Ibu Untuk Tuan Muda

Ibu Untuk Tuan Muda
S2-26


__ADS_3

Happy Reading


💐💐💐💐💐💐💐


perjalanan membutuhkan waktu kurang lebih 15 jam dengan pesawat. Tetapi bisa lebih singkat dengan menggunakan jet pribadi. Adel tertidur selama perjalanan, membuat Henry tak bosan menatap wajah teduh yang kini telah menjadi istrinya.


"Banyak hal yang telah kita lalui, apapun yang terjadi kedepannya, kuharap kita bisa melaluinya bersama." Henry mengecup kening Adel lama, sebelum akhirnya terlelap disamping istrinya.


Mereka tiba di London saat hari sudah gelap, itu berarti di Jakarta sudah tengah malam. Perbedaan waktu 7 jam lebih cepat di Indonesia, membuat Adel tak bisa menghubungi El. Untuk sekedar melepas rindu.


Henry memutuskan untuk mengunjungi London, tempat dia dibesarkan. Dia ingin memperlihatkan pada Adel kota bersejarah dalam hidupnya.


"Sayang akhirnya kita sampai disini." Henry mempersilahkan Adel masuk. Rumah dengan arsitektur klasik, perpaduan gaya eropa dan beberapa interior bergaya timur.


Sedikit pengetahuan, 0° lintang ataau disebut garis meridian ada di Greenwich. Posisi meridian utama, yang dilewati garis bujur 0° 0' 0', memang ada di Taman Greenwich, di London, Inggris. Penanda untuk lokasi ini terletak di Royal Observatory, bekas observatorium yang sekarang telah menjadi museum. Pada masa lampau, Royal Observatory memainkan peran utama dalam sejarah astronomi dan navigasi. Di mana juga terdapat teleskop bersejarah, Airy Transit Circle.


Di kota London, Inggris terdapat 4 musim. Di Inggris dan kawasan benua Eropa terbagi atas 4 musim, yaitu Spring (musim semi), Summer (musim panas), Autumn (musim gugur), dan Winter (musim dingin).


Saat ini sedang musim semi, anggap saja begitu ya. Padahal faktanya di bulan Januari ini sedang musim dingin disana. Bahkan suhu terendah yang pernah terjadi di kawasan Britania adalah -27°C pada 11 Februari 1985 di kota Grampian – Skotlandia. Bayangkan si manusia kutub sih mungkin sudah terbiasa, tetapi Mami Adel bisa-bisa menjadi bongkahan es disana.


"Dad, ini sangat indah." ucap Adel saat memasuki salah satu vila milik Ama.


"Kau suka?" Henry merangkul Adel dari samping.


"Ya sangat suka." Adel mengecup pipi sang suami sekilas, kemudian berlari untuk melihat lebih jauh bangunan yang menurutnya sangat sayang jika dilewatkan.


Henry hanya menggelengkan kepalanya, melihat tingkah Adel yang menurutnya lucu.


"Sayang, ini kamar kita." Henry memperlihatkan ruangan yang tak jauh berbeda dengan kamar yang ditempati di Jakarta.


"Ini terlihat sama dengan kamar kita."


"Yah, Ama yang melakukan itu, beliau berkata, jika aku merindukan Mommy dan Daddy ku. Aku bisa pergi kesini, dan seolah aku benar-benar seperti berada dirumah."


"Kenapa malah sedih? kita disini untuk bersenang-senang." Adel memeluk Henry dari belakang.


Henry membiarkan hal itu, dia sangat menikmati moment yang sangat jarang. Adel tak akan berinisiatif untuk memeluknya jika tak seperti ini.


Suara pintu diketuk, penjaga vila memberitahukan bahwa makan malam sudah siap. "Maaf Tuan, Nona Muda. makan malam sudah siap."


"Ah iya, kami akan segera kesana." sahut Henry tanpa melepaskan tangan Adel.


"Dad, siapa dia?" tanya Adel berbalik badan, sehingga mereka saling berhadapan.


"Dia yang menjaga vila ini. Namanya Bibi Moly."


"Tapi..."


"Yah, dia bisa bahasa Indonesia dengan lancar, karena selain merawat vila juga merupakan guru bahasa disini." Henry seolah mengerti apa yang ada di benak Adel.


Adel memebrsihkan diri di kamar mandi, begitupun Henry yang merasa tak nyaman seharian berada diperjalanan panjang.

__ADS_1


Mereka berdua makan malam dengan suasana romantis. Langit cerah dengan taburan bintang dilangit, serta bulan sabit yang menemani. Angin sejuk yang bertiup menambah suasana menjadi semakin syahdu.


"Ini makanan fovorit ku. Kau harus mencobanya sayang." Henry menyuapkan makanan yang paling dia rindukan. Terumma hasil olahan Bibi Moly yang tiada duanya. Fish and Chips, menu ikan dan keripik disajikan bersama kacang polong yang diberi garnish menawan.


"Hmmm, ini enak sekali." puji Adel, dia kembali menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


"Pelan-pelan sayang, kalau mau nambah masih ada loh." Henry tersenyum melihat Adel yang makan dengan rakusnya.


"Tapi ini sangat enak, delicious."


"Dad, kau tak makan?"


"Mau lagi?" Adel menggeleng, dia sudah kekenyangan.


"Kau ini makan seperti El." Henry mendekatkan diri, mengambil sisa makanan dibibir Adel dengan mulutnya.


"Dad, ih jorok." Adel menjauhkan tubuhnya.


"Ini adalah makanan terenak yang pernah aku makan." ucap Henry menggoda.


"Ih gombal." Henry membawa Adel dalam dekapannya. "Kebahagiaan ku sederhana, asalkan selalu bersama mu." Mereka menikmati malam indah yang seolah ikut merasakan kebahagiaan keduanya. Lama mereka diluar, mencurahkan semua yang ada dihati.


Dad, maaf aku belum bisa sepenuhnya membuka hatiku untuk mu. Padahal kau sangat baik padaku. Tapi aku masih saja membohongi mu.


Tak terasa buliran bening mengalir begitu saja dari kedua sudut matanya. "Sayang, ada apa? hmm." Henry menghapus jejak air mata diwajah cantik istrinya.


Adel hanya menggelengkan kepalanya, suaranya tercekat ditenggorokannya. Bahkan air matanya semakin deras membasahi pipinya. "Apa ada ucapan ku yang menyakiti mu?"


Adel kembali menggelengkan kepalanya, Henry mempererat pelukannya. Membiarkan Adel meluapkan kesedihannya. Henry mengusap pumggung Adel yang bergetar karena tangisnya.


"Kau ini bicara apa? Kamu istri ku, tentu saja aku akan memaafkan mu. Lagi pula dimataku kau tak pernah melakukan kesalahan apapun." Henry menangkup wajah Adel, mata mereka saling menatap.


Semakin lama semakin dekat, dan cup. Henry mengecup bibir Adel sekilas. Namun tak cukup sampai disana, Henry melahap bibir istrinya dengan rakus. Mengunci kepala Adel yang berusaha menjauh. Henry memperdalam ci**mannya.


"Hah hah,.." keduanya berusaha mengatur nafas mereka yang memburu.


"Dad, nanti ada yang lihat." Adel menundukkan kepalanya tersipu.


"Baiklah! kita lanjutkan didalam." Henry mengangkat tubuh Adel ala bridal style, Adel mengakungkan tangannya dileher Henry. Tatapannya tak berkedip pada rahang kokoh di atasnya.


Sebelah tangan Adel terulur, mengelus wajah tampan sang suami. "Suamiku." gumam Adel sangat pelan.


"Sabarlah sayang, sebentar lagi." Henry membuka pintu dengan kakinya, setelah meraih gagang pintu dengan sebelah tangannya. dan menutup nya dengan kakinya kembali. Tak lupa menyuruh Adel mengunci pintunya.


Henry merebahkan tubuh Adel perlahan, mengungkungnya dibawah tubuh atletisnya. Henry kembali melahap bibir chery yang selalu menggodanya. Adel tak setegang saat pertama kali, dia seolah terbuai akan permainan Henry.


Adel mulai membalas perlakuan Henry, membuat keduanya semakin bersemangat. "Ugh," lenguhan Adel membakar sang Jendral yang meronta ingin dilepaskan dari penjara.


Suasana semakin memanas, Henry menyusuri setiap lekuk tubuh Adel, tak lupa memberikan tanda disana. Tanpa terasa keduanya sudah polos, dan sang jendral siap menyerang. Selanjutnya terjadilah apa yang seharusnya terjadi antara pasangan yang sedang meneguk manisnya madu.


...--------------------...

__ADS_1


Henry terbangun lebih dulu, senyum tak memudar dari wajah tampannya. Apalagi saat mengingat kejadian panas tadi malam. Membuatnyabtak ingin jauh dari Adel, istrinya.


Tangan Henry terulur, menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah Adel. begitu teduh melihat orang yang dia sayangi terlelap dalam dekapannya. Meski sebelah tangannya terasa kebas karena digunakan Adel sebagai bantalnya.


"Selamat pagi istriku, terima kasih yelah bersedia menjadi bagian terpenting dari hidupku. Tetaplah disisiku, apapun yang terjadi nanti. Ku harap ini adalah yang terakhir untuk ku juga dirimu."


"Metta, kau pasti juga bahagia disana. Aku akan menebus semua kesalahan ku padamu dulu. Aku tak ingin lagi mengulangi kesalahan yang sama, dulu memang aku yang bodoh, terlambat menyadari perasaan ku. Dan saat aku menyadarinya, semua sudah terlambat." batin Henry tak melepas tatapannya dari Adel.


"Sekarang dia adalah malaikat yang dikirim Tuhan untukku, untuk anak kita. Bukan aku ingin melupakan mu, tetapi saat ini dia yang ada disisiku. Dan aku tak akan membiarkan dia tersakiti sedikit pun. Aku akan memberikan seluruh hidup dan mati ku untuk melindunginya."


"Mungkin aku harus berterima kasih padamu Metta. Berkat putramu aku bisa menemukan wanita sebaik dirinya." Henry kembali mengingat hal bodoh yang pernah dia lakukan hingga Adel merubah hidupnya dan putranya.


Henry mengecup kening Adel cukup lama. Membuat Adel terusik, dia mengerjapkan matanya, orang yang pertama dia lihat adalah suaminya.


"Morning kiss sayang." Henry mengecup bibir cherry yang membuatnya candu. Adel tak sempat menghindar, hanya bisa menikmati perlakuan suamimya.


"Hmmm, kau ini Dad, aku baru bangun." Adel mendengus.


"Memangnya kenapa? aku juga baru bangun."


"Aku belum sikat gigi, masih bau." Adel menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Yang penting aku suka." Henry kembali mengecupi wajah Adel dengan menahan kedua tangannya. Tentu saja Adel meronta ingin dilepaskan.


"Sayang, kau membangunkannya." Henry mendekatkan diri, sehingga Adel bisa merasakan sang jendral yang telah siap kembali bertempur.


"Tidak, tidak... semalam sudah." Adel berusaha menjauh, namun dia kalah cepat. Henry kembali mengungkungnya, membuat Adel hanya bisa pasrah. Dan pertempuran dipagi hari pun terjadi.


Adel masih mengerucutkan bibirnya, bahkan Henry tak bisa membiarkan dia mandi dengan tenang. Adel menatap pantulan dirinya dicermin. "Aaaaaaaa.... Daddddd..." Adel berteriak mengetahui banyak tanda merah dilehernya bahkan sebagian atas tubuhnya.


Henry segera berlari, melilitkan handuknya secara asal, bahkan rambutnya masih penuh dengan busa sampo. Dia sangat takut terjadi sesuatu dengan istrinya, untuk itu dia segera berlari keluar kamar mandi tanpa memikirkan apapun.


"Apa apa? kenapa berteriak?" ucap Henry setengah berlari.


"Ahahaha... Dad, apa air disini habis?" Adel malah menertawai suaminya.


"Ini semua karena mu. Ada apa sebenarnya?" Henry kembali bertanya.


"Lihat ini, hasil perbuatan mu." Adel menunjuk lehernya yang seperti habis diserang harimau.


"Oooh, aku kira ada apa." ucap Henry tanpa dosa.


"Kau keterlaluan, bagaimana aku keluar kalau begini."


"Tinggal ditutupi sayang." Henry malah menggoda Adel. "Atau mau aku tambah lagi?" dia malah semakin mendekati Adel.


"Gak, cepat mandi aku lapar." Adel berlari menjauh, membuat Henry terkekeh.


"Baiklah, tunggu sebentar sayang." Henry kembali ke kamar mandi. Melanjutkan acara mandinya yang tentunda.


TBC

__ADS_1


jangan lupa like komen dan vote ya.


TETIMA KASIH


__ADS_2