
Happy Reading
💐💐💐💐💐💐
Wulan dan Arga menginap di rumah Henry. Menemani dan menghibur El. Baby Arlan membuat El tak terlalu murung ditinggal Mami dan Daddy. Lintang juga saat ini sedang libur semester. Ia memilih tinggal di asrama sekolah. Ia berdalih ingin lebih fokus dan mandiri.
Semuanya hanya bisa mendukung keinginan Lintang. Asalkan Lintang sungguh-sungguh menjalaninya. Terlebih sekarang ia sudah di tingkat Sekolah Menengah Pertama.
Baby Arlan sudah tidur, Arga masih menemani El. Tetapi bocah itu tak kunjung memejamkan matanya. Ia teris saja menanyakan adik bayi. "Papa, El mau liat adik bayi."
Mengusap punggung El dengan perlahan. Seperti menina bobokan Arlan. Arga sudah mulai terbiasa mengasuh anak kecil. Sikapnya yang kaku perlahan luntur. "Sekarang El bobok dulu, besok kita jenguk adik bayi sama-sama."
Mendongakkan wajahnya. El mencari kebenaran dari perkataan Arga. "Benar ya. Papa gak bohong."
"Iya. Sudah sekarang pejamkan mata."
Membelakangi Arga. El memeluk guling kesayangannya. Ia tak mau lagi bermanja-manja. Sekarang ia sudah mulai terbiasa. Tidur juga sendiri. "Emmmpt." Perlahan matanya terpejam. Seiring dengkuran halus pertanda El benar-benar tertidur. Ia sudah tak sabar menantikan bertemu adik bayinya.
...----------------...
Malam berganti, sang mentari pagi menyapa jutaan umat manusia dari tidur lelapnya. Kicauan burung di dahan pohon sekeliling mansion. Aroma khas embun pagi, semerbak wangi bunga yang bermekaran. Menambah sejuk pagi ini. El terbangun dengan sendirinya. Mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia siap menyapa sang pagi.
Membasuh wajahnya, menyapu sisa kantuk. El, bocah kecil yang telah menjadi seorang kakak begitu bersemangat untuk bertemu adik bayi yang baru dilahirkan malam tadi.
"Ncus, El mau mandi."
"Baik, Aden. Ncus siapkan." Sisi bergegas menyiapkan keperluan mandi El. Ia hanya mengawasi, sesekali membantu menggosok punggung El. Itupun harus berdebat lebih dulu.El lebih ingin melakukan semuanya sendiri. Tentu Sisi tak akan membiarkan hal itu.
El sudah rapi dengan pakaiannya. Rambutnya disisir kedepan. Lengkap jam tangan hadiah dari Daddy nya. Dan sepatu sneakers anak berwarna putih corak abu-abu. Ncus membiarkan sebagian kancing kemeja El, menampakkan kaos berwarna navy di dalamnya. Tak lupa celana selutut yang menambah ketampanan si bocah gembul.
"Papa... Mama... El dah siap." El berlagak seolah model kecil di atas red karpet.
"Hai, Kakak El. Waow.... T.O.P..." Arga mengacungkan kedua jempol tangannya.
"Tatattaa....Taaaataaaa..." Arlan mulai mengoceh. Bayi itu begitu senang melihat El. Arlan mengulurkan tangannya, meminta El untuk menggendongnya.
"Noooo, Sayang. Kita mam dulu." Wulan kembali menyuapkan bubur kasar untuk Arlan.
"Nah, Kakak El. Kita sarapan dulu ya. El mau yang mana?" Arga menepuk kursi di sebelahnya. Sisi membantu menyiapkan sarapan di piring El.
"Si, Kau juga makan. Kita akan berangkat ke rumah sakit setelahnya."
"Saya di belakang saja, Tuan."
"Terserah Kau saja."
"Baik, Saya permisi." Sisi bergabung dengan yamg lain. Menikmati sarapan bersama Bi Ning dan yang lainnya. Tak ada rasa canggung disana. Mereka semua baik, dan sudah seperti keluarga kedua bagi Sisi.
"El mau Papa suapi?" Namun El segera mengeelengkan kepalanya. Ia mendekatkan piring dihapannya.
"El mam sendiri, Pa. El udah jadi Kakak." Arga tersenyum bangga. Ia sudah menganggap El seperti anaknya sendiri.
"Mama, makan dulu. Biar Papa yang gantikan suapi Arlan." Arga sudah selesai sarapan. Ia ingin menggantikan Wulan menyuapi Arlan.
"Tak apa, biar Aku saja."
Arga mengambilkan makanan untuk istrinya, menyuapi Wulan seperti menyuapi Arlan. "Aku bisa makan sendiri." Wulan menolak, ia juga merasa malu ada El di sana.
"Ayo buka mulut." Arga memaksa. Mau tak mau, Wulan menerima suapan Arga sampai ia selesai menyuapi Arlan.
"Nah sudah selesai." Wulan mengelap mulut Arlan dengan tisu. Ia menaruhnya di stroler agar bayi itu tak banyak bergerak. Arlan sudah berlatih berdiri, sangat aktif bergerak kesana kemari tak bisa diam.
Arga menjaga Baby Arlan. Wulan menyelesaikan sarapannya bersama El. Mereka makan dalam diam, hanya suara sendok yang beradu dengan piring.
Selesai sarapan, masih terlalu pagi untuk mengunjungi rumah sakit. "Papa, kapan berangkat?" rengek El. Ia sudah tak sabar bertemu anggota keluarga barunya.
__ADS_1
"Iya, Kakak El. Tunggu Mama Wulan dulu ya." El memdengus, ia menghabiskan waktunya untuk menggoda Baby Arlan.
"Papa, adik bayi seperti apa ya?"
"Mungkin sepertimu ketika bayi." Arga berucap asal, tetapi kemudian ia menyadari ucapannya. "El mau adik seperti apa?"
"Yang lucu. Seperti Baby Alan..." El sengaja mengambil mainan yang dimaninkan Arlan.
"Hoaaaa... uuuuu..." Arlan menangis sambil menunjuk mainan. Ia tak dapat meraih mainan ditangan El.
Arga mengeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah jahil El. Arlan diberi mainan yang lain pun tak mau. Ia menginginkan mainan yang diambil El. "Kakak El, jangan iseng dong."
"Hehehe... Alan lucu, Pa. Lihat tuh kalau nangis." El terkekeh, namun ia segera memberikan mainan itu padanya.
"Ahakkk haaaa... " Arlan tertawa bahagia, meski air mata masih menggenang. El sangat suka menggoda Arlan. Baginya ia seperti memiliki mainan hidup.
"Kau ini iseng seperti Daddy mu." Arga mengacak rambut El.
"Papa, jadi jelek nih." El merapikan kembali tatanan rambutnya.
Begitulah El, bahkan dalam perjalanan ke rumah sakit. Ia tak melepaskan Arlan dari sikap jahilnya. Namun menjadi hiburan tersendiri bagi mereka, tiga orang dewasa yang ada di dalam mobil.
...----------------...
Sementara itu, di rumah sakit. Jadwal kunjungan dokter untuk memeriksa kondisi Adel. Sepasang suami istri itu masih juga tak bergeming. Namun suara langkah kaki menyadarkan Adel dari tidur lelapnya.
"Eh, Dok. Maaf, Saya baru..." Adel mengerutkan keningnya. Bagaimana bisa ia tak menyadari adanya Henry disampingnya. Entah sejak kapan suaminya ini berbaring ditempat yang sama dengannya.
"Maaf, Nyonya. Kami hendak melakukan pemeriksaan. Dan juga, Tuan Henry."
"Ah, ya. Loh, Dad. Kau kenapa bisa tidur disini?" Adel berusaha membangunkan suaminya. Mengguncang tubuh Henry, tak juga merespon.
"Hmmm... Sebentar lagi, Aku masih ngantuk." Saat bersamaan, suster membawa Baby yang sedang menangis. Henry berjingkat, ia segera bangun dari tidurnya. Namun karena tak hati-hati, ia hampir terjatuh dari ranjang yang cukup sempit untuk dua orang itu.
"Hoaaaaa... hooaaaa..." Suara tangisan bayi menggema di ruangan itu.
"Berikan padaku." Adel menjulurkan tangannya, ia sudah tak sabar ingin segera menimang putri yang baru di lahirkannya semalam.
"Tuan, mari Saya periksa dulu." Dokter Alvin memeriksa keadaan Henry di ruangan yang lain. Membiarkan Adel memberikan ASI untuk Baby Girl. Demamnya sudah turun Bahkan dalam 3 jam sejak Henry di pindahkan bersama Adel. Cairan infus langsung habis satu kantong.
"Vin, udah bisa di lepas?" Henry melirik jarum yang menusuk di peegelangan tangan kirinya.
"Masih belum."
"Ayolah. Aku sudah sehat sekarang. Atau Aku lepas sendiri." Henry mendesak, ia hendak menarik paksa jarum infus. Tetapi Dokter Alvin menghalanginya.
"Hmmm... Iya, bawel." Dokter Alvin membantu melepas jarum yang menancap pada tangan kiri Henry. Tetapi masih banyak catatan yang harus Henry perhatikan.
Bayi mungil itu sudah tertidur pulas dalam dekapan Mami Adel setelah kekenyangan. Namun Adel masih belum bisa duduk terlalu lama. Kepalanya serasa berputar jika terlalu lama duduk. Keadaannya masih belum sepenuhnya pulih. Untuk membersihkan diri, Adel masih harus dibantu orang lain.
"Mamiiii... El datang." Teriak El kegirangan. Adel baru selesai makan pagi. Di suapi Henry, mereka berdua masih sempat saling menyuapi.
"Hai, Sayang. Kemarilah!" Adel melambaikan tangannya. El segera berlari, duduk di pangkuan Daddy nya.
"Mami, dimana adik bayi? El mau lihat."
"Tuh anak kesayangan mu. Sudah tak sabar bertemu adik bayinya." Wulan mencibir, diikuti Arga yang membawa Baby Arlan. Serta Sisi di belakangnya.
Adel dan Henry terkekeh, bahkan sejak kemarin siang. El selalu menanyakan Mami dan adik bayinya pada Oma. "Adik bayi bobok, Sayang."
"Yah, El mau lihat. Dad, dimana adik bayi?" Henry akhirnya menuruti El. Membawanya untuk melihat adik bayi yang tertidur dalam box bayi di ruangan itu.
"Selamat, Adel Sayang. Ponakan ku pasti cantik dong." Wulan memeluk Adel, menangis haru. Karena Wulan mengetahui perjuangan Adel sejak awal.
"Makasih, Lan. Iya cantik. Kalian gak pingin lagi baby yang cantik?" ledek Adel, ia menjauhkan Wulan dari dekapannya.
__ADS_1
"Hust, Arlan juga belum bisa jalan."
"Bikin mah tiap hari, tapi gak tau jadinya." ledek Henry. Seketika wajah Wulan memerah. Arga hanya menanggapinya cuek bebek. Ia bermain bersama Arlan tanpa memedulikan mereka yang sengaja menyinggung dirinya.
"Hai adik cantik, siapa namanya?"
"Dad, kita belum memberinya nama." Adel baru teringat, bahwa nama yang tertera dalam box bayi 'Bayi Ny. Adel'.
"Aline... My name is Aline."
"Aline?"
"Yah, Micelle Ashaline Syahreza. Bagaimana, Sayang?" Henry menatap lembut istrinya, Adel mengangguk. Tanda setuju, mereka memang menyiapkan dua nama sebelumnya. Dan nama inilah yang akhirnya mereka gunakan.
"Nama yang bagus."
"Mom suka nama itu." Tuan Abimanyu dan Nyonya Amel baru saja datang. Mereka juga mendengar nama yang Henry berikan untuk putri cantiknya.
"Berarti Kakak El, mulai sekarang panggil adik bayi, Baby Aline." Henry mengusap wajah putrinya yang masih merah.
"Kakak El, Baby Al." El menunjuk dirinya dan Baby Al bergantian.
"Emmpt.. El, Al...Jangan tanyain Dul dimana ya."
"Hahaha.... Kau ini ada-ada saja."
Saat itu juga Ibu Sari dan Tuan Wira datang. Suasana semakin hangat. Kebersamaan dua keluarga besar. Beeuntunglah ruangan itu cukup besar untuk menampung mereka semua.
"Eyang, El punya adik bayi." ucapnya pada Ibu Sari.
"Benarkah? Eyang mau gendong boleh?"
"No, Baby Al masih bobok."
"Baby Al?" tanya Tuan Wira.
"Yah, Aline namanya Eyang." ucap Henry. "Micelle Ashaline Syahreza. Itu nama lengkapnya.
"Kenapa gak pakai nama Eyang?" Tuan Wira tak terima, bagaimanapun juga Baby Al juga cicitnya.
"Ayah, hanya nama saja. Tak usah dibesarkan." Ibu Sari mengusap lengan Tuan Wira yang duduk di sebelahnya.
"Gak bisa, harus ada nama Eyang juga."
"Bagaimana Kalau Micelle Ashaline Wiranata Syahreza?" ucap Tuan Abimanyu.
"Hmm.. boleh juga." Tuan Wira menganggukkan kepalanya.
"Apa gak kepanjangan, Dad? Nanti dikira rel kereta." Nyonya Amel terkekeh menggoda suami dan besannya.
"Hahaha.. Ada-ada saja. Mana ada rel kereta jadi nama. Nanti ujungnya tuttt tutttt..." Ibu menanggapi dengan candaan.
Mereka semua tertawa berjamaah. Kebahagiaan menyelimuti kedua keluarga besar. Menyambut kehadiran si cantik, Baby Al dengan penuh suka cita. Saat itu juga si cantik menangis, merasa bising dengan kehadiran seluruh keluarga besarnya.
...****************...
...TAMAT...
Thor ucapkan banyak terima kasih, bagi semua readers yang selalu mengikuti kisahnya Baby El sampai saat ini.
Jangan unfavorit dulu ya, masih ada beberapa patah kata yang belum dipost. And ada juga pemberitahuan kisah Kak Rey.
Apakah ini akhir yang dinantikan? Boleh tulis di kolom komentar
...****************...
__ADS_1
TBC
TERIMA KASIH