Ibu Untuk Tuan Muda

Ibu Untuk Tuan Muda
Eyang


__ADS_3

Terima kasih bersedia mampir dilapak Baby El, dan semua dukungan yang sudah diberikan.


 


 


Semoga berkenan meninggalkan jejak like komen dan Vote ya.


 


 


Happy Reading


 


 


💐💐💐💐💐💐💐


 


 


Adel terus melangkah, mengikuti petunjuk yang di instruksikan nomor asing tadi. Semakin masuk, suasana semakin mencekam. Detak jantung Adel semakin berpacu, namun dia harus tetap melangkah.


 


 


Tak jauh dari tempatnya berdiri, berdiri sebuah bangunan megah, bak istana raja. Namun sudah tak terawat, sepertinya sudah sangat lama tak dihuni. Hal itu terlihat dari banyaknya rumput liar dan tanaman rambat di dinding pagar.


 


 


"Adel, kamu harus masuk, kamu gak boleh takut, ini demi ibu" Adel menyemangati dirinya sendiri.


 


 


Didepan gerbang ada dua orang penjaga, mereka membungkuk hormat, seperti mengenali siapa Adel sebenarnya. Adel mengernyit, ada apa sebenarnya? Bukankah kalau di film action dia langsung ditangkap?


 


 


(Haddeuh, Ini di novel Adel, bukan film)


 


 


Adel dipandu masuk kedalam rumah besar itu, ternyata di dalamnya sangat indah. Sangat berbeda dengan bagian luar yang dibiarkan tak dirawat.


 


 


"Nona, silahkan Anda tunggu disini" ucap penjaga lalu pergi menuju lantai atas.


 


 


"Tunggu, dimana ibuku" tanya Adel sinis.


 


 


"Nona tunggulah sebentar, saya akan panggilkan sebentar.


 


 


Adel menurut saja, karena disana juga banyak penjaga yang terus mengawasinya. Jadi tak bisa berbuat banyak.


 


 


Penjaga itu terlihat berbicara dengan seseorang, yang Adel kira kepala pengurus disana.


 


 


Adel mengutak ngatik ponselnya, banyak panggilan masuk dari dua nomor baru, dia hanya memandangnya, tak ada niatan untuk membalas atau bahkan membuka pesan singkat yang dikirimkan.


 


 


"Maaf Nona, membuat Anda menunggu" ucap kepala pelayan.


 


 


"Hah, cepat katakan dimana ibuku" ucap Adel dengan suara meninggi. Dia sudah jengah menunggu.


 


 


"Adel" panggil Ibu Sari dari arah tangga. Adel menoleh, karena posisinya membelakangi tangga.


 


 


" Ibuuuuu" Adel berlari, ia memeluk ibunya erat, ia sangat bersyukur ibunya dalam keadaan baik- baik saja.


 


 


"Ibu baik-baik sajakan? Adel sangat takut bu, Adel takut ibu ninggalin Adel" Adel menangis haru.


 


 


"Cucuku" suara seseorang membuat Adel merenggangkan pelukannya.


 


 


"Cucu?" tanya Adel, dia dilanda kebingungan.


 

__ADS_1


 


"Ya, kau cucuku" ucap kakek itu menitikkan air mata.


 


 


Adel beralih menatap ibunya, meminta penjelasan dengan semua hal yang terjadi.


 


 


"Ya" ucap ibu singkat, dia menganggukkan kepala sebagai penegas.


 


 


"Maafkan eyang, selama ini eyang sudah dzolim dengan kalian" kakek itu ingin berlutut, tetapi Adel menahannya.


 


 


"Tolong jelaskan ada apa ini sebenarnya" ucap Adel.


 


 


"Duduklah nak, ibu akan jelaskan semuanya" ucap ibu tersenyum.


 


 


Adel menurut saja, dia duduk disofa yang tadi dia duduki. Bersebelahan dengan ibu, sedangkan kakek yang menyebut dirinya 'eyang' duduk di kursi single sebelah kanan ibu.


 


 


"Dia memang eyang kamu Del, yang selama ini ibu ceritakan" ucap ibu.


 


 


"Heh, eyang? Kalau dia benar eyang ku, kenapa baru sekarang dia datang bu? Kemana saat kita susah, kemana saat ayah gak ada bu? Huhuhuu" Adel menangis, meluapkan semua kepedihannya selama ini.


 


 


"Maafkan eyang sayang, Eyang baru tahu kebenarannya, dan sangat menyesal mengapa baru sekarang ini mengetahui kebenarannya".


 


 


"Maafkan keegoisan eyang dimasa lalu, yang menyakiti hati kalian, membuat kalian hidup sengsara diluaran sana, maafkan eyang". Kali ini Eyang Wira benar-benar berlutut dihadapan Adel dan Ibu Sari.


 


 


"Ayah, jangan seperti ini" ucap Ibu Sari membangunkan Eyang Wira.


 


 


 


 


"Kami sudah memaafkan ayah, bangunlah" ucap Ibu Sari.


 


 


Eyang Wira duduk disebelah Adel, dia memeluk erat cucu cantiknya. Dia terus saja meminta maaf, namun Adel tak bergeming, dia masih saja diam. Sementara air matanya tak juga mengering.


 


 


Adel masih sulit percaya dengan apa yang terjadi padanya.


 


 


"Ayah istirahatlah, biar Sari yang bicara dengan Adel pelan-pelan" ucap Ibu Sari menengahi.


 


 


Ibu Sari tahu, bahwa tak mudah bagi Adel menerima kenyataan ini begitu saja. Begitupun dirinya, tetapi dia mencoba menerimanya, berdamai dengan masalalunya. Mungkin dengan begitu, perasaanya akan terasa lebih lega.


 


 


Ibu Sari mengajak Adel ke kamar yang ditempatinya. Adel hanya menurut saja, dia masih terus memikirkan drama dalam hidupnya, yang seperti tak ada akhirnya.


 


 


"Ibu kenapa ada disini? Siapa yang membawa ibu kemari?" tanya Adel, tanpa menatap wajah ibunya. Ia masih kecewa dengan ibunya.


 


 


"Maafkan ibu nak, sungguh ibu tak bisa lagi membohongimu, karena mungkin umur ibu tak akan lama lagi" ucap ibu sedih.


 


 


"Ibu jangan berbicara seperti itu, apapun akan Adel lakukan asalkan ibu tetap mendampingi Adel" ucapnya dengan suara serak, Adel terlalu lama menagis. Jadilah suaranya serah dan hidungnya memerah.


 


 


"Janji? Apapun?" tanya Ibu Sari.


 

__ADS_1


 


"Ya, apapun Adel pasti bisa lakukan untuk ibu" jawabnya mantap.


 


 


"Kalau begitu tolong terima Eyang Wira, bagaimanapun, ada darahnya yang mengalir ditubuhmu, dia eyang kamu, ayah dari ayahmu".


 


 


"Tapi buuu, apa tidak ada syarat yang lain?" Adel merasa keberatan.


 


 


"Beliau juga korban El, beliau mencari tahu semua yang terjadi setelah ayahmu pergi dari rumah, tetapi beliau kehilangan jejak kita. Karena ada seseorang yang sengaja menutupinya. Dan kecelakaan ayahmu, semua juga karena ulah orang itu, dan Eyang Wira baru mengetahuinya setahun belakangan ini, dengan masih terus menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi".


 


 


"Dan kau tahu? Apartement yang ibu tinggali? Itu juga pemberian dari Eyang Wira. Dan ibu meminta maaf karena telah berbohong kepadamu, bahwa ibu sedang sakit."


 


 


"Ibu melakukan semua ini demi kamu El, ada seseorang yang menginginkan nyawamu, demi keamanan, kita terpakasa sembunyi disini".


 


 


"Tapi bu, sembunyi bukan cara untuk menyelesaikan masalah, kita harus menghadapinya" Adel tak setuju dengan ide sembunyi.


 


 


"Ibu tahu El, untuk saat ini tolong mengertilah" ucap ibu memelas.


 


 


"Baiklah, Adel ikuti semua kemauan ibu, tetapi aku tak bisa lama disini, baby El pasti membutuhkanku" ucap Adel.


 


 


"Bagaimana kalau kau berhenti kerja disana El?" saran ibu.


 


 


"Gak bisa bu, El masih menyu**, dan dia membutuhkanku disana".


 


 


"Baiklah terserah kau saja, nanti kita bicarakan dengan eyang, sekarang kau istirahatlah" Ibu Sari meninggalkan Adel sendiri. Dia pasti butuh waktu, untuk merenungkan ini semua.


 


 


Flash Back on


 


 


Eyang Wira yang tak senaga mendengarkan percakapan cucunya ditelepon, jadi tahu apa yang sedang cucunya rencanakan, dengan orang diseberang sana.


 


 


Jadilah Eyang Wira menelepon Ibu Sari, untuk mengikuti rencananya, dia harus segera menyelamatkan cucu dan anak mantunya. Dengan begitu, tak ada yang akan mencurigainya.


 


 


Sebenarnya Eyang Wira ingin segera memberi tahukan yang sebenarnya, bahwa Adel adalah cucunya, tetapi Ibu Sari melarang, dia harus mencari waktu yang tepat.


 


 


Eyang Wira terus menyelidiki, siapa dalang dibalik kematian putra semata wayangnya. Dia berhasil menemukan siapa dalangnya, mereka hanya mengincar harta peninggalannya. Karena perusahaan diatas namakan Arya, ayah kandung Adel, dan dia tak ingin menantu dan cucunya pun dalam bahaya.


 


 


Para penjahat itu ingin menargetkan Adel, karena dia pewaris sah berikutnya. Untuk itulah, diam diam Eyang Wira menyuruh orang untuk mengikuti Adel dan Ibu Sari.


 


 


Sampai di pesta ulang tahun El, Eyang Wira pertama kali mentap wajah Adel secara langsung.


 


 


Dan dari sana pula, Eyang Wira mengetahui rencana jahat Mr. X, untuk itulah Eyang harus bergerak lebih cepat.


 


 


Flash Back Off


 


 


TBC


 


 


Terima Kasih

__ADS_1


__ADS_2