Ibu Untuk Tuan Muda

Ibu Untuk Tuan Muda
Dasar bodoh!!!!


__ADS_3

Terus dukung Baby El ya kakak semua, dengan cara Like Komen dan VOTE sebanyak-banyaknya.


Happy Reading


💐💐💐💐💐💐💐


"Wulan meronta, namun tenaganya tak cukup kuat. Hingga semuanya gelap, perlahan pandangannya kabur. Wulan tak ingat apapun setelahnya.


Arga melihat Wulan digendong menuju mobil yang terparkir tak jauh dari sana. Dia tak setega itu, membiarkan Wulan pulang sendiri, terlebih dia seorang wanita. Dan apa yang akan dikatakan jika Wulan benar-benar diculik. Firasatnya benar, Arga segera mengikuti mobil tersebut dari belakang.


Sampailah mereka pada sebuah rumah, yang cukup besar, namun sepi. Hanya terlihat beberapa penjaga yang berjaga depan gerbang.


Arga menepikan mobilnya agak jauh dari sana. Kemudian menghubungi Bejo dan beberapa anak buahnya. Dia tak mungkin bergerak sendiri. Meskipun sepi, namun rumah ini terlihat seperti markas rahasia. Pasti didalam sana banyak orang yang sudah terlatih. Arga tak boleh gegabah.


Wulan mulai mengerjapkan matanya, dia melihat sekeliling. Tempat yang asing baginya, ia pun teringat. Terakhir dia bertemu dengan dua orang yang menyeramkan. Tubuhnya tinggi tegap dan salah satu lagi bertato di wajahnya.


Wulan menggumam, "Apa aku sedang diculik?" seperti di film-film yang ia lihat. Bagaimana caranya kabur? Kalau tangan dan kakinya terikat. "Hah,sungguh hari yang benar-benar s*al." Umpatnya dalam hati.


"Kau sudah bagun Nona cantik?" Ucap pria bertato. Diikuti satu orang lain, yang tampak asing bagi Wulan.


Wulan mendengus, ia meronta dan berteriak untuk dilepaskan. "Diamlah! Dan menurut saja, kalau kau berteriak lagi akan kupastikan untuk menutup mulutmu rapat-rapat." Wulan ketakutan, bukan hanya dua orang dihadapannya itu. Tetapi disini sangat sepi, pastii sia-sia jika dia berteriak.


...----------------...


Adel sampai di kediaman Wiranata, namun sedang ada orang yang bertamu. Ibu Sari sudah mengenalnya. Dia adalah Tuan Irawan, kaki tangan sekalingus keponakan Tuan Wiranata. Yang saat ini menggantikan Tuan Wira mengurus usahanya.


Adel membawa El masuk, tak lupa memberi salam pada Eyang dan tamunya. "Adel, kemarilah!" Eyang memanggilnya, dan menepuk sofa disebelahnya.


Adel hanya menurut, El tertidur dalam dekapannya. Ibu Sari yang membawa El ke kamar Adel. "Biarkan Ibu yang menidurkan El, kau temanilah Eyang." Saat bersamaan Henry masuk, dia tadi membantu menurunkan barang belanjaan mereka.


" Henry, kau disini?" Eyang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.

__ADS_1


"Maaf Eyang, kami tak sengaja bertemu, dan Baby El ingin ikut denganku." Adel tak ingin Eyang salah paham.


Eyang Wira tak ingin membahas Henry, saat ini ada yang lebih penting. "Wan, dia Adel, cucu yang aku ceritakan. Dan Adel ini Paman Irawan, yang membatu Eyang di kantor." Adel mengulurkan tangannya, dan disambut oleh Irawan. Raut wajahnya menampakkan keterkejutan.


Kenapa orang ini bisa sampai disini? Apakah hubungan dia dengan Adel sebenarnya. Dan Adel? dia disini? Lalu siapa yang mereka bawa. Dasar bodohhh!!! Irawan.


Dia terlihat sangat terkejut melihat Adel, ada apa sebenarnya? Sepertinya ada yang tidak beres. Aku harus menyelidikinya. Henry


Saat Henry sibuk memikirkan siapa Paman Irawan sebenarnya, gawainya berdering. Ada nama Arga disana. "Maaf Eyang, semuanya, saya permisi dulu. Saya akan mengangkat telepon dulu." Dijawab anggukan semua orang.


"Ya Ga, kebetulan kau menghubungiku, aku ada tugas untukmu." Henry langsung mengatakan keinginannya. Saat ini berada di samping dapur, menuju kolam ikan dekat ruang tamu.


Arga segera angkat bicara." Ya Tuan, tapi ini genting, Wulan diculik." Arga menjauhkan ponselnya, dia sudah tahu apa yang akan terjadi.


"Bagaimana bisa? Apa kau tak menjaganya dengan baik? Dan lagi, bukankah dia bersamamu tadi?" Henry mencecar Arga dengan pertanyaan.


"Ini salah saya Tuan, nanti saya jelaskan, tapi untuk apa mereka menculik Wulan? Dia kan hanya pengasuh El." Arga merasa ada yang janggal dengan kasus penculikan Wulan.


Begitupun Henry, dia berpikir kearah sana. "Kau uruslah pacarmu itu, aku akan segera kesana."


"Nak." Ibu Sari mengagetkan Henry. Dia buru-buru menyembunyikan gawainya. Tetapi lupa mematikan panggilan yang masih terhubung.


"Ibu, mengagetkanku saja, ada apa ibu kemari?"


"Seharusnya Ibu yang bertanya, Sedang apa disini?" Awalnya Ibu Sari memanggil Henry dengan sebutan Tuan, begitupun Henry yang memanggil Nyonya. Namun Ibu Sari merasa risih, dia ingin dipanggil Ibu seperti Adel memanggilnya.


Henry merasa sungkan, karena ternyata Ibu Sari adalah Nyonya Wiranata yang selama ini misterius itu. Namun dia hanya menurut saja. Dengan begitu Henry akan semakin akrab dengan keluarga Sultan ini.


"Maaf Bu, saya hanya menerima Telepon dari Arga, kalau begitu saya permisi kedepan." Henry kembali bergabung dengan Eyang dan Adel. Tetapi tak lagi menjumpai Paman Irawan.


"Tuan, kau ini lama sekali." Bisik Adel, mereka duduk berdampingan, sementara Eyang duduk dikursi single diseberang mereka.

__ADS_1


"Ada hal penting yang harus ku urus, aku titip El, nanti aku akan menjemputnya." Mereka bicara tanpa menyadari keberadaan Eyang yang terlupakan. "Ehmmm" Eyang berdehem.


"Mau kemana kamu?" Tanya Eyang datar.


"Maaf Eyang, maksudku Tuan, saya..." Henry sedikit gugup, padahal dia sudah biasa menghadapi orang seperti Eyang Wira. Tapi entah mengapa melihat tatapan matanya, membuatnya sedikit bergidik.


"Kau ini sebenarnya mau apa? Adel sedang berisirahat, malah kau membawa anakmu itu kemari? Apa kau tak bisa membiarkan cucuku beristirahat?" Dengan nada tegas, Eyang terus menatap Henry.


Adel hanya bisa pasrah, sebenarnya dia juga malas bertemu Henry, tapi dia juga tak tega jika melihat El menangis.


"Maafkan saya Tuan..." Baru kali ini Henry menurunkan harga dirinya. Demi El. Batinnya.


"Kau tahu, dia itu Adel, cucuku, cucu seorang Wiranata." Henry seolah disadarkan, bahwa status Adel saat ini seorang Nona, Nona dari keluarga Wiranata.


"Eyang, sudahlah, Adel hanya tak tega melihat Baby El yang terus menangis. Lagi pula Adel yang mengajaknya kemari."


Hal itu malah membuat Eyang semakin marah, "kau lebih membela dia?" Suara Eyang meninggi. Telunjuknya mengarah pada Henry.


"Bukan begitu Eyang, kan kita sudah membahasnya, sampai El lulus ASI." Adel membekap mulutnya sendiri. Dia lupa disini masih ada Henry.


"Eyang pegang janjimu, hanya sampai waktu itu. Dan kau akan menuruti Eyang." Eyang beranjak pergi. Meninggalkan Adel dan Henry begitu saja.


"Tuan, jangan dengarkan Eyang, saya akan tetap menjadi Ibu untuk El." Adel benar-benar menyesal karena keceplosan. Dia mengutuki disinya yang tak hati-hati.


"Adel, maksudku Nona Adel, kau mungkin bisa, tetapi aku sadar. Siapa dirimu yang sekarang." Entah mengapa dadanya begitu sakit, mendengar ucapan Eyang Wira.


"Dan jangan lagi memanggilku Tuan, panggil aku Henry. Hanya Henry tanpa embel-embel apapun." Henry segera pergi, membawa El yang saat itu juga baru bangun tidur bersama Ibu Sari.


"Maaf Ibu sudah merepotkan, saya harus membawa El." Ibu Sari menatapnya heran, dengan sikap Henry yang tiba-tiba dingin. Padahal tadi dia terlihat baik-baik saja.


Adel hanya bisa menatap kepergian Henry yang membawa El. Entah mengapa hatinya sangat sakit, seperti saat kehilangan putrinya dulu.

__ADS_1


TBC


Terima Kasih


__ADS_2