
Mohon maaf untuk part sebelumnya ada kesalahan teknis. Gak sengaja, karena koneksinya gak stabil. Dan maaf sekali part tersebut gak bisa dihapus. Jadi terpaksa harus di edit. Silahkan balik keatas lagi.
Happy Reading
💐💐💐💐💐💐
Wulan sudah kembali ke Jakarta, sebenarnya dia ingin Ibu dan Lintang ikut pindah. Tetapi Lintang tak ingin pindah sekolah, terlebih pertengahan semester. Lintang harus menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru lagi. Dan juga pelajaran sekolah.
Arga sudah menyiapkan dua orang untuk menjaga Ibu dan Lintang. Meski merasa tak nyaman, namun untuk keamanan mereka sendiri. Wulan tak ingin membenani Arga, bagaimanapun mereka belum menikah. Untuk itulah Wulan masih ingin bekerja.
"Lan, Aku mau ajak El keluar, kamu dirumah aja ya." Adel sudah rapi dengan dres berwarna peach yang snagat pas ditubuhnya, sebagian rambutnya dicepol. Seperti gadis yang belum memiliki anak.
"Aku ikut, bosen dirumah sendiri."
"Tapi kamu baru sampai, emang gak capek?" ucap Adel sembari membenarkan pakaian El.
"Ayo Mamii... El mau jayan-jayan." El sudah tak sabar, dia menarik ujung dres Adel.
"Iya sayang sebentar."
"Mama dak itut?" tanya El.
"Ikut, ayo kita berangkat." Wulan hanya meraih blazer yang ada di sofa. Bertemu El membuat rasa lelahnya seketika menghilang.
"Yeay, ayo Mam." El menggandeng Adel dan Wulan disisinya.
"Loh ini rame-rame mau kemana?"
"Daddyyyy... El mau jayan-jayan cama Mami, cama Mama." ucapnya penuh semangat.
Menampakkan wajah lesu, Henry pura-pura sedih didepan El. "Yah Daddy ditinggal?" Henry sengaja hari ini pulang lebih awal. Dan tak memberitahu Adel. Tetapi dia juga tak kecewa, Adel dan juga sudah rapi. Mereka bisa pergi bersama.
"Dad..." Henry menempelkan jari telunjuknya dibibir Adel. Seolah mengerti apa yang akan Adel ucapkan.
"Jadi kita mau jalan-jalan kemana?" Henry merpatkan tubuhnya dengan meraih pinggang Adel.
"Jayan-jayan jauh." ucap El mengecup wajah Mami dan Daddy nya. Begitupun Henry yang sengaja pamer kemesraan di depan Wulan.
"Dad, ada Wulan." ucap Adel setengah berbisik.
"Gak usah manyun, pangeran kodok juga ikut loh." Henry meledek Wulan yang menampakkan wajah kecewa.
Wulan melirik sekeliling, tak ada orang yang dia cari. Henry terkekeh, semakin senang melihat Wulan celingukan.
Suara klakson mobil memekakan telinga, Wulan mengembangkan senyumnya, saat dia mengenali siapa yang ada di dalamnya. Satu minggu tak bertemu serasa 7 hari baginya.
"Putri Bar-bar ketemu pangeran kodok." Henry tak henti meledek Wulan dan Arga yang saja membuka pintu depan mobil. Sehingga harus mendapat cubitan sayang dari sang istri.
"Sayang, jangan cemburu gitu dong."
"Siapa yang cemburu." ucap Adel kesal. Adel menjauhkan tubuhnya, dengan sedikit mendorong Henry. Namun menahan Adel dengan mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
Arga dan Wulan turut bahagia, dengan kebahagiaan keluarga kecil mereka. Meski terkesan pamer. "Jadi kapan kita berangkat?"
"Ya, ya kita berangkat."
Henry membukakan pintu untuk Adel. "Silahkan Nyonya cantik." Adel hanya bisa mengembangkan senyumnya diperlakukan manis.
"Lan, kamu ngapain disini?" tanya Adel.
"Jagain El."
"Jagain tuh pangeran kodok. Nanti diambil orang aja, baru tau rasa." Wulan mengira Arga tak akan ikut pergi, Arga meninggalkan Wulan untuk ke kamar mandi.
"Hehehe..." Wulan nyengir kuda. "Jadi ceritanya double date?"
"Sak karep mu Lan."
Arga dan Henry mengendarai mobil saling beriringan. Sampai di sebuah restoran yang telah Henry pesan sebelumnya.
"Kita makan dulu, biar encer otaknya." Henry membuka safety belt, tangannya terulur untuk membuka pintu mobil.
Adel mengernyitkan keningnya, tak mengerti maksud dari ucapan Henry. Namun dia hanya menurut, El sudah lebih dulu dibawa Henry pergi.
"Sebenarnya ada apaan sih Lan?" tanya Adel.
"Kalau kamu tanya Aku terus Aku tanya siapa?"
"Noh tembok." Adel kesal dan meninggalkan Wulan begitu saja.
"Ih sewot, lagi PMS ya?" Adel mengacuhkan Wulan yang terus meracau tak jelas.
"Omaa..." El berlari menuju Nyonya Amel dengan merentangkan tangannya.
"Cucu tampan ku. Oma sangat rindu." Nyonya Amel menyambut El uluran tangan El. Dan mendekapnya erat.
"Sama Oma aja nih?" ucap Tuan Abimanyu memelas.
"Lindu Apa." El beralih kepangkuan Apa. Tuan Abimanyu tak ingin dipanggil Opa, katanya bukan Opa-Opa Korea. Hahaha..
"Sama Ama rindu gak?"
"Cayang cemua.... Muach... muach..." El menjadi pusat perhatian dengan tingkah lucunya.
"Mami El mau itu." El menunjuk menu makanan di atas meja.
"El mau makan?" bocah itu mengangguk antusias.
"Ya ampun Adel, anakmu sampai kelaparan." Nyonya Amel melirik tajam pada Adel dan Wulan yang duduk bersebelahan.
"Mom, El sudah makan, juga sudha menghabiskan segelas susu." Adel membela diri, kenyataannya memang seperti itu.
"Mau ini." rengek El.
__ADS_1
"Ini pedas sayang, ham." Wulan menggelengkan kepalanya, tampilan makanan yang menarik dan menggugah selera. Dibalik rasa pedas di dalamnya. Ya, Baso mercon dengan taburan bawang goreng diatasnya.
"Ini namanya Baso, El mau?" tanya Ama. El mengangguk antusias.
"Kan bisa pesan yang gak pedas." Henry menimpali.
"Adel, kenapa restoran mewah seperti ini juga ada menu seperti itu?" bisik Wulan heran. Dia baru menemui menu seperti itu disini.
"Hei, jangan bisik-bisik. Ini menu baru yang lagi hits. Jadi Mommy menambahkan menu Baso disini." ucap Nyonya Amel dengan bangga.
"Jadi ini restoran Mommy?" tanya Adel.
"Bisa dibilang seperti itu sih, tapi sekarang teman Mommy yang kelola. Nah itu dia, Lisa sini." Nyonya Amel melambaikan tangannya. Memanggil wanita paruh baya yang sedang berbicara dengan seorang pegawai.
"Hai, tunggu sebentar ya, Aku mau menemui owner restoran ini." ucapnya pada pegawai tersebut.
"Lisa apa kabar?" Nyonya Amel saling melepas rindu, berpelukan dan cipika cipiki.
"Baik, kamu sendiri apa kabar? sudah lama kita gak ketemu. Kamu masih awet muda." puji wanita yang bernama Lisa.
Kedua wanita itu saling meluapkan rindu, melupakan keluarga Syahreza yang hanya memperhatikan keakraban mereka.
"Aduh, sampai lupa, kenalkan ini Mami ku, Henry, anakku, dan istrinya. Dia Arga dan calon istrinya. Dan si tampan El, dia cucuku. Suami kamu sudah kenal kan." Mereka semua berjabat tangan, saling memperkenalkan diri.
"Saya Lisa, teman Amel. Saya yang bertanggung jawab disini." ucap Ibu Lisa sopan.
"Gak usah merendah, Kau juga owner disini."
"Kalau begitu saya permisi, masih ada yang harus dikerjakan. Selamat menikmati, jika ada yang kurang berkenan bisa langsung menghubungi saya." Ibu Lisa undur diri, dan berpesan pada pelayan untuk melayani pemilik restoran dengan baik.
Acara makan malam bersama keluarga besar Syahreza diselingi canda tawa. Terutama El yang selalu bertingkah lucu dan menggemaskan. Meski belum fasih berbicara, El sudah bis amenghafal beberapa lagu anak-anak yang diajarkan Adel.
Menjadi Ibu rumah tangga, membuat Adel memiliki waktu lebih banyak untuk mengawasi dan mengajari El bersama Wulan dan Sisi. Bermain sambil belajar, melatih El sedini mungkin untuk mengenal nama tumbuhan, hewan, kendaraan dan semua benda yang ada disekitarnya.
Seperti saat ini, El sedang bernyanyi sambil bertepuk tangan. "Naik keleta api tutt tuttt... ciapa endak tuyut?"
"Daddy mau ikut?"
"Ihh dak gitu Dad, butan itu nyanyi nya." El mengerucutkan bibirnya.
"Ya udah El lanjut lagi." ucap Arga.
"Maunya titak di dingding."
"Ya ya, coba Papa mau dengar."
"Titak-titak ding ding ding, iam iam me ayap. Datang ceekol nyamuk hap lalu ditantap. Tek dun tek dun lalala..."
"Hahaha... " semuanya tertawa, El sering kali salah menyambungkan lagu.
Sebagai dokter anak, Wulan juga memiliki metode yang baik untuk membimbing El mensimulasi kegiatan bermainnya menjadi bermanfaat. Dengan melibatkan El disetiap kegiatan, misalnya membantu membereskan mainan. Membacakan dongeng saat akan tidur. Belajar makan sendiri tanpa disuapi. Dan masih banyak yang lainnya.
__ADS_1
TBC
TERIMA KASIH