
Happy Reading
💐💐💐💐💐💐
"Permisi Nyah, ada paket untuk Anda." ucap seorang pelayan yang membawa kotak berwarna biru dengan pita di atasnya.
"Dari siapa Bi?" Adel menerima kotak itu dan mememeriksa siapa tahu ada nama atau kertas terselip yang menunjukkan pengirimnya.
"Ndak ada nama pengirimnya Nyah. Tadi sore kurir hanya bilang untuk Nyonya Adel." ucap Bi Ning.
"Terima kasih Bi, oh ya saya sudah makan diluar. Jadi gak perlu siapkan makan malam." Bi Ning hanya mengangguk, Adel berlalu menuju ke kamarnya dengan rasa penasaran atas isi kotak yang ada di tangannya.
Tumben banget ada yang mengirimi ku hadiah, dari siapa sih? sok misterius. Hah, ada-ada aja sih.
Adel hanya bisa membatin, menatap sejenak, namun ia meletakkannya di atas ranjang dan langsung membersihkan dirinya ke kamar mandi. Tanpa membuka terlebih dahulu isi di dalamnya.
Adel mengernyit saat layar gadget nya menyala. Ada puluhan panggilan dari suaminya. Namun saat Adel menghubunginya kembali tak ada jawaban darinya.
"Apa mungkin Dia ingin menanyakan paket yang ku terima?" Adel meletakkan kembali gadget di atas meja rias. Dan melupakan niatnya untuk menyisir rambutnya. Adel mendekati benda yang dia taruh di atas ranjang.
Dengan semangat, Adel segera membuka kotak hadiah tersebut. Dan betapa terkejutnya Adel dengan isinya. Adel menganga tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Sebuah gaun cantik dengan satu set perhiasan dengan warna senada.
"Lan, sejak kapan Kamu disitu?" tanya Adel yang tak menyadari keberadaan Wulan di dalam kamarnya. Dia juga heran, perasaannya mengatakan bahwa ada yang sedang Wulan sembunyikan darinya. "Kamu kok bisa masuk kesini?"
"Aku ketuk pintu dari tadi, gak kedengaran. Ternyata Kamu lupa gak kunci pintunya. Jadi Aku masuk aja, hehee... Maaf ya." Wulan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Masa sih?" Adel berusaha mengingat kembali, namun ia tak mengingat apapun. Mungkin karena terlalu senang, jadi lupa. Pikirnya.
"I-ya lah." Wulan membalikkan tubuhnya hendak pergi, namun Adel mencegahnya.
"Kamu kesini mau ngomong apaan? kayaknya penting banget Lan." tanya Adel heran.
"Anu, itu, apa namanya... Jadi... telepon ya suami Kamu." Wulan tergagap bingung mencari alasan yang tepat.
Saat itu juga Henry menghubunginya. Membuat Adel mengalihkan perhatiannya pada benda pipih yang terus bergetar di atas meja rias. "Ada telepon, Aku angkat dulu." ucap Adel berjalan menuju meja rias.
"Aku balik dulu. Bye..." Wulan segera pergi dari sana.
"Hah, selamat. Untung aja Aku bisa secepatnya kabur." Wulan segera menuju ke kamarnya, merasa lega dengan adanya telepon di saat yang tepat.
Adel tersenyum senang, melihat siapa yang menghubunginya. Tanpa menunggu lama, Adel segera menggeser ikon hijau dilayar. "Sayang,...."
"Dad, Kau mengirimkan hadiah untuk ku?" Adel memotong ucapan Henry, Dia begitu bersemangat dengan hadiah yang diterimanya.
"Hadiah?" Henry mengernyit sebentar, namun secepat kilat dia mengubah raut wajahnya menjadi lega. "Ah ya, Aku mengirim hadiah untuk menghibur mu. Apa Kau menyukainya?" Henry tersenyum senang melihat kebahagiaan istrinya.
"Hmmm... Suka gak ya?"
"Kalau gak suka Aku bisa beliin yang lain. Kamu minta apa?"
"Aku maunya Kamu suamiku." Adel menggigit bibir bawahnya, merasa malu dengan ucapannya sendiri.
"Kamu bilang apa sayang? Aku gak denger." Henry terkekeh, bahagia melihat wajah istrinya yang tersipu.
"Hah, iya-iya Aku suka."
"Suka hadiahnya?"
"Iya emang apa lagi?
"Kalau yang kasih hadiah suka gak?" Henry semakin gencar menggoda istrinya.
"Dad, sejak kapan Kau belajar gombal? Baru juga beberapa hari gak ketemu." Adel semakin tersipu, rasanya bahagia, seperti ada ribuan kupu-kupu berterbangan dari perutnya.
"Sejak sekarang sayang." Sepasang suami istri itu saling meluapkan rindu dengan saling melempar candaan. Meski jarak yang memisahkan mereka. Inilah yang Adel inginkan. Meskipun jauh, setidaknya memberi kabar itu penting.
Dalam sebuah hubungan, tidak hanya rasa saling percaya. Tetapi menjaga komunikasi itu penting, dengan adanya komunikasi maka semua masalah bisa diselesaikan dan saling mendekatkan satu sama lain. Sebaik apapun hubungan dengan komunikasi yang buruk juga akan membuat hubungan semakin jauh.
__ADS_1
"Jadi pulang sekarang?" sindir Arga yang sedari tadi di sebelahnya.
"Ssttt..." Henry memberi isyarat pada Arga agar tak bersuara.
"Sekarang di suruh diam. Habis manis sepah dibuang. Dari tadi aja, Ga... dikit-dikit Ga..." Arga mengumpat dibelakang Henry. Seolah ingin mencabik-cabik orang menyebalkan disebelahnya.
"Sayang, udah malem. Sebaiknya bobok cantik gih. Disini ada yang lagi kepanasan lihat orang bermesraan." ucap Henry mengalihkan kameranya kearah Arga yang sedang menggerutu sejak tadi.
"Makanya dikekepin aja tuh Wulan." ledek Adel diseberang sana.
Ini benar-benar pasangan gak ada akhlak. Udah dibantuin malah memojokkan. Hah, serah kalian aja. Yang penting kalian bahagia, kalau ada sesuatu yang terjadi Aku juga yang dipusingkan.
"Sayang, gak boleh gitu." Henry memperingati istrinya agar tak mentertawai Arga.
"Iya-iya. Ya udah gih dihibur dulu adeknya." kekeh Adel.
"Bye sayang." Henry melambaikan tangannya. Diikuti Adel yang membalas dengan lambaian tangan. "Bye. Naight Dad."
"Naight sayang. Muachh.." Adel hanya membalasnya dengan senyuman dan mematikan telepon video yang sedang berlangsung.
"Huh, malah dimatiin." Henry kesal karena Adel tak membalas kiss dari nya.
Henry melirik kanan dan kirinya. Arga sudah meninggalkannya sendiri. "Ga, tunggu. Kita balik hotel." Arga tetap diam, mengabaikan teriakan Henry padanya.
"Ga, Kamu ini kenapa sih? dipanggil dari tadi juga." Henry berusaha mengejar Arga, menyusulnya ke dalam mobil.
"Dih, bisa ngambek juga Kamu Ga. Kalau gini Kamu jadi mirip El. Hahaaa..." Arga tetap diam, fokus pada jalanan di depannya yang mulai lengang.
"Oke Ga, cukup Aku minta maaf. Ga, ngomong dong!!"
"Jadi sekarang boleh? Tadi aja disuruh diam."
Henry menepuk keningnya sendiri. Arga benar-bemar menganggap serius ucapannya. Henry geram sendiri dengan sikap Arga yang terkadang menyebalkan. "Astaga, Arga... Kamu ini benar-benar."
"Ahaahaaa... Kesal? Marah? enak rasanya dikerjain." Arga tertawa hingga mengeluarkan air mata. Dia sangat senang melihat Henry kesal padanya. Padahal Arga tak benar-benar marah padanya.
"Ga, Aku gak bisa diam disini terus." Henry mondar mandir dengan gawainya yang tak lepas menempel ditelinganya.
"Kenapa gak ada yang angkat sih? Hah..." Henry mengepalkan tangannya erat.
"Kamu tenang dulu, kalau Kamu panik gak akan ada jalan keluarnya."
"Jo, Kamu dimana?" tanya Arga setelah panggilan terhubung, hanya dengan panggilan pertama Bejo sudah mengangkat telepon darinya.
"Saya di jalan. Tuan Abimanyu meminta Saya kembali ke mansion utama malam ini." jelasnya.
"Dimana Wulan dan Nyonya Adel?"
"Saya sudah mengantar mereka dengan selamat sampai di rumah, Tuan." ucap Bejo dengan rasa bangga.
"Jo, sekarang juga Kamu balik lagi. Cepat temui Wulan. Kalau perlu Kamu pergi ke kamarnya. Bilang ini darurat."
"Tapi, Saya mana berani Tuan." Bejo menolak keinginan Arga mentah-mentah. Dia bukan oramg pandai memanfaatkan keadaan.
"Harus Jo. Ini darurat." Arga memaksa.
"Lebih baik Saya telepon saja, Tuan. Atau Tuan sendiri yang...."
"Bejooooo.... Kalau telepon ku diangkat Aku gak akan telepon ke nomor Kamu." Arga sedikit berteriak karena kesal.
"Baik-baik, segera laksanakan Tuan."
"Cepat Jo. Ngebut Kalau perlu 2 menit sampai." Arga sudah tak sabar. "Suruh Wulan menghubungi ku. Sevepatnya. Ingat, Se-ce-pat-nya."
"2 menit katanya, Aku aja udah sampai gerbang mansion Syahreza Tuan. Harus putar balik lagi setidaknya 15 menit." Bejo menyimpan kembali ponselnya sambil menggerutu.
Bejo bergegas ke lantai dua, tepatnya di depan kamar Wulan. "Bi, Bibi aja yang ketuk deh." Bejo merasa takut, dan juga kurang sopan berada di tempat ini. Untuk itulah Bejo mengajak Bi Ning yang kebetulan belum tidur.
__ADS_1
"Kan Kamu yang dapat amanat dari Tuan Arga. Kamu aja, Aku gak enak."
"Tolong Aku, ya ya." Bejo memelas, nasib baik memihak mereka. Sebelum pintu diketut, Wulan sudah membuka pintu kamar.
"Ada apa ini? Kenapa ribut di depan kamar Saya?" Wulan menautkan kedua alisnya.
"Anu Non, ini Bejo ada perlu sama Non." ucap Bi Ning.
"Perlu apa untel Jo?" Wulan mengikuti cara bicara El. Lagi pula tak sopan rasanya jika memanggil namanya langsung. Umur Bejo dan dirinya terpaut cukup jauh.
"Itu, Nona Wulan. Tuan Arga."
Kenapa Aku jadi eror gini? hah. Bejo, Kamu bicara yang jelas dong.
"Arga kenapa?"
"Ponsel Nona, Tuan Arga...."
"Ponsel?"
"Dengarin dulu, Nona Wulan. Anda harus segera menghubunginya. Ini masalah genting. Urgent." ucap Bejo dengan sekali tarikan nafas. Hening sejenak, Wulan berusaha mencerna kalimat Bejo baru saja. Udah kaya mau akad nikah aja kamu Jo. Wkwkwkwk thor gabut.
Dering ponsel Bejo memecah keheningan. "Tuh kan, Dia malah telepon kesini." Bejo menunjukkan layar ponselnya yang tertera 'Tuan Arga'.
"Sini, biar Aku yang angkat." Wulan meraih ponsel Bejo dengan kasar. Menggeser ikon warna hijau, belum sempat menempelkan ponsel, Wulan sudah menjauhkannya dan menekan loudspeaker.
"Bejoooo, Kamu ini lama banget. Bisa cepet dikit gak sih? gak tau apa orang lagi panik?"
"Biasa aja kali gak usah teriak-teriak gitu." ucap Wulan ketus.
"Wulan, sayang.... Akhirnya Aku bisa hubungin Kamu juga." Arga merasa lega karena Bejo berhasil melaksanakan tugasnya.
"Cuma itu? Kenapa sampai panik segala sih? Tunggu-tunggu, Kamu panggil Aku apa tadi?"
Arga mengusap wajahnya kasar, ini orang sedang genting masih saja sempat bercanda. Gak tau apa Dia sendiri ngadepin Henry yang mengamuk gak jelas disana. "Wulan, please. Sekarang bukan saatnya bercanda. Nanti Aku jelaskan ke nomor Kamu."
"Cepat ke kamar Nyonya Adel, tukar kotak yang di kasih sama Bi Ning. Sekarang juga." Wulan dan Bi Ning saling melempar pandangan.
"Kotak apa?" Wulan tak mengerti dengan ucapan Arga.
"Jadi gini Non, tadi Nyonya dapat paket. Kaya hadiah gitu, dan sekarang datang lagi kotak yang sama." Bi Ning menyerahkan kotak tersebut pada Wulan.
"Jangan banyak tanya. Sekarang Kamu masuk, terus tukar kotaknya. Nanti Kamu akan tahu sendiri." Wulan menurut, mengetuk pintu kamar Adel berulang kali, namun tak kunjung ada jawaban.
"Kamarnya di kunci."
"Kamarnya di kunci." ucap Arga, Henry menguping di sebelahnya.
"Berikan pada ku." Akhirnya Henry memberitahu di mana tempat menyimpan kunci cadangan. Bejo dan Bi Ning segera mencari di tempat yang dimaksud.
Wulan segera masuk dan menukar kotak yang dimaksud Henry. Benar saja, kedua kotak tersebut sama persis dengan yang ada di atas ranjang. Beruntung Adel belum membukanya, itu terlihat dari keadaannya yang masih rapi dan utuh.
Ceklek
Pintu Kamar mandi dibuka, Wulan segera menembunyikan kotaknya dibelakang tubuhnya. Meski sempat diketahui Adel, tetapi Wulan terselamatkan dengan panggilan pada ponsel Adel.
Untung saja Aku masih sempat menukarnya. Apa isinya sampai mereka bersikukuh menukarnya?
Di dalam kamarnya, Wulan membuka kotak yang di kirimkan sebelumya. Wulan begitu terkejut dengan isinya.
"Aku harus menyimpannya baik-baik. Sebelum Tuan Henry dan Arga kembali. Terserah mau diapakan yang penting Adel jangan sampai tahu tentang ini." Wulan bergumam pada dirinya sendiri. Dia segera menyimpan benda tersebut ditempat yang tak bisa ditemukan orang lain.
Flash Back Off
TBC
TERIMA KASIH
__ADS_1