Ibu Untuk Tuan Muda

Ibu Untuk Tuan Muda
S2-6


__ADS_3

Jangan lupa tinggalkan jejak like komen dan vote.


Happy Reading


๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’


Malam pengantin


Malam semakin larut, tamu undangan satu persatu meninggalkan tempat acara. Hanya beberapa orang yang masih tinggal untuk membicarakan bisnis. Henry meminta izin pada Tuan Abimanyu untuk mengantar Adel ke kamarnya. Adel bisa pergi sendiri, namun Henry tak akan membiarkan hal itu terjadi.


"Ayo kita ke atas," Adel mengangguk, sebenarnya Adel masih ingin mengulur waktu, tapi tubuhnya sudah sangat lelah. Lebih baik dia menurut saja.


Apa yang harus aku lakukan? lebih baik pura-pura tidur, hah memangnya apa yang akan terjadi? jangan takut Adel, dia tak akan mengganggumu.


Henry tak melepaskan tangannya pada pinggang Adel, membuat Adel merasa tak nyaman, meski sekarang hanya ada mereka berdua di dalam lift.


Tinggg


Mereka sampai di kamar pengantin yang telah disiapkan. "Akh, apa yang kau lakukan?" Adel tersentak ketika Henry mengangkat tubuhnya ala bridal style. Karena takut jatuh, Adel mengeratkan tangannya pada leher Henry.


"Memangnya apa yang bisa aku lakukan?" Henry mengerlingkan matanya, membuat Adel menundukkan kepalanya.


"Buka pintunya sayang, tanganku tak bisa melakukannya," Henry setengah berbisik, dia sengaja ingin menggoda Adel.


Adel menuruti perkataan Henry, dia membuka pintu dengan ascess card di tangan Henry. "Sudah, sekarang turunkan aku," Adel meronta, dia tak ingin memacu jantungnya yang sudah tak terkendali.


"Hmmm," Henry hanya bergumam, melanjutkan langkahnya menuju ke kamar, lampu temaram, serta aroma mawar dan ada sebuket bunga diatas ranjang, menambah suasana romantis. Namun hal itu membuat Adel semakin takut.


Henry menurunkan Adel dengan perlahan, duduk disampingnya tanpa melepas sorot matanya pada wajah cantik Adel yang terlihat lelah. "Kau ingin mulai dari mana?" Adel membelalakkan matanya.


"Mu-mulai apanya? terserah kau saja," Adel tergagap. Pikirannya travelling jauh, membayangkan apa yang akan terjadi malam ini.


"Benarkah?" Henry semakin mendekat, meniup helaian rambut Adel yang sedikit terurai.


"A-apa yang akan kau lakukan?" Adel mendorong tubuh Henry, dia memalingkan wajahnya ke arah lain. Tak ingin melihat Henry yang penuh seringai.


"Apa kau tak ada pertanyaan lain? Apapun bisa ku lakukan, kita ini pasangan resmi, secara agama maupun negara." Henry kembali mendekat, dia membelai surai hitam Adel, melucuti hiasan kepala yang bertengger diatasnya. Henry melakukannya dengan perlahan, takut menyakiti Adel.


Adel tak dapat berkata-kata, dia hanya diam menerima semua perlakuan Henry. "Jangan sentuh," Adel segera berdiri, saat Henry menyentuh kakinya. Henry mengernyitkan keningnya.


"Diam, atau aku bisa melakukan lebih padamu," Henry sedikit kesal, dia hanya ingin membantu memijat kaki Adel, yang terlihat memerah setelah dia membuka heels yang dia kenakan.


Hayo, siapa yang mulai ngikutin Adel dengan fiktor


Ctakkk


"Awww, kenapa kau menonyorku?" Adel mendengus, mengusap dahinya yang sedikit memerah.


"Buang fikiran kotormu, memangnya kamu kira apa yang akan aku lakukan?" Henry melanjutkan niatnya, meminjat pergelangan kaki Adel.


Apa aku yang terlalu berfikir berlebihan? tidak, aku hanya sedang berusaha melindungi diri. Tapi benar juga yang dia katakan, dia berhak atas diriku, begitupun sebaliknya.


"Ssshhhh" Adel mendesis, menggigit bibir bawahnya, dan matanya terpejam. Menahan perih saat Henry berusaha memijat bagian yang memerah.


Glukkk

__ADS_1


Henry yang melihat itu menelan ludahnya kasar, dia tak henti memperhatikan wajah Adel yang menahan sakit.


Hah apa yang aku fikirkan, hanya dengan melihatnya seperti itu membuatku bergairah.


Henry semakin mendekat, hingga bibir keduanya menyatu. Adel membuka matanya, tapi dia juga menikmatinya. "Jangan lakukan itu lagi, atau aku akan memakanmu saat ini juga," Henry meninggalkan Adel menuju kamar mandi.


Dia sudah berjanji pada dirinya, meskipun dia tahu Adel juga mencintainya. Tapi untuk hal satu ini, dia tak ingin memaksanya, dia menunggu sampai Adel siap, dan menyerahkan dirinya.


Henry berdiri dibawah air shower yang dingin, dia berusaha menekan keinginan birahinya saat ini. Bukankah hal yang normal jika itu terjadi? mereka sudah dewasa, bisa dikatakan matang, terlebih mereka telah resmi menjadi pasangan suami istri.


Adel memegangi bibirnya yang terasa hangat. " Maafkan aku," Adel menyelimuti dirinya, masih menggunakan gaun resepsi. Karena dia sebenarnya ingin meminta bantuan Henry untuk melepas pengait yang ada dipunggungnya.


Tak terasa air matanya mengalir begitu saja, mengingat semua kejadian buruk yang pernah dia alami. Hingga tak terasa Adel terlelap dibalik selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Hanya kepalanya yang menyembul keluar.


Henry keluar dengan hanya menggunakan handuk yang melilit dipinggangnya, satu tangannya mengeringkan air yang masih menetes dari rambutnya. Membuat tubih seksinya terekspos begitu saja. Dia lupa membawa baju ganti, karena terburu-buru.


Henry melihat sekeliling, tak mendapati Adel, berjalan mendekat kearah ranjang. Dia duduk ditepi ranjang, menyibakkan selimut yang menutupi tubuh Adel. "Astaga, bisa-bisanya dia tertidur dengan pakaian seperti ini. Dia bahkan masih belum membersihkan riasannya.


Henry membelai wajah Adel, ada bagian yang basah, dia menyadari Adel habis menangis. Henry mencium keningnya cukup lama. Membuat Adel merasa terusik. "Aaarghhh... Dasar mesum," Adel menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya.


Pemandangan indah yang menghoda imannya. penampilan Henry yang baru selesai mandi, hanya dengan selembar kain handuk dipingganya, mengekspos dada bidang dan roti sobek yang begitu menawan.


Tangan Adel terulur, perlahan menyentuh kulit Henry, menimbulkan sensasi lain pada dirinya. Bagaikan sengat listrik seribu volt, Henry meraih tangan Adel. "Aku begitu mempesona bagimu? Apa kau ingin menyentuh yang lain?"


"Ti-tidak, maaf aku sudah lancang," Adel menarik tangannya, dia sembunyikan dibalik selimut. Adel menggigit bibir bawahnya, itu kebiasaanya ketika sedang gugup seperti sekarang. Henry menyunggingkan senyum manisnya.


"Kau boleh melanjutkannya nanti, tapi sebaiknya kamu ganti dulu bajumu baru tidur," Adel merasa malu dan bersalah karena telah berprasangka buruk pada Henry, suaminya.


"Hehe... Maaf aku ketiduran," Adel nyengir kuda menampilkan deretan giginya yang putih.


Henry mengangkat tubuh Adel, "cepat ambilkan pakaianku, atau kau ingin aku tidur seperti ini?" Henry mengerlingkan matanya, membuat Adel dengan cekatan mengambilkan pakaian Henry. Dia tak sungkan lagi, dia pernah melakukan semua hal itu untuk mendiang suaminya. Kecuali ehm.


"Biar ku bantu," Henry telah selesai berpakaian, dia baru keluar dari kamar mandi, melihat Adel yang kesulitan membuka gaun yang dia kenakan.


Adel masuk kamar mandi, dia merasa lega, bisa terbebas dari gaun yang terasa menyiksanya. Ternyata Henry sudah menyiapkan air hangat untuknya. "Terima kasih suamiku," ucap Adel bahagia.


Adel terbelalak saat mendapati gaun tidur kurang bahan yang dia ambil secara asal. Hanya ada dua pakaian, dan ini yang paling pantas untuknya tidur. Sebenarnya masih sopan, hanya dengan lengan berbentuk tali, dan diatas lutut, namun bahan kain sangat menonjolkan lekuk tubuh Adel.


"Tak apalah, dia pasti sudah tidur, aku akan disini dulu sampai dia tertidur." gumam Adel mondar mandir di kamar mandi.


Dia mengintip keluar, Henry masih terjaga, dengan ponsel menyala ditangannya. "Duh, kenapa belum tidur juga sih?"


"Sayang, kau lama sekali?" Henry sudah berdiri didepannya. Dia mengernyit, melihat Adel masih menggunakan jubah mandi.


"Biarkan aku tidur seperti ini," Adel berjalan melewati Henry.


Lagi-lagi Henry menggendongnya, "kau suka sekali menggendongku, aku bisa jalan sendiri, aku bukan El," Adel mengerucutkan bibirnya.


Henry membuka tali jubah Adel tanpa disadari oleh pemakainya. "Kau sengaja ingin menggodaku?" Henry mendorong Adel hingga terlentang, dia menggunakan tangan dan lututnya untuk menopang tubuhnya.


Adel memalingkan wajahnya, menyadari jubahnya terlepas dengan sekali tarikan tangan Henry. "A-aku..." keringat dingin membasahi Henry.


"Hahaha..." Henry berguling disebelah Adel.


"Aku hanya ingin mengajakmu makan, kau pasti lapar, sedari tadi kau tak memakan apapun," Henry mengubah posisinya, dia duduk disebelah Adel.

__ADS_1


Ternyata memang otakku yang bermasalah.


"Makanan kita sudah diantar," Henry memesn makanan saat Adel dikamar mandi. Dia tak ingin Adel sakit.


"Terima kasih suamiku," Adel duduk sejajar dengan Henry, dia mengecup pipi suaminya.


"Tunggu, kau memanggilku apa?"


"Su-a-mi-ku," Adel mengeja kata tersebut.


Henry langsung menyerangnya. Tak lagi mencium, melainkan melahap bibir chery Adel dengan rakus, mereka baru berhenti setelah kehabisan nafas.


"Ada yang salah?" Adel menunduk, merasa takut jika ada ucapannya yang salah. Henry menggeleng, dia membawa Adel dalam pelukannya.


"Aku suka, coba katakan lagi," Henry mendongakkan wajah Adel yang bersemu merah.


"Suamiku," Adel berucap tanpa menatap Henry karena masih canggung.


.


.


Maafkan kehaluan author ya... Hanya sekedar hiburan.


R: Thor kok gitu doang? mantap-mantapnya belum?


T: Belum diekspos kakak, pedekate dulu ye.


R: yah gak asyik, padahal boncap udah hamil.


T: masih jauh, butuh proses yes.


R: terus kapan dong El punya adik?


T: tahun depan. ( kesal)


R: lama banget.


T: ya kali, hamil aja 9 bulan bukk.


R: oke dehh. bucin bucinan dulu.


T: hmmmm bulan madu dulu, biar ada gimananya gitu ya. punya waktu berdua tanpa digangguin si bocah gembul.


R: jangan kelamaan thor


T: iye ๐Ÿคญ๐Ÿคญ๐Ÿคญ๐Ÿคญ nunggu El sekolah


R: whatttttt????


T: Hahaha ๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…๐Ÿ˜… canda ding


TBC


TERIMA KASIH

__ADS_1


__ADS_2