Ibu Untuk Tuan Muda

Ibu Untuk Tuan Muda
burung berkicau


__ADS_3

Happy Reading


💐💐💐💐💐💐


Henry mengusap wajahnya kasar, ia membanting dirinya dikasur king sizenya. Selalu saja ia salah di hadapan Mommy nya.


Semua ini karena wanita gila itu, yah semuanya karena dia.


Saat Henry sedang asyik melamun, gawainya berdering. Arga yang menghubunginya. Henry dengan enggan meraih benda pipih itu, menggeser ikon berwana hijau, dan loudspeaker.


"Halo Tuan," suara Arga diseberang sana.


"Hmmm ada apa kau menghubungiku?" tanya Henry.


"Maaf Tuan, harus saya sampaikan, bahwa ada perubahan jadwal dari Wijaya Corp," ucap Arga dengan nada takut.


"Hah, perubahan apalagi? Apa mereka berniat mempermainkan kita?" tanya Henry. Keluarga wijaya adalah milik keluarga Hani, ia sengaja menggunakan nama keluarganya utuk mendekati Henry.


"Maaf Tuan, mereka memajukan jadwal pertemuan kita, dengan alasan akan pergi keluar negeri," ucap Arga.


Henry memijit pelipisnya, ia sebenarnya enggan meladeni mereka, sudah dua kali mereka merubah jadwal. Padahal hanya perusahaan kecil, Henry bisa saja membatalkannya. Namun ia perlu tahu, ada rencana apa dibalik kerja sama ini.


"Baiklah, kau atur saja," diluar dugaan, Henry masih ingin melanjutkan kerja samanya.


"Baik Tuan, Besok pagi jam 07.00 di restoran X," jawab Arga.


"Kenapa harus restoran? Kita kan bisa membuatnya ke HS Group," tanya Henry.


"Mereka beralasan, sekalian sarapan pagi Tuan."


"Banyak alasan, HS Group atau tidak sama sekali." Henry menutup panggilan sepihak. Ia melemparkan benda pipih itu kesembarang tempat.


"Astaga, singa buas ini kambuh lagi. Aku ralat semua pujianku tadi. Padahal dia belum mendengatkan jawabanku, selalu saja seenaknya mematikan panggilan sepihak," ucap Arga pada dirinya sendiri.


...----------------...


Sementara itu, Adel berhasil menenangkan baby El, setelah meminum s***, El tertidur dalam dekapan Adel.


Adel menaruhnya diranjang tidurnya, kebiasaanya setiap malam. Mereka berdua tidur satu ranjang. Karena Adel tak mau repot harus berjalan jauh ke box bayi, saat El terbangun.


"Rena kau beristirahatlah, pasti kau lelah," ucap Adel.


"Yah, aku memang sangat lelah, terlebih bayi itu menyusahkanku," ucap Rena sinis.


"Itukan hal yang wajar Rena, dia sudah lama tak bertemu denganmu," ucap Adel lembut.


"Yah mungkin saja, atau karena dia sudah kena ilmu pelet mu," Rena dengan wajah tak suka.


"Kau ini, mana ada ilmu pelet sekarang ini?" Adel menganggapnya lelucon.

__ADS_1


"Terserah kau saja." Rena kembali kekamarnya. Ia membanting pintu kamar El.


"Ada apa dengannya? Mungkin dia lelah, seharian bekerja dirumah sakit. Dan langsung mengurus El disini," gumam Adel.


Henry hendak mengambil minum, baru membuka pintu dia mendengar pintu dibanting. Henry berniat memarahi orang itu, namun diurungkan. Ternyata Rena yang melakukannya.


Henry hanya memperhatikan sikap Rena, kemudian melanjutkan niatnya kedapur.


Ada apa lagi dengan betina satu itu? Marah marah gak jelas. Huh wanita itu menyebalkan, maunya dimengerti mulu, seperti Mommy.


Didapur Henry bertemu Daddy, mereka saling terdiam satu sama lain. Hingga Henry yang menegur Daddy lebih dulu.


"Dad..." sapa Henry.


"Yes Son..." sahut Tuan Abimanyu.


"Dad, apa kau tahu Wijaya Corp?" tanya Henry.


"Wijaya Corp? Ada apa son?" Tuan Abimanyu menautkan alisnya, merasa tak asing dengan nama itu.


"Ada apa dengan Wijaya Corp?" Tuan Abimanyu balik bertanya.


"Wijaya Corp mengajukan kerja sama dengan HS Group."


"Lebih baik kau berhati hatilah, jangan sampai melakukan kesalahan," ucap Tuan Abimanyu.


"Ya, itu pasti Dad, apa kau tahu sesuatu?" Henry masih merasa ragu akan keputusannya.


"Ada apa Son? Sepertinya kau sangat bimbang? Itu seperti bukan Henry putraku."


"Entahlah Dad, aku merasa ada yang tidak beres. Kita harus menyelidiki lebih lanjut," ucap Henry.


"Kau cobalah mengulur waktu, dady akan membantu mu." Tuan Abimanyu menepuk bahu putranya. Beginilah saat ayah dan anak ini dalam mode serius. Mereka saling mendukung satu sama lain, bisa sharing masalah pekerjaan.


Karena Tuan Abimanyu sudah sangat berpengalaman, mengerti situasi persaingan bisnis. Untuk itulah, ia tetap mengawasi putranya melalui Arga. Dan beberapa orang kepercayaanya.


Bukan berarti Tuan Abimanyu meragukan putranya, namun selagi bisa, dia akan memastikan semua yang terbaik baginya.


...----------------...


Pagi ini sang surya mulai mengintip dibalik celah horden. Membangunkan tidur lelap Henry. Ia terlonjak, sudah jam 05.45 pagi. Hari ini dia harus berangkat lebih awal kekantor.


Henry berniat membuka horden kamarnya, dan langkahnya membawanya ke balkon kamar, yang menghadap ke taman. Udara sejuk menyeruak dilubang hidungnya. Sungguh menyegarkan.


Dibawah sana, pemandangan jauh lebih indah, dari sekedar bunga yang mekar. Adel sedang mengajak El bermain. Mereka berjalan pagi, sambil diselingi canda tawa. Ah sangat meneduhkan.


Tak lama Henry tersadar, dia harus bergegas atau dia akan terlambat ke kantor. Sepanjang ritual mandinya, Henry terlihat bahagia. Dia terus benyanyi kecil diiringi gemericik air.


Henry bersiul layaknya burung berkicau, hingga ia bersiap dan turun kelantai satu. Nyonya Amel yang menyadarinya bertanya tanya dalam hati.

__ADS_1


Sepertinya anak bodoh ini kehilangan kewarasaanya, sejak kapan dia bisa bertingkah seperti itu. Lebih dari sekedar memenangkan undian, dimainan lotre.


"Arr kau tak apa?" tanya Ama yang juga heran dengan tingkah cucunya. Menyadari itu, Henry kembali ke mode datarnya. Dia sendiri tak menyadari sikapnya itu.


"Yes Ama, I'm fine." jawab Henry.


"Kau tak sarapan sayang?" tanya Nyonya Amel, karena Henry hanya berdiri tak jauh dari meja makan.


"No Mom, hari ini ada rapat pagi," ucap Henry, ia meraih segelas susu lalu meminumnya.


"Duduklah Ar, atau kau akan tersed...." Ama belum selesai bicara, namun apa yang dia takutkan terjadi.


"Ukhukk ukhukkk..." Henry terbatuk, ia buru buru meminum air putih.


Tetapi ia terbatuk karena melihat El, bayi tampan itu tertawa dengan sangat menggemaskan. Adel baru saja membawanya masuk dari taman belakang.


"Heiii kau mau membunuh ku ya?" tanya Henry setelah batuknya mereda.


"Sa-saya?" tunjuk Adel pada diri sendiri.


"Ya tentu saja, kenapa membuat El tertawa seperti itu?"


"Hahhh..." semua orang mengernyit.


"Ada apa dengan tertawa El Tuan?" tanya Adel.


"Dia membuatku tersedak."


" Saya tidak melakukan apapun Tuan, dan Anda minum sambil berdiri. Jadi Anda tersedak," jawab Adel tak terima.


"Kau menyalahkan ku?" tanya Henry.


"Tentu saja itu salahmu sendiri Tuan." Adel melenggang, membawa El untuk disuapi bubur.


"Dasar manusia kutub, salah dia sendiri tidak hati hati. Malah melimpahkan kesalahannya pada orang lain." Adel terus menggerutu.


"Hah dasar wanita menyebalkan, aku harus berangkat Ama, Mom," ucap Henry bergegas pergi.


Nyonya Amel dan Ama hanya memperhatikan perdebatan mereka. Mereka berdua saling melirik. Ternyata Adel berani membantah perkataan Henry. Ini sesuatu yang luar biasa.


"Mam, sepertinya kita akan punya hiburan menarik setiap hari," ucap Nyonya Amel setelah Henry pergi.


"Yah kau benar Mel, dan aku sangat menikmatinya," ucap Ama.


"Hahahaaaa...." Mereka berdua tertawa berjamaah.


TBC


Terima kasih yang masih setia menantikan Baby El, dan juga untuk dukungannya.

__ADS_1


Yang belum, semoga berkenan tinggalkan like komen dan vote ya


Terima kasih


__ADS_2