
Terima kasih telah singgah dilapak baby El.
Bagi yang punya poin dan koin banyak, boleh disumbangkan ke Baby El lohhh.
Dukung terus Baby El dengan Like Komen dan Vote sebanyak-banyaknya.
Happy Reading
💐💐💐💐💐💐
Adel benar-benar menepati ucapannya, semenjak pulang berlibur, dia lebih banyak menghabiskan waktu didapur dan taman. Dia juga lebih sering menyerahkan tugas pada Wulan.
Seminggu berlalu, Adel merasa bosan dengan kegiatannya. Dia memikirkan ide cemerlang, untuk bisa pergi dari sana. Tanpa banyak pertanyaan dari Tuan nya.
Adel meminta izin untuk mengunjungi ibu, dengan alasan Eyang Wira tak enak badan. Nyonya Amel pun mengizinkannya dengan mudah."Terima kasih Nyonya."
Adel kembali kekamarnya, mengambil sling bag hitam yang akan dibawanya. Dia mengendap-endap tak ingin membangunkan El. "Lan, apa El sudah tidur?"
"Yah, seperti yang kamu lihat, berapa lama kamu pergi Adel? Rasanya tak sanggup jika aku harus menjaganya seorang diri." Wulan mengeluh setiap malam, badannya terasa pegal semua, seharian menjaga El yang aktif kesana kemari. Belum lagi mainan yang pasti akan bertebaran.
"Tak akan lama, setidaknya sampai eyang membaik." Adel mengecup wajah tampan El dengan hati-hati. "Jangan rewel ya sayang, mami pergi dulu."
"Yah kau berhati-hatilah!" Wulan memeluk Adel erat, seolah tidak ingin ditinggalkan.
"Bye Lan." Adel melambaikan tangannya, seraya tersenyum. Padahal didalam hatinya sedang kacau, diobrak abrik rasa bersalah.
Wulan membalas lambaian tangan Adel, kemudian merebahkan tubuhnya disamping El yang terlelap, setelah menutup pintu dan menguncinya.
"Mel, seperti ada yang tidak beres dengan anak itu." Ama memberi isyarat dengan matanya. Kearah Adel yang baru saja menghilang dibalik pintu.
"Aku juga merasa hal yang sama Mam, terlebih sikapnya pada El, dia selalu berusaha menghindar." Nyonya Amel mengingat setiap perubahan sikap Adel, mulai dari pulang dari liburan. "Apa ini ada hubungannya dengan si anak bodoh itu? Atau karena hal lain?"
"Kita harus menyelidikinya Mam, aku tak ingin El kehilangan ibunya lagi."
Ama setuju dengan pendapat menantunya itu." Yah kurasa memang kita harus bertindak secepatnya Mel."
...----------------...
Adel tiba di kediaman Eyang Wira, semenjak kejadian waktu itu, Eyang Wira meminta Ibu Sari tinggal dikediamannya.
Suara mobil berhenti tepat dihalaman megah dan luas kediaman Wiranata. "Terima kasih pak" Adel seraya memberikan beberapa lembar uang pada supir taksi online.
"Ternyata disini rumah Eyang." Adel berdiri cukup lama, sebelum akhirnya Ibu Sari mengagetkan lamunannya.
__ADS_1
"Loh Adell? Kamu kesini sama siapa? Dimana Baby El? Apa dia tidak ikut bersamamu?" Cecar Ibu Sari.
Matanya sudah berkaca-kaca. "Ibu, Adel kangen sama ibuuuu." Adel memeluk ibunya dengan erat.
"Ayo masuklah, tetapi Eyang mu sedang keluar sebentar, katanya menemui rekan kerjanya." Adel membuntuti Ibu Sari, dia celingukan, rumah ini tak kalah bagusnya dengan yang di tempati, yaitu kediaman Syahreza.
Berarti kakeknya memang bukan orang sembarangan. Bahkan mungkin tak jauh berbeda dengan keluarga Syahreza.
"Bi, tolong buatkan minum, dan kalian semua, ini putri saya, Adellia." Ibu Sari memperkenalkannya pada semua penghuni disana.
"Baik Nyonya, saya Yani, Nona Adel cantik sekali." Puji Bi Yani.
"Terima kasih Bi, saya masih standar, masih cantik ibu saya." Adel merangkul bahu ibunya.
Ibu Sari hanya terkekeh, disanjung bukannya senang tetapi malah tertawa. "Kau ini, ibu kan sudah tua."
Ibu Sari mengajak Adel dilantai atas, disana ada kolam renang, disampingnya ada taman kecil untuk bersantai. "Ibu betah tinggal disini?" Tanya Adel.
"Sebenarnya ibu merasa kesepian, dengan rumah sebesar ini, hanya dua orang yang menempati. Apa kamu tak berniat tinggal disini?" Ibu Sari mengiba, berharap putrinya akan mengiyakan permintaannya.
"Disini kan banyak pelayan ibu, lagi pula El masih minum ASI. Mungkin kalau El sudah 2 tahun aku akan menemani ibu disini, dan juga Eyang." Adel mengusap punggung tangan ibunya.
"Baiklah, kau belum menjawab pertanyaan ibu, ada apa kemari?"
Ibu Sari mengulas senyum teduhnya. "Tentu saja tidak, ibu malah senang kamu bisa menjenguk ibu." Ibu Sari berdiri disebelah Adel, dan memeluk putrinya itu.
...----------------...
Malam hari dikediaman Syahreza.
El sedang rewel, sampai Wulan sendiri kuwalahan menghadapi bayi tampan itu. "Cuppp cupppp, tenaglah sayang..." Wulan kembali menimang El.
"Hukkkk hukkk Mammmm miiiii" El merajuk. Biasanya Adel selalu ada disekitarnya, walaupun Wulan yang menina bobokan El, tetapi Adel tak pernah meninggalkan El. Kecuali setelah bayi itu tertidur.
"Ada apa ini? Kenapa semuanya berkumpul disini?" Henry berdiri didepan pintu kamar El, awalnya dia ingin menuju ke kamarnya. Tetapi ia mendengar El menangis, karena pintu hanya tertutup sebagian.
"Kau sudah pulang Ar?" Ama berdiri dari duduknya, dan menghampiri Henry.
"Kau coba bujuk El, biasanya dia akan diam jika kau membujuknya." Nyonya Amel menarik tangan Henry.
Henry hanya menurut saja, dia memgambil El dari gendongan Wulan. "Kemana Adel?" Tanyanya, seraya menimang El.
"Dia izin, dia bilang ingin mengunjungi ibunya, dan Eyangnya sakit."
__ADS_1
"Eyang? Maksud mommy Eyang Wira?" Tuan Abimanyu baru saja tiba, dia mendekati kamar El karena terdengar suara ribut dari sana.
"Memangnya siapa lagi eyang nya Adel?" Sahut Ama.
"Tapi Mam, tadi siang aku masih bertemu dengan Tuan Wira." Tuan Abimnayu merasa heran, tadi siang Tuan Wira terlihat sangat sehat.
"Benarkah Dad?" Henry mencoba berfikir. Sikap Adel yang akhir-akhir ini berubah. Terutama setelah dia menerima surat itu. "Dasar wanita gila." Gumam Henry sangat pelan.
"Apa kau mengatakan sesuatu Son?"
Henry mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras. Mengingat Adel dengan Rey."Ah tidak Dad, Mungkin dia rindu ibunya."
"Apanya yang tidak mungkin?" Nyonya Amel menatap perubahan wajah putranya. Terlihat sangat marah.
"Tidak ada Mom, besok aku akan menjemputnya pulang." Henry membawa El ke kamarnya.
"Ini semua pasti karena dia? Perjanjian apa yang sudah mereka rencanakan? Kau harus bertindak, Arga, yah dia harus mengetahuinya."
Henry masih saja mengumpat, sambil sesekali mengusap kepala El. Dia teringat dibandara, Adel menemui Rey diam-diam. Bahkan setiap gerak gerik Adel, tak luput dari pengawasannya.
Tetapi dia tak menyangka, jika akan berakhir seperti ini. Dia menyesal membiarkan Adel bertemu Rey.
El sedikit tenang, dan mulai memejamkan matanya. "Daddy akan melakukan apapun untukmu sayang." Henry merebahkan El dengan hati-hati diatas kasur, dan menghadiahkan banyak ciuman diwajah tampannya.
Nyonya Amel masuk dengan langkah pelan, "Apa dia sudah tidur?" Suara Nyonya Amel sedikit berbisik.
"Hmmmm, Mommy jagalah dia, aku akan mengganti baju dan membersihkan diri." Henry meninggalkan El bersama Oma nya. Dia mengambil pakaian ganti, dan menuju kamar mandi.
Nyonya Amel mengusap pucuk kepala El. "Emmmm cucu tampanku."
"Wulan, biarkan El disini, aku akan menjaganya, kau kembalilah! Dan ambilkan botol susu juga minum untuk El." Ucap Nyonya Amel, Wulan baru saja masuk, karena takut El membutuhkan sesuatu.
"Tapi Nya..." Nyonya Amel tak ingin dibantah, Wulan segera mempersiapkan kebutuhan El. Dan kembali kekamar El.
Henry baru saja keluar dari kamar mandi, dan mendapati Mommy dan El masih disana. "Mom, kenapa tak kau pindahkan El ke kamarnya?"
"Heiii anak bodoh, biarkan El disini, aku yang akan menjaganya. Ku tidurlah dimanapun kau mau." Nyonya Amel menutupi sebagian tubuhnya dengan selimut.
Henry mengambil bantal dan selimut baru dari lemari, dia memilih tidur disofa. Karena takut menindih El saat tidur. Padahal selama ini Henry tidur dengan anteng, tanpa banyak bergerak dari posisi awalnya.
TBC
Daddy Henry ada di ig lohh... Silahkan beri penilaian, cocok gak kira-kira?
__ADS_1
Terima kasih