
Haiii Readers, terima kasih banyak atas semua dukungan yang telah diberikan untuk Baby El.
Terima kasih sudah mampir dilapak saya, semoga berkenan meninggalkan jejak Like, Komen Vote dan Rate.
Mohon maaf sekali, kemarin ada sedikit kesalahan, thor nya belum upgrade mangatoon versi terbaru, jadi keterangannya review dari malam sampai malam lagi.
Happy Reading
💐💐💐💐💐💐💐
Hari ini adalah setahun Metta meninggal, Nyonya Amel dan Adel beserta Wulan dan El berkunjung kemakam Metta. Bagaimanapun, Metta adalah orang yang telah melahirkan El. Dengan membawa Sasa dan Sisi serta Bejo, mereka menuju makam Metta.
Tuan Abimanyu sudah berangkat ke London, dan Henry masih sibuk dengan pekerjaanya. Walaupun dilarang keluar rumah, Nyonya Amel tetap memaksa.
"Nyonya bunga apa yang akan kita beli?"tanya Adel.
"Entahlah, aku juga tak tahu." Nyonya Amel terlihat berfikir.
"Bagaiman kalau bermacam bunga dalam satu bucket?" Wulan memberi saran.
"Baiklah, kita beli 3" ucap Nyonya Amel.
"Kenapa banyak sekali Nya?" tanya Adel mengernyit.
"Mammmi Eyyyy auuu" ucap El.
"Jangan sayang, nanti tanganmu berdarah, itu ada durinya." Tunjuk Adel pada bunga mawar merah.
"Ummmmm" El mwngerucutkan bibirnya.
"Heii kau ini bukan anak perempuan, jadi jangan main bunga." Ucap Nyonya Amel.
"Baiklah besok kalau sudah besar saja" ucap Wulan. El menganggukkan kepalanya.
El sudah tak demam lagi, sekarang dia kembali ceria. Mungkin karena akan mengunjungi makam mommy nya. Dia terlihat antusias, dan sudah mulai bisa tertawa.
Sampai dimakam sudah ada satu bucket bunga mawar pink, mungkin Henry sudah kemari tadi pagi, pikir mereka. Mereka berdoa disana cukup lama.
"Metta, terima kasih, karena kamu sudah berjuang untuk El. Dan sekarang lihatlah, El kita sudah besar. Dia sangat aktif dan tampan, dia juga sudah pandai berjalan dan berbicara."
"Kau pasti juga bahagia disana, melihat El kita dari atas sana. Maaf kami baru bisa menjengukmu, tapi percayalah, El sangat beruntung. Dia bertemu Nona Adel yang merawat El dengan telaten. Jadi kau tak perlu khawatirkan apapun, El disini baik-baik saja." Ucap Nyonya Amel.
"Nyonya, kita memang tak pernah berjumpa. Tetapi saya berterima kasih, Anda telah melahirkan seorang putra yang luar biasa. Dan saya bangga bisa menjadi ibu asuh untuknya." Adel mengusap nisan Metta.
"Heii sayangg, this is your mommy."
"Mami? Nooo, Mamiii nyiii" ucap El menunjuk Adel.
"Sudah lah Adel, dia belum mengerti, dia masih terlalu kecil." Ucap Dokter Wulan.
Setelah berdoa, mereka meninggalkan makam. Karena hari sudah sore, dan sebentar lagi petang. Sang surya hampir mencapai peraduannya, ketika rombongan itu pergi.
__ADS_1
Lihatlah!! Bahkan orang yang sangat kamu cinta itu tak datang padamu. Dia sudah melupakanmu, dia tak pernah menganggapmu penting dalam hidupnya. Bahkan baru setahun kamu pergi, dia dengan mudah melupakanmu.
Apa sekarang kau menyesal? Karena kau lebih membelanya, kau lebih mementingkan perasaanya. Orang yang tak pernah menghargai semua yang telah kamu lakukan untuknya. Batin seseorang dibalik pohon besar.
...----------------...
Henry pulang agak larut, jam 21.00 malam. Tetapi tak mendapati seluruh keluarganya di mansion, dia begitu takut terjadi hal buruk lagi menimpa mereka.
Berbeda dengan Arga, dia terlihat tenang dan seolah tak terjadi apapun.
"Kemana mereka membawa El? Ini sudah malam, lagi pula tak aman berada di luar terlalu lama. Tetapi mereka tak mendengarkan ku." Gerutu Henry.
"Arrr kau sudah pulang?" Tanya Ama.
"Ama dirumah? Kemana semua orang? Kenapa mereka belum kembali? Ini sudah sangat malam untuk El." Henry memberondong Ama dengan pertanyaan.
"Mereka ke makam, dan tadi Amel menghubungiku, kalau mereka singgah makan di luar".
"Makam?" tanya Henry menautkan alis tebalnya.
"Ya, mereka ke makam, jangan bilang kamu lupa?" Tebak Ama.
"Arga, tanggal berapa ini?" tanya Henry.
"Tanggal 1 November Tuan."
"Kau benar-benar lupa?" tanya Ama.
"Aku tak sengaja Ama, hari ini begitu banyak pekerjaan. Dan juga harus revisi beberapa laporan kerja sama." Henry memijat pelipisnya.
"Arga ayo kita ke makam" Henry segera berbalik. Hendak mengunjungi makam, walaupun sudah malam. Tetapi rombongan Nyonya Amel sampai, di depan pintu mereka bertemu.
Adel dan Wulan segera naik ke kamar El, karena El sudah tertidur. Dan mereka harus bersih-bersih, dan hanya akan mengganti baju El.
"Kau mau kemana anak bodoh?" tanya Nyonya Amel.
"Ke makam" jawabnya singkat.
"Tunggu, bukankah kamu sudah kesana?" Nyonya Amel merasa heran. Lalu bucket bunga itu? Siapa yang membawanya? Metta sudah tak memiliki keluarga disini.
"Maaf Mom, aku melewatkannya, hari ini aku sangat sibuk." Henry merasa sangat bersalah.
"Tadi Mom kesana, Mom kira kamu yang membawa mawar pink itu?"
"Mawar pink? Aku baru akan kesana Mom, mana mungkin bunga itu berjalan kaki sendiri".
"Bukan begitu maksudku, lalu siapa yang membawanya?" Nyonya Amel tampak berfikir.
"Sudahlah Mom, aku pergi dulu, keburu malam" ucap Henry.
__ADS_1
"Dasar anak bodoh, ini sudah malam. Pasti penjaga tak akan mengizinkan mu masuk." Ucap Nyonya Amel dengan nada mengejek. Nyonya Amel meninggalkan mereka berdua.
"Aku akan memaksanya" Henry tetap kekeuh.
"Tuan, apa yang dikatakan Nyonya benar, sebaiknya besok pagi-pagi sekali kita kesana." Ucap Arga.
"Hahhh, baiklah" Henry akhirnya menurut.
"Ga, kau menginaplah!"
"Baik Tuan"
Malam ini Arga menginap dimansion, itu sudah sering dia lakukan. Ketika Tuan Besar dinas diluar, maka Arga akan menginap di mansion.
Arga memiliki kamar pribadi disini, dulu sewaktu ayahnya masih ada. Henry satu kamar dengannya, keluarga Syahreza sudah menganggap Arga seperti anak mereka. Terlebih setelah Arga menjadi yatim piatu, Arga diangkat anak oleh Tuan Abimanyu.
Tetapi Arga tetap menjalani kehidupannya seperti sebelumnya. Bahkan dia masih memanggil mereka Tuan dan Nyonya.
Arga ingin mengabdi pada keluarga ini, sebagai bentuk terima kasihnya. Karena Tuan Abimanyu telah menolong keluarganya, bahkan membiayai seluruh pendidikannya. Sampai dia menjadi seperti sekarang ini.
Arga bahkan disekolahkan dengan sekolah yang sama dengan Henry. Tetapi sosoknya yamg pendiam membuat dia sering menjadi sorotan. Namun ia tak pernah memper masalahkan itu, fokusnya hanya belajar dan menjadi sukses dengan kemampuan dia sendiri.
Untuk itulah dia memilih kuliah sendiri, dia belajar sambil kuliah. Walaupun Tuan Abimanyu selalu mencukupi semua kebutuhannya. Tetapi tak menjadikan Arga manja, dia menjadi pemuda yang mandiri, berwibawa dan tak kalah tampan dari Henry.
"Maaf Tuan, saya ingin memberikan ini." Arga menyusul Henry ke kamarnya.
"Masuklah Ga" Henry tahu, bahwa Arga tak akan mungkin mengganggunya. Jika bukan hal darurat yang akan dia sampaikan.
"Kau menemukan sesuatu?" tanya Henry. Dia melepas semua atribut kantornya, dan menggulung lengan bajunya.
"Ya Tuan, berita bagus, saya sudah mengetahui keberadaan Rena" ucap Arga dengan sangat yakin.
"Benarkah?" Henry menyunggingkan senyumnya.
"Ya Tuan, sa..."
"Bisa gak sih jangan panggil Tuan? Kita hanya berdua, disini tak akan ada yang mendengarnya.
"Tapi Tu..." Arga mendapat tatapan tajam dari Henry.
"Baiklah..."
"Kau lupa? Bahkan aku ingin kau mendengarku memanggil kakak, seperti waktu kita kecil dulu." Henry menerawang, membayangkan masa kecilnya bersama Arga.
Sedikit curhat, semenjak saya upgrade mangatoon ke versi terbaru proses review menjadi sangat lambat, sangat disayangkan sekali padahal sebelumnya tak ada masalah. Mohon maaf atas ketidak nyamananya readers. Author selalu up kok, hanya proses reviewnya yang lama.
TBC
__ADS_1
Terima Kasih