Ibu Untuk Tuan Muda

Ibu Untuk Tuan Muda
S2-38


__ADS_3

Happy Reading


💐💐💐💐💐💐


Waktu yang dinanti akhirnya datang juga. Hari dimana Arga akan melamar Wulan secara resmi. Wulan sudah pulang ke tempat orang tuanya sejak dua hari yang lalu untuk melakukan persiapan. Begitupun keluarga Tuan Abimanyu yang sibuk mempersiapkan ini dan itu. Terutama Nyonya Amel dan Adel yang heboh.


"Mom, apa semuanya sudah siap?" tanya Arga saat melirik parcel yang akan dibawa sebagai hadiah untuk Wulan dan keluarga.


"Tentu saja, Mommy dan Adel yang persiapkan semua ini." ucapnya bangga dengan menepuk dada sendiri.


"Omaaa... Papa..." teriakan El membuat keduanya memiringkan kepala pada bocah gembul yang sudah rapi, dengan kemeja dan dasi kupu-kupu dilehernya.


"Hai sayang, dimana Mami dan Daddy mu?" Nyonya Amel menyambut uluran tangan El dan meraihnya dalam gendongan.


"Dak au." El mengedikkan bahunya.


"Kita berangkat sekarang Mom?" Adel menuruni tangga, sejak dua hari yang lalu, Adel menginap di mansion Syahreza. Untuk membantu persiapan acara Arga.


"Ama, apa tidak apa jika Ama ikut?" tanya Henry membantu Ama menuruni tangga.


"Memangnya kenapa? Ama masih sehat." ucap Ama tak ingin dianggap lemah.


"Tapi perjalanan kesana jauh. Aku takut Ama kelelahan dijalan."


"Jadi kau mau meninggalkan ku disini sendirian Ar?" wajah Ama berubah muram.


"Bukan begitu Ama, tapi..." Henry tak bisa lagi menolak keinginan Ama.


"Baiklah, jika Ama kelelahan Aku tinggal di hotel, baru Aku jemput pulang dari sana." ucap Henry dengan canda.


"Sembarangan, kau kira aku ini barang?" Ama mencubit lengan Henry.


Semuanya telah bersiap, iring-iringan mobil mulai melaju menignggalkan mansion mewah Syahreza. Karena perjalanan lumayan jauh, semuanya membawa sopir. Arga satu mobil dengan Henry dan Adel tak lupa Si Gembul El. Memimpin jalan, diikuti Mommy, Daddy dan Ama. Dibelakangnya ada Bejo dan Bibi Mey beserta parcel.


Acara lamaran sederhana sesuai keinginan Wulan, hanya kedua keluarga. Yang terpenting adalah restu dari kedua belah pihak.

__ADS_1


"Hei, wajahmu jelek. mau lamar anak orang malah tegang begitu." ejek Henry yang memperhatikan Arga sedari tadi.


"Itu hal normal, lagi pula ini pertama kalinya bagi ku." Arga membela diri.


"Santai bro, ini juga acaranya gak formal-formal amat. Nanti akan ku buatkan pesta pertunangan termegah seabad untuk mu."


"Jangan dengarkan dia Ga, musryik kalau percaya sama dia. Percaya sama Tuhan." ucap Adel menyela pembicaraan mereka.


Sementara El tertidur, kelelahan karena sedari tadi tak henti mengoceh. Padahal baru setengah perjalanan, namun terasa singkat karena diselingi candaan.


Namun tiba-tiba suasana menjadi mencekam, saat sebuah mobil yang berada didepan mereka mengerem mendadak. Sulit untuk menghindar karena saat itu mobil melaju cukup kencang.


"Pak, awassss...." teriak Arga yang pertama kali menyadari hal itu.


Pak Sopir membanting setir kearah kiri, dan menabrak pembatas jalan, namun semua penumpang selamat. Namun Arga mengalami luka dipelipis sebelah kirinya akibat serpihan kaca depan yang pecah. Begitupun Sopir yang membawa mobil mereka mengalami memar dikeningnya.


"Sayang kamu gak apa-apa kan?" Henry memeriksa keadaan istri dan anaknya. El menangis karena kaget mendengar suara benturan. "Mamiiii... Huaahaaa..."


"Ssttt.. Gak apa sayang." Adel turun dari mobil dibanti Henry, setelahnya dia membantu Arga.


Mobil yang lain tertinggal dibelakang, Ama merasa letih karenanya mereka istirahat sebentar di rest area bersama dua mobil yang lain.


"Maammiii.. atut." El mengeratkan pelukannya pada Mami. Dia ketakutan melihat Arga berdarah.


"Cup cup sayang, lihat itu disana ada burung." Adel menunjuk burung yang bertengger dibatang pohon. Kawasan yang mereka lalui cukup sepi, dengan semak belukar dikanan kiri. Padahal jaraknya sudah dekat dengan rumah Wulan.


Beruntunglah El bisa tenang, Henry sibuk dengan benda pipih ditangannya. Menghubungi Daddy dan juga Bejo. Jangan tanya kondisi mobil, yang terpenting penumpangnya selamat.


Saat bersamaan, melintas sebuah mobil mewah. Dan berhenti dibahu jalan tepat didepan mobil Arga dan rombongan. "Ada yang bisa saya bantu Pak." tanyanya pada Pak Sopir yang bersandar didepan mobil.


"Iya Tuan, bisa tolong antar Tuan saya kerumah sakit?" tanyanya.


Orang itu turun dari mobil namun terkejut saat melihat Henry dan juga Arga disana. "Tuan, ada apa ini?" tanya Fauzi yang kebetulan melintas. Dia akan pulang kerumahnya. Jalanan yang mereka lalui sama karena rumahnya dekat dengan Wulan.


"Kamu sedang apa disini?" Henry menjawab pertanyaan Fauzi dengan pertanyaan.

__ADS_1


"Ah maaf Tuan, saya kebetulan melintas disini. Saya akan pulang ke rumah Ibu saya." jawabnya.


"Tuan sepertinya Anda harus segera kerumah sakit." Fauzi melirik Arga yang memegangi sapu tangan dengan darah merembas disana.


"Kau tau dimana rumah sakit dekat sini?" tanya Henry. Dia hanya ingin Arga segera dirawat, lagipula dia sudah mengenal Fauzi sebelumnya.


"Gak usah, kita tunggu Mommy." ucap Arga menolak.


"Tapi kamu harus diobati Ga." Henry tak mau kalah. Adel sibuk menenangkan El, dengan melihat pemandangan dibawah sana. Yah, jalanan ini ditepi jurang. Beruntunglah masih sempat mengerem kalau tidak mungkin mereka akan berakhir dibawah sana.


Tak lama Daddy dan rombongan lain sampai. Henry bernafas lega karena Arga bisa cepat tertolong. "Ga, kamu cepat naik mobil Bejo." Tuan Abimanyu berlari menghampiri Arga yang duduk ditepi jalan. Kepalanya sedikit berkunang karena darah tak henti mengalir.


"Sayang, kamu ikut Mommy dan Ama. Aku akan temani Arga." ucap Henry merangkul Adel. Membantunya menuju mobil Mommy dan Ama berada.


"Terima kasih atas niat baik mu. Keluraga ku sudah datang." Henry kembali, menepuk bahu Fauzi dan membantu Daddynya memapah Arga. Pak sopir bersama mobil yang lain.


Fauzi kembali melajukan mobilnya meninggalkan Arga dan rombongan keluarganya.


"Apa ada barang yang tertinggal disana?" tanya Tuan Abimanyu. Dia harus memastikan semuanya aman dan tak ada yang terlewat.


"Sudah Dad, kita berangkat sekarang. Aku akan berangkat dulu. Kalian langsung ketempat Wulan. Jangan biarkan dia menunggu dan merasa cemas tentang kita." Henry sendiri yang menyetir, membawa Arga dan pak sopir.


Sesuai ucapan Henry, dia menuju rumah sakit, tak lupa membawakan baju ganti untuk Arga. Karena pakaian yang dia kenakan ternoda darah. Sedangkan Tuan Abimanyu dan yang lain menuju rumah Wulan. Bukan hal yang sulit, terlebih Bejo yang dulunya berasal dari kota yang sama dengan Wulan.


Wulan sudah cemas, berulang kali menengok pintu. Namun yang ditunggu tak kunjung datang. Wulan menggigit ujung jari telunjuknya. Dan sebelah lagi sinuk dengan benda pipih yang tak lepas dari tangannya.


"Kenapa mereka belum sampai juga? padahal ini sudah lewat 2 jam." Wulan melirik jam dinding yang menggantung.


"Lan, mungkin mereka lelah, jadi istirahat dulu dijalan." ucap Ibu berusaha menenangkan putrinya.


"Tapi Bu, gak ada yang angkat telepon ku. Aku takut terjadi apa-apa dengan mereka."


TBC


TERIMA KASIH

__ADS_1


__ADS_2