Ibu Untuk Tuan Muda

Ibu Untuk Tuan Muda
S2-62


__ADS_3

Happy Reading


💐💐💐💐💐💐


Tamu undangan satu per satu meninggalkan tempat acara, tersisa keluarga yang masih ada disana. Semuanya tampak lelah, tak terkecuali sepasang anak manusia yang tengah mengecap manisnya kebahagiaan.


Keluarga besar menginap di hotel yang sama, dengan tempat diadakannya resepsi pernikahan Wulan dan Arga. Henry mengundang semua relasi yang mengenal Arga, begitupun Nyonya Amel dan Tuan Abimanyu. Acara berlangsung megah seperti saat perayaan Henry dan Adel.


"Mamiii... Bobok..." El tampak sangat lelah, terlenih ia tidak tidur siang tadi.


"Iya sayang, kita tunggu Daddy ya." Adel celingukan mencari suaminya ditengah kerumunan. Sisi, pengasuh El sudah lebih dulu kembali ke kamarnya. Adel sengaja ingin bersama El seharian ini. Lagi pula dia tak terlalu sibuk dengan tamu yang hadir.


"Dadddd... Ayokkk bobo..." El melihat Daddynya yang berjalan mendekat.


"El udah mau bobo?" El mengangguk, wajahnya lesu. Henry segera membawa El dan istrinya untuk beristirahat di kamar mereka. Sebelah tangannya menumpu tubuh El, dan sebelah lagi merangkul pinggang istri cantiknya.


Baru sampai di lift, El sudah berkelana menuju dunia mimpi. "Dad, awas kepala El terbentur." icwp Adel saat menyadari kepala El yang bersandar pada bahu suaminya mulai miring kesamping.


"Kasihan sayangnya Daddy, pasti lelah ya." Henry memegangi kepala El dengan satu tangan yang lainnya. Ia juga mengecup kening El cukup lama.


Henry meraih tangan Adel untuk menggandeng lengannya. "Dad, susah ih." Adel menjauhkan tangannya.


"Biar romatis sayang."


"Romantis apaan? yang ada Aku susah jalannya." terlebih tangan Adel memegangi gaun yang panjang menutupi mata kakinya.


"Sayang kita jangan mau kalah dengan Arga dan Wulan." bisik Henry dibelakang Adel.


"Dad, jangan mesum." Adel mencubit pinggang Henry hingga mengaduh.


"Aww.. lagi dong." Bukanya marah, Henry malah semakin menggoda istrinya yang lebih dulu meninggalkannya. Henry terkekeh dan segera menyusul istrinya yang merajuk.


Perlengkapan El sudah diantarkan Sisi ke kamar yang Adel tempati, Ia segera mengganti pakaian El dengan piyama. Tak lupa mengelap tubuh si gembul dengan air hangat.


Terima kasih Tuhan, Engkau telah mengirimkan dua malaikat dalam hidup ku. Karenanya Aku bisa keluar dari lembar keterpurukan. Jaga mereka untuk ku, agar kami bisa bersama selamanya.


Henry hanya bisa membatin, menatap sendu pada wanita yang telah mendampinginya hampir setahun ini. Wanita kuat yang telah mengalami berbagi macam kesulitan, hingga akhirnya sampai di titik ini.


Adel menatap heran suaminya yang sedari tadi sibuk melihatnya tanpa berkedip. "Dad, bukankah tadi bilang mau mandi?" Adel merapikan peralatan yang dia gunakan untuk membersihkan tubuh El.


"Maunya dimandiin." ucapnya manja.


"Bayi besar, sudah sana mandi, Aku sudah siapkan air hangatnya. Nanti malah keburu dingin." Adel meninggalkan Henry yang masih mematung, bahkan setelah Adel kembali ia masih dalam posisi yang sama.


Adel menghela nafas sejenak, bayi besarnya sedang manja. Melebihi El jika manjanya kambuh. Henry sudah tak sabar melihat Adel yang seperti siput menurutnya. Ia segera mengangkat Adel dan membawanya ke kamar mandi.


"Dad, turunkan Aku." Adel meronta, namun Henry segera membungkam Adel dengan bibirnya.


"Emmm..." percuma juga ia memberontak, akhirnya Adel hanya bisa menurut. Dan mereka tak mau kalah dengan pasangan pengantin baru itu.


...----------------...


"Lan, sebaiknya Kamu istirahat dulu. Aku antar Kamu ke atas." ucap Arga yang melihat Wulan sudah tak nyaman.


"Gak usah, masih ada tamu disini." Wulan merasa tak enak dengan tamu undangan yang masih tersisa beberapa orang.


"Tak apa, Aku pamit Daddy dulu." Arga meninggalkan Wulan, ia menemui Daddy dan Henry yang saat itu masih menjamu tamu. Obrolan mereka tak jauh-jauh dari bisnis.


"Dad, Aku antar Wulan ke atas dulu." pamitnya, disana hanya tinggal beberapa orang yang sengaja tinggal untuk membicarakan bisnis dan kerja sama.


"Pergilah! Kau juga beristirahat, lagi pula acara sudah selesai." Tuan Abimanyu menepuk bahu Arga beberapa kali.


"Ga.." Panggil Henry.


"Yah, ada apa?" Arga berbalik menuju tempat Henry duduk bersama tiga orang yang dia anggap sahabatnya. Henry menyuruhnya mendekat, sehingga Arga harus sedikit membungkuk.


"Hati-hati, jangan buat anak orang nagis malam ini." ucapHenry sedikit pelan.


"Asah pedang dulu, masih tumpul soalnya." celetuk Edo, sontak mendapat lirikan tajam dari sang istri yang duduk diseberang mejanya bersama Nia dan pasangan wanita Alvin.


"Jangan buru-buru Ga, perlahan tapi pasti." Alvin mengedipkan sebelah matanya. Ketiga orang itu sengaja menggoda Arga.


"Heii... makanya praktekin, jangan taunya teori aja." celetuk Henry.


"Iya-iya, mentang-mentang sudah berpengalaman. Ga, Kau harus banyak belajar dari mereka berdua." ucap Nathan meninju lengan Arga.


"Eits kalian lupa? Aku sudah mengajarinya private beberapa waktu ini. Kalian lupa siapa Aku ini?" ucap Henry membanggakan diri.


"Hmmm... master chifu.." ledek Edo.

__ADS_1


Arga hanya tersenyum simpul menanggapi mereka bertiga. "Sudah baca pidatonya?" ucapnya kemudian.


"Sebenarnya masih banyak, tapi kasihan Wulan terlalu lama menunggu. Hahahaa...." ucapan Alvin mengundang gelak tawa diantara mereka berempat.


Arga menjemput Wulan yang masih duduk di singgasananya. Namun gaun yang di kenakan Wulan menjuntai dan harus dibantu orang lain. Sehingga ia kesulitan berjalan, terlebih lagi heels yang dia kenakan cukup tinggi.


Tanpa banyak bicara, Arga segera menggendongnya di depan. Sehingga para tamu terutama keempat geng semprul kembali riuh. "Ga, Aku bisa jalan sendiri, malu." Wajah Wulan sudah semerah tomat menahan malu, menyembunyikan wajahnya pada tubuh atletis Arga. Tetapi tidak dengan Arga yang cuek dan teris berjalan tanpa memedulikan cuitan dari mereka.


"Memangnya kenapa harus malu. Kamu kan istri Aku." ucap Arga enteng.


"Cuit-cuit, jangan lupa kado dari kita dibuka ya." ledek Adel bersama Nyonya Amel.


"Dipakai Lan."


"Tuan, jangan kasih kendor." ucap Bejo yang juga menggoda mereka.


"Hahaha.. kapan lagi bisa godain atasan? kalau biasanya pasti aku sudah dibasmi sampai habis." gumam Bejo dalam hati.


Sesampainya di lift, Arga menurunkan Wulan perlahan, namun tangannya tak lepas dari pinggang istrinya. "Aku bisa sendiri." Wulan masih merasa canggung. Apalagi mereka berdua sangat dekat sekarang. Wulan tak bisa mengendalikan detak jantungnya sendiri, begitupun Arga.


Keduanya terdiam cukup lama. Sampai pintu lift terbuka, Arga kembali mengangkat Wulan, sehingga Wulan dapat dengan mudh mendengar detak jantung Arga yang sama sepertinya. Wajah Wulan kembali memerah, mengingat sekarang sekarang ini ia sudah menjadi seorang istri. Henry sengaja memilih kamar presidensial suit untuk pasangan pengantin baru ini. Adel juga turut serta dalam penataan dekorasinya.


Arga menurunkan Wulan dengan hati-hati, mereka duduk bersebelahan pada ranjang yang penuh dengan taburan kelopak mawar. Namun masih bisu, masih canggung tanpa ada yang berniat memulai percakapan.


"Emmm.. Ga, sebaiknya Kamu duluan yang mandi." ucap Wulan, ia sebenarnya sangat lelah. Namun ia mencoba menahannya, Bagaimanapun ia masih belum terbiasa berdua dengan Arga. Meski sekarang Arga telah resmi menjadi suaminya.


"Kamu gak mandi?"


"Aku mau hapus riasan dulu." Arga melonggarkan simpul dilehernya yang terasa mencekik. Perlahan Arga mulai melucuti setelan tuxedonya di depan Wulan.


"Ga, jangan disini." Wulan menutupi wajahnya dengan telapak tangannya. Saat Arga hendak membuka kaos ketat yang membalut tubuhnya.


"Memangnya kenapa? Sah-sah saja kalau Kau melihat Aku telanj*** sekalipun." Arga sengaja menggoda Wulan yang mulai panik.


"Ga cepat sana masuk." Wulan mendoromg tubuh Arga, namun hanya bergeser beberapa langkah.


"Iya-iya, tapi..." Arga segera meraih tengkuk Wulan dan melahapnya dengan rakus.


"Emm... Gaa..." nafas Wulan tersengal, ia belum terbiasa melakukannya.


"Lain kali jangan lupa bernafas." Arga menyeringai meninggalkan Wulan yang merah padam menahan malu dan grogi. Bagaimanapun ini pertama kalinya Wulan berciuman cukup dalam. Sebelumnya hanya sekedar kiss, itu juga hanya sekilas.


"Aww.. Kaki ku pegal sekali." Wulan memijit pergelangan kakinya yang memerah, ia merebahkan tubuhnya sejenak. Rasanya sangat nyaman setelah seharian berdiri dan hanya duduk sebentar.


"Kenapa susah banget sih?" Wulan menggrutu sambil tangannya meraih pengait yang baru terbuka sebagian.


"Biar Aku bantu." ucap Arga tiba-tiba dibelakangnya.


"Aaaa.... Pakai bajumu. Aduh, mata ku tercemar." Wulan segera berbalik dan kembali menutupi wajahnya. Namun ia lupa bahwa punggungnya telas terekspos sebagian.


Gluk. Arga menelan ludahnya kasar, ia tak henti menatap punggung mulus Wulan.


"Udah belum?" Wulan mengintip sebentar, namun Arga masih dalam posisinya semula. Wulan kembali berbalik. Arga sengaja menghampiri Wulan dan berdiri didepannya. Ia membuka tangan Wulan perlahan.


"Kenapa masih..." Arga kembali melahap bibir Wulan, namun kali ini ia m3mbiarkan Wulan mengambil nafas sejenak. Dan kembali melanjutkan aksinya. Arga mengikis jarak diantara mereka dengan menarik tubuh Wulan semakin mendekat. Sehingga Wulan bisa merakan ada sesuatu yang mengeras di sana.


Wulan segera menjauhkan diri, memdorong Arga dan berlari ke kamar mandi dengan memegangi kedua ujung gaunnya. "Wulan, kenapa harus lari? lagipula cepat atau lambat kamu pasti akan dilahapnya sampai habis." Wulan memandangi wajahnya yang masih bersemu, serta bekas ciuman Arga yang masih terasa hangat.


Cukup lama Wulan di dalam kamar mandi, ia tak tahu bagaimana membuka gaun yang menyiksanya. Dengan susah payah akhirnya ia bisa membukanya, meski membutuhkan tenaga dan kesabaran. "Duh, Aku lupa bawa baju ganti juga, bagaimana aku bisa keluar dengan begini?" Wulan melirik pantulan dirinya dicermin yang hanya berbalut selembar handuk.


Ia melirik gaun indah yang teronggok begitu saja di lantai, gak mungkin ia mengenakan gaun itu lagi. Wulan sibuk mondar-mandir di dalam kamar mandi, berharap Arga sudah tidur lebih dulu.


"Wulan ngapain sih? jangan-jangan dia tidur di kamar mandi?" Arga melirik ke arah pintu, tak kunjung terbuka. Ia mulai cemas takut terjadi apa-apa dengan Wulan. Akhirnya Arga memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar mandi. Namun sebelum itu terjadi, Wulan lebih dulu membuka pintu, sehingga tangan Arga mengenai kening Wulan.


"Arrgaaaaa.... Kau kira jidat ku ini apaan?" Wulan berteriak melupakan penampilannya.


Arga kembali menelan ludahnya dengan susah payah, ia ternganga melihat tubuh Wulan yang terekspos sebagian. Dan pandangannya terpusat pada pah mulus serta leher jenjang Wulan karena rambutnya dicepol asal-asalan. Dan juga dua g**dukan yang begitu menggodanya. Wulan mengikuti arah pandangan Arga dan kembali menutup pintu, sekarang kening Arga yang harus rela mencium pintu kamar mandi.


"Lan, Kau..." Arga segera berbalik menuju ranjang, memegangi keningnya yang memerah. Ia sengaja menyembunyikan dirinya di balik selimut.


Wulan kembali mengintip, tak mendapati Arga lagi. Ia berjalan mengendap-endap membongkar koper yang ia siapkan sebelumnya. Ia mengacak-acak isi koper, namun ia hanya menemukan dua potong baju dan dalaman.


"Dimana sih? perasaan Aku sudah memasukkan semuanya. Kenapa hanya ini disini?" Wulan kembali mencari, di lemari juga kosong hanya ada jaring ikan yang tergantung disana.


"Iuhhh... apalagi ini? masa iya aku tidur begini?" Wulan menggerutu, tak menukan piyamanya.


"Gak usah pakai baju aja." Arga bersedekap tangan disampingnya. Ia juga masih mengenakan handuk yang melilit dipinggangnya.


"Ga, apa bajumu juga hilang?" Wulan segera berdiri dan bertanya dengan polosnya.

__ADS_1


"Emmm.. Ku rasa begitu."


"Siapa pelakunya? Aku sudah menyiapkan semua keperluan ku semalam." Wulan tampak berfikir, naun tak menemukan apa yang dicarinya.


"Sudah ku bilang, begini lebih baik." Arga berjalan mendekat, Wulan melangkah mundur hingga menabrak tembok.


"Nanti masuk angin." ucapnya menghindari tatapan Arga yang begitu mendamba.


"Kita saling menghangatkan." Arga mengunci tangan Wulan dengan kedua tangannya, suasana semakin memanas dengan lampu temaram yang berkelap-kelip berwarna-warni.


Tanpa sadar, Wulan mengalungkan kedua tangannya ke leher Arga. Arga yang mendapat lampu hijau tambah bersemangat. Ia menggendong Wulan di depan, tanpa melepas tautan bibir mereka.


Arga merebahkan Wulan perlahan, namun keduanya terlonjak saat suara kucing tiba-tiba terdengar saat suasana sedang memuncat. Arga dan Wulan saling berpandangan, mana ada kucing di kamar hotel seperti ini? pikir mereka.


Suara kucing hilang dengan sendirinya, Arga kembali menerkam Wulan dengan ganas, tak hanya bibir Wulan, ia mulai menjelajah tempat lain. Dering ponsel Arga mengalihkan perhatian mereka. Ada nama Mommy disana. Arga segera menggeser ikon hijau dilayar.


"Mom..."


"Iya Ga, ini Mommy. Mommy sama Daddy hanya ingin mengucapkan selamat untuk kalian berdua. Jangan lupa kado dari Mommy dibuka ya. Dan ya, jangan lupa buatkan cucu yang banyak untukku." Nyonya Amel berusaha menahan tawanya, ia tahu pasti momen ini sangat pas.


Bukankah tadi sudah berulang kali Mom memberiku doa dan selamat? Dan cucu apa kalau baru pemanasan saja sudah di ganggu.


"Halo, Ga... Kamu masih disana kan?"


"Ah iya Mom, ada apa lagi yang perlu dibicarakan?" Arga berusaha menahan gejolak yang mulai membara.


"Mom rasa sudah cukup."


"Kalau begitu Arga matikan ya." pamitnya, ia masih berbicara sopan dan mematikan panggilan.


"Ada apa Ga?" tanya Wulan yang sekarang sudah berpakaian. Ia mengenakan kaos Arga yang kebesaran untuknya. Dari pada tidak sama sekali pikir Wulan.


"Apa-apan ini? Kenapa Kamu pakai baju Aku?" Arga mengacak rambutnya kasar.


"Arga, Aku hak ada baju lagi, masa iya Aku tidur pakai gaun?" Arga hanya bisa mendesah frustasi.


"Ya sudah tidurlah!" Arga masuk kedalam selimut, dan menutupi tubuh Wulan sebagian.


"Ga, Kamu marah?" Wulan mengguncang lengan Arga yang berusaha memejamkan matanya.


"Aku gak marah, sekarang tidurlah, Kamu pasti lelah." Arga mengecup sekilas kening Wulan.


"Ga..." Wulan kembali merengek, sehingga gejolak pada diri Arga yabg baru meredup kembali terbangun. Tak menyia-nyiakan kesempatan, Arga segera mengungkung Wulan di bawah tubuhnya. Mereka kembali memulai hal yang sempat tertunda. Dan saat suasana kembali memanas, ponsel Wulan berdering.


Pertama dia abaikan, kedua Arga melarangnya, ketiga Arga mulai geram. Panggilan keempat, Wulan segera mengangkat telepon yang ternyata dari Lintang.


Ada apa Lintang malam-malam menghubungiku?


"Halo Lin, ada apa malam-malam menelepon Kakak?" Wulan takut terjadi sesuatu pada Lintang, itu terdengar dari suaranya yang mencemaskan adiknya.


"Lin, Kamu dengar Kakak kan?" Wulan mulai panik , tak ada jawaban dari Lintang. Arga mengambil ponsel Wulan dan memencet luodspeaker.


"Lin, Ini Kak Arga, Kamu dimana?" Arga ikut cemas dengan keadaan Lintang.


"Kak, Aku takut..." suara Adel yang menyahuti.


"Takut kenapa? Kamu dimana? sama siapa?" Wulan setengah berteriak karena panik.


"Hahahaa...." Adel tak dapat menahan tawanya. Ia dan Henry yang berada di sampingnya turut tertawa hingga mengeluarkan air matanya.


"Anda kena prank." ucap Henry dengan kekehan.


"S**l kalian berdua, ganggu orang aja malam-malam gini." Arga mendengus sebal pada pasangan absurd itu.


"Ehh tunguu, tunggu sebentar ini benaran ada yang mau aku sampaikan." Henry mengubah nada suaranya menjadi serius.


"Lan, Wulan... Ini Adel. Selamat ya akhirnya kalian sekarang sudah sah, sudah resmi menjadi istri Arga. Dan juga jadi adik ipar Aku." Adel menggigit bibir bawahnya karena menahan tawa.


"Hmmm..."


"Oh ya Wulan, Kamu sudah buka kado dari kita belum? Tolong dibuka ya. Kalau nunggu besok takut basi."


"Memangnya apaan basi?"


"Kalian buka sendiri, jangan lupa gunakan sekarang juga. Kalau gak Aku marah." Adel menutup telepon sepihak, ia dan Henry melanjutkan tertawanya yang tertunda. Beruntunglah El sudah lelap ke dalam mimpi. Kalau tidak mungkin El yang akan meremgek minta tidur bareng Mama dan Papa Arga.


TBC


Cukup sampai disini dulu ya... Ingat! jangan senyum-senyum sendiri. Apalagi tertawa malam-malam, nanti digerebek tetangga. Paling minim sih dianggap gak waras.

__ADS_1


Eits, jangan lupa dukungan untuk Papa Arga dan Mama Wulan ya.


TERIMA KASIH


__ADS_2