Ibu Untuk Tuan Muda

Ibu Untuk Tuan Muda
S2-69


__ADS_3

Happy Reading


💐💐💐💐💐💐


Hari silih berganti, kehamilan Wulan sudah memasuki bulan keempat. Ia menuruti Arga untuk tinggal di mansion, disana Nyonya Amel juga sering memberitahu Wulan. Bagaimanapun, ini adalah kehamilan pertamanya, sebagai seorang ibu yang sudah pernah mengalaminya, tentu Nyinya Amel dengan senang hati membimbing putri mantunya.


Tetapi meski begitu, Wulan tak menggunakan kesempatan ini untuk bermalas-malasan. Ia tetap membantu sekedarnya, hitung-hitung olahraga katanya. Ia juga terkadang jalan pagi ke rumah Adel, mengunjungi Lintang yang lebih memilih bersama El di kediaman Henry. Karena disana ia bisa leluasa bermain dengan El. Mereka tak memaksa Lintang, selama ia merasa nyaman dan kerasan.


Adel lebih banyak menyibukkan diri dengan pekerjaan, ia juga jarang berkunjung ke mansion utama. Karena lebih sering Wulan dan Nyonya Amel yang ke tempatnya. Semenjak kejadian itu, tak ada lagi yang menyingggung tentang Adel.


Henry terpaksa memberitahu Mommy, kejadian yang sebenarnya terjadi pada istrinya. Sebagai sesama wanita, Nyonya Amel juga turut merasa sedih. Ia juga pernah merasakannya saat itu, tetapi keadaannya berbeda. Harapan setiap wanita pasti bisa mengandung dan melahirkan. Hanya waktu yang dapat menentukan kapan dan pada siapa Tuhan akan memberikannya.


Flash Back On


"Mom, ada yang ingin ku bicarakan dengan mu." ucap Henry setelah acara makan bersama. Semua keluarga sedang menyibukkan diri di ruang keluarga.


"Ya sudah bicara disini aja." ucap Nyonya Amel, ia sedang membantu Bibi Mey mempersiapkan minuman dan makanan ringan di dapur. Adel yang tadi membantunya, sudah lebih dulu pergi membawa nampan berisi minuman.


"Gak bisa, kita harus bicara empat mata. Ini rahasia."


"Kamu ini udah seperti agen rahasia aja." ucap Nyonya Amel, tetapi ia tetap mengikuti Henry menuju ke lantai dua. Mereka berbicara di kamar Mommy, Tuan Abimanyu juga bergabung bersama yang lain.


"Sudah, sekarang ada hal penting apa yang ingin kau bicarakan?" Nyonya Amel menutup pintu kamar, tak lupa menguncinya.


"Mom, Aku punya permintaan..."


"Hmm... bicaralah!"


"Tolong jangan bahas masalah kehamilan di depan Adel, apalagi dihadapan banyak orang seperti tadi." Henry memegang kedua tangan Mommy dan tatapan penuh harap.


"Ada apa sebenarnya? jangan berbelit-belit." Nyonya Amel tahu, pasti ada masalah yang Henry sembunyikan darinya.


"Tapi Mom harus janji, untuk menyimpan rahasia ini dengan baik."


"Iya, cepat katakan."


"Sebenarnya, Adel pernah menjalani pengangkatan ovarium sebelah kanan beberapa waktu yang lalu....."


"Apa katamu? Kapan? mengapa Mom sampai gak tau?" Nyonya Amel sangat terkejut, ia tak mendengarkan penjelasan Henry sampai selesai.


"Mom, dengar dulu penjelasan ku." Akhirnya Henry menceritakan semuanya pada Mommy.


"Jadi dia berusaha menyimpannya untuk sendiri? Astaga Adel, Mommy gak nyangka Kamu orang yang seperti itu." Nyonya Amel geram karena Adel merahasiakan hal sebesar itu dari keluarganya, bahkan dari suaminya sendiri.


"Mom, Aku tau Adel salah, tetapi semua itu sudah berlalu. Aku harap Mom mengerti." Henry bersimpuh dihadapan wanita yang telah melahirkan dan membesarkannya.


Nyonya Amel menjitak kening putranya. Membuat Henry mengaduh kesakitan. "Kau kira Mom sejahat itu? Mommy marah karena Mom tak tahu keadaan yang sebenarnya."


Henry bisa bernafas lega sekarang, Mommy bisa menerima dan mengerti keadaan Adel. "Terus berusaha dan berdoa. Jika menurut dokter masih ada kemungkinan. Semoga mukjizat Tuhan bisa mengabulkan doa mu, doa kita semua." Nyonya Amel mengusap kepala putranya yang bersandar dipangkuaannya.


"Thanks Mom." Henry mengecup pipi Mom. Sudah lama sekali ia tak bermanja pada sang Mommy, terlebih semenjak ia menikah. Rasanya cukup canggung jika melakukannya. Apalagi dia sudah lebih dari kata dewasa. Dah tuir.


Flash Back Off


"Mamiii...." El baru saja pulang sekolah, dan ia minta diantar ke kantor Mami Adel saat itu juga. Sisi hanya bisa menuruti permintaan El. Tetapi sebelumnya, ia suda menghubungi Adel terlebih dahulu. Kebetulan hari ini pekerjaannya tak terlalu banyak.


"Hai sayang, sini peluk Mami..." Adel berjongkok sambil merentangkan tangannya, El segera berlari dalam pelukan Maminya. Seperti biasa, Adel selalu mencium pipi kanan dan kiri El. Tetapi hari ini, El menghentikan saat Adel hendak menciumnya.


"Mamii... El udah mau jadi Kaka, Mami janan cium El lagi. Malu, ada Ncus." ucap El menunjuk Sisi, ia memanggil Sisi dengan sebutan Ncus, atau Suster.


"Oh ya? Tapi kalau Mami mau cium El gak boleh, nanti Mami sedih." Adel pura-pura sedih.


"Mami boleh cium, tapi cuma beldua aja." bisik El ditelinga Adel, Adel terkekeh mendengar ucapan El.


"Okeyy..." Adel mencium pipi El dengan sengaja. Sehingga El mengelap pipinya sendiri.

__ADS_1


"Mamiiii... Janan cium." El meraih tisu yang ada di atas meja, ia membersihkan bekas ciuman Adel. Membuat Adel dan Sisi tertawa gemas.


"Siapa yang ajarin El?"


"Bu Gulu tadi, El udah jadi Kaka dak boleh nanis." El mencontohkan ucapan gurunya di sekolah, ia bahkan menirukan gaya bicara bu gurunya di sekolah.


Adel melirik Sisi untuk mencari pembenaran, Sisi menganggukkan kepalanya. "Bagus kalau gitu, El gak boleh ngambekan, harus jadi Kakak yang baik nantinya."


"Emmm.. El mau jagain dede bayi. Mami, Mami dak bikin ade bayi juga?" tanyanya polos. Saat itulah perasaan Adel mencelos, seperti ada yang menyayat dalam rongga hatinya. Tetapi El tetap berusaha tersenyum.


"Kan adek bayi Mama Wulan masih di perut, kalau udah lahir gantian Mami." jawab Adel seadanya, hanya itu yang terbayang dalam pikirannya saat itu.


"Ooo gitu ya? aciikkk El mau punya ade bayi banyak-banyak."


"Iya, El juga harus doakan Mami, bujuk Tuhan supaya memberi adik bayi sama Mami. El mau kan doakan Mami?"


"Iya, El mau beldoa, bial dikacih ade bayi banyak-banyak." El mengacak rambut El, lagi-lagi tangan Adel ditepisnya.


"Mamiii... lambut El tal dak kelen lagi." El merapikan kembali rambutnya dengan hemari mungilnya.


Percakapan Adel dan si gembul memang selalu ada saja yang dibahas, terlebih semenjak El sekolah, ia menjadi semakin kritis. Untuk menanyakan apapun yang ia belum mengerti. Terkadang membuat Adel dan Henry kelabakan untuk menjelaskan dengan bahasa yang mudah El pahami.


"Mamiii... Mau liat Daddy." rengek El, ia baru saja dipakaikan pakaian ganti yang sengaja disiapkan dikantor Adel. Adel sengaja menyiapkan pakaian ganti untuk dirinya dan El, supaya digunakan saat mendesak seperti sekarang ini.


"Daddy kan kerja sayang."


"Ahhh mau Daddy..."


"Tadi katanya mau jadi Kakak yang pintar, gak ngambekan, hayoooo..."


"Emm, tapi El mau liat Daddy." Adel hanya bisa mengiyakan, ia meraih benda pipih di atas meja kerjanya. Dan melakukan panggilan video sesuai permintaan El. Kebetulan Henry baru selesai bertemu dengan rekan bisnisnya yang bertamu.


Melihat siapa yang menghubunginya, tanpa menunggu lama Henry segera menjawab panggilan itu. "Hai sayang, udah kangen ya?"


"Daddyyyy...." wajah El memenuhi layar, Henry sedikit terkejut dengan kehadiran El yang tiba-tiba.


"Huum, Daddy tal jemput El ya. El mau sama Daddy juga, sama Mami juga." ucapnya penuh harap.


"Jemput ya? tapi Daddy masih ada kerjaan."


"Dak usah kelja lagi Dad, El mau sama Daddy."


"Kan sama Mami, nanti kita pulang beli kue kesukaan El gimana?" bujuk Adel, ia memberi banyak iming-iming agar El menurut. Tetapi bocah itu tetap pada keinginannya, untuk pulang dijemput Daddy.


"Iya, iya nanti Daddy jemput ya. Kita pulang sama-sama." Henry akhirnya tak bisa menolak keinginan putra kesayangannya. Ia pun mengiyakan keinginan El.


"Yeay, sayang Daddy. Muachhh..." El memonyongkan bibirnya, mengecup Daddy yang ada di layar.


"Tunggu Daddy ya, nanti sore Daddy jemput El sama Mami. Sekarang Daddy Kerja dulu ya. Bye sayang." Henry melambaikan tangannya, membalas kiss bye yang El ucapkan sebelumnya.


"Bye Dad."


Bahagiaku sederhana. Hanya dengan membuat kalian tersenyum itu sudah cukup.


Henry mengakiri panggilan, ia mengusap layar gadgetnya yang terpampang potret mereka bertiga. Rasanya semua rasa lelahnya seakan menghilang jika sudah bertemu Adel dan putranya.


"Ga, majukan meeting hari ini." ucap Henry melalui telepon yang ada di meja kerjanya.


"Hah? Bukankah masih 2 jam lagi?"


"Aku tunggu 15 menit, semuanya sudah berada di ruang meeting." Henry menutup telepon tanpa mendengar jawaban Arga.


Ada apalagi ini? enak banget tinggal bilang majuin meeting ya, batalin ya, cancel aja Ga. Hah, bos emang bisa segalanya. Yang gak mungkin jadi mungkin.


Arga terus menggerutu, sambil mengerjakan yang Henry katakan padanya. Arga terpaksa mengatur ulang jadwal Henry hari ini.

__ADS_1


"Ga, batalkan semua jadwalku setelah meeting." ucap Henry dengan memegang gagang pintu.


"Haaaahhh...? Kau yang benar saja. Masih ada pertemuan penting de..."


"Stop Ga, gak ada yang lebih penting dari El dan istri." Henry mengangkat tangannya, memotong ucapan Arga yang siap memaki dirinya.


"Kau jangan menambah pekerjaan ku, sudah cukup Aku dipusingkan dengam tingkah Wulan yang gak ada habisnya." Arga mengacak rambutnya kasar. Semalam ia hanya tidur beberapa jam, Wulan tak membiarkannya tidur dengan nyenyak.


"Sorry Ga, sama dengan mu, El merengek meminta Aku menjemput dia di kantor Maminya." Henry menepuk bahu Arga, ia mengerti betul keadaan emosi Arga saat ini.


"Kamu gak perlu mengatur ulang jadwalku, kan ada sekertaris yang mengerjakan. Untuk apa dia dibayar mahal? berikan padanya." Henry melirik wanita yang duduk didepan ruangannya. Arga sampai melupakan hal itu.


"Yah, Kau benar."


"Ada apa? Wulan mengerjaimu lagi?" Henry terkekeh, setiap mendengar keluhan Arga tentang istrinya yang semakin menjadi. Wulan seperti gak ada lelahnya mengerjai Arga. Dan ia menjadikan kehamilannya sebagai alasan, padahal sebenarnya memang begitulah keinginan wanita hamil. Lebih menyeramkan dari apapun.


"Hmmm.. Kau tau? Hampir semalaman Aku tak tidur dibuatnya...." Arga menceritakan keinginan Wulan yang meminta kue terang bulan dijam 2 dini hari.


"Udah dibeli, masih salah katanya gak minta martabak manis tapi yang telor." ucap Arga dengan nada kesal.


"Hahaha... anakmu memang keren Ga, masih di dalam perut sudah berani membuatmu seperti ini." Henry hanya bisa tertawa mendengar keluhan Arga.


"Si*lan, jangan begitu lah. Apa gak kasihan melihatku yang seperti mayat hidup ini?" Arga menunjuk kantung matanya yang terlihat menghitam karena kurang tidur.


"Terus-terus, dimakan gak?" tanya Henry penasaran.


"Boro-boro dimakan, disentuh aja nggak. Katanya telornya mau 3 butir aja." Arga menirukan ucapan Wulan. Padahal ia membeli dengan 5 butir telor bebek.


"Hahaha... itu salah mu, kenapa gak dipastiin dulu maunya apa? kan jadi bolak balik." Henry memegangi perutnya yang terasa sakit karena terus tertawa.


"Akhirnya Aku beli masing-masing 1 dari telor 2, 3, 4, sampai 5 Aku beli semuanya. Kau tahu setelah itu?" Henry menggelengkan kepalanya.


"Dia minta martabak yang manis dengan taburan keju yang banyak." Arga menepuk keningnya sendiri, ia tak tahu lagi mau dikemanakan semua makanan yang dia beli sebelumnya.


"Aku pergi lagi, beli lah yang manis dengan taburan keju yang banyak."


"Tapi dimakan?"


"Kalau dimakan, dilirik aja nggak." Arga meraup wajahnya kasar, ia benar-benar dibuat frustasi malam tadi.


"Dia minta martabat hijau dengan taburan keju dan ada pisang diatasnya. Tapi tak memberitahuku sebelumnya."


"Ahaahaaa... Ga, sabar ya. Katamu Wulan hanya menuruti keinginan bayi dalam perutnya. Tapi apa iya bayi dalam perut bisa meminta ini dan itu?" Henry berfikir keras mengenai hal itu. Tetapi tak menemukan jawaban apapun.


"Entahlah, terakhir Aku beli lah itu martabak hijau dengan banyak keju dan pisang diatasnya. Kau tahu apa yang terjadi saat itu?"


Lagi-lagi Henry menggelemgkan kepalanya, tetapi rasa penasaran dihatinya membuatnya terus menanti jawaban Arga.


"Dia makan martabak telor yang Aku beli pertama kali. katanya gini 'habis nungguin Kamu lama banget, keburu lapar Akunya. Jadi Aku makan aja yang ada'." Arga menirukan gaya ucapan Wulan didepan Henry.


"Terus Kamu kemanain itu makanan sebanyak itu?"


"Wulan cuma mau cium aroma martabak hijau yang Aku beli. Haih, setelah itu. Aku bagikan saja buat para pengawal."


"Kau tau rasanya dibangunkan tengah malam dan meminta ini dan itu, tetapi hanya dicium baunya aja udah puas. Rasanya pengin Aku robohkan itu penjual martabak." Arga menguncangkan tubuh Henry, membayangkan bahwa itu adalah penjual martabak.


"Hahaha.... Aduh Ga, ceritamu bikin Aku mules, kebanyakan tertawa. Hahaha..."


"Dasar gak ada akhlak, awas aja kalau istri mu ngidam nanti. Aku akan jadi orang pertama yang mentertawakan mu." Arga kesal, ia membanting pintu ruangannya. Meninggalkan Henry yang masih tertawa dengan mata yang berarair.


"Hei Ga, Kau berani mengutuk ku?" Henry menyusul Arga keruang meeting. Disana sudah banyak staff yang menunggunya. Wajah Henry kembali datar dalam sekian detik, ia menyimpan kata-katanya yanga akan dia lampiaskan untuk Arga.


Tak perlu banyak negosiasi, Dalam 2 jam, Henry membubarkan rapat. Ia segera tancap gas menuju Wiranata Corporation untuk menjemput istri dan anaknya.


TBC

__ADS_1


TERIMA KASIH


__ADS_2