
Happy Reading
💐💐💐💐💐💐💐
Akad nikah
Kedatangan Henry dan keluarga besar disambut dengan hangat oleh keluarga Wiranata. "Tuan akhirnya kita benar-benar menjadi keluarga," ucap Tuan Abimanyu merangkul bahu Tuan Wira.
"Kau benar, jadi persaudaraan diantara kita semakin erat, aku panggilkan Sari kesini, dia masih sibuk dengan mempelai wanita," Tuan Wira memanggil seorang pelayan, Nyonya Amel mendekat.
"Tolong antar kami kesana, El sangat tak sabar ingin berjumpa Mami," ucapnya seraya membawa El yang sedari tadi selalu menanyakan Mami Adel.
"Mari ikut saya Nyonya," Nyonya Amel mengikuti pelayan tersebut ke kamar Adel. Kamar itu sudah dihiasi layaknya kamar pengantin. Adel masih dirias, tinggal finishing, mahkota dibagian kepala.
"Mamiiii....," teriak El di depan pintu, Adel hanya melirik dari kaca rias, suara bocah kecil yang beberapa hari ini tak ia jumpai. Karena kedua mempelai tak boleh bertemu satu sama lain sebelum akad nikah.
Nyonya Amel membawa El mendekat, disambut Ibu Sari yang sibuk mengarahkan beberapa orang yang masih sibuk dengan hiasan di balkon kamar. "Hai sayang, lihat Mami cantik gak?" tanya Ibu Sari.
"Wow, tantik," El dengan mulut melongo, Kedua nenek hanya tertawa, tak terkecuali Adel. Namun dia tak bisa tertawa lebar karena akan merusak hiasan rambutnya jika dia banyak bergerak.
Di taman belakang, semuanya sedang bersiap, akad nikah akan segera dilaksanakan. Adel masih menunggu di kamarnya, bersama Ibu Sari dan Nyonya Amel, juga Wulan yang datang menyusul karena El minta susu.
Akad nikah berjalan dengan khidmat dan lancar, Henry mengucapkan dalam satu tarikan nafas. Saatnya Adel digiring keluar, diapit Nyonya Amel dan Ibu Sari, serta Wulan yang menggendong El dibelakangnya.
Bak seorang ratu dia berjalan dengan anggun dan perlahan, mencuri perhatian setiap keluarga dan tamu yang datang.
"Cantik."
"Seperti bidadari."
"Tuan Henry sangat beruntung."
Dan masih banyak ucapan memuji lainnya. Tak terkecuali Henry yang tak berkedip melihat Adel, hingga keduanya saling berhadapan.
"Selamat, kalian sudah resmi menjadi pasangan suami istri," penghulu memberikan selamat, dia menjabat tangan keduanya, tapi Henry tak merespon.
"Ehm, masih ada banyak waktu intuk mengagumi kecantikannya," bisik Arga dibelakang Henry, membuatnya tersadar. Hal itu tak lepas dari perhatian seluruh hadirin. Dan mengundang tawa semua yang ada disana.
Setelah menandatangani buku nikah, acara dilanjutkan sungkeman dan foto bersama keluarga besar. El tak mau kalah, dia begitu heboh, terus menempel pada Daddy dan Mami.
"El sayang ikut Mama yuk, kita mam es krim," Wulan membujuk El untuk kesekian kalinya.
"Nooo... El mau Mami," El menangis tergugu.
"Beli balon mau?" Arga turut membujuk El.
"El Oma punya mainan bagus loh, kita lihat yuk," Nyonya Amel tak mau ketinggalan, akhirnya El luluh juga. Untunglah ada mainan El yang ada dikamar Adel, semua mainan sudah dipindahkan ke kamar khusus El, yang telah dipersiapkan Adel dan Ibu Sari sebelumnya.
Acara resepsi dilanjutkan nanti malam, masih ada waktu untuk istrirahat. Beberapa kerabat ada yang sudah menuju hotel tempat acara, karena hotel tersebut juga menyiapkan kamar untuk kerabat yang jauh. Ada pula yang memilih kembali ke rumah mereka yang tak jauh dari tempat acara.
__ADS_1
Henry memutuskan beristirahat dikamar Adel sejenak, sebelum menuju hotel. Adel lebih dulu menuju ke kamarnya, dia sudah tak nyaman dengan riasan dikepalanya, juga gaun pengantin yang menjuntai membuatnya tak leluasa bergerak.
"Kalian istirahatlah, tak perlu kuatir dengan El, kami pasti akan menjaganya dengan baik," Nyonya Amel menyusul Wulan ke kamar yang dipersiapkan untuk Adel.
Henry menyusul Adel, ini bukan yang pertama untuknya, tetapi jantungnya tak berhenti berpacu. "Kenapa aku bisa gugup seperti ini?" ucap Henry dalam hati.
Henry menutup pintu kamar dengan perlahan, tak menimbulkan suara sedikitpun. Dia melihat Adel yang sedang berdiri didepan meja rias, sedang berusaha membuka gaun yang dia kenakan.
Henry memeluknya dari belakang. "Biar aku bantu Nyonya," Adel memalingkan wajahnya tepat bersamaan Henry mendongakkan wajahnya. Jarak diantara mereka snagat dekat, nafas keduanya terasa hangat.
"To-tolong jangan seperti ini," Adel kembali menatap pantulan dirinya dan Henry dicermin.
"Ada apa hmm, kita sudah suami istri sekarang, tak ada yang perlu ditakutkan lagi, lagi pula hanya ada kita berdua disini." Henry berbicara tepat di telinga Adel, membuat tubuhnya menegang.
"A-aku akan ganti baju," Adel berlari ke kamar mandi. Namun tangannya ditarik Henry, membawanya dalam dekapannya.
"Biarkan seperti ini, sebentar saja," Henry memeluk Adel erat, mengecup pucuk kepalanya dengan lembut.
"Terima kasih," Henry masih memeluk Adel.
"Terima kasih untuk apa?" Adel menikmati perlakuan Henry, wangi maskulin menyeruak ke hidungnya. Membuatnya betah berlama-lama berada dalam posisi ini.
"Terima kasih karena bersedia singgah dan menetap dihidupku, menjadi istriku, terima kasih bersedia menjadi ibu bagi El, terima kasih telah bertahan selama ini," Adel membalas pelukan Henry, mengusap punggung Henry dengan lembut.
"Aku juga berterima kasih karena telah memilih ku," Adel berkaca-kaca, pelukan hangat seorang suami yang telah lama dia rindukan, Tuhan menjawab semua doa-doanya.
Adel sangat mengantuk, dia menguap beberapa kali dan matanya berair, membuat Henry tak tega melihatnya. "Aku bantu ganti baju mu, dan tidurlah," Henry merenggangkan pelukkannya, mengecup pipi Adel dan membantu Adel.
"Aku malu," Adel menutupi wajahnya.
"Tak perlu malu, cepat atau lambat aku juga akan melihatnya," perkataan Henry membuat wajah Adel terasa panas, meski sudah resmi menikah, tetapi Adel masih merasa canggung, berduaan di dalam kamar.
Sore harinya, Iringan rombongan pengantin disambut meriah, bagaimana tidak? hotel tersebut adalah salah satu aset keluarga Syahreza. Semuanya dipersiapkan sebaik mungkin.
Wulan membawa El yang tertidur pulas, Arga membantu membawakan beberapa mainan El. Semua perlengkapan mereka sudah dipersiapkan sebelumnya, jadi tak perlu membawa apapun.
Jemari Adel tak lepas dari genggaman Henry, senyum keduanya terus menghiasi wajah mereka. "Aku tak akan pergi, tolong lepaskan tangan mu ini," Adel berbicara dengan suara pelan.
"Diamlah, atau aku tak akan melepaskanmu selamanya," Henry menaik turunkan alisnya. Adel mencubit lengan Henry, membuatnya meringis.
"Jangan menggodaku, masih banyak orang disini, apa kau sudah tak sabar, hmm," Wajah Adel sudah semerah tomat. Henry tak henti membuatnya tersipu.
Mereka berjalan melewati barisan staf hotel yang berjajar rapi di sebelah kanan dan kiri jalan. Taburan bunga mengiringi setiap langkah pasangan pengantin baru tersebut.
Mereka terus berjalan di red karpet, menuju singgasana raja dan ratu sehari. Henry menarik pinggang Adel, memeluknya dengan posesif, menunjukkan pada semua orang bahwa Adel miliknya.
Bahkan sampai di kursi pengantin, Henry enggan melepaskan tangan Adel. "Bagaimana aku bisa menyalami tamu, kalau kau tak melepaskan tanganku."
__ADS_1
"Itu lebih baik, jadi tak banyak orang menyentuh tanganmu," Henry menyeringai.
Sejak kapan dia jadi lebay begini sih? huh, dasar manusia kutub.
Semua tamu undangan bergantian memberikan selamat secara bergantian ,"Selamat bro," Edo menepuk bahu Henry.
"Hati-hati dengannya, atau kau tak akan bisa berjalan besok," bisiknya ditelinga Adel. Membuat wajahnya kembali memerah.
Dasar mesum, jadi dia belajar dari mu.
"Hei, menjauh darinya," Henry menatap Edo dengan tatapan yang menusuk.
"Hahaha, aku hanya menggodanya, ayo sayang," Henry dan Adel saling melempar pandangan.
Mereka memperhatikan gadis mungil yang mengekor dibelakang Edo sejak tadi.
Akhirnya kamu membuka hatimu Do, semoga dia adalah wanita yang Tuhan kirimkan untukmu. Kamu harus bahagia.
Acar berlanjut hingga malam menjelang, membuat Adel sangat lelah, terlebih dengan heels tinggi yang dia kenakan. Sesekali Adel duduk, jika tak ada tamu yang naik panggung.
Tuan Abimanyu dan Nyonya Amel berbaur dengan para tamu, yang kebanyakan rekan bisnisnya. Begitupun Tuan Wira dan Ibu Sari.
Wulan berada ditaman kecil disebelah ballroom. Dia ditemani Arga menjaga El yang aktif, berlari kesana kemari, membuat keduanya lelah mengejar El yang masih bersemangat.
"Ayo Mam, ain agi," El menarik tangan Wulan.
"Main sama uncle mau gak?" Arga mengambil bola yang menggelinding kearahnya.
"No uncle, om aja," El mengerucutkan bibirnya.
"Bagaimana kalau panggil Papa?" ucap Arga dengan PD nya.
"Otey Papa, Yeah, Papa Cun," El memonyongkan bibirnya.
"Sini sayang, sun," Arga mengecup pipi El.
"Ini yum," tunjuknya pada pipi sebelahnya. Arga kembali mengecup dibagian yang ditunjuk El.
"Nah, atu agi," El menunjuk keningnya. Arga mendesah, namun melakukan apa yang di mau El.
"El, udah yuk, Mama ngantuk nih, kita bobok yuk," Wulan terus membujuk El. Padahal saat ini sudah nam 21.00 WIB, biasanya jam segini El sudah tertidur, sekarang malah sebaliknya.
.
.
TBC
TERIMA KASIH
__ADS_1