
Dukung author dengan like komen dan vote sebanyak-banyaknya.
Happy Reading
💐💐💐💐💐💐💐
Dua hari berlalu, Arga tak pernah lagi datang ke mansion Syahreza. Dia juga tak datang ke kantor, bahkan nomor ponselnya tidak aktif. Hal itu membuat semua orang merasa bersalah padanya, tetapi Henry meyakinkan, bahwa Arga butuh waktu untuk sendiri.
"Son, bagaimana Arga? apa dia menghubungi mu?" tanya Tuan Abimanyu, mereka baru saja selesai sarapan pagi. Sekarang hari minggu jadi mereka akan bersantai.
"Yah seperti biasa, mungkin dia masih marah dengan ku." ucap Henry, meletakkan cangkir yang baru saja dia teguk beberapa kali isinya.
"Haish, ini sudah hari ketiga, dan dia sama sekali tak memberi kabar pada kita. Tak biasanya dia marah selama ini." Tuan Abimanyu menghela nafas panjang.
"Yah, Daddy mu benar, apa tidak sebaiknya kau membujuknya?" ucap Nyonya Amel yang baru saja bergabung.
"Dia bukan El, yang masih bayi, dan dia pasti tau apa yang harus dia lakukan."
"Tapi Mommy benar-benar takut terjadi apa-apa padanya." Nyonya Amel merasa ada sesuatu yang terjadi pada Arga.
"Sudahlah Mom, Henry benar, kalau besok masih sama, aku sendiri yang akan kesana." ucap Tuan Abimanyu menenangkan istrinya.
"Terserah kalian saja, bagaimana liburan mu?" ucap Nyonya Amel pasrah, dia juga tahu Arga lebih keras kepala dibanding Henry.
"Bagaimana aku bisa pergi Mom, kalau Arga masih begini. Lagi pula besok Adel sudah harus kembali ke kantor." Henry menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi.
"El kan bisa sama Mommy, disini kan banyak yang menjaganya."
"Kalian tau sendiri El seperti apa? dia hanya mau Mami dan Mami." Henry mendengus, dia kesal setiap mengingat moment bahagianya yang selalu diganggu bocah gembul itu.
"Jangan bilang kamu cemburu! Hahaha..." Nyonya Amel tertawa meledek, diikuti Tuan Abimanyu.
"Siapa yang cemburu? ah sudahlah, lebih baik aku menyusul mereka." Henry meninggalkan kedua orang tuanya, menyusul Adel dan El yang sedang bermain tak jauh dari tempatnya duduk.
"Hahaha... Lihat putra mu Dad, dulu dia sangat anti dengan Adel dan El, sekarang mereka tak bisa berpisah lama."
"Kau benar Mom, dia sudah terkena virus bucin." Tuan Abimanyu membenarkan ucapan istrinya.
"Bucin? makanan apa itu Dad?" Nyonya Amel pura-pura tak tahu.
"Itu sejenis obat anti depresi Mom." Keduanya kembali tertawa.
"Hai sayang, main apa nih?" ucap Henry mengecup pipi Adel.
"Kau ini bertanya pada siapa?" tanya Adel kesal, dia sedang konsentrasi dengan tanaman ditangannya.
"Adel, Mami El, istriku sayang." Henry menyeringai.
"Iya suamiku sayang." Adel memegang wajah Henry dengan kedua tangannya. Henry tak menyadari jika tangan El kotor dengan sisa tanah yang ada ditangan Adel.
"Aih istriku mulai nakal, sejak kapan mulut mu bisa manis seperti ini? hmmm..."
"Sejak saat ini." Adel menujulurkan lidahnya, dia berlari kearah El yang bermain bola bersama Wulan.
"El, lihat Daddy mu jorok iuh, tolong Mami."
"Daddyyyyy... canah, ih joyok." El menjauh saat Henry akan memeluknya.
"Hahaha... Tuan, itu masker model terbaru ya?" Wulan menunjuk wajah henry yang belepotan tanah.
Akhirnya kamu bisa tertawa lagi Lan, meskipun aku harus mengorbankan Daddy El. Hahaha... Kau sudah berjasa Dad.
Beberapa hari ini, Wulan tampak murung, tak lagi bawel seperti biasanya. Dia masih menyalahkan dirinya, atas perginya Arga. Bahkan Wulan sudah mencoba menghubungi ponsel Arga, namun tak pernah terhubung. Pesan juga tidak masuk, tetapi setiap hari dia selalu mengirim pesan padanya, yang isinya permintaan maaf. Wulan berharap jika Arga mengaktifkan ponselnya, pesan yang dia kirim bisa dibaca Arga.
"Ahaaaa.. Nooo.." El berlari menjauh.
"Mamiii... tunggu pembalasan ku..." mereka bertiga main kejar-kejaran.
Wulan hanya menonton drama keluarga bahagia itu. Dia turut bahagia, akhirnya El benar-benar memiliki ibu, begitu pula Adel. Dia banyak tahu tentang kehidupan mereka dari awal hingga saat ini.
"Rencana Tuhan memang lebih indah, aku juga berharap bisa seperti mereka." Wulan menyunggingkan senyumnya tipis.
"Jika memang aku ditakdirkan bersamanya, apapun jalan yang ku lalui, kami masih akan tetap bersama, tetapi jika memang dia bukan ditakdirkan untuk ku, aku berharap Tuhan bisa merubah takdirnya. Dan bisa bersama dengannya." Wulan tak kuasa menahan air matanya.
"Lan, apa kau belum cukup? setiap hari air mata mu itu mengalir, apa kau tak takut akan kekeringan?" ledek Adel yang tiba-tiba duduk di sebelahnya.
"Sembarangan, mana ada air mata habis? kalau habis tinggal didisi ulang." ucapnya enteng, Wulan segera menepis jejak air mata diwajahnya.
"Kau ini, isi ulang dikira air galon ada isi ulang." Keduanya tertawa bersama, mereka duduk mengawasi ayah dan anak yang sedang asyik bermain air dari keran.
Henry sedang membasuh wajahnya, ketika El datang dan menyemprotkan air dari selang. "Daddy, andi nih."
"Heiii... Daddy udah mandi tadi." teriak Henry menutupi wajahnya.
"Beyum, tuh macih bau." El menutup hidungnya.
"Kau yang belum mandi, bocah gembul." Henry mengejar El yang masih membawa selang air.
"Dak bica, weeekkkk." El tertawa senang, bisa mengerjai Daddy nya. Setiap Henry mendekat, El selalu menyemprotkan air ke wajahnya.
"Awas kau ya." Henry menangkap El dari belakang. Membuatnya tak bisa berkutik.
"Aaaaa... Mammiiii... toyonnnn..." El berteriak ketika Henry mengangkat tubuhnya.
__ADS_1
"Minta ampun gak?" Henry memutar tubuh El bersamanya.
"Noooo... Nooo apunnn." teriaknya.
Henry kembali mengayun tubuh El, setelah puas dia menggelitik tubuh El yang juga basah karena dipeluknya. "Aaaaa... apunnnn, El dak nakal, pyissss."
"No ampunnnn..."
"Dadddd... apunnnn." Henry baru berhenti saat El hampir menangis.
"Oke, Daddy ampuni, tapi gak boleh jahil lagi." El mengangguk, dia kembali meraih selang air yang masih menyala.
"Ahahahaaa...." El tertawa senang, diikuti empat orang dewasa yang ada disekitarnya.
"Sudah, nanti kalian masuk angin, cepat mandi dan ganti baju." Adel mematikan keran air, dia berjalan mendekati El, dan melemparkan selang air didekat keran.
"Mau nya dimandiin." ucap Henry manja, dia mendapatkan tatapan membunuh dari Adel.
"Kita mandi bareng, oke El." Henry merayu El.
"Otey, andi bayeng." mereka saling menunjuk jempol masing-masing.
"Lets go."
"Et go Dad." Henry mengendong El, tak lupa merangkul Adel, sehingga membuatnya memarahi keduanya.
"Daddy, jadi basah kan bajuku." Adel mendengus.
"Kita mandi bareng, bertiga." Henry mengedipkan sebelah matanya, tanpa melepas sebelah tangannya di pinggang Adel. Dan satu tangan menopang tubuh El.
"Haddeh, kalian ini gak ada puasnya ngerjain Mami." Adel menepuk keningnya pelan, meski begitu, dia sangat bahagia dengan perlakuan Henry. Manusia kutub sepertinya sudah mencair, karena pemanasan kasih sayang, jadilah lautan bucin dimana-mana.
...----------------...
Adel sudah mendikan El, dibantu Wulan yang memakaikan baju El. Adel juga sudah berganti pakaian. Tak lupa menyuruh Wulan juga berganti pakaian. "Mau kemana kita?"
Kalimat ini mengingatkan ku pada film dengan anak rambut pendek dan si monkey. Yang suka tanya dimanakah? padahal dah tau taoi nunggu anak panah. Hahaha... 'Mau kemana kita?'
"Jalan-jalan, aku mau ke rumah Eyang." jawab Adel, dia meninghalkan El bersama Wulan.
Dikamarnya, Henry sudah tampan dengan pakaian casual yang Adel siapkan. "Jangan memandangi ku seperti itu sayang, aku tau kalau suamimu ini tampan." Henry menyaringai, menampilkan deretan giginya.
"Siapa juga yang memandangi mu? Kau menghalangi ku." ucap Adel ketus, dia sedang berhias, saat Henry tiba-tiba ada di belakangnya.
Tapi kamu memang tampan hari ini. suamiku.
"Nah kan, senyum-senyum sendiri, kayak yang lagi baca novel."
"Ish, kau ini, kepercayaan dirimu tinggi sekali." Henry meraih hair dryer ditangan Adel, dan membantunya mengeringkan rambut.
"Nah sudah cantik." Adel sengaja mengurai rambut panjangnya, namun Henry tak memperbolehkan, jadilah Adel menguncir dibelakang.
"Dad, sebenarnya kau mau bawa kita kemana?" Adel berbalik badan, menatap Henry yang tinggi menjulang dihadapannya.
"Nanti kamu juga tau sayang." Henry membantu Adel berdiri, dia mengecup bibir Adel sekilas dan membawanya dalam pelukannya. Tak lupa dia mengecup kening Adel dengan penuh sayang.
"Dad, Wulan dan El sudah menunggu." Adel menjauhkan tubuhnya.
"Gak papa, nunggu sebentar aja." Henry kembali memeluk Adel dari belakang, dagunya bersandar pada bahu Adel. Henry sedikit membungkuk karena tingginya.
"Huh kamu ini, kan masih ada lain waktu." Henry membalik Adel.
"Tapi yang ini gak bisa nunggu lagi." Henry melirik bagian bawahnya.
"Dasar mesum." Adel segera meraih tas selempangnya, dia meninggalkan Henry yang tertawa puas.
"Hahaha.. Sayang, wajahmu sangat imut kalau sedang malu-malu." teriak Henry membuntuti Adel dibelakangnya.
Wulan dan El sudah menunggu dibawah, semua keperluan El juga sudah dipersiapkan di dalam mobil.
"Jo, hari ini aku akan menyetir sendiri." ucap Henry sebelum mereka memasuki mobil. Tak lupa mereka berpamitan dengan kedua orang tua dan juga Ama.
"Tapi Tuan,..."
"Sudahlah! ini tips buat kamu." Henry menyelipkan lipatan uang merah disaku Bejo.
"Terima kasih Tuan, hati-hati dijalan." Bejo melambaikan tangannya.
Mobil yang dikemudikan Henry melesat, membelah jalanan ibu kota. Jalanan tak terlalu padat karena sekarang hari minggu, hanya beberapa tempat keramaian yang terlihat sedikit merapat.
Ini bukan jalan kerumah Tuan Wira, sebenarnya kemana tujuan mereka membawa ku sih? kenapa perasaan ku tiba-tiba gak enak.
Wulan bertanya-tanya dalam hati, namun memilih bungkam. Dia menyibukkan diri menemani El yang duduk disebelahnya. Adel mendamping sang suami menyetir, tak jarang mereka saling melempar candaan. Untuk mengurangi bosan.
30 menit perjalanan, Henry memarkirkan mobil mewahnya pada bangunan pencakar langit yang terlihat cukup tinggi. Interior yang cukup mewah, sepertinya hanya kalangan berdompet tebal yang tinggal disini. Wulan masih belum mengerti, mungkin mengunjungi rekan Henry atau Adel. Pikirnya.
Adel menenteng kotak makan yang dipersiapkan Mommy sebelumnya. El bersama Daddynya, Wulan hanya membawa dirinya sendiri, mengikuti dua orang majikan didepannya.
"Dad, apa itu?" tunjuk El pada patung yang ada didekat lobby. Saat ini El mulai banyak bertanya, ketika melihat hal menarik yang belum dia tahu.
"Itu patung sayang."
"Oooo.. pantun."
__ADS_1
"Bukan pantun, tapi pa-tung. Apa namanya?"
"Patun."
"Terserah kau saja."
Setelah menaiki lift, mereka sampai disebuah flat. Henry yang mengetuk pintu, Adel dan Wulan jauh dibelakangnya. "Tolong bawakan ini Lan, tangan ku sedikit kram membawa ini." Adel menyerahkan kotak makan yang dia bawa.
"Lebay, biasanya juga ngangkat karung beras." sindir Wulan, namun dia tetap mengambil benda itu.
"Hust, jangan kenceng-kenceng, kalau ada yang denger gak enak."
"Biar suamimu tau, istrinya juga jago."
"Sssttt." Adel mengisyaratkan Wulan untuk diam.
Setelah beberapa saat, pintu terbuka, Henry nyelonong masuk tanpa menunggu dipersilahkan. Arga hanya geleng-geleng kepala dengan tingkah Henry. Sudah terbiasa jika dia melakukan hal itu.
"Ooommmm..." teriak El saat melihat Arga. Dia hendak menutup pintu, ketika ada dua orang wanita yang juga turut bersama Henry.
"Mau apa kalian kesini?" ucap Arga dingin, dia berbalik, tak jadi menutup pintu.
"Ooommmm..." rengek El. Henry sengaja mengajari El, untuk memanggil Arga Om.
"Kau ini, baru beberapa hari tak bertemu, sudah lupa padaku." Arga mendengus.
"Nooo.. itu Daddy."
"Pasti Daddy mu yang mengajari mu."
"Emmm." El menganggukkan kepalanya, dia duduk dipangkuan Arga.
"Jadi kau tak mempersilahkan tamu untuk duduk?" ucap Adel menyindir.
Tamu tak diundang.
"Silahkan duduk Nyonya." Arga memaksakan senyumnya.
"Terima kasih." Adel duduk disebelah Henry. Namun Wulan masih tertegun ditempatnya, dia melihat sekeliling, sangat rapi untuk tempat tinggal cowok single.
"Kau juga." ucap Arga datar, membuat Henry dan Adel saling melirik.
"Siapa? saya?" ucap Wulan polos. Arga tak menjawab, dia sibuk meladeni El yang ceriwis.
"Dad, kita sudah ditunggu Eyang." ucap Adel tiba-tiba.
"Ah ya, aku lupa, El ayo kita jalan-jalan lagi, Eyang pasti sudah tak sabar ingin bertemu dengan mu." Henry mengambil El dari pangkuan Arga.
"Oye, ayan-ayan agi." El bertepuk tangan kegirangan.
Wulan juga ikuy berdiri, namun Adel mencegahnya. "Lan, kamu disini dulu ya."
"Tapi siapa yang menjaga El? kalau dia rewel bagaimana?" Wulan masih enggan berduaan dengan Arga. Meskipun dia ingin sekali bertanya tentang keadaanya.
"Kau lupa? ada Mami dan Daddy." Henry menunjuk Adel dan dirinya bergantian.
"Dad, ayo ayan-ayan." El sudah tak sabar.
"Tapi..."
"Ini perintah." Henry dengan wajah garang. Membuat Wulan harus menurut.
"Bye Mam... Bye Om..." El mengibaskan tangannya, dadah pada dua orang yang saling terdiam.
"Papa sayang." Henry mengingatkan.
"Bye Papa... Bye Mama..." El mengulangi lagi. Adel terkekeh dengan kekompakan ayah dan anak ini.
"Dad, tadi Om, teyus Papa." tanya El polos.
"Emmm ya, panggil Papa aja ya."
"Otey."
"Kalian berdua, benar-benar foto copyan." ucap Adel mensejajari langkah suaminya yang sedikit pelan.
Akhirnya mereka meninggalkan Wulan disana. Sebenarnya ini rencana mereka, agar keduanya bisa berbaikan. Mungkin dengan keduanya bicara dari hati ke hati, mereka bisa terbuka satu sama lain.
"Aku lelah, mau istirahat." Arga meninggalkan Wulan yang masih membeku, dia juga masih memegang kotak makanan yang diberikan Adel padanya.
Arga merebahkan dirinya diatas ranjang miliknya, beberapa hari ini, dia hanya berbaring diranjang. Karena kondisi tubuhnya yang tak memungkinkan. Wajahnya juga masih sedikit pucat, terlebih dia baru saja minum obat yang membuatnya harus segera tidur.
TBC
.
.
Upnya yang banyak thor, boleh asalkan dukungan juga ditambah donk. Hehehee...
Sebelumnya bisa up dua kali, sekarang cuma satu? iya mulai saat ini, hanya bisa satu kali up, tapi, eh tapi yang biasa 1k kata, sekarang 2k kata loh.
Kok bisa? dua chapter aku gabung, biar gak kepanjangan episode tapi puas yang baca.
__ADS_1
Sekian.
TERIMA KASIH