Ibu Untuk Tuan Muda

Ibu Untuk Tuan Muda
S2-73


__ADS_3

Happy Reading


💐💐💐💐💐💐


Usia kehamilan Adel semakin bertambah, dan keisengannya untuk mengerjai suaminya juga sudah berkurang. Hanya sifat manjanya yang masih belum hilang. Henry sedikit bernafas lega sekarang, ia tak lagi harus mengalami penyiksaan dari istrinya.


Adel juga terlihat lebih segar dan berisi, ia sudah mulai beraktifitas ringan. Seperti berjalan-jalan disekitar rumah, tetapi Henry masih melarangnya melakukan pekerjaan apapun. Paling berat hanya mengajari El untuk belajar dirumah atau hanya untuk sekedar menemaninya bermain.


El juga lebih mandiri, sudah pintar makan sendiri tanpa disuapi, ia terkadang juga mandi dan memakai pakaiannya sendiri. Usia El 4 tahun lebih dan sebentar lagi bisa masuk sekolah TK. Terkadang El menginap di rumah Ama jika rindu Baby Arlan.


Henry lebih banyak meluangkan waktunya untuk Adel dan keluarganya. Ia jarang pulang malam, dan untuk pekerjaan ia lebih memilih menyelesaikannya di rumah. Seperti hari ini, ia sengaja pulang lebih awal. "Sayang, El. Daddy pulang." ucapnya saat memasuki mansion.


"Kok sepi Bi, dimana istri dan anak saya?" tanyanya pada Bi Ning yang membukakan pintu.


"Nyonya menemani Tuan Muda berenang." jawab Bi Ning.


Henry mengganti bajunya terlebih dahulu, ia menyusul Adel dan El di kolam renang. "Hai Sayang." Henry melambaikan tanganya.


"Daddy, sudah pulang?" tanya El antusias.


"Iya dong, kangen sama El. Sama Baby juga." Henry mencium perut Adel yang membuncit. Adel tak ikut berenang, ia hanya mengawasi El sambil terus menggiling makanan di mulutnya. Sekarang ini Adel sangat mudah merasa lapar, terkadang tengah malam ia membangunkan Henry untuk menemaninya makan.


"El, Baby lagi apa di dalam ya?" El berjalan mendekat Mami Adel yang duduk berselonjor di kursi panjang.


"Lagi bobo Dad." ucap El.


"Ayo kita bangunkan." El sangat senang dengan hal itu. Ia menempelkan telinganya diperut Adel dan mengusapnya. Ia juga terbiasa mengajak Baby dalam kandungan Mami untuk berbicara.


"Baby, ini Kakak El. Daddy udah pulang loh." ucap El.


Dugg dugg


Baby di dalam sana merespon ucapan El, bergantian dengan Daddynya. El kembali mengajaknya berinteraksi, Adel hanya bisa menatap keduanya dengan penuh haru. Kehamilannya kali ini didampingi suami dan El, meski Henry sangat protektif terhadapnya. Namun semua itu untuk kebaikannya juga.


"Sudah sudah, Mami geli." Adel menjauhkan Herny dan El, pergerakan bayi dalam kandungannya membuatnya geli.


"Yah, kan Daddy masih kangen. Iya gak El?" El hanya menganggukkan kepalanya.


"El, mandi dan ganti pakaian mu. Sama Ncus ya."


"No, El mau sama Daddy." El melingkarkan tangannya di leher Henry.


"Haih, ya sudah sama Daddy. Tapi Daddy antar Mami masuk dulu ya."


"Sama El juga." Akhirnya Henry membatu Adel berjalan dengan El disebelah lagi.


"Mami bisa jalan sendiri, kalian ini." Adel menggelengkan kepalanya, perlakuan El dan Daddynya yang berlebihan, terkadang membuatnya risih dan tak leluasa.


"Mami, kalau El besar nanti. El mau jagain Mami sama Baby. Seperti Daddy jagain kita." ucap El.

__ADS_1


"Oh ya? terima kasih Kakak El." Adel mengusap pipi El dengan sayang.


"Mamiii... El udah jadi Kakak. Jangan usap lagi."


"Nah itu baru namanya jagoan Daddy." Henry mengacungkan jempol tangannya, merasa bangga dengan pemikiran El yang membuatnya terharu.


...----------------...


Pemeriksaan kehamilan Adel sekarang tak perlu pergi ke rumah sakit. Henry sudah menyiapkan semua keperluan Adel di rumah. Dan menyediakan ruangan khusus untuk pemeriksaan. Itu semua Henry lakukan semenjak Adel merasa pusing jika menaiki kendaraan. Namun seiring berjalanannya waktu, semua keluhan Adel perlahan menghilang.


Memasuki trimester ketiga, tak hanya Adel yang merasa cemas. Juga Henry, kecemasan yang ia rasakan terlalu berlebihan. Sampai dia melupakan untuk memperhatikan Adel. Hal itu tentu berdampak pada kesehatan Adel.


"Maaf Nyonya, tensi darah Anda mulai naik. Mulai saat ini sebaiknya mengurangi makanan yang mengandung banyak garam dan perbanyak sayur dan buah." ucap Dokter Siska.


"Baik Dok."


Dokter Siska seminggu sekali mengecek keadaan Adel, adanya masalah pada kehamilan Adel yang sebelumnya berpengaruh pada kesehatannya saat ini. "Dan juga jangan terlalu stres, jangan memikirkan yang berat-berat. Rileks aja Nyonya, bayangkan hal-hal yang indah dan lucu." Dokter Siska menambahkan.


"Nah benar kata Dokter, jangan memikirkan yang aneh-aneh." ucap Nyonya Amel, ia sekarang lebih memilih menemani Adel. Terkadang juga Wulan memboyong Baby Arlan untuk menghibur Adel. Seperti sekarang, mereka semua menginap di rumah Adel.


Henry kembali sibuk dengan pekerjaannya, ia malah sekarang ini sedang keluar kota bersama Arga. Padahal di awal kehamilan, Henry yang paling antusias dan paling bersemangat. Namun akhir-akhir ini, ia lebih memilih menghindar.


"Mami, jangan cedih ya. Ada Alan juga dicini." ucap Wulan menirukan suara anak kecil.


"Mami gak sedih kok. Mami cuma kangen ibu." ucap Adel menundukkan kepalanya.


"Hei Adel sayang, ada Mom disini. Mom juga ibu kamu." Nyonya Amel memeluk Adel dari samping, ia mengerti perasaan Adel. Tetapi saat ini Ibu Sari sedang menemani Tuan Wira menjalani pengobatan di luar negeri. "Kita kan masih bisa menghubunginya."


...----------------...


"Tuan, semuanya sudah selesai. Apa mau pulang sekarang?" ucap Arga dengan sopan. Mereka masih dalam lingkungan kantor, jadi Arga berbicara sesopan mungkin.


"Ga, temani Aku kesuatu tempat dulu." Arga hanya bisa mengiyakan permintaan Henry.


Arga yang mengemudikan mobilnya, mereka sengaja tak membawa sopir karena berencana tak menginap. Tetapi jarak yang mereka cukup jauh, kemungkinan malam baru sampai kembali di Jakarta.


"Kau ini kenapa? ada masalah apa lagi?" tanya Arga memecah keheningan diantara mereka.


"Aku takut Ga."


"Takut kenapa? bukankah seharusnya kau bahagia, sebentar lagi bisa bertemu dengan Baby yang selama ini kalian nantikan." ucap Arga sedikit melirik Henry.


"Aku takut yang sebelumnya terulang lagi. Terlebih kata dokter, kehamilan Adel bermasalah. Dan dampak terburuknya, dia bisa kehilangan nyawanya. Aku takut Ga, Aku takut kejadian waktu itu terulang lagi." Henry tak dapat membendung kesedihannya, traumanya di masa lalu yang ia coba kubur ternyata tak bisa membuatnya tegar saat ini.


Arga menepikan mobilnya, ia mencari tempat untuk mereka beristirahat. Tak jauh dari sana ada sebuah coffe shop, Arga mengajak Henry mengobrol santai. Sebagai sahabat Arga siap mendengarkan keluh kesah Henry saat ini. Dan ia hanya bisa memberi saran yang bisa membangunkan Henry.


"Kita istirahat dulu disini." Henry hanya menurut, ia mengikuti Arga duduk disudut ruangan yang menyuguhkan indahnya hamparan kebun teh. Arga memesan dua cangkir kopi dan beberapa makanan ringan untuk menemani mereka.


"Lalu ini alasan mu terus menghindar?"

__ADS_1


"Aku gak menghindar Ga, Aku hanya sedang menenangkan diri."


"Menenangkan diri dengan cara mengacuhkan istri mu? Apa kau yakin ini cara yang terbaik?" pertanyaan Arga seolah menyudutkan Henry, ia bungkam. Tak tahu lagi harus menjawab apa.


"Ga, Kau tak tau apa yang ku rasakan saat ini."


"Aku memang tak tau perasaan mu. Tetapi Aku tau rasa takut mu, Aku juga pernah mengalaminya saat Wulan melahirkan dulu."


"Tapi keadaan Wulan beda Ga, dia sehat. Dan tak ada masalah apapun."


"Nah itu tau, sekarang Kau pikir sendiri. Bagaimana perasaan Adel saat ini? Dia pasti akan menduga-duga, dia semakin memikirkan mu. Dia juga sedih, tapi lihat dirimu. Seharusnya Kau bisa menghiburnya, mendampingi dan menyemangati. Bukanya malah kabur-kaburan terus." darah Arga mendidih jika sudah menghadapi Henry yang keras kepala ini.


"Aku gak kabur Ga, Aku kerja untuk masa depan dia juga." Henry mulai terpancing emosi, wajahnya memerah menahan marah. Marah pada dirinya sendiri terutama karena ia masih terbelenggu dengan ketakutannya.


"Hah terserah Kau saja, percuma bicara dengan orang egois." Arga menenggak cairan hitam yang masih mengepulkan asapnya.


Lama mereka terdiam, sampai Henry memulai percakapan kembali. "Lalu Aku harus bagaiamana Ga?"


"Apa Kau benar-benar ingin kehilangan istrimu lagi?" Henry menggelengkan kepalanya.


"Apa Kau mau mengulangi lagi kesalahan mu sebelumnya?" Henry kembali menggelengkan kepalanya.


"Jadi Kau akan memperbaiki sikapmu?" Henry mengangguk. Arga memijat pelipisnya, ia seperti sedang berbicara dengan El. Hanya bisa mengangguk dan menggeleng saja.


"Sekarang pulang, temui istrimu, minta maaf dan hibur dia." Arga meninggalkan Henry seorang diri, dia masih berusaha mencerna setiap perkataan Arga. Ia kembali teringat perkataan Dokter Siska sebulan yang lalu.


"Nyonya mengalami gejala preeklamsia, jika terus berlanjut. Hal itu bisa berbahaya untuk ibu dan bayi."


"Seperti apa gejala yang dimaksud?"


"Gejalanya hampir tak bisa terlihat jelas namun seperti pusing, mual, kenaikan tensi darah, kenaikan berat badan, pembengkakan pada kaki bagian bawah. Itu bisa jadi merupakan gejalanya, terlebih protein urine Nyonya Adel sudah saya cek hasilnya positif. Ditambah dengan kehamilan sebelumnya beliau mengalami hal yang sama."


"Apa gak ada pengobatannya dok?"


"Kita hanya bisa mencegahnya, dengan beberapa cara. Diantaranya mengurangi konsumsi garam, istirahat yang cukup, perbanyak minum air putih, berolahraga secara teratur, mengurangi makanan yang digoreng dan masih banyak lain."


"Tetapi makanan yang ia konsumsi selalu dijaga kualitasnya dok."


"Saya mengerti, tetapi pikiran juga berpengaruh. Mungkin Nyonya terlalu takut yang berlebihan."


"Kau mau sampai kapan disini?" lamunan Henry buyar karena suara Arga. Arga kembali mendatangi Henry, Arga sudah menunggu cukup lama, tetapi yang ditunggu malah asyik melamun.


Henry segera berdiri dari duduknya, ia mengikuti Arga dengan wajah lesu. Seperti tak punya semangat hidup. Arga semakin kesal, bukan menyadari kesalahan malah semakin membuat masalah. "Coba saja kalau Kau masih seperti ini. Jika terjadi sesuatu jangan menyalahkan Aku, sudah mengingatkan mu."


"Kau menyumpahi ku, dasar adik gak punya akhlak."


TBC


*Preeklamsia pada ibu hamil itu benar-benar berbahaya ya bunda, Mom semua. Karena itu bisa mengancam nyawa ibu dan bayi. Sudah kejadian pada orang terdekat thor, tak bisa bertahan dengan kondisinya. Awalnya hanya mengeluh sakit kepala, sampai akhirnya kejang dan dibawa kerumah sakit. Tetapi Alloh lebih menyayanginya, dan bayinya terpaksa lahir prematur. Mohon doanya untuk almarhumah sahabat saya.

__ADS_1


TERIMA KASIH


__ADS_2