Ibu Untuk Tuan Muda

Ibu Untuk Tuan Muda
Bukan mimpi


__ADS_3

Maafkan atas kekhilafan author ya readers, maaf atas kejahilan ku.


Jangan bosan sumbangin poin dan koinnya kakak, vote vote vote.


Happy Reading


💐💐💐💐💐💐💐


"Mamiii Eyyy iinduuuu" Ansell berlari menuju arah tangga, sedangkan Adel masih diujung sana.


"Sayang, tunggu Mami disini ya" Wulan membujuk El untuk bersabar. Namun yang ditunggu tak kunjung turun, Adel terpaku ditempatnya, menatap nanar pada semua yang hadir disana.


Ibu Sari tahu kegelisahan putrinya, mengusap lengan Adel dengan halus. "Ibu akan menjelaskan semuanya, kita temui mereka dulu" Ibu Sari menuntun Adel, dia benar-benar tak percaya dengan apa yang dilihat.


El memeluk kaki Adel sangat erat, Wulan tak mampu mencegahnya. "Mamiii, Mami apa? Ey tak atal Mami" (Mami kenapa? Ek gak nakal Mami) wajah memelas El tak akan pernah bisa membuat Adel mengabaikan bayi itu.


"Iya sayang, Mami juga rindu El, sangaaaaattt rinduuuu, kangen berat" Adel merengkuh El dalam pelukannya. Dia menghadiahkan banyak ciuman diwajah tampan El.


"Anen eyat?" tanyanya polos, Adel hanya mengangguk.


"Ehm" suara Eyang Wira membuat Adel tersadar kembali, dia memperhatikan wajah mereka satu per satu. Juga banyaknya parcel yang diletakkan dimeja besar didepan sana.Sampai pada Henry, kedua bola mata mereka saling beradu, membuat keduanya salah tingkah dan melirik arah lain.


"Adel duduklah, kau juga Sari" Tuan Wira menepuk tempat kosong disebelahnya.


"El, ayo kita duduk disana" ajak Wulan, El semakin mengetatkan pelukannya pada leher Adel. Dia tak mau ikut dengan Wulan.


"Tak apa Lan, biar El bersamaku" Adel memangku El, bayi itu hanya diam memainkan rambut Adel.


"Semua sudah berkumpul, saya ingin menyampaikan maksud dan tujuan saya datang kesini. Saya mewakili keluarga saya ingin mempererat tali persaudaraan diantara keluarga kita" Tuan Abimanyu berdiri, dia memulai pembicaraan.


"Dan saya ingin melamar Nona Adel untuk putra saya Henry, atas permintaan Henry sendiri. Bagaimana dengan Nona Adel, apakah menerima atau tidak?" Adel yang mendengarnya masih belum percaya akan apa yang di dengarnya, bukankah tadi dia menyuruhnya pergi?

__ADS_1


"Saya terima niat baik Anda, keputusan saya serahkan sepenuhnya pada cucu saya, karena dia yang akan menjalani rumah tangganya kelak" Tuan Wira hanya bisa mendukung yang terbaik, dia tak ingin memaksa.


Pandangan Adel semakin lama semakin kabur, tubuhnya meluruh bersandar pada Ibu Sari yang duduk disebelahnya. Wulan segera mengambil El dari pangkuan Adel, semua orang panik, Adel dibawa ke kamar tamu dilantai yang sama.


Henry menatap nyalang pada Arga yang baru saja keluar dari kamar, didalam hanya ada para wanita. "Berhenti menatapku, atau ku colok dengan kedua jariku ini" Arga mendengus, sebal dengan tingkah Henry yang kekanakan.


"Tapi kau sudah menyentuhnya, bahkan menggendongnya" Henry masih tak berkedip, dia masih menatap Arga dengan tatapan yang menusuk.


"Ayolah, bagaimana aku harus membawanya? ini darurat, kalau tangan mu tak sakit juga aku malas membantumu, bukannya berterima kasih" Arga malas meladeni Henry, dia meninggalkan Henry sendiri, bergabung dengan Tuan Wira dan yang lain, mereka sedang menghibur El dan bermain bersama.


"Awas saja kau Ga, tunggu tanganku ini sembuh" Henry mengumpat dalam hati.


Wulan memeriksa denyut nadi Adel lebih lambat dari orang normal, meraba keningnya. "Tak perlu panik Nyonya, Adel hanya syok, sepertinya Adel kelelahan dan dehidrasi" penjelasan Wulan membuat Ibu Sari merasa bersalah, dia tak memberi waktu Adel istrirahat. Bahkan belum menyakan Adel sudah makan atau belum.


"Bibi, tolong siapkan makanan untuk Nona Adel, sebentar lagi Nona Adel siuman, dan juga minuman hangat" Bibi Yan mengangguk lalu pergi ke dapur. Dan benar saja, baru beberapa langkan Bibi Yan pergi Adel sudah mulai sadar.


Adel mengerjapkan matanya beberapa kali, dia memegang kepalanya yang terasa pusing. "Ibu, kenapa banyak orang? Tadi aku mimpi El ada disini" Adel berusaha duduk dibantu Wulan dan Ibu Sari.


"Kau tak bermimpi Adel, apa yang kau rasakan? Masih pusing?" Adel mengangguk, tak lama Bibi Yan datang dengan nampan berisi makanan dan minuman hangat.


"Aku tak lapar Bu" Adel menggeleng, memikirkan dia aka pergi dari El, selera makannya menghilang, sejak semalam dia tak makan apapun, bahkan melupakan sarapan paginya.


"Kau harus makan, untuk menghadapi kenyataan butuh tenaga, butuh asupan" Wulan berkata dengan ketus dia berpikir Adel membohonginya.


"Biarkan aku makan sendiri Bu, ada hal yang harus aku tanyakan padanya" Adel menunjuk dengan dagunya.


Ibu Sari keluar, memberitahukan yang lain bahwa Adel sudah bangun dan tidak ada yang perlu dikuatirkan. Semua orang bernafas lega, namun Henry bersikeras ingin menemui Adel. "Pergilah nak, kalian butuh waktu untuk bicara berdua" Tuan Wira mengizinkan Henry menemui Adel.


Di dalam kamar tamu.


"Lan kenapa kamu gak kasih tau aku?" Adel disela makannya.

__ADS_1


"Jadi kamu juga gak tau?" Adel menggeleng, Wulan sudah salah paham, dia mengira Adel menyembunyikan berita ini padanya.


"Jadi hanya kita berdua yang tak tau dengan acara sepenting ini? keterlaluan, bahkan kamu sendiri tak mengetahuinya" Wulan geleng-geleng kepala, sungguh menyebalkan.


"Ini semua salahku" suara berat yang tiba-tiba muncul dibalik pintu. Kamar tamu tak dikunci, dan sebagian pintunya terbuka, membuat Henry leluasa masuk.


Wulan sadar diri, dia segera meninggalkan mereka berdua, "Aku harus pergi, takut El mencariku"


Wulan berlalu dia sengaja jalan melambat didekat Henry. "Awas kalau kau menyakitinya lagi Tuan, aku yang akan menghajarmu pertama kali" bisik Wulan dia kembali berjalan cepat dan menutup pintu kamar sepenuhnya.


Henry duduk diujung ranjang, tepatnya disebelah kaki Adel, canggung, mereka berdua tak ada tang berniat memulai percakapan.


"Maaf" seru keduanya bersamaan.


"Kau dulu yang bicara" ucap Henry.


"Tidak, kau saja duluan" Adel tak berani menatap Henry. Dia memilih menundukkan kepalanya.


"Maafkan aku, kamu pasti terkejut dengan kedatangan ku dan keluarga besar ku" Henry memberanikan diri mendekat pada Adel. "Ini semua salahku, tak seharusnya aku membohongimu"


"Bohong tentang hal apa?" Adel mengernyitkan keningnya.


"Aku sudah ingat semuanya, dan tawaranku masih berlaku" Henry tak ingin berbasa-basi lagi. Dia menggenggam tangan Adel yang terasa dingin.


"Ta-tawaran apa?" Adel pura-pura bodoh, jantungnya berpacu lebih cepat, saat tangan Henry menyentuhnya.


"Apakah kau masih bersedia dan menerima lamaranku?" Adel mendongakkan kepalanya, tatapan keduanya saling mengunci.


"Tujuan ku datang kesini untuk meminta mu secara resmi pada Eyang, kamu bilang sendiri ingin acara yang romantis, entah tindakan ku ini sudah benar atau salah tapi aku hanya ingin mewujudkan keinginanmu, sebelum aku mengumumkan dihadapan semua orang, lebih baik kedua keluarga kita dulu. Aku tanya padamu sekali lagi, apa kau bersedia menerimaku dengan segala kekuranganku?"


Adel berkaca-kaca, dia tak menyangka si manusia kutub bisa selembut dan setenang ini.

__ADS_1


TBC


TERIMA KASIH


__ADS_2