Ibu Untuk Tuan Muda

Ibu Untuk Tuan Muda
S2-56


__ADS_3

Happy Reading


💐💐💐💐💐💐


"Ga, Kamu harus baik-baik saja, atau Aku tak akan pernah memaafkan mu." Henry menguncang tubuh Arga yang mulai hilang kesadarannya. "Vin, bagaimana ini?"


"Aku sudah menghambat penyebaran racunnya, paling buruk ya palingan di amputasi." ucap Dokter Alvin dengan santainya.


Cetakkk


Sentilan tangan Henry mendarat mukus dikening Alvin, membuatnya mengaduh dan memegangi keningnya yang memerah. "Kenapa Kau menganiaya Aku?"


Menunjuk bibir Alvin dengan ujung ponselnya. Henry menatapnya nyalang, seolah ada aura membunuh dari sorot matanya. "Mulut mu ini, kalau bicara itu gak disaring dulu."


"Aku kan hanya membicarakan dampak terburuk." ucapnya membela diri. Tak lama mereka sudah sampai dirumah sakit. Arga segera dibawa menggunakan brankar dorong. Matanya masih sedikit terbuka, ia berusaha agar tak tertidur seperti instruksi Dokter Alvin.


Dokter segera menangani Arga, lukanya cukup dalam dan hampir mengenai tulang lengan atas. Dan ada beberapa otot yang terluka karenanya. Beruntunglah penyebaran racun dapat dihentikan tepat waktu. Jika tidak, mungkin akan membahayakan nyawa pasien jika mengalir ke jantung.


...----------------...


Tubuh Adel masih gemetar, perasaan takut setelah melihat siapa orang itu. Akankah Dia adalah Hasan? suaminya dulu? Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam benaknya.


"Adel, Kamu gak apa-apa nduk?" Ibu Sari memeluk putri semata wayangnya. Perasaan lega karena Adel baik-baik saja. Begitupun Nyonya Amel yang memeluk Adel erat.


"Ada apa? apa orang itu melukai mu?" Nyonya Amel memutar tubuh Adel untuk memastikan tak ada luka ditubuhnya.


"Aku gak apa Mom." Adel terduduk lesu, memikirkan orang mengaku Hasan.


"Mamiii... El atut." El berlari, memeluk kaki Adel sangat erat.


"Jangan takut, kan disini banyak yang menemani El." Adel mengusap pucuk kepala El dengan sayang, mendudukan bocah gembul dipangkuannya.


"Mami benar, Mama, ada Oma, Eyang, Ama juga. Kita kan lagi main petak umpet tadi." Wulan duduk disebelah Adel, memberi penjelasan yang dapat El mengerti.


"Mamiii... petak umpet apa?" El mendongakkan kepalanya. Berharap mendapatkan jawaban yang bisa ia mengerti.


"El bersembunyi, nanti Mami cari El. Nah tadi El sembunyi kan? El ngumpet sama Mama? Nah sekarang Mami nemuin El." Bocah itu hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Berusaha mencerna penjelasan yang dijabarkan El.


"Syukurlah Kamu baik-baik saja." Wulan tersenyum senang melihat Adel tak terjadi sesuatu yang buruk padanya.


"Ya, tapi Arga..."


"Ada apa dengan Arga?" Wulan memotong pembicaraan Adel.


"Arga terluka karena melindungi Aku dan suamiku." wajah Adel kembali murung, jika bukan karena dirinya, Arga tak akan terluka seperti sekarang ini.


"Lalu bagaimana kondisinya? Sekarang dimana Fia." Wulan terlihat panik, ingin segera mengetahui keadaan Arga.


"Lan, tenang dulu. Henry sudah membawanya ke rumah sakit. Disana juga ada Dokter Alvin yang menanganinya." ucap Tuan Abimanyu yang baru saja datang, setelah memastikan keadaan Adel dan semuanya baik-baik saja, Tuan Abimanyu segera menyusul ke rumah sakit.


Nathan membantu Bejo menangani pembuat onar menjebloskan ke jeruji besi. Sayang sekali seorang dari mereka berhasil meloloskan diri.


Henry segera menghubungi Adel, tak ingin membuat semua orang di rumah merasa cemas dengan keadaan Arga. "Sayang, Arga sudah berhasil melewati masa kritisnya, tetapi masih perlu perawatan untuk memastikan racun itu benar-benar bersih dari tubuhnya." jelas Henry di sela percakapannya.


"Syukurlah kalau begitu." Adel berucap lega mendengar kabar baik dari Henry.


"Malam ini Aku harus menemani Arga di rumah sakit. Tak usah menungguku pulang, Mommy dan Ama akan menginap malam ini." Henry meminta Mom dan Ama menginap untuk menghibur Wulan dan mememani mereka. Ada Bejo dan anak buahnya yang bersiaga disana. Henry tak perlu khawatir dengan keamanan dirumah.


"Iya, Ibu dan Eyang juga menginap. Wulan ingin bicara." Adel memberikan ponselnya untuk Wulan.


"Tuan, biarkan Saya yang menjaga Arga disana." ucap Wulan pelan, juga ada rasa sungkan bicara dengan Henry.


"Lan, Kamu istirahat di rumah. Malam ini Aku dan Daddy yang menemani Arga. Juga tak aman bagimu jika ada disini sekarang." Henry tak membiarkan Wulan ke rumah sakit sekarang. Selain sudah malam, juga demi keamanannya. Orang yang mengincar Arga berhasil kabur, tentu Henry harus lebih waspada dan memperketat penjagaan.


Wulan hanya bisa menurut, meski ia sangat ingin menemui Arga sekarang. Adel tetap menghiburnya, perasaannya sedikit lega setelah Nyonya Amel dan Ama juga menasehatinya.

__ADS_1


"Terima kasih, maaf soal kemarin. Seharusnya..."


"Sudahlah! Wulan, semuanya sudah berlalu. Aku tau kalian hanya ingin menjaga perasaan ku. Dan seharusnya Aku berterima kasih pada kalian. Aku juga minta maaf karena tak menyelidiki kebenarannya dulu." Wulan dan Adel saling memeluk, saling menguatkan satu sama lain.


...----------------...


Keesokan harinya, Wulan sudah bersiap. Ia akan ditemani Nyonya Amel ke rumah sakit. Adel harus menjaga El dirumah bersama Ibu Sari. Adel tak pergi ke kantor, dan juga bertepatan dengan hari minggu.


"Mama, mau jayan-jayan?" tanya El dengan wajah bantalnya.


"El sudah bangun? Mama mau jengukin Papa. El di rumah sama Mami ya." bujuk Adel.


"Nooo.. El mau itut Mama. El mau jayan-jayan."


"Bagaimana kalau jalan-jalan sama Mami? kita tunggu Daddy juga."


"Nooo... El mau cama Mama aja." El memegangi kaki Wulan dengan erat.


Akhirnya Wulan mengajak El ke taman belakang rumahnya. Ada kelinci peliharaan yang disukai El disana. "Kita main disini ya." El mengangguk antusias. Dan melupakan keinginannya untuk ikut bersama Wulan.


"El main apa?" tanya Ibu Sari.


"Cinci." jawabnya singkat.


"Eyang boleh ikut gak sama Mami?"


"Boyeh tapi dak ini. Ini punya El." El menutupi kandang kelinci dengan tubuhnya.


"Iya, itu punya El." Adel mengalah, membiarkan El bermain dengan kelinci kesayangannya.


Wulan akhirnyq bisa pergi dengan leluasa setelah El sibuj dengan kelincinya. "Ada apa Lan?" tanya Nyonya Amel yang baru saja keluar dari kamarnya.


"Hehe.. Itu Nya, biasa El, main drama mau ikut."


"Kamu ini, ada-ada saja. Lan, Mom kan sering bilang jangan panggil Nyonya lagi. Kamu harus terbiasa panggil Saya Mommy. Ingat, M-O-M-M-Y." Nyonya Amel mengeja setiap hurufnya.


"Nah gitu kan lebih enak di dengar." Nyonya Amel menangkup wajah Wulan dengan sebelah tangannya. "Ayo kita berangkat sekarang." Nyonya Amel menggandeng lengan Wulan untuk berjalan disisinya. Keduanya berangkat di antarkan Bejo.


"Bagaimana keadaan mu Ga?" tanya Nyonya Amel setelah sampai diruang perawatan Arga. Tuan Abimanyu masih menemani Arga, Henry sudah pulang terlebih dahulu. Masih ada sesuatu yang harus dia kerjakan.


"Memangnya Aku kenapa Mom? Aku gak apa-apa."


"Kamu ini ya, suka banget bikin orang khawatir." Nyonya Amel memelintir telinga Arga.


"Hehee.. Tapi sekarang Aku benar-benar tak apa-apa. Mom lihat sendiri kan."


"Dasar anak nakal." Nyonya Amel menyungnggingkan senyumannya setelah mengetahui keadaan Arga dengan mata kepalanya sendiri.


"Mom, bawakan makanan kesukaan mu, dimasak penuh cinta sama calon mantu." Nyonya Amel melirik Wulan disebelahnya.


"Jadi cuma Arga aja nih. Daddy gak?" Tuan Abimanyu pura-pura merajuk.


"Oh ayolah Dad, sudah punya cucu masih suka iri sama anak sendiri. Nih, buat suamiku sayang." Nyonya Amel duduk di sofa bersebelahan dengan suaminya.


"Mom, temani Daddy makan yuk." Tuan Abimanyu menarik tangan istrinya, tak ingin mengganggu Wulan dan Arga yang perlu waktu berdua untuk bicara.


"Tapi kan disini juga..."


"Mom..." Tuan Abimanyu mengedipkan matanya beberapa kali.


"Daddy kelilipan? kenapa matanya begitu?" Nyonya Amel tak mengerti maksud suaminya.


"Ikut Daddy ya Mommy sayang." Tuan Abimanyu menekankan kalimatnya. Akhirnya Nyonya Amel hanya menurut, mengikuti sang suami.


"Dad, kau ini kenapa sih? Aku kan masih pengin temani Arga." Nyonya Amel menepis tangan suaminya.

__ADS_1


"Mom, mereka perlu waktu berdua, Mom mau jadi yang ketiga disana?" Nyonya Amel menggelengkan kepalanya. "Nah, Mom kayak gak pernah muda aja." Tuan Abimanyu mencolek dagu istrinya.


"Dad, sudah Tua masih genit." Tuan Abimanyu hanya membalasnya dengan senyuman.


...----------------...


"Apa masih sakit?" Wulan melirik tangan Arga yabg diperban, sedangkan satu lainnya terdapat jarum infus.


"Aku kan sudah bilang gak apa-apa." Arga menyunggingkan senyum manisnya.


"Gak usah bohong sama Aku." Wulan sengaja menyentuh luka Arga yang terbalut kain kasa dilengannya.


Arga mendesis pelan, lukanya cukup dalam. Menimbulkan rasa nyeri jika disentuh. "Ssshhhh... " Wulan sengaja menekan sedikit disekitar luka. Membuat Arga mengaduh. "Aduhh... ampun, sakit-sakit."


"Kamu ini, hobi banget terluka, lihat itu juga belum ilang bekasnya. Sekarang nambah lagi, buat orang takut aja." Wulan mengomel tiada henti. Arga hanya menanggapinya dengan kekehan. Sangat senang dengan perhatian Wulan, meski penyampaiannya dengan cara yang lain.


"Terima kasih sudah mencemaskan calon suamimu ini." Arga menggenggam tangan Wulan yang ada disamping ranjang tempatnya berbaring. Tatapan keduanya saling mengunci, cukup lama sebelum akhirnya Arga mengalihkan pembicaraan.


"Emmm.. dimana makanan spesial untukku?" tanya Arga melepas genggaman tanyannya.


"Hehe... ini." Wulan menaruh kotak bekal diatas meja kecil.


"Jadi bagaimana Aku makan? kedua tangan ku gak bisa buat makan." sindir Arga.


"Iya-iya, bilang aja minta disuapin." Wulan membuka kotak, setelah sebelumnya membantu Arga meninggikan tempatnya berbaring.


"Makasih Wulan sayang." Arga mengedipkan sebelah matanya.


"Gak usah genit, cepat makan." Wulan menyodorkan sesendok makanan padanya.


"Ini bukan genit, tapi belajar." Wulan mengernyitkan keningnya.


"Belajar?" tanya Wulan heran.


"Belajar romantis sama istri." Blush. Wajah Wulan merona, ia menunduk malu mendengar ucapan Arga.


"Cepat makan." Wulan memaksa Arga membuka mulutnya, dan menyuapkan satu sendok penuh makanan.


"Emmm... aakkk..." Arga kesulitan bicara, bahkan dia harus menguyahnya dengan susah payah.


"Kalau lagi makan jangan bicara." Belum habis, Wulan sudah menyuapkan makanan lagi, Wulan sengaja melakukannya. Supaya Arga tak banyak bicara lagi. Tetapi sekaramg suapannya tak sebanyak sebelumnya.


Selesai menyuapi Arga, Wulan membereskan kotak makanan dan menyimpannya diatas nakas. "Nah begitu kan enak." Ucapnya sembari memberikan minum untuk Arga.


"Terima kasih calon istri." Arga menyeringai, makanan yang dibawa Wulan benar-benar nikmat, terlebih ia makan dari suapan tangan Wulan.


"Hmmm..." Wulan hanya berdehem menjawab ucapan Arga.


"Kok gak jawab?" Arga menekuk wajahnya.


"Kau ini cerewet sekali. Sekarang minum obatnya." Arga bergidik melihat pil dan kapsul ditangan Wulan.


Gak salah nih dokternya? Masa iya Aku harus minum pil segede itu, kalau nyangkut ditenggorokan gimana?


Arga masih terdiam, ia paling enggan jika harus minum obat sejak kecil. "Bisa gak kalau gak usah minum obat?" Arga bergidik ngeri membayangkan pil dan kapsul yang menututnya sangat besar.


"Gak bisa, kecuali Kamu phobia obat." jawab Wulan acuh.


Arga mendesah pelan, sebelum akhirnya menarik tangan Wulan yang berisi 5 macam obat tersebut. "Air, cepat sediakan air untukku." Wulan menurut, satu tangannya memegang segelas air putih.


Arga menelan obat dengan memejamkan matanya, segelas air sudah tandas tak tersisa, namun obatnya masih tersangkut ditenggorokkan. "Lagi." Arga menyodorkan gelas kosong, Wulan segera mengambilkan segelas lagi.


Arga menelannya dengan peluh bercucuran, jika bukan karena Wulan, mungkin Arga tak akan pernah menelan pil sebesar itu. Namun ia juga tak ingin Wulan tau jika dirinya tak bisa minum obat secara langsung. Biasanya Arga meminumnya berbarengan dengan makanan.


"Hahaha... Sudah setua ini masih gak bisa minum obat? Kamu ini masih seperti El aja." Wulan menertawakan Arga hingga perutnya sakit, Wulan sudah bisa menebak hanya dengan melihat ekspresi yang Arga tunjukkan.

__ADS_1


TBC


TERIMA KASIH


__ADS_2