
Happy Reading
💐💐💐💐💐💐💐
Adel terbangun, dia senyum-senyum sendiri mengingat kejadian semalam. Henry benar-benar tak membiarkannya tidur semalaman. Dia seperti tak ada lelahnya, dan baru berhenti saat Adel sudah benar-benar kelelahan.
"Morning kiss sayang." Henry mengecup Adel yang masih setengah sadar.
Henry sudah berpakaian rapi, dia sudah siap untuk berangkat ke kantor. "Kenapa gak bangunin aku sih?" Adel mengerucutkan bibirnya.
"Kamu pasti lelah, semalam kita berperang." Henry mengedipkan sebelah matanya. Dia duduk di samping Adel.
Adel segera menutupi tubuh polosnya. "Jangan mendekat." ucapnya.
"Kenapa harus ditutupi sih? aku bahkan sudah melihat semuanya." Henry tekekeh mengingat hal semalam. "Awalnya menolak eh malah ketagihan." ucapnya tanpa dosa.
"Daddy, diam jangan bahas itu lagi." Adel melemparkan bantal kearah Henry, namun Henry sudah lebih dulu menangkapnya. Wajah Adel memanas, mungkin sudah seperti kepiting rebus. Adel meutupi wajahnya dengan selimut.
"Hahaha... kamu lucu kalau tersipu sayang, tambah cantik." Henry menarik selimut, namun Adel sekuat tenaga mempertahankan satu-satunya kain yang menutupi tubuhnya. Bahkan piyamanya sudah tak terlihat lagi, semuanya rapi, Henry sudah membereskan semuanya.
"Oke-oke, sebaiknya kamu bergegas, atau aku beritahu Nathan kamu belum bisa masuk?" Henry meraih benda pipihnya diatas nakas.
"Gak, jangan, aku sudah terlalu lama libur." Adel berusaha bangun, dengan selimut tebal yang diseretnya.
"Issshhh." Adel mendesis, menahan perih pada inti tubuhnya. Henry yang menyadari itu langsung menggendong Adel ala bridal style.
"Aaa, kenapa kau menggendong ku, dan selimutnya." Adel meuntupi dengan kedua tangannya.
"Haih, tek perlu ditutupi lagi sayang, aku kan sudah melihatnya." Henry menghiraukan ocehan Adel. Henry menaruh Adel dalam bathub perlahan, air hangat yang telah dia siapkan sebelumnya.
"Aku tunggu dibawah." Henry meninggalkan Adel.
Henry meraih selimut yang berserak dilantai, namun ia tertegun karena mendapati sesuatu. "Nanti saja, ini sudah siang." Henry melempar selimut dan sprei kotor, dia menggulungnya dan menyimpan dilemari paling ujung. Tak lupa menggantinya dengan yang baru.
Henry menuju ruang makan dengan senyum tak memudar, menghiasi wajah tampannya. Semua itu tak luput dari perhatian semua keluarga yang ada diruang makan.
"Ar, ada apa dengan mu? dimana Adel?" tanya Ama beruntun.
"Hah, memangnya aku kenapa Ama?" Henry menjawab pertanyaan Ama dengan pertanyaan.
"Dia ini gila Mam, tergila-gila dengan Adel. Jadi seperti orang gila." ucap Nyonya Amel.
"Yah kau benar Mel." sahut Ama.
"Lalu dimana Adel?" tanya Tuan Abimanyu yang baru saja bergabung.
"Masih bersiap-siap Dad, sebentar lagi turun."
"Wah parah, kau pasti mengerjainya ya?" celetuk Arga, dia meletakkan gawainya. Dan berpakaian santai, dia belum diizinkan ke kantor.
"Hahaha... sok tau, dasar jomblo abadi."
"Siapa bilang aku jomblo?" Arga tak terima.
"Lan, apa dia udah mgelamar kamu?" tanya Henry pada Wulan yang sedang menyuapi El. Wulan hanya menggeleng, membuat semuanya tertawa.
"Kalau Wulan belum dilamar, berarti kamu masih jomblo." sindir Henry.
Tak lama yang dibicarakan datang, dengan wajah lesu, meski sudah menutupinya dengab make up, tetap saja terlihat dari raut wajahnya yang kelelahan.
"Nah kan, habis diapain kamu Del?" Nyonya Amel yang menyadari wajah Adel yang tak biasanya.
"Aku? Gak diapa-apain Mom." jawab Adel seadanya.
"Sudahlah! kita mulai sarapannya, nanti kita terlambat." seperti biasa, Tuan Abimanyu sebagai wasit jika keluarga mereka berkumpul seperti ini.
Selesai sarapan, Henry mengantarkan Adel ke kantor. Dia tak ingin membiarkan Adel berangkat sendiri, begitupun El yang tak mau ditinggal, Wulan terpaksa harus ikut mengantar Mami dan Daddy El.
"Bye El." Adel mencium kedua pipi El, dan melambaikan tangannya.
"Bye Mami, micu." El mengerucutkan bibirnya, seolah sedang mencium Mami nya.
Bejo melajukan kendaraannya saat Adel memasuki lobby. Para pegawai menyambut kedatangan Adel dengan senyum hangat dan sapaan. Ada juga beberapa staff yang memberikan selamat karena tak bisa ikut hadir dalam acara resepsi.
Ini adalah hari pertama Adel mulai bekerja, setelah hampir dua minggu dia tak masuk karwna mengurus pernikahannya.
"Selamat pagi Bu." sapa Nia sekertaris Adel dikantor.
"Selamat pagi Nia, apa Nathan sudah datang?" tanya Adel.
"Sudah Bu, baru saja." Adel hanya mengangguk, dan berlalu menuju ruangannya. Nia mengernyitkan keningnya.
__ADS_1
"Manten baru kok wajahnya lesu begitu." gumam Nia.
"Siapa yang lesu?" Nathan yang melewati meja Nia menatap heran pada sekertaris bosnya itu.
"Bapak, wajahnya datar, buat orang lesu." ucap Nia asal.
"Kamu berani ngatain saya?" Nathan memandangnya sinis.
"Hah, ya gak mungkin lah Pak." Nia mengelak.
"Terserah." Nathan meninggalkan Nia.
"Pak, ada yang nyariin." ucapan Nia memghentikan langkah Nathan.
"Kamu jangan bercanda sama saya." ucap Nathan datar.
"Beneran, Bu Bos yang tanyain soal Bapak. Kalau gak percaya lihat aja sendiri."
Ini anak mulutnya nyablak amat sih, cewek kan biasanya lembut, apalagi didepan atasan. Gak ada sopan santun.
Nathan mengetuk pintu ruangan Adel, namun tak ada jawaban. Dia merasa dibohongi Nia. Nathan menggebrak meja, sehingga Nia menghamburkan tumpukan kertas yang sedang dia bereskan. "Hei orang aneh, kamu mau bohongin saya ya?" Nathan dengan suara tinggi.
"Gak, saya gak berani bohong, sumpah deh, tadi benaran Bu Bos baru datang terus nanyain Bapak." Nia berkata dengan serius.
"Awas kalau bohong, gaji kamu saya potong 50% bulan ini." Nathan kembali keruangannya.
Ternyata Adel tertidur disofa, begitu lelapnya sampai tak mendengarkan keributan diluar ruangannya. Padahal baru saja menyandarkan tubuhnya, tapi dia bisa terlelap begitu nyenyak.
Efek peperangan dengan Henry membuatnya tak kuasa menahan kantuk. Adel baru terbangun ketika gawainya berdering. "Siapa sih ganggu orang aja." Adel merogoh tas jinjing yang dia bawa. Adel mengangkat telepon tanpa melihat siapa yang menghubunginya.
"Adel, ini Eyang, apa kamu sudah ada dikantor?"
"Iya, ini dikantor."
"Ada apa dengan suara mu? apa kau sakit?" Eyang sedikit cemas.
"Iya." jawab Adel asal.
"Apa? sakit apa? terus kamu ini dimana?" suara Eyang sedikit meninggi, membuat Adel tersadar. Dia berdiri, dan melirik gawainya. EYANG, nama dilayar, membuatnya kalang kabut, dia melirik jam. Ternyata sudah satu jam dia tertidur. Tak ada yang membangunkannya.
"Eyang ada apa? maksudku aku dikantor, aku baik-baik saja."
"Oh, iya Eyang nanti Adel lihat."
"Ya sudah, Eyang tutup. Tapi kamu benaran baik-baik saja kan?"
"Iya Eyang gak perlu kuatir." Panggilan berakhir, Adel menuju wastafel untuk menyegarkan wajahnya. Setelah beberapa saat dia merasa lebih baik.
"Nathan." ucap Adel yang baru kembali dari kamar mandi. Dia tak menyadari kedatangan Nathan diruangannya.
Ternyata dia gak bohong, tapi tadi gak ada yang menjawab ku.
Mereka akhirnya sibuk membicarakan masalah pekerjaan. Sejauh ini semuanya baik-baik saja, bahkan sudah jauh lebih mengalami peningkatan dari sebelumnya.
...----------------...
Sementara itu, El merengek ingin ikut Daddy bekerja, namun Wulan merasa tak enak takut menganggu konsentrasi. Terlebih saat ini Arga belum masuk kerja.
"Daddyyy... Huhuuu..." Henry masih menenangkan El di dalam mobil. Dia juga tak mungkin membawa El, hari ini dia sangat sibuk dengan scedule kerja.
"El, kita kan mau main sama Papa Arga." ucapan Wulan menghentikan tangisnya sejenak.
"Papa Ga?" ucap El berbinar.
"Ah iya, kasihan Papa nungguin di rumah." Henry ikut menggunakan Arga sebagai alasan.
"Ayo kita pulang, nanti Papa lama nunggu kita." ajak Wulan.
"Oye, Mama puyan yuk."
"Oteeyy.." Wulan menirukan gaya El dengan sedikit memiringkan kepalanya.
"Nah Daddy kerja dulu ya. Bye sayang." Henry mengecup kedua pipi gembul El sebelum turun.
"Bye Dad." El membalas lambaian tangan El.
"Pak Jo, kita bisa jalan sekarang." ucap Wulan, mengagetkan Bejo yang sedang memperhatikan seseorang diseberang sana.
"I-iya, bisa-bisa dok." Bejo masih memanggil Wulan dengan Dokter Wulan. Meski Wulan ingin dipanggil namanya secara langsung.
Bejo meninggalkan gedung HS Group dengan sedikit tanya dibenaknya. Namun dia segera menepisnya. Dan fokus pada kursi kemudi.
__ADS_1
"Pak, kita mampir sebentar ya, ditoko kue dekat perempatan yang kita lewati."
"Iya Dok, yang didekat klinik itu ya?" tanya Bejo memastikan.
"Iya Pak." Wulan kembali sibuk meladeni El yang terus mengoceh sepanjang jalan.
Wulan turun sendiri, karena tak ingin repot dengan membawa El. Jadilah El bermain bersama Bejo di dalam mobil.
"Tuan Kecil mau ini?" tunjuk Bejo pada mainan didekatnya.
"Noo, ini El." Bocah itu tak mau dipanggil Tuan Kecil, dengan menunjuk dirinya El.
"Oke Tuan El."
"Noo, Butan Tuan El." El mengerycutkan bibirnya.
"Hah, iya El, oke El mau mainan ini?" Bejo memaksakan senyumnya. Dia sangat kaku, bagaimana tidak? dia sama sekali tak pernah berinteraksi langsung dengan anak kecil.
Aku lebih baik berurusan dengan preman pasar, dari pada berhadapan dengan anak kecil sepertinya.
"Sabar, sabar Jo." Bejo mengelus dadanya.
"Jo?" tanya El polos.
"Ah ya, El boleh panggil saya Uncle Jo."
"Antel Jo?"
"Ya begitu juga boleh." Bejo mengangkat tangannya. Mereka berdua beradu telapak tangan .
"Tos." ucap keduanya saling melempar tawa.
Tapi lucu juga Tuan Kecil. Kaya boneka hidup, jadi gemesss.
"Mau itu." tunjuk El pada benda pipih dilaci kecil.
"Jangan ya, ini bukan mainan."
"Huuuhuuu... mau itu." El menangis membuat Bejo menggaruk kepalanya sendiri. Dia bingung bagaimana menenangkan anak kecil. Bejo yang berbadan tinggi tegap, mengasuh bayi. Hahaha... Membayangkan saja thor tertawa guling-guling.
"Oke, jangan nangis lagi ya." Bejo menyodorkan benda pipih miliknya. Saat bersamaan, Arga menghubunginya. Sudah hampir dua jam tetapi mereka belum juga kembali. Padahal Henry mengatakan mereka sudah pulang 45 menit yang lalu.
El sangat senang, karena terpampang gambar Arga disana. "Papaaaa..." teriak El saat mengetahui Arga ada dilayar. Arga sengaja video call untuk memastikan mereka ada dimana.
"El, kenapa kamu yang jawab, dimana Pak Bejo?" tanya Arga sedikit lembut, dia menekan kemarahannya.
"Nih, Antel Jo, tuh Papa Ga."
"What? Uncle?" Arga mengernyitkan keningnya.
"Beeejoooo..." Teriak Arga diseberang sana. Bejo hampir melempar ponselnya karena teriakan Arga.
"I-iya Tuan, saya disini." Bejo mengarahkan ponselnya pada wajahnya.
"Kalian dimana? kenapa belum juga sampai dirumah? cepat pulang, Nyonya menunggu kalian." cecar Arga tak memberi kesempatan Bejo untuk menjawab.
"Ada apa sih berisik banget." Wulan baru saja masuk mobil, mendapati Bejo yang sedang melakukan panggilan.
"Nih, Tuan Arga mau bicara." Bejo mengarahkan kamera pada Wulan.
"Kalian dimana? jangan bawa El keluyuran, Ama menunggu kalian." Bejo mengernyitkan keningnya.
"Iya-iya ini mau jalan. Dasar cerewet."
"Tuan bukannya tadi bilang Nyonya?" tanya Bejo polos.
"Sudah, cepat pulang." Arga menutup panggilan sepihak.
"Biarin aja Pak Bejo, jangan diladeni, kita pulang sekarang."
"Baik Dokter."
Wulan mengeluarkan kue yang dia beli, membuat El bersemangat, bocah gembul itu paling suka dengan cup cake. Wulan sengaja membelikan El rasa keju, favoritnya.
Bejo kembali melanjutkan perjalanannya yang tinggal beberapa meter, Wulan menyuapi El hingga menghabiskan satu cup cake rasa keju.
TBC
Jangan lupa like komen dan vote nya ya kakak.
TERIMA KASIH
__ADS_1