
Hai readers, author ucapkan banyak terima kasih atas semua dukungan yang diberikan.
Yang belum semoga berkenan meninggalkan jejak like komen dan vote yah.
Ikuti terus keseruan Baby El.
Happy Reading
💐💐💐💐💐💐
Adel terus membali wajah tampan El, ia tak bisa membayangkan. Jika nantinya akan berpisah kembali dengan bayi tampan itu.
Pasti rasanya akan lebih menyakitkan lagi, tapi apalah dayanya, dia hanya bisa menerima takdirnya. Jika masa itu tiba, Adel harus menguatkan hatinya, mulai saat ini.
Adel tak boleh terlalu dekat dengannya, Dia harus lebih mendekatkan El pada keluarganya. Namun, darah Adel telah mengalir ditubuh El. Sepertinya itu bukanlah hal yang mudah.
Walaupun El tidak lahir dari rahimnya, tetapi dia yang memberi El kehidupan. Dengan ASI, ikatan keduanya semakin erat. Layaknya ibu dan anak kandung.
Adel hanya bisa menjalani dengan ikhlas, biarlah yang akan terjadi nanti. Yang terpenting dia harus menikmati saat bersama Ansell, bayi yang telah dianggap putra kandungnya sendiri.
...----------------...
Setelah membersihkan diri, Henry merenung didalam kamarnya. Baru ditinggal Adel sebentar, tetapi Baby El seperti benar-benar kehilangan ibunya.
Henry tak bisa membiarkannya, hidup tanpa kasih sayang ibu, rasanya begitu menyakitkan. Dan dia tak akan membiarkan putranya merasakan hal yang sama dengannya.
Daddy akan melakukan apapun, asalkan kau bahagia. Aku tak ingin kau mengalami hal yang sama, denganku dulu. Mommy memang masih dirumah, tetapi mereka tak pernah ada waktu untukku.
Bahkan untuk menemaniku bermain, dia tak pernah melakukannya. Tetapi aku masih belum bisa, membuka hatiku untuk orang lain. Metta, seandainya kau masih ada disini. Pasti aku tak akan dilema seperti sekarang ini. Aku harus mencari orang yang bersedia menjadi ibu bagi El.
Dasar bodoh, kamu itu hanya perlu membuka mata dan pikiranmu. Kamu tak perlu mencarinya, orang itu ada didepan matamu.
...----------------...
Semilir angin sejuk menembus kulit Adel, semalam dia lupa menutup jendela kamar El. Hari masih terlalu pagi untuk beraktifitas, tetapi panggilan alam tak dapat ditunda lagi. Adel berlari mengetuk pintu kamar Rena.
Tokkkk tokkk tokkk
"Rena bangunlah!" Adel terus mengetuk pintu.
"Ada apa membangunkan ku sepagi ini?" tanya Rena dengan muka bantalnya.
"Tolong kau jaga El sebentar, aku takut dia terbangun dan mencariku. Rena cantik, tolong jaga El yah, aku buru buru" Adel menerobos masuk ke kamar Rena.
"Dasar menyebalkan, kalau ada maunya manis banget, hufffttt" gerutu Rena. Dia menuju kamar El, dan benar saja bayi itu sudah terbangun. Sedang duduk kebingungan mencari Adel.
"Haii tampan, kau sudah bangun hmmm" sapa Rena.
"Mammma mammmmm" El menangis. Mungkin dia takut ditinggalkan seperti kemarin.
Rena segera memberikan botol susu yang telah disiapkan Adel. Sementara Baby El terdiam, karena dia juga haus. Namun setelah susu habis, El kembali merajuk.
"Ssssttt cuppp cupppp" Rena mendekap El dalam pelukannya. Tak lama El terdiam, ia malah tertawa riang.
"Ahaaakk ahakkkk" suara El.
__ADS_1
"Nahhh anak pintar, kau memang hebat Rena" dia membanggakan diri.
"Baguslah, aku bisa mengandalkan mu Ren" sahut Adel.
"Lohhh udah balik aja kamu Del?" Rena membalikkan badan menghadap Adel.
"Iya, aku cuma numpang dikamar mandi, dan aku tak ingin meninggalkan El sendiri" ucap Adel.
"Yah, kau benar saat aku kesini, dia seperti orang linglung. Celingukan mencari mammmm" cibir Rena.
"Ayolah, kau juga kan mami nya El" ucap Adel enteng.
"Itu tidak buruk juga, 'mamud', mami muda"
"Hahaahaa... " keduanya tertawa bersama. Yang satu janda, yang satu belum menikah. Tetapi dipanggil 'mami'
Baby El pun ikut tertawa, padahal ia tak mengerti, apa yang dibicarakan dua orang dewasa dihadapannya.
...----------------...
Sore ini digazebo taman belakang.
"Adel, Rena" panggil Nyonya Amel. Mereka berdua sedang bermain bersama El disana, sambil menyuapi El makanan.
"Iya Nyonya" sahut keduanya.
"Bawa El kemari, kita main disini saja" Nyonya Amel menunjuk aula kecil disana.
"Sebentar lagi kita akan merayakan ulang tahun El, menurut kalian acara seperti apa yang bagus?" tanya Nyonya Amel.
"Emmmmpt, acaranya diadakan dimana Nya?" tanya Rena.
"Menurut rapat pleno semalam, demi keamanan dan kenyamanan, sebaiknya di mansion saja. Berhubung Ama juga kurang enak badan, jadi kita buat pesta kecil- kecilan" Nyonya Amel menjelaskan.
Memang benar adanya, kaki Ama sakit jika terlalu lama berjalan atau berdiri. Untuk itulah, sekarang Ama jarang kekamar El.
"Yah, kami setuju, iya kan Del?" Rena menyikut Adel.
"Ahhh ya, benar begitu" Adel dengan senyum terpaksa.
"Menurut kalian kita buat acaranya dimana?" tanya Nyonya Amel.
"Kita bikin acara outdor saja Nyah, di aula ini misalnya. Lagi pula hanya keluarga terdekat, menurut saya muat untuk menampung orang segitu" Rena mengetuk- ngetuk dagunya.
"Ini sihh buat orang hajatan juga muat Ren" canda Adel.
"Hahahaa... memang hajat baby El yah Del" Nyonya Amel ikut tertawa.
"Ahaaakkk ahaaakkk" El ikut tertawa, sambil bertepuk tangan.
"Mammmmaaa, Mammmmmaaaa" uceh baby El.
"Wahhh kau memnaggilku mama? Ahhh aku terharu sayang" Adel menghadiahkan banyak ciuman diwajah tampan El.
__ADS_1
Tetapi ada sisa makanan El yang menempel di bibir Adel. Adel sedang menyuapi Baby El, tetapi malah berantakan karena tangan El ingin makan sendiri.
"Hahahaaa... Kalau lapar makanlah nasi, jangan makan bubur El" ucap Rena. Nyonya Amel ikut tertawa.
"Kalian ini menertawakan apa?" tanya Ama.
"Lohh Ama kenapa kesini?" tanya Rena, ia membantu Ama duduk dikursi.
"Ama bosan dikamar terus, Ama juga kangen El".
"Kan bisa bilang Adel atau Rena, untuk mengantar El kesana Ama" ucap Adel.
"Sudahlah, Ama sudah baikan".
"Ama, menurut mereka berdua, kita mengadakan garden party disini saja" ucap Nyonya Amel.
"Apa tidak apa apa? Jika ulang tahun pertama El hanya dimansion?" Ama merasa keberatan.
"Yang terpenting bukan pesta Ama, tetapi kebersamaan kita semua" ucap Adel sambil tersenyum.
"Benar yang dikatakan Adel Mam" Tuan Abimanyu menimpali.
Tuan Abimanyu baru kembali dari kantor, dan mendapati mereka sedang bercengkerama digazebo. Setelah berganti pakaian, dia menyusul ke gazebo.
"Kau sudah pulang Bi?" tanya Ama.
"Seperti yang Mami lihat".
"Lalu dimana anak bodoh itu Dad?" tanya Nyonya Amel.
"Dia masih ada pekerjaan Mom, sewaktu daddy pulang, Henry sedang rapat bulanan dengan para staff" ucap Tuan Abimanyu menjelaskan.
"Hahhh, memang bodoh, pekerjaan dinomor satukan, tetapi ulang tahun El dia malah cuek bebek" gerutu Nyonya Amel.
"Ehhhhmmmmm" Ama berdehem, membuat Tuan dan Nyonya Syahreza terdiam.
Nyonya Amel tak menyadari, jika dia sedang membicarakan dirinya sendiri dimasa lalu. Tuan Abimanyu memberikan tatapan tajam padanya.
Karena membuat kesalahan, dengan membicarakan Henry, seperti membuka luka lama yang baru saja kering. Nyonya Amel terdiam, dia sangat menyesal atas ucapannya.
"Kenapa kalian diam?" tanya Ama.
"Tidak Ama, kami hanyaaa... hanya.." Tuan Abimanyu tersenyum kaku.
"Hanya menyesal, karena kalian membicarakan diri kalian sendiri? ucap Ama mencibir.
"Bukankah kalian yang harus disalahkan? Jika sifat Henry seperti sekarang ini? Jadi kalian pula yang harus memberikan contoh baik padanya".
Semua orang hanya bisa diam, mendengarkan pidato dari Ama. Terkecuali El, bayi itu tiada henti mengoceh.
TBC
Terima Kasih
Gimana nih? Masih mau dilanjut apa udahan??
__ADS_1