia tumpangi baru saja berhenti tepat di depan loby utama rumah sakit.


"Apakah Anda Tuan Abimanyu? Saya Liam, orang yang menelepon Anda" Liam mengulurkan tangannya, disambut Arga dan Tuan Abimanyu. Liam sudah menunggu di loby utama rumah sakit.


"Ya, dimana putraku? Bagaimana keadaanya?" Tuan Abimanyu tak dapat menyembunyikan wajah cemasnya, lelaki yang usianya lebih dari setengah abad itu, saat ini benar-benar takut kehilangan putra semata wayangnya.


"Dokter sedang menangani putra Anda, Mari saya antarkan" Mereka bertiga menuju ruangan dimana Henry sedang ditangani. Arga berjalan sejajar dengan Tuan Wira, dia juga sama takut, namun dia harus menguatkan Tuan Abimanyu.


Mereka tiba disana, bersamaan dengan ruangan yang terbuka. "Siapa keluarga pasien?" Dokter muda itu membuka masker dan penutup kepala yng dia kenakan.


"Saya Daddy nya" Tuan Abimanyu maju selangkah, diikuti Arga. "Saya adiknya dok" mereka berdua berhadapan dengan dokter penanggung jawab yang menangani Henry.


"Ada beberapa hal yang harus saya sampaikan, mari ikut keruangan saya" Tuan Abimanyu dan Arga mengekor dibelakangnya. Liam masih disana, menunggu perintah selanjutnya dari Tuan nya.


Diruangan dokter.


"Pasien sudah berhasil melewati masa kritisnya, beruntung ada yang dengan suka rela mendonorkan darahnya. Dan operasi pada tangan kanan juga berhasil, namun untuk perkembangan lebih lanjut kita harus menunggu pasien siuman, kurang lebih 6 jam dari waktu dia selesai operasi." Penjelasan dokter membuat Tuan Abimanyu dan Arga bernafas lega.


"Tetapi benturan dikepalanya, sepertinya dia pernah mengalami hal serupa sebelumnya, mungkin dia akan kehilangan sedikit ingatannya. Tapi hal itu bisa sembuh dengan sendirinya, kita harus memnuatnya mengingat hal tersebut. Misalnya dengan keluarga terdekatnya, suasana rumah atau pergi ke tempat yang akan membantunya mengingat masalalunya." Baru juga merasa sedikit lega, mereka harus dihadapkan pada kenyataan pahit.

__ADS_1


Setidaknya Henry masih bisa diselamatkan. Walaupun tubuhnya penuh luka, dan mungkin akan melupakan mereka. "Siapa yang mendonorkan darahnya untuk anak saya dok? Golongan darahnya itu sangat langka, jadi saya dan keluarga harus mengucapkan terima kasih padanya" Tuan Abimanyu berharap bisa bertemu langsung dengan pendonor untuk Henry.


Namun pihak rumah sakit tak bersedia memberitahukannya. "Mohon maaf Tuan, pendonor tersebut tak bersedia mengungkapkan identitasnya, dan dia juga menitipkan ini pada saya" Dokter itu memberikan kotak beludru merah yang digenggam Henry saat ditemukan.


"Lalu siapa orang yang menolong kakak saya dok? Dimana dia sekarang?" Arga juga penasaran siapa yang membawa Henry ke rumah sakit dan bisa memberitahukan keluarganya.


"Kalau soal itu, kebetulan hanya orang yang melintas, dan sekarang orang itu sudah pergi, beliau hanya menitipkan benda itu pada saya" Tuan Abimanyu dan Arga saling melirik, ada sesuatu yang ditutupi pihak rumah sakit. Tetapi yang terpenting saat ini adalah Henry bisa selamat.


"Baik dok, terima kasih, saya ingin melihat keadaan putra saya" Tuan Abimanyu permisi, ingin segera menemui Henry, diikuti Arga dibelakangnya.


Sampai diruang perawatan Henry, mereka tak lagi menemukan Liam, dia sudah menghilang. "Kemana dia? Ga, selidiki siapa Liam itu, dan juga siapa yang mendonorkan darahnya untuk Henry" Arga mengangguk, Tuan Abimanyu masuk keruangan Henry.


Saat ini hanya boleh satu orang didalam ruang perawatan, jadilah Arga harus mengalah. Dia menghubungi Nathan, agar bisa melacak nomor yang tadi menghubunginya. Dan juga mencari informasi mengenai Liam. "Aku percayakan padamu Nath, saat ini aku di rumah sakit menemani Tuan Abminayu."


Arga juga memberitahukan kejadian yang menimpa Henry, namun belum bisa memastikan kejadian yang sebenarnya, Henry belum siuman, supir truk yang terlibat juga sudah ada lagi. "Teka-teki apa yang sebenarnya terjadi?" Arga merenung sejenak, dia lupa mengabari Nyonya Amel. Tapi biarlah Tuan Abimanyu yang menyampaikan langsung, saat ini juga kondisi El belum pulih, lebih baik merahasiakan dulu sampai Henry sudah bangun.


"Siapa mereka ini? Bahkan aku tak dapat satupun informasi mengenai mereka" Berbagai nama Liam bermunculan, tetapi tak ada satupun yang sesuai dengan yang diinginkan Arga.


Tetapi dia berhasil meretas CCTV rumah sakit, lagi-lagi dia harus kecewa, wajahnya hanya terlihat samar. "Aku seperti pernah melihat orang ini, tapi dimana?" Nathan merasa dejavu dengan orang itu.


"Mungkin Arga mengenal orang ini lebih baik aku bicara padanya" Nathan pergi kerumah sakit dimana Henry dirawat, dia juga membawa bukti CCTV yang dia dapatkan, sayang sekali data tentang rumah sakit terlindungi dengan sangat baik.


"Bagaimana Tuan Henry?" Tanya Nathan setelah sampai di rumah sakit, Arga baru saja keluar ruangan, Tuan Abimanyu terpaksa berbohong kepada istrinya. Dia mengatakan bahwa mereka tak bisa menjenguk El karena pekerjaan mendesak.


"Masih belum sadarkan diri, apa kau sudah menemukan apa yang aku perintahkan?" Arga antusias, berharap Nathan dapat diandalkan disaat seperti ini.

__ADS_1


"Orang yang yang kita cari bukan orang awam, tak ada satupun informasi yang aku peroleh. Tapi kamu harus melihat rekaman ini" Nathan memberikan flashdisk yang berisi hasil buruannya.


Mereka berdua menuju cafe yang tak jauh dari sana, untuk membahas lebih lanjut. "Orang ini tak asing, kalau diperhatikan ini seperti orang yang pernah kutemui waktu liburan waktu itu. Tapi hanya ciri-ciri fisiknya yang sama, wajahnya sama sekali tak terlihat" Arga menemui jalan buntu.


Henry seperti sedang bermimpi, dia ada di sebuah tempat yang sangat indah, tapi tak ada satu orang pun disana. Hanya ada dia, Henry berjalan lurus, dia bertemu Metta. "Sayang, sedang apa kamu disini?" tanya Henry.


"Seharusnya aku yang bertanya padamu, ini bukanlah tempat mu, jadi kembalilah ketempat mu semula" Metta tersenyum, dengan wajah cantiknya. Dia tak terlihat pucat sedikitpun seperti waktu itu.


"Baby El pasti mencarimu, lihatlah dia menangis, mencari Daddynya" Tiba-tiba Henry ada dirumah sakit, diruangan El dirawat. Benar saja bayi itu sedang menangis, namun tak ada yang bisa menyadari keberadaan Henry. Dia mendekati El, hendak menyentuhnya, namun tak bisa.


"Ada apa dengan ku?" Henry bertanya pada dirinya sendiri. Dia bisa melihat orang-orang disekitarnya tanpa bisa menyentuhnya. Namun tidak dengan orang lain yang tak ada satupun bisa merasakan kehadirannya. Hanya El yang bisa melihatnya. Seketika El menghentikan tangisannya. "Daddy, Daddy" El memanggil namanya dengan jelas.


Henry menangis bahagia, El bisa memanggil namanya dengan fasih. "Pulanglah! Disini bukan tempatmu" Metta menyuruhnya pulang.


"Ayo kita pulang bersama, El pasti senang melihat mu" Namun Metta melepaskan genggaman tangan Henry. Dan kembali tersenyum.


"Aku tak bisa kembali, lagi pula ada seseorang yang sudah bisa menggantikan aku, aku percaya padanya, El akan baik-baik saja bersamanya. Aku tahu, kau juga mencintainya" Metta tersenyum getir, namun dia merasa bahagia. Henry bisa melupakannya. Dan Adel adalah orang yang tepat.


"Tapi aku..."


TBC


.


.

__ADS_1


Yang kepo boleh diintip ig saya, hari ini up nya cukup sampai disini. Nantikan episode spesial #100 segera diproses kakak readers.


TERIMA KASIH


__ADS_2