Ibu Untuk Tuan Muda

Ibu Untuk Tuan Muda
S2-65


__ADS_3

Happy Reading


💐💐💐💐💐💐


"Mamiiii...." teriakan El memekakan telinga Adel yang baru selesai menata hidangan untuk makan malam.


"Hmm... Kemari sayang, kita makan dulu."


"Dak mau, mau main aja." El menarik tangan Adel untuk ikut bermain bersama Lintang dan Sisi.


"Kita mam dulu yuk." bujuk Lintang.


"Dak mau." tangannya di lipat di depan perutnya. Ia duduk membelakangi semua orang.


"Aden makan dulu ya, nanti main lagi." ucap Sisi, sudah menjadi kebiasaan Sisi memanggil El dengan sebutan 'Aden'.


"Butannnnn... ini Ellll... ini ancel." tangannya menepuk dadanya sendiri. Ia paling tidak suka jika Sisi memanggilnya Aden.


Adel menepuk keningnya sendiri, semakin hari tingkah El selalu ada saja yang membuatnya gemas dan juga geregetan. "Jadi gak makan nih?" tanya Adel lagi. El menggelengkan kepalanya ia kembali sibuk dengan mainan kereta yang baru dia dapatkan.


"Ada apa ini?" Henry baru pulang bekerja, ia mendapati orang-orang berkerumun di area mainan El.


"Tuh, anak mu." tunjuk Adel dengan dagunya.


"Nooo.. El butan anak Daddy... El anak Mamiii..."


"Bener nih anak Mami? Kenapa gak nurut sama Mami?" Henry mendekati El dan mendudukkan El dipangkuannya.


"Huuhhh..." El memalingkan wajahnya kearah lain,.


"Kalau mam sama Daddy mau gak?"


"Dak mauuu... Daddyy bauuu.. iuhhhh." El menjepit hidungnya dengan kedua jarinya.


"Ya udah berarti mam dulu sama Mami, sama onty juga. Daddy mandi dulu, habis makan kita main bareng deh." Wajah El seketika berbinar, akhir-akhir ini Henry jarang sekali menemaninya bermain karena sibuk dengan pekerjaan.


"Oteeyyy... benel ya."


"Janji, tapi El makan dulu. Daddy mandi dulu, terus kita makan baru main." Henry mengulurkan jari kelingkingnya, diikuti El.


Henry mengacungkan jempolnya, Adel mengikuti suaminya untuk menyiapkan keperluannya. Setelah itu ia turun lebih dulu, menunggu Henry. Ia sesekali menyuapi El. Lintang membantu Sisi membereskan mainan El dan meletakan di box khusus mainan.


Adel sudah melarang Lintang mengerjakan sesuatu, tetapi Lintang berkata sudah terbiasa melakukan semua pekerjaan rumah. Terkadang di sela waktunya, Lintang juga belajar memasak di dapur membantu Bi Ning dan Koki mansion.


Adel dan Henry membebaskan Lintang, meski begitu, Lintang tak mengambil kesempatan ini untuk memuaskan diri. Pernah Lintang menawarkan diri untuk menggantikan pekerjaan Wulan menjaga El di saat ia dirumah.


Nyonya Amel dan Adel tak mengizinkan, selain masih sekolah. Lintang juga masih dibawah umur untuk bekerja. Tetapi Wulan tak mengetahui niat adiknya. Jika sampai tahu, mungkin Wulan sudah menaruhnya di asrama sekolah.


Tentang biaya sekolah, Arga yang menanggung semua biayanya. Ia berpendapat bahwa ia dan Wulan yang lebih bertanggumg jawab untuk membiayai semua kehidupan Lintang.


"Kalian berdua ayo makan dulu. Beberesnya dilanjut nanti." ucap Adel setelah menyuapi El makan.


Namun Lintang hari ini memilih makan bersama Sisi dan yang lain di belakang. Lebih rame katanya. Adel tak menjadikan itu masalah, selama Lintang merasa senang tinggal disini. "Saya makan barenag Kak Sisi aja dibelakang." ucap Lintang sungkan. Bagaimanapun, ia masih belum terbiasa dengan Henry. Padahal Henry bersikap seperti biasanya.


"Disini aja, Sisi juga boleh makan disini."


"Iya onty matan cini aja cama El juga."


"Hehee... Saya pengin ikut Kak Sisi."


"Ya sudah terserah Kau saja."


Adel mengambilkan makanan untuk suaminya, setelah itu mengisi piringnya dengan makanan. Mereka makan dalam diam, begitupun El yang fokus memakan puding buatan Mami Adel.


Adel selalu menyempatkan diri untuk memasak makanan kesukaan El. Meski ia juga bekerja, tetapi ia tak mengabaikan kewajibannya sebagai istri dan ibu. Henry selalu merasa bersyukur telah menikahi wanita hebat dan kuat seperti Adel.


"El udah abis." El menunjukkan piring yang sudah kosong di depannya. Ia sudah bisa makan sendiri?, walau disaat tertentu masih harus disuapi.


"God Job, anak Daddy hebat." Henry meletakkan sendok diatas piring yang telah kosong.


"El udah pintal Dad. El mau cekolah Dad."


"Oh ya? El mau sekolah dimana?" tanya Adel, ia baru mendengar El mengutarakan keinginannya.


"Cama onti, cekolah cama teman-teman."


"El yakin mau sekolah?" Henry mendekati El dan berjongkok disebelahnya. Sehingga ia sedikit mendongak untuk berbicara dengan El.


"Heemz, El mau punya teman banyak."

__ADS_1


Henry melirik Adel yang sedang menumpuk piring kotor. Ia hanya mengedikkan bahunya. Usia El belum genap 3 tahun, masih sangat kecil untuk bersekolah. Tetapi jika El menginginkannya, tentu saja itu hal yang bagus.


"Oke, besok Daddy carikan sekolah untuk El. Iya kan Mam?" El sangat senang mendengar ucapan Daddy, ia memeluk Daddynya erat.


"Maacih Daddy. Cayang Daddy."


"Daddy aja nih? Mami gak?"


"Cayang Mamiii..."


Henry menepati janjinya untuk bermain dengan El. Henry menggendong El ke kamarnya, sambil sesekali melempar candaan. Adel segera menyusul mereka. Sementara Lintang, pergi ke kamarnya untuk mengerjakan tugas atau sekedar belajar. Terkadang Adel juga membantu Lintang, tetapi lebih sering Sisi yang mendampinginya.


"Ahahaaa... apunnn Dad... Ahahaaaa..." Henry menggelitiki kaki El. Mereka sedang bermain kuda-kudaan tetapi Henry berpura-pura lelah. Dan saat El terbaring disampingnya, Henry segera menggelitik kakinya.


Adel tersenyum senang melihat keakraban ayah dan anak itu. Ia juga turut bahagia bisa menjadi ibu sambung untuk El. "Seneng banget kayaknya, Mami boleh ikutan gak?" Adel menutup pintu kamar dengan perlahan, ia merangkak di atas karpet seperti kucing.


"Miauwwww...."


"Aaaaaa... ada kucing El." Henry menutupi dirinya dengan bantal.


"Huussss... canahhhh..." El melempari Adel dengan bantal yang di sekitarnya.


"Haaappp... kena. Miauw miauw..." Adel menangkap El, ia memeluknya sangat erat. Sambil menirukan suara kucing.


"Aahaaaaa... Daaddd... ada meom." El berusaha melepaskan diri dan ikut bersembunyi bersama Daddynya.


"Sstttt... jangan bersuara, nanti kita ketahuan." Henry pura-pura, mereka bersembunyi dibalik selimut dan menyisakan lobang udara untuk mereka.


"El dimana ya? Elll... Dadddy... dimana ya..."


"Dicini..." teriak El, sedetik kemudian ia menutup mulutnya sendiri.


"Ups ketahuan Mami."


"Ahaahaaa... ampun, ini kacih matan. Tuh itan." El melempar boneka ikan.


"Gak mau, maunya El."


Mereka bertiga terbawa suasana, saling menggoda, menyerang, bahkan menggelitik. "Kita serang Mami... Siappp..."


"Ciappp..."


"Catuuu... duaa... iyaatttt..."


"Belum El, Kan baru dua belum tiga." ucap Henry.


"Ah Daddy Lama.. celang Mamii..." El memegangi wajah Adel, ia mengecupi wajah Adel beberapa kali, Henry memeluknya dari belakang. Bergantian dengan El mengecup wajah Mami.


"Hahhhh... Mami capek." Adel tiduran di atas karpet bulu. Dengan tangan kanan sebagai bantalnya.


"El juga..." El rebahan di samping Mami.


Henry iseng, ia menempelkan beberapa stiker milik El di wajah Adel. "Hahaha... Lihat Mami El." tunjuknya pada wajah Adel yang penuh stiker tempel.


"Sekarang giliran Daddy." Adel dengan semangat menempelkan stiker berbagai emot di wajah Henry begitupun El. Mereka bertiga kembali tertawa saat melihat penampilan masing-masing.


"Ahahaha... Pipi Daddy... Mami juga, idung." tunjuknya pada hidung Adel.


Lelah bermain, El meminta Daddy dan Mami untuk tidur bersamanya. "Mamii, mau syusyu..." rengek El, kebiasaannya sebelum tidur ia menghabiskan satu botol syusyu.


"El tunggu disini ya, Mami buatkan dulu."


"Maacih Mamiii... muach."


"Iya sayang, sama Daddy dulu ya." Adel mengusap lembut pipi gembul El.


Tak berapa lama, ponsel Henry bergetar. "Sayang, disini sebentar ya, Daddy angkat telepon sebentar aja." Henry beranjak dari posisinya, ia membelakangi El untuk menerima telepon dari Arga.


Ada apa sih? tumben telepon malam-malam begini.


Adel kembali membawa sebotol syusyu, namun ia tak mendapati El dimanapun. Hanya ada Henry yang baru selesai mematikan panggilan dari Arga. "Mam, dimana El?" tanya Henry saat menyadari tak lagi berada ditempatnya semula.


"Segarusnya Aku yang tanya Dad." Adel meletakkan botol diatas nakas. Bersama satu tempat minum El yang penuh air putih.


"El, dimana Kamu nak? main petak umpet ya?" panggil Adel, ia mengelilingi kamar sambil sesekali memanggil El.


"El, sayang, udah yuk mainnya. Kita bobok dulu." Henry juga mencari El, bahkan sampai ke luar kamar juga.


"Kemana anak itu?" Adel berfikir seluruh tempat sudah ia telusuri, namun El tak ada dimanapun. Kamar mandi, balkon kamar, disofa, arena bermain. Semuanya tak ada tanda-tanda El.

__ADS_1


"El jangan bercanda dong!" Henry juga tak menemukan El.


"Dad, tadi kan sama Kamu."


"Iya, tapi Aku hanya membelakanginya sebentar, menjawab telepon dari Arga." ucap Henry membela diri, tetapi seingatnya El tak pergi kemanapun, karena pintu masih tertutup rapat. Dan El tak bisa membukanya.


"Dad, Kau ini, menjaga El sebentar saja sudah hilang." omel Adel, ia sangat cemas tak bisa menemukan El dimanapun.


"Maaf sayang, kita cari lagi ya."


"Kalau El kenapa-kenapa Kamu tidur di luar sana."


Bahaya ini, kalau sampai Aku tidur di luar. Bocah gembul, Kau ada dimana sih? menghilang tanpa jejak.


Disaat Mami dan Daddynya saling bertengkar karena tak menemukan El, bocah gembuk itu sedang asyik dengan dunia mimpinya. Hahaha... El tertidur diantara mainan, tetapi tertutupi boneka besar yang Wulan berikan belum lama ini.


"Sayang, kita cari lagi. El gak akan hilang, masih disekitar sini." Henry membereskan mainan El yang berserak, dan ia mendapati bocah gembul itu terlelap dengan mainan dipelukannya.


"Mam, lihatlah!" Henry menunjuk El yang tidur membelakangi mereka.


"El, Kau membuat Mami takut." Adel menyingkirkan mainan yang berserak dilantai. Henry mengangkat tubuh El dan merebahkannya perlahan.


"Good night sayang." Henry mengecup kening El.


"Mimpi indah sayang." begitupun Adel, ia melakukan hal yang sama dengan Henry. Mereka tidur bertiga dengan El berada di tengah.


"Sayang, Kau juga tidur, pasti lelah sudah bekeeja keras seharian." Henry berpindah disamping Adel, ia memeluk istrinya dari belakang. "Terima kasih untuk semuanya sayang."


"Terima kasih juga Dad." Adel membalikkan tubuhnya, sehingga mereka saling berhadapan.


"Untuk?"


"Semuanya."


"Asal kalian bahagia."


"Aku sangat bahagia sekarang, ada Kamu, ada El. Ada semua keluarga ku. Bahkan semuanya sangat sangat lebih dari cukup." Adel membenamkan kepalanya pada dada bidang Henry, ia sangat menyukai aroma maskulin dari suaminya ini.


Henry mengusap surai panjang Adel, mereka saling mengingatkan saat-saat sebelum menikah. Dimana keduanya mempertahankan ego masing-masing. Terutama jika mengingat Henry yang begitu dingin, sampai Adel menjulukinya manusia kutub. "Sayang, Aku masih penasaran, kenapa dulu selalu memanggilku manusia kutub?"


Adel tak berani mendongakkan kepalanya, terlebih menatap suaminya. Ia masih pqda posisinya, hanya jemarinya yang bergerak menggambar pola-pola tak jelas pada tubuh berotot Henry. "Sayang, jangan menggodaku." Henry menundukkan kepalanya, menatap wajah istrinya yang sedang tersipu.


"S-siapa yang menggoda mu?" Adel menyembunyikan tangannya dibelakang tubuhnya. Tangan Henry sudah mulai nakal, menelusup dibalik kain yang dikenakan Adel. "Iya-iya Aku jawab, tapi jangan seperti ini, nanti El bangun." Adel menjauhkan tangan Henry darinya.


"El gak akan bangun kalau Mami gak berisik." Henry segera mengangkat istrinya, membawanya ke kamar mereka melalui pintu rahasia yang menghubungkan ke kamar utama. Sekarang mereka sudah tak takut lagi mengganggu tidur El.


"Dasar mesummm..."


"Jadi bukan manusia kutub lagi?"


"Sudah cair, musim kemarau kebanyakan kena panas." ucap Adel sinis.


"Panas ya? Mami kepanasan?" Henry menarik paksa pakaian Adel, membuat Adel semakin kesal.


"Daddyyy..."


"Ahahahaa... wajah mu lucu sekali Mam." Henry memegangi perutnya yang terasa kaku karena terlalu banyak tertawa.


"Bodo amat." Adel meninggalkan suaminya sambil terus mengumpat. Tetapi ia juga merasa senang dengan kehangatan dn keharmonisan keluarganya.


...----------------...


Keseruan keluarga kecil ini membuat iri bagi yang thor, jadi kangen masa kecil. Dimana hanya ada main, minta uang, jajan. Palingan pusing karena pekerjaan sekolah. Tapi gak juga sih, Thor sendiri harus tetep bantuin nenek dirumah. Terlebih lagi orang tua merantau dan pulang hanya setahun sekali. Yang lebih mengenaskan, jaman itu handphone masih barang mewah dan hanya mengandalkan surat menyurat.


Tetapi meski begitu, kehidupan bisa bahagia. Bahagia bisa bermain dengan teman sebaya, rasa saling membutuhkan, saling membantu. Dan sebenarnya di era modern ini, thor cukup prihatin dengan adanya gadget. Istilahnya menjauhkan yang dekat, mendekatkan yang jauh.


Bayi saja sudah mainnya hape, sekarang semua serba mudah, tetapi kita seperti terperdaya dengan benda pipih satu ini. Termasuk thor, bangun tidur hape, mau tidur hape, apapun ingat hape.


Banyak sisi positifnya, lebih mudah melakukan apapun tak perlu kemana-mana. Hanya jempol goyang semua beres, hanya dengan berbagai aplikasi, kita tak perlu repot mengeluarkan banyak tenaga dan biaya.


Tetapi ada juga sisi negatif nya, terutama radiasi dari gadget itu sendiri. Yang pernah thor baca, radiasi gadget bisa menyebabkan kanker otak loh. serem banget kan. Dan juga bisa menyebabkan masalah penglihatan. Ada juga dampak bagi kesehatan mental, bisa menyebabkan kecanduan dan depresi serta perubahan tingkah laku pada anak. Masih banyak lainnya.


Apalagi sekarang sekolah daring, jadi wajib bagi orang tua untuk mengawasi putra putrinya dalam bermain gadget dan batasi waktunya.


Jadi intinya, sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Yang sedang-sedang saja.


Maaf thor sedikit cuhat nih, tidak bermaksud menyinggung atau apapun. Ini hanyalah hasil imajinasi dan kegabutan thor semata.


TERIMA KASIH

__ADS_1


__ADS_2