
Terima kasih telah singgah dilapak baby El.
Dukung terus Baby El dengan Like Komen dan Vote sebanyak-banyaknya.
Happy Reading
💐💐💐💐💐💐
Hari terakhir liburan, Adel dan Wulan sibuk mengemasi barang-barang mereka. Dan juga milik El, ada beberapa pernak pernik yang mereka beli siang tadi.
"Adel, kita pasti akan merindukan tempat ini." Wulan memandang sekeliling kamar.
"Yah kau benar, entah kapan lagi kita bisa kemari."
"Apa semuanya sudah siap?" Nyonya Amel menyembulkan kepalanya dari balik pintu.
"Sudah Nya, kita berangkat sekarang?" Adel membawa 2 koper, Wulan hanya membawa koper miliknya, El sudah ada dibawah, bersama daddy nya.
"Sebaiknya kita bergegas, atau kita akan terlambat sampai bandara." Nyonya Amel meninggalkan mereka.
"Kau jalanlah duluan Lan, ada sesuatu yang aku lupakan." Wulan menurut, dia meninggalkan Adel seorang diri.
Tak lama Adel menyusul, mobil yang menjemput mereka sudah standby. "Lan, kau pergilah bersama El, aku akan dibelakang bersama Ama."
"Tapi, nanti kalau dia mencarimu, aku harus apa?" Wulan menurut saja, karena cuaca tiba-tiba mendung, Wulan takut El kehujanan.
"Tenanglah, El pasti akan tertidur, dia sedari pagi belum tidur sekalipun. Kurasa dia tak akan mencariku." Adel masuk ke mobil belakang, bersama Nyonya Amel dan Ama.
"Lohhh Adel, kenapa kamu disini?" Ama menatapnya heran.
"Heheee.. Iya Ama, Adel sangat lelah, gantian Wulan yang menjaga El." Kedua nenek itu saling melirik, tetapi tak ada yang berani menegur, mungkin memang Adel kelelahan, karena El memang sedang aktif-aktifnya.
Di mobil Henry, dia hanya bisa membatin, kenapa Adel tak bersama El? Malah seolah menjaga jarak darinya. Tetapi dia juga tak mungkin bertanya. Dia memilih diam, sambil memangku El, yang baru saja dia ambil dari Wulan.
Dikursi penumpang, Wulan dan Arga saling memunggungi, menatap keluar jendela, tanpa ada yang berkata satupun. Suasana menjadi hening, perjalanan ke bandara membutuhkan waktu 2 jam lamanya.
__ADS_1
Kenapa aku harus duduk disebelah pilar menyebalkan ini sih? Adel awas kau ya, ini pasti kamu sengaja. Membalas dendam padaku, karena aku mengerjaimu kemarin.
Arga memilih memejamkan matanya, dari pada dia harus beradu mulut dengan makhluk menyebalkan disampingnya. Dia sedang tak bersemangat untuk itu.
...----------------...
Dua jam berlalu, mereka tiba di bandara tepat waktu, mereka segera menunjukkan boarding pass, dan menuju ruang tunggu setelah melalui pemeriksaan tentunya.
Adel pamit ingin ke toilet, entahlah mungkin dia salah makan. "Ama, Nyonya, saya ketoilet sebentar."
Ama dan Nyonya Amel mengiyakan, El sedari tadi tak lepas dari daddy nya. Semenjak liburan kali ini, El selalu menempel padanya. Mungkin ini yang dinamakan kemistri .
El sudah terbangun dari tidurnya, dia mengoceh, bermain bersama Arga dan Henry. "Papapapaa."
"Kau memanggilku papa? Hmmm." Arga merasa terharu, El memanggilnya 'papa' padahal selama ini mereka tak sedekat itu.
"Panggil dia om Arga, okey..." Henry tak terima anak nya memanggil Arga 'papa'.
"Noooo, uncle... Panggil aku ucle."
"Heiiii... Om saja, kau lebih pantas dipanggil om, wajahmu seperti om om. Hahahahaa..." Henry sengaja menggodanya.
"Tuan-Tuan yang terhormat, Anda harus menjaga perilaku Anda didepan El, kalian harus memgajarkan hal-hal baik padanya." Wulan berdiri diantara mereka. Dan mengambil El yang masih terus menagis.
Dari kejauhan El melihat Adel, yang sengaja bersembunyi ketika kembali dari toilet. Tetapi Adel mengacuhkan El, bayi itupun menangis, merasa diabaikan maminya.
Wulan memberinya susu, sambil menimangnya. " Kau haus sayang? Kau pasti mencari mami mu itu, tunggu sebentar ya, dia sedang ketoilet." Wulan berbicara sambil menatap mata El, bayi itupun tersenyum.
"Sepertinya kau memang sudah pantas memiliki bayi Lan." Ama menganggap Wulan sudah sangat pandai mengurus El, padahal belum lama mereka bersama. Sama seperti Adel, Wulan merawat El dengan sepenuh hati.
Yah, Wulan melepas gelar dokternya, dan menjadi pengasuh El, bersama Adel mereka saling membantu. Tetapi jangan ditanya, gaji merawat El tentu lebih menggiurkan, bagaimana tidak? Wulan digaji 5 kali lipat, dari gajinya sebagai dokter anak dirumah sakit.
El, kau sudah menemukan ibu baru untukmu. Wulan adalah gadis yang baik, aku yakin dia akan merawatmu dengan baik. Maafkan mami, karena tak bisa bersamamu lebih lama lagi. Semakin lama, maka akan semakin sulit bagiku berpisah denganmu. Adel menatap El dengan tatapan nanar.
Tessss.....
__ADS_1
Buliran bening lolos begitu saja dari kedua sudut matanya, Adel tak sanggup lagi menahan sesak didada. Yang semakin ia tahan, maka akan semakin sesak. Perasaanya gamang , antara melanjutkan perjanjiannya, atau mengakhirinya.
Tetapi ia tak akan tahan, jika terus bersama El, maka rasa sakit karena perpisahan pasti akan semakin menggores hatinya yang rapuh.
Saat ini Adel duduk jauh dari keluarga Syahreza, dia sengaja menghindari El, dan tak ingin ada yang melihat kesedihannya.
"Usaplah air matamu, atau cantikmu akan menghilang." Seseorang menyodorkan sapu tangan pada nya.
Adel mendongakkan kepalanya. Wajah yang tak asing lagi, berdiri menjulang dihadapannya. "Kak Rey" gumam Adel, dia langsung berdiri.
"Bukankah kau sudah kembali kemarin?" Adel terlihat linglung, mungkinkah dia sedang berhalusinasi? Adel menyentuh wajah Rey, terasa sangat nyata.
Rey memegang tangan Adel, dan menautkan jemarinya. "Kau tidak bermimpi, ini nyata."
Adel segera menjauhkan tangannya, dia sadar, banyak orang disini. Pasti akan banyak praduga tentangnya. "Lalu surat itu?"
"Maafkan aku, seharusnya aku kembali kemarin, tetapi karena cuaca tak memungkinkan, jadilah pesawatnya delay. Dan tadi pagi aku ketinggalan pesawat pagi." Rey terkekeh, ternyata Tuhan punya rencana lain, dia bersyukur karena dengan kejadian ini dia bertemu dengan Adel.
"Maafkan aku Jasmine, aku sungguh menyesal." Rey tiba-tiba berubah serius.
"Ya, aku sudah memaafkanmu, aku juga minta maaf, karena mengabaikanmu waktu itu."
"Aku paham, kau pasti terkejut melihatku kan?" Tetapi dia seperti mencari keberadaan seseorang. "Dimana suami dan putramu itu?"
Adel baru tersadar, bahwa dia sudah terlalu lama berpisah dengan rombongan. "Ah mereka disana, aku akan segera menemuinya."
"Tunggu, kau ada masalah dengan suamimu itu? Ada apa kau menangis?" Tanya Rey beruntun.
"Aku tak apa kak, sungguh." Adel berusaha menepis tangan Rey yang menggenggam tangannya.
"Kau tak pandai berbohong, terutama padaku." Namun Rey tak memaksa Adel, lama tak berjumpa mungkin akan membuat Adel tak nyaman.
"Aku harus kembali, pesawatku segera take off." Beruntunglah Adel, karena saat bermasamaan, dia mendengar pengumuman bahwa pesawatnya akan segera diberangkatkan.
Rey terus memandangi punggung Adel hingga menghilang, dia masih tak menyangka, bisa bertemu Adel kembali. Kesi*lannya membawa keberuntungan sendiri baginya. Ia rela pesawatnya delay, asalkan dia bisa berbicara langsung dengan Adel. Walaupun hanya sebentar, tetapi membuatnya sangat bahagia.
__ADS_1
TBC
Terima kasih