Ibu Untuk Tuan Muda

Ibu Untuk Tuan Muda
Bersedia Menggantikannya


__ADS_3

Budayakan like komen dan vote setelah membaca ya kakak.


Happy Reading


💐💐💐💐💐💐💐


"Maafkan Mami El, seharusnya Mami selalu menjaga El, sehingga hal ini tak perlu terjadi." Genangan disudut matanya terjatuh begitu saja. Adel mengusapnya dengan kasar, Adel ikut merasakan setiap kesedihan yang El lalui. Bayi yang belum genap 2 tahun sudah mengalami begitu banyak kejadian yang mengguncang psikisnya.


"Mami akan selalu berusaha disamping El, Mami akan selalu menjadi kekuatan untuk El. Walaupun nantinya kita tidak akan bisa lagi bersama." Adel membaringkan tubuhnya disamping El. Memeluknya dengan hangat, pelukan yang selalu Adel curahkan dengan segenap perasaanya.


Ibu Sari menutup pintu kamar Adel dengan perlahan, tak lupa mematikan lampu, dan menyalakan lampu tidur. "Selamat malam kesayangan." Ibu Sari berharap jika El benar-benar menjadi cucunya. Pasti akan lebih membahagiakan lagi. Di usia senjanya bisa melihat Adel berkeluarga dan bahagia adalah impiannya.


...----------------...


Diruang kerja Tuan Wira, pria sepuh ini masih mempelajari dokumen yang dikirimkan Irawan. Henry masih ragu-ragu, diam sejenak untuk menata hatinya. Menghadapi lawan bisnisnya dia tak pernah gentar, entahlah, bertatapan langsung dengan Tuan Wira. Terlebih hanya berdua rasanya begitu mengerikan. Tetapi demi El dia harus melakukannya.


Menghela nafas panjang, tangannya terulur untuk mengetuk pintu. Tiga kali pintu diketuk, terdengar jawaban dari balik pintu kayu dengan ukiran Jawa kental. "Masuklah!" Henry memutar knop pintu, segera masuk dihadapan Tuan Wira.


Hening.


Tak ada yang berniat memulai pembicaraan, Tuan Wira menghentikan kegiatannya. Tanpa menoleh pada pemuda yang berdiri menjulang dihadapannya. "Sampai kapan kau akan terus berdiri?" Tuan Wira berpindah ke sofa panjang disamping meja kerjanya. Diikuti Henry yang duduk disampingnya. Karena hanya ada satu sofa panjang disana.


"Terima kasih Tuan." Henry angkat bicara, tanpa berani menatap lawan bicaranya. Tuan Wira menampakkan wajah datar, tanpa senyum sedikitpun. Dalam hatinya bersorak, melihat wajah frustasi Henry.


"Terima kasih untuk apa?" Henry memberanikan diri menatap Tuan Wira. "Terima kasih karena sudah mengizinkan El tinggal disini." Tuan Wira menarik nafas panjang sebelum menjawabnya. Ada sedikit kekecewaan yang ia rasakan, karena cucunya harus terlibat dalam masalah El. Tetapi percuma menyesalinya, semua sudah terjadi.

__ADS_1


"Siapa bilang saya mengizinkannya? Bahkan bertemu denganmu baru sekarang ini." Tuan Wira mengelus rambut tipis yang tumbuh didagunya. Bahkan warnanya hampir semuanya memudar.


Henry terperangah dengan jawaban yang diberikan Tuan Wira. Dia tak menyangka akan mendapat penolakan seperti ini. Daddynya bilang Tuan Wira orang yang lembut, dari mananya kalau begini? "Saya, tujuan saya datang kesini, karena ingin meminta izin dari Tuan, agar mengizinkan El tinggal bersama Adel, maksudku Nona Adel disini."


Tuan Abimanyu masih terdiam, mendengarkan apa yang akan dikatakan bocah yang menurutnya manja ini. "Saya tak mengizinkan, Adel harus segera memimpin perusahaan." Tuan Wira menatap Henry tajam, tangannya dilipat diatas perutnya. "Apa kau paham?"


"Saya mengerti Tuan, dan demi kesembuhan El, saya bersedia menggantika Ad..., maksudku Nona Adel untuk sementara. Dokter bilang, hanya Nona Adel yang El butuhkan saat ini, trauma yang dia hadapi harus segera disembuhkan dengan dia selalu berada didekat orang tersayang. Termasuk Nona Adel, Mami El."


"Berarti kamu tidak sayang dengan bayi itu?" Pertanyaan Tuan Wira menusuk hati Henry, bagaimana mungkin dia sebagai Daddy tak menyayangi putranya? Sabar, harus sabar demi El. Hanya itu kata yang tertanam dalam pemikirannya. Agar tak terpancing dengan ucapan Tuan Wira barusan.


"Karena saya sangat menyayanginya Tuan, jadi saya bersedia melakukan apapun." Henry berucap dengan sungguh-sungguh.


"Apapun?"


"Termasuk menggantikan Adel diperusahaan? Dan kau harus meninggalkan perusahaanmu sendiri?" Henry menjawab dengan tegas. "Saya bersedia melakukan semua yang Tuan Wira katakan."


"Bagus! Aku tunggu janjimu itu, besok pagi kita bertemu di Wiranata Corp. Jam 07.00 pagi. Jangan sampai terlambat." Tuan Wira berdiri, hendak meninggalkan ruangan.


Henry segera berlari, bersimpuh dihadapannya. "Terima kasih Tuan, karena memgizinkan El tinggal disini." Ini pertama kalinya Henry memohon, merendahkan harga dirinya. Bahkan dengan Daddynya sekalipun tak pernah dia lakukan.


Memasukkan tangannya ke saku celana, Tuan Wira hanya berdehem. "Hmmmm" dia melanjutkan langkahnya. Kemudian berbalik dan berkata "ingat janjimu, dan jangan lupakan tugasmu sebagai ayah." Henry berkaca-kaca, menatap kepergian Tuan Wira, hingga sosoknya hilang dibalik pintu.


Henry menyandarkan kepalanya pada meja kaca didepan sofa. Ternyata seperti ini rasanya memperjuangkan yang sesungguhnya. Dari kecil dia hanya bisa merengek, apapun dengan mudah ia dapatkan dengan kekuasaan yang dia warisi.


"Aku harus kembali, Daddy pasti menungguku." Henry tak jadi meninggalkan ruangan Tuan Wira, langkahnya terhenti ketika melihat potret dua anak kecil didinding dekat pintu. Sepertinya dia pernah melihat foto ini, Tapi dimana? Entahlah, Henry tak begitu memedulikan gambar dua bocah yang saling menautkan jari tangannya itu.

__ADS_1


Henry pulang ke kediaman Syahreza, sudah larut malam, para penghuni mansion sudah tertidur. Hanya tersisa beberapa pelayan yang masih terjaga. "Kau baru pulang Son?" Tuan Abimanyu baru keluar dari ruang kerjanya.


"Dad, belum tidur?" Henry menanyakan pertanyaan yang sudah dia ketahui jawabannya.


"Bagaimana?" Henry mengerti kemana arah pertanyaan Daddynya. "Beresss" Henry mengacungkan dua jempolnya.


"Daddy percaya padamu, kau memang anak Daddy." Tuan Abimanyu menepuk bahu putranya dengan rasa bangga. Karena dia berhasil meyakinkan Tuan Wira, orang yang sangat pemilih.


Henry menarik salah satu kursi ruang makan, menuangkan air putih, lalu menenggaknya hingga tandas. Dia menopang dagunya, sambil melepaskan dasi yang terasa mencekik lehernya. " Tapi Daddy harus menggantikanku, aku harus menggantikan Adel di Wiranata Corp."


Tuan Abimanyu sudah menduga, pasti tak akan mudah Tuan Wira memberikan izin begitu saja. "Kapan kau mulai menggantikannya?" Tanyanya.


"Besok pagi." Tuan Abimanyu hanya menatap putranya. "Tapi luka mu belum sembuh betul Son, aku khawatir dengan keadaanmu." Bahkan perban dikepala Henry belum dilepas, hanya luka memar yang memudar. Itupun masih menyisakan bekas di beberapa bagian.


Tetapi Henry tak punya pilihan lain, dia sudah berjanji pada diri sendiri. Untuk memperjuangkan kebahagiaan El, meskipun kesulitan yang dia lalui. "Aku tak apa Dad, demi El, aku pasti akan melakukannya. Oh ya, mulai besok, Wulan juga akan tinggal bersama El."


"Baiklah jika itu sudah menjadi keputusanmu, istirahatlah! Biar Daddy yang mengatakannya pada Wulan besok." Tuan Abimanyu meninggalkan Henry sendiri. Henry masih terpaku ditempatnya. Memijit pelipisnya yang terasa pening, kilas balik tentang kehidupan rumah tangganya yang rumit. Entah kapan dia bisa menikmati kebahagiaan keluarga yang sesungguhnya.


"Lebih baik aku berendam, mungkin akan terasa menyegarkan." Henry beranjak menuju ke kamarnya. Dia berendam di air hangat, hal yang sering dia lakukan ketika penat. Metta yang mengajarkan cara merilekskan diri. Bicara tentang Metta, membuatnya selalu rindu dengan El. Apalagi beberapa hari sebelumnya, Henry selalu tidur bersama El.


"Good Night El" Henry menarik sudut bibirnya keatas. Dan mengakhiri acara berendamnya, tak terasa hampir 1 jam dia dikamar mandi. Dia tak ingin besok bangun terlambat, karena dia akan memulai tugasnya. Menggantikan Adel.


TBC


TERIMA KASIH

__ADS_1


__ADS_2