Ibu Untuk Tuan Muda

Ibu Untuk Tuan Muda
Aku akan melakukan apapun


__ADS_3

Budayakan Like komen dan Vote setelah membaca ya kakak semua.


Happy Reading


💐💐💐💐💐💐💐


Tuan Wira berjalan dengan tergesa, diikuti Ibu Sari dibelakangnya. Dia hendak masuk, tetapi Tuan Abimanyu mencegahnya. "Maaf Tuan, mereka sedang beristirahat. Lebih baik kita tunggu mereka bangun." Mendengar kata 'mereka', Tuan Wira menautkan alisnya. Dia hanya ingin menjenguk Adel.


"Mereka siapa? Aku hanya ingin melihat cucuku." Tuan Wira tak menyangaka, akan apa yang dilihatnya. Mereka terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia. Ibu Sari ikut terharu, akan pemandangan indah itu.


"Ayah, sebaiknya kita tunggu diluar." Ibu Sari mengajak Tuan Wira duduk dikursi panjang stainless. Sebenarnya dia ingin segera masuk dan memisahkan mereka. Tetapi dia tak setega itu, cucunya butuh istirahat. Pasti bukan hal yang mudah lepas dari penculikan ini.


"Tuan Anda bisa istirahat diruangan sebelah, kami sudah merapikan tempat itu." Tuan Abimanyu membantu Tuan Wira, akhir-akhir ini memang kesehatannya kurang baik. Terlebih mendengar kabar tak mengenakkan tentang Adel. Cucu yang baru beberapa waktu dia temukan. Tak ada yang menginginkan kejadian seperti ini terjadi, semua adalah kehendak Author.


"Sabar ya dek, kita hanya perlu berdoa semoga Adel cepat pulih." Nyonya Amel duduk disamping Ibu Sari. Menggenggam tangannya erat, menyalurkan kekuatan untuk saling menguatkan. Kedua orang yang telah menjadi ibu ini berpelukan dengan erat.


...----------------...


Dua hari Adel dirawat dirumah sakit, Ibu Sari dan Nyonya Amel selalu mendampingi secara bergantian. Begitupun Henry, dia tak meninggalkan rumah sakit sedikitpun. Jika harus beristirahat dia memilih tidur di sofa. Hal itu dia lakukan semata untuk El. Yang tak ingin berpisah dari Adel. Padahal Wulan sudah datang menjemput El. Tetapi bayi itu menangis saat jauh dari Mami Adel.


Eyang Wira tak diperbolehkan menunggu dirumah sakit, karena demi kesehatannya. Mengharuskan istirahat dirumah. Ibu Sari yang bolak balik kerumah sakit, padahal Nyonya Amel sudah melarangnya. Tetapi masih saja dilakukan, setiap hari pula Ibu Sari membawakan makanan kesukaan Adel.

__ADS_1


Tuan Abimanyu yang menggantikan Henry bersama Arga. Nathan memiliki tugas tambahan, mengawasi perusahan dibawah pimpinan Wiranata Corporation. Bukan tugas yang mudah tentunya, apalagi harus secara sembunyi-sembunyi dia melakukannya.


Sepulang dari kantor, Tuan Abimanyu singgah dirumah sakit Membujuk putranya untuk pulang ke mansion. "Son, pulanglah! Daddy akan menggantikanmu disini. Lagi pula sore ini Adel boleh pulang." Henry menatap El, bayi itu mulai sedikit tersenyum. Tidak seperti kemarin, yang banyak diam dari biasanya.


"Tak apa Dad, aku masih ingin bersama El, dia juga membutuhkan aku, Daddynya." Henry menolak dengan halus.


"Baiklah! Apa kau sudah menemui Tuan Wira? Tadi pagi Daddy bertemu dengannya, beliau menginginkan Adel pulang kerumahnya." Tuan Abimanyu bicara dengan hati-hati. Dia tak ingin ada salah faham diantara putranya dan Tuan Wira.


Henry terdiam sejenak, menghela nafas panjang sebelum berucap. "Aku akan melakukan apapun Dad, asalkan El bisa kembali seperti semula. Dokter bilang, trauma yang dialami El akan cepat pulih jika dia dikelilingi orang yang dia sayangi. Aku akan mengizinkan El bersamanya." Matanya berkaca-kaca, dadanya terasa sangat sesak saat ini.


"Dan aku akan memohon, agar Tuan Wira mengizinkan El bersama Adel. Meskipun aku harus merelakan semuanya, termasuk nyawaku sekalipun." Tuan Abimanyu memeluk putranya, dia sudah banyak berubah, sekarang lebih bersikap dewasa dan menghargai kasih sayang.


Kondisi Edo belum mengalami perubahan, dia dinyatakan koma, karena luka yang di alami mengenai organ vital dalam tubuhnya. Dia juga banyak kehilangan darah. Kondisiya sempat membaik, tetapi tak lama, dia dinyatakan kritis. Henry sering mengunjunginya. Bagaimanapun, dia adalah sahabatnya.


Seperti sekarang ini, Henry kembali mendatangi Edo. Sebelum mengantar El pulang bersama Adel. Dia sudah memutuskan, sementara waktu El akan ikut pulang bersama Adel. Atas persetujuan Tuan Wira nantinya, dan Henry akan selalu menyempatkan waktunya untuk menemui El.


Menggenggam erat tangan Edo, Henry sedikit menarik sudut bibirnya. Teringat dengan semua kenangan mereka sewaktu masih kecil. Edo adalah anak yang periang. "Do, aku tahu kamu mendengarku, beribu kata maafku mungkin tak akan bisa, untuk menebus semua kesalahanku padamu. Dan hari ini aku kembali meminta maaf padamu. Aku yang telah merusak semua kebahagiaanmu."


Buliran bening tak dapat lagi Henry bendung, membasahi tangan Edo yang ia genggam. Teringat akan pengorbanan Ibu Mirna, Metta dan sekarang, demi menyelamatkan putranya. Edo mengorbankan nyawanya. "Aku tak berguna, karena selalu menyusahkanmu." Edo membuka matanya perlahan, mendengar semua ucapan yang dilontarkan Henry. Membuat hatinya tergugah untuk bangun.


"Dasar cengeng, kau sudah menjadi Daddy, apa kau tak malu huh?" Henry memiringkan kepalanya. Edo si tengil sudah bangun. "Hah, syukurlah, aku pikir kau tak akan bangun." Dengan cepat Henry menyembunyikan air matanya. Padahal Edo sudah mengetahuinya.

__ADS_1


"Jadi kau mendoakanku menyusul Metta? Teman macam apa kau ini?" Henry berbunga-bunga, mendengar kata 'teman' yang diucapkan Edo. Itu berarti dia telah memaafkannya. "Yah kau benar, aku memang teman yang tak berguna." Edo menjadi raut memelas.


"Hahhh, berhentilah berpura-pura. Kau ini baru sadarkan diri. Aku akan memanggil dokter untuk memeriksamu." Henry hendak pergi, Edo mencegahnya. Memegang tangan Henry, dan kembali menatapnya. "Duduklah, aku tak apa." Henry menurut saja, lama mereka tak seakrab ini sebagai teman, sahabat, apapun itu.


"Aku yang bodoh, dan aku yang seharusnya minta maaf padamu. Bahkan karena keegoisanku, orang yang menyayangiku harus menderita karena ku. Terlebih aku menyalahkan mu atas kesalahan yang aku lakukan." Henry mendengarkan semua yang dikatakan Edo, tanpa ingin menyela atau menjawabnya.


"Ku mohon maafkan aku, aku sudah begitu banyak melakukan dosa padamu, pada anakmu, keluargamu dan calon ibu dari anakmu." Henry mengernyit, siapa yang Edo maksudkan? "Kau harus berterima kasih padanya, tanpanya aku mungkin tak akan bisa membuka hatiku." Edo sedikit tersenyum, mengingat pekataan Adel waktu itu.


"Tuan, kau bahkan ingin membunuh anak kecil yang tak berdosa? Bahkan dia tak tahu apapun kesalahan yang telah dia perbuat. Tataplah matanya, dia adalah anak dari wanita yang kau cintai selama ini. Jika kau membunuhnya, sama saja dengan kau tak pernah mencintainya."


"Dia wanita yang luar biasa, kau harus mengejarnya. Jika kau memang mencintainya, jangan sampai menyesal. Seperti yang pernah aku lakukan. Jangan mengulangi kesalahan yang sama, ketika dia pergi baru kau menyesalinya." Henry masih terdiam, benar yang dikatakan Edo, cintanya pada Metta terlambat dia sadari.


Ketika dia menyadari perasaanya, semuanya sudah terlambat, Metta lelah berjuang. Dan memilih pergi meninggalkannya. "Apa yang kau pikirkan bodoh? Cepat kejar dan miliki dia seutuhnya. Berjuanglah! Jadikan dia untukmu, hanya milikmu." Edo sudah lega karena mengungkapkan perasaanya selama ini. Dia tertekan, diselimuti perasaan bersalah yang tak berujung.


"Aku pergi dulu, dan kau harus berjanji padaku, untuk baik-baik saja. Aku akan memperjuangkannya." Henry begitu bersemangat untuk menemui Tuan Wira. Dan mengungkapkan keinginannya.


"Pergilah!"


TBC


TERIMA KASIH

__ADS_1


__ADS_2