Ibu Untuk Tuan Muda

Ibu Untuk Tuan Muda
Sekilas tentang Metta


__ADS_3

Terima kasih untuk semua dukungan yang diberikan.


Jangan lupa tinggalkan jejak Like komen dan VOTE sebanyak-banyaknya.


Happy Reading


💐💐💐💐💐💐💐


Edo kembali bersimpuh, buliran bening itu lolos begitu saja dari kedua sudut matanya. "Maafkan aku Metta." Edo memeluk nisan Metta begitu erat. Seolah dia sedang memeluk tubuh Metta.


Edo masih terisak, apalagi jika teringat kebodohannya dulu. Dia yang mengenalkan Metta pada Henry. Tapi hatinya yang terluka.


" Kau sendiri yang menyerahkannya padaku. Kau kejam. Kau yang membuatnya menderita."


Kalimat itu terus terngiang dikepalanya. Benarkah dia yang kejam? Penyesalannya tiada guna lagi. Semua sudah berakhir. Edo teringat saat dimana Henry datang padanya, dengan keadaan tak sadarkan diri.


Mabuk, adalah teman kesehariannya, ketika hubungannya kandas ditengah jalan bersama Gaby dulu.


Edo telah menerima kepergian Ibu Mirna dengan lapang dada. Hubungannya membaik berkat kegigihan Arga dan Alvin. Mereka juga menjelaskan alasan Henry tak datang ketika pemakaman Ibu Mirna.


Bukan hanya itu, Edo melihat sendiri ketulusan Henry dan keluarganya, lambat laun hatinya mencair. Bahkan Tuan Abimanyu membantu keuangan keluarganya disaat terpuruk. Edo kembali bersama Henry, meski tak sehangat dulu. Setidaknya mereka masih saling menyapa. Dan mengunjungi satu sama lain.


Namun tak bertahan lama, hubungan mereka kembali renggang, dengan ada nya Metta. Sahabat masa kecil Edo dan juga cinta pertamanya.


Awal permasalahan dimulai, ketika Henry yang selalu datang ke club milik Edo. Tak seharipun dia lewatkan dengan minuman beralkohol. Namun Henry masih bisa menjaga batasannya, dengan tidak melibatkan hasratnya pada sembarang wanita.


"Tuan, bolehkah aku menemanimu?" Metta menarik kursi disebelah Henry, dan mendaratkan tubuhnya disana.


Henry tersenyum mengejek. " Hah kau lagi? Apa masih mau meminta ganti rugi padaku?" Henry belum mabuk, dia baru menenggak 2 cawan anggur merah. Jadi dia masih ingat dengan samar wanita itu, orang yang sama yang bertemu di Kota Z.


"Kau masih mengingatku? Hebat sekali, ingatanmu sangat tajam." Metta sungguh kagum, padahal saat itu orang dihadapannya saat ini sedang mabuk berat.

__ADS_1


Henry tak menyahuti, dia malas meladeni Metta. Namun Metta selalu berusaha, masuk lebih dalam. Hingga kedekatan mereka, Edo mengetahuinya. Karena dia yang menawarkan padanya.


Edo berjanji akan membantu panti asuhan ditempat Metta yang saat itu membutuhkan donatur, dengan syarat dia membatu temannya itu. Namun di dalam hatinya, dia mengutuki kenodohannya saat itu. Karena pada akhirnya dia sendiri yang tersiksa.


"Metta, kau harus ingat, jangan melibatkan perasaanmu." Edo memperingatkan Metta.


"Bukankah kau sendiri yang menyuruhku merayunya? Bagaimana bisa kau sekarang melarangku? Kebersamaan ini menjadikan benih-benih cinta diantara keduanya tumbuh, bermekaran. Sifat Henry sedikit melunak.


"Ya setidaknya aku sudah memperingatkanmu." Edo meninggalkan Metta seorang diri. Hari ini Henry sedang sibuk dikantor, jadi tak menemui Metta. Semenjak hari itu hubungan Metta dan Henry semakin dekat. Bahkan Henry telah mengenalkan Metta pada keluarganya.


Awalnya Tuan Abimanyu dan Nyonya Amel menolak, tetapi akhirnya luluh juga. Demi kebahagiaan putra semata wayangnya. Arga selalu melaporkan kepada Tuan Abimanyu.


Hingga keduanya menikah, Henry baru tahu, hubungan Metta dan Edo tak sesederhana itu. Bahkan dengan mata kepalanya sendiri, dia melihat keduanya sedang menikmati manisnya bibir satu sama lain. Henry kembali menjadi dingin bahkan terkesan mengacuhkan Metta.


"Kau ini kenapa lagi? Bukahkah kau harusnya sedang berbahagia karena menikahi lelaki pujaanmu itu?" Edo menuangkan minuman digelasnya sendiri. Dia hanya sekedar menemani Metta.


"Seharusnya memang seperti itu, tetapi dia bahkan belum pernah menyentuhku. Bahkan sekarang dia lebih menghindariku." Metta menopang dagunya. Dia tak tahu, jika Henry diam-diam menyelidikinya.


"Lebih baik kau tinggalkan dia! Dan bersamaku." Edo benar-benar tak bisa menjaga ucapannya. "Mak-maksudku aku akan membantumu. Yah begitu." Dia meralat ucapannya.


"Edo, Edo kau ini ada-ada saja, bukankah kita sekarang bersama?"


"Iya tapi bersama mengarungi samudra bahagia bersamaku, kita bangun istana cinta kita berdua." Ucap Edo dalam hati.


Metta yang menemui Edo ketika Henry sednag bekerja, membuatnya semakin marah. Hingga dua tahun pernikahan mereka, masih sidbuk dengan kegiatan masing-masing. Henry sibuk membangun kerajaan bisnisnya. Begitupun Metta, dia menyibukkan dirinya. Dengan membantu Hani sahabatnya. Sebelum akhirnya Hani pergi meninggalkannya.


Tuan Abimanyu merasa harus turun tangan. "Son, sudah dua tahun pernikahanmu, apa kau tak ada niatan untuk memberikan kami cucu?"


Henry berdecak, dia malas jika harus membahas masalah ini. Lagi dan lagi, seperti tak ada habisnya. "Belun waktunya Dad." Selalu itu jawaban Henry.


"Daddy akan mengatur bulan madu untuk kalian." Tuan Abimanyu menatap putranya. Dia tak ingin dibantah. "Ayolah Dad, aku bukan anak kecil lagi. Aku bisa menentukan sendiri apa yang aku inginkan untuk kebahagiaanku."

__ADS_1


"Yah, kau memang bukan anak kecil, dan sudah pantas memiliki anak kecil." Henry tetap menolak, hingga ancaman Nyonya Amel yang meembuatnya terpaksa menurut.


"Baiklah! aku akan mengikuti kemauanmu." Percuma berdebat dengan Daddy nya. Dia akan membuat alasan yang sama untuk mengancamnya. Mommy nya akan kembali meninggalkannya.


Tuan Abimanyu hanya diam. Lalu meninggalkan Henry begitu saja. Saat itu Henry baru memulai perjalanan bisnisnya sebagai CEO HS Group, Tuan Abimanyu memakluminya. Namun , dia tak dapat lagi bersabar. Hingga dirinya turun tangan sendiri.


Bulan madu mereka membuahkan hasil, tiga bulan kemudian, Metta dinyatakan hamil. Hubungan Metta dan Henry semakin mengalami perubahan. Bahkan Edo yang terus mendatangi Henry membuatnya jengah. Mau tak mau Henry harus memaafkannya.


Edo merendahkan harga dirinya, agar wanita yang dicintainya tak lagi bersedih. Dia ingin melihat Metta bahagia. Lagi-lagi Edo tak mendapatkan harapannya.


"Tolong rahasiakan ini dok." Metta mengiba, ketika menyadari ada yang aneh dengan kehamilannya. Dan benar saja, keluhannya tentang kram diperut bagian samping bukan hal yang wajar.


"Tapi ini bisa membahayakan nyawa Nyonya Metta. Bagaimana saya bisa membjarkan hal itu terjadi?" Dokter itu sangat bingung. Dia tak ingin disalahkan, jika kemudian hari ada maslah dengan kehamilan Nyonya Metta.


"Percaya padaku, pasti akan baik-baik saja." Metta tak ingin menggugurkan janin yang selama ini dia impikan.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" Edo yang waktu itu menemani Metta. Karena Henry sedang keluar negeri beberapa hari. Namun keluhan Metta hanya dirinya yang tahu.


Dokter menjelaskan keadaan Metta, mengenai semua kemungkinan, bahkan hal terburuknya. "Aku sudah siap dokter." Ucap Metta mantap.


"Tapi ini terlalu beresiko Metta." Edo merasakan disayat-sayat melihat wanita yang dia cintai harus menderita, demi melahirkan keturunan Syahreza.


Hari demi hari yang Metta lalui begitu berat, namun tak pernah mengeluh sedikitpun. Dia bahkan mempersiapkan semua keperluan calon bayinya. Edo sering berkunjung, hanya untuk memastikan keadaan Metta.


Henry bukan tak tahu,tapi dia lebih memilih meninggikan egonya. Henry tak begitu memedulikannya. Pertemuan Henry dengan seorang wanita dirumah sakit kala itu, membuatnya tersadar akan tanggung jawabnya. Dia seperti tertampar, bahkan wanita itu yang hampir kehilangan suaminya. Harus berjuang seorang diri dalam keadaan hamil.


Sementara dirinya, tak pernah sekalipun ingin mengetahui perkembangan benih yang dikandung Metta. Melalui wanita itu pula. Henry yang dulunya acuh, menjadi begitu perhatian terhadap istrinya itu.


Mulai detik itu juga Henry mulai peduli dengan Metta, seiring cinta yang mulai tumbuh kembali. Namun dia tak sekalipun mengetahui penyakit Metta, dia dengan rapat menutupinya dari Henry.


TBC

__ADS_1


Terima kasih


__ADS_2