
Happy Reading
💐💐💐💐💐💐
Arga dan Fauzi aling melempar pandangan, seperti ada kilatan listrik yang menyengat diantara keduanya.
"Ehm, bisa kita lanjutkan." Suara Henry memecahkan ketegangan diantara keduanya.
"I-iya Tuan."
"Silahkan."
"Urusan kita belum selesai." Arga bicara melalui sorot matanya.
"Baiklah! kalau kalian masih mau melanjutkan silahkan diluar ruangan ini." Henry kesal dengan sikao keduanya yang kekanakan.
"Maaf Tuan, sebenarnya ada masalah apa samapai Anda datang sepagi ini?" tanya Fauzi.
"Kau ini bodoh atau pura-pura bodoh?" Henry melemparkan dokumen yang dia bawa dihadapan Fauzi. Hingga dirinya berjingkat karena kaget.
"Sa-saya..."
Duh, kenapa aku jadi gagap begini? apa yang harus aku sampaikan padanya?
"Laporan ini bukankah melalui kamu? sebelum smapai ketangan saya?" tanya Henry dengan emosi memuncak.
"Sa-saya, benar ini mirip tanda tangan saya Tuan, tetapi dua hari ini saya tidak masuk kantor, saya mengambil cuti karena Ayah Saya baru saja meninggal dunia." Fauzi tertunduk, dia tak berani mengangkat wajahnya.
"Jadi maksud kamu, ada yang sengaja memalsukan tanda tangan kamu?" ucap Arga dingin.
"Saya tidak berani berfikir demikian, tetapi saya juga sedang mempelajari lapuran keuangan ini Tuan, ada kejangggalan antara laporan bagian produksi dan bagian keuangan." Fauzi menggeser map yang tadi dibawa Kiki.
"Arga meraih map tersebut, membacanya dengan teliti, angka demi angka, hasilnya berbeda jauh dengan yang ada di laporan keuangan.
"Panggil kepala divisi yang bersangkutan." Henry memijat pelipisnya sendiri. Terasa pening memikirkan masalah ini.
"Baik Tuan." Fauzi meraih gawainya, menghubungi Kiki untuk melanjutkan perintah.
Henry dan Arga saling melirik, saat dokumen itu berada ditangannya. "Apa kamu mencurigai seseorang?" tanya Arga.
"Sejauh ini belum, tetapi ada satu kemungkinan." Fauzi terlihat berfikir, dia tak memiliki wakil, hanya ada sekertaris, bagaimana bisa dokumen itu bisa sampai ke kantor pusat?
"Maaf Tuan, siapa yang mewakili saya dalam rapat kemarin?"
"Memangnya saya ini tukang sensus apa? mana saya tau siapa namanya, seperti apa orangnya? dan saya terlalu sibuk untuk memandangi setiap perwakilan yang hadir." ucap Arga ketus.
__ADS_1
"Ga..." Henry mengeratkan rahangnya.
Ada apa dengan bocah ini? kenapa jadi bar-bar gini sih? bisa gak dilanjut nanti aja.
Henry menghela nafas panjang, menghadapi masalah yang semakin rumit dan juga Arga yang mungkin kesurupan hantu bar-bar.
"Oke, perwakilan akan kita urus nanti, sekarang kita tunggu dua orang kepala divisi terkait." Henry berdiri, berjalan memuju mejanya. Dia menghubungi sekertarisnya, untuk mencari tahu perwakilan cabang kemarin.
Kiki datang bersama dua orang yang dibutuhkan." Ki, tolong bawakan minum." ucap Fauzi, Kiki undur diri, menuju pantry.
Tak ada satupun yang bicara, semuanya menunduk, merasa di intimidasi. "Maaf Pak, bukankah kepala divisi keuangan adalah Pak Agus?" Fauzi baru menyadari orang yang duduk disebelahnya, bukanlah kepela divisi keuangan.
"Sa-saya, saya baru mulai hari ini bekerja Pak." Fauzi terperanjat, seingatnya, dia tak pernah merekrut orang baru.
"Saya dari bagian keuangan Pak, yang mengurusi biaya produksi. Pak Agus belum datang, jadi saya yang mewakili." ucapnya dengan rasa takut.
"Pak Agus, berani sekali mempermainkan saya." Fauzi mengepalkan tangannya dibawah meja. Dia sangat marah dengan orang yang sok senior itu. Terlihat dari wajahnya yang memerah.
"Bisa kita mulai? suruh Agus itu kesini sekarang juga atau besok tak perlu datang kekantor ini." Henry duduk dikursi single, didampingi Arga disebelahnya. Tiga orang terdakwa duduk di sofa panjang.
"Kalian seharusnya sudah mengerti maksud saya mengumpulkan kalian disini." Arga memulai pembicaraan.
"Bisa jelaskan ini." Henry melemparkan dokumen di atas meja. Seperti yang dia lakukan pada Fauzi.
"Kalian pasti mengerti maksud saya." lanjutnya menopang dagu nya dengan sebelah tangan pada sandaran kursi.
Perdebatan cukup alot, mereka tak menukan titik terang, apalagi yang ditunggu tak kunjung datang. Membuat Henry tambah murka.
Balik lagi singa buas mencari mangsa.
Jam 09.00 pagi, orang yang bernama Agus baru menampakkan diri, dia berjalan dengan santai. Seolah kantor adalah miliknya sendiri. Banyak pegawa yang menggunjing, namun tak berani menegurnya.
"Ada apa sih? dasar orang-orang aneh." Agus melenggang menuju ruangannya, namun baru memegang gagang pintu, sekertarisnya sudah menghentikannya.
"Maaf Pak, Anda ditunggu diruangan rapat." ucapnya dengan sopan.
"Rapat? seingat ku hari ini tak ada rapat apapun, bukqnkah rapat besar baru kemarin?" ucapnya tanpa dosa.
"Lebih baik aku kesana, siapa tahu ada yang memberiku penghargaan." gumamnya.
Penghargaan mbah mu, yang ada kamu bakal ditendang dari sini sekarang juga. Kalau kamu tahu siapa yang menunggu mu, aku tak yakin sikap angkuh mu itu masih bisa berlaku. Dasar Kakek Gendut.
Perbincangan mereka pindah keruang rapat, karena disana tempatnya lebih luas dan leluasa. Agus melenggang dengan penuh percaya diri, tidak tahu singa buas yang tengah menunggunya. Siap menerkamnya begitu dia masuk sarangnya.
"Selamat Pa..." Agus ternganga melihat penampakan diruang rapat. Dua orang yang paling ditakuti ada dihadapannya. Tubuhnya lemas, lunglai bagaikan jelly.
__ADS_1
"Oh ini yang namanya Agus?" tanya Henry sinis.
"I-iya Pak, saya Agus." ucapnya berpura-pura lembut.
"Heiii, kamu pikir saya Bapak-Bapak?" Bentak Henry.
Kamu ini memang sudah tua, kamu itu Bapaknya El, tolong sadar diri Tuan. batin Arga.
"Silahkan duduk." ucap Arga menarik kursi untuknya.
Waow, apa aku benar-benar akan mendapat penghargaan? sampai-sampai Tuan Arga yang memepersilahkan dan melayani ku duduk.
"Kamu punya jam dirumah?"
"Pu-punya Tuan."
"Jam berwpa sekarang?"
"J-jam 09.00 Tuan."
Buat apa menanyaiku? jam kalian lebih bagus dan lebih mahal.
"Jam kantor mulai jam berapa?"
Dia ini, memangnya aku anak TK yang belajar menghitung jam?
"Cepat jawab." Henry sudah mulai emosi. Kenapa bisa manusia sepertinya jadi kepala divisi keuangan?
"Jam 08.00 WIB."
"Jadi kamu sudah tahu artinya apa?" Agus benar-benar terjebak, dia tak mampu lagi berkata-kata.
"Ampun Tuan, maafkan saya Tuan." Agus bersimpuh, mengatupkan kedua tangannya memohon ampun.
"Seharusnya kamu sudah tahu, akibat dari perbuatan mu." ucap Henry dingin, dia kembali duduk di singgasananya.
Mereka benar-benar menakutkan.
"Baiklah, semua bukti dan saksi sudah jelas, Pak Agus, mulai detik ini, kamu tak perlu datang lagi ke perusahaan saya." Henry berucap dengan penuh penekanan.
Pak Agus sudah menduga, cepat atau lambat perbuatannya akan diketahui. "Baiklah, terima kasih." Pak Agus menyeringai, membuat semua orang disana merasa heran.
TBC
TERIMA KASIH
__ADS_1