
Happy Reading
💐💐💐💐💐💐
Adel sudah dinyatakan sehat begitupun Baby Al. Hari ini keduanya sudah pulang ke rumah. Henry tak pernah meninggalkan istri dan anaknya. Ia memilih menunda pekerjaannya untuk mendampingi Adel.
Henry juga turut terbangun saat malam, jika Baby Al haus atau mengganti popoknya. Bagi Henry, ini adalah pengalaman pertamanya. Sangat berkesan, perasaannya bercampur menjadi satu. Bahagia, terharu juga sedih serta penyesalan akan perbuatannya pada El dulu.
El, maafkan keegoisan Daddy. Aku selalu menyalahkan mu atas semua yang terjadi sebelumnya. Sekarang Daddy mengerti, perjuangan seorang Ibu untuk memberikan kalian kehidupan baru. Tak cukup sampai melahirkan saja. Masih banyak fase yang harus di lalui sampai akhirnya kalian menemukan jalan kalian sendiri.
"Dad, Kau tak tidur lagi? Besok masih harus bekerja." tegur Adel. Ia memperhatikan suaminya melamun setelah membantunya menggantikan popok Al yang basah. Henry tak merasa jijik sedikitpun. Ia dengan senang hati melakukannya.
"Iya, Sayang. Kau tidurlah lebih dulu." Henry mengusap pucuk kepala istrinya. Mendaratkan sebuah ciuman hangat. Tak lupa pada putri kecilnya yang masih enggan melepaskan diri dari Mami Adel.
Henry menahan kantuk di kantor, karena malamnya harus terjaga. Baby Al semalam bisa terbangun beberapa kali untuk menyu** dan ganti popok. Ia tak setega itu membiarkan Adel mengerjakan semuanya sendiri. Terlebih, Adel pasti jiga lelah di siang hari. Selain itu, Henry juga ingin menebus semua kesalahannya yang lalu.
"Haih, katanya gak ngantuk. Tapi udah tidur aja." Adel membenarkan posisi tidur Henry. Henry terlelap dalam posisi duduk, bersandar pada sandaran tempat tidur dan bantal dipunggungnya.
Merasa terusik, Henry kembali terbangun. "Maaf, Dad. Membangunkan mu. Mari tidur lagi." Adel menepuk tempat disebelahnya. Baby Al sudah kembali tertidur di box bayinya. Adel memang sengaja membiarkan Al tidur di kamar mereka. Meski sudah menyiapkan kamar sendiri untuk Baby Al. Berhadapan dengan kamar El.
...----------------...
Semalaman sering terjaga dalam beberapa kali. Adel dan Henry masih bergelut di bawah selimut yang sama. Suara tangis Baby Al membawa Adel untuk segera melihatnya. "Hai, Baby Al, Sayangnya Mami. Ada apa hmm? Kau haus?" Adel segera menimang Baby Al dalam dekapannya. Tak lupa mengecek apakan popoknya sudah penuh atau belum.
"Hoaaaa... hoooaaaaaa...." Tangisan nyaring Baby Al juga mengusik di pendengaran Henry. Mengerjapkan matanya beberapa kali. Henry teelonjak saat melirik jam dinding di kamarnya.
"Sayang, Kau tak membangunkan ku?" Henry memijat pelipisnya yang terasa pening. Seminggu ini dirinya dan juga Adel kurang tidur.
__ADS_1
"Maaf, Dad. Aku juga baru terbangun." Tubuh Adel bergoyang karena menimang Baby Al. Rasa kantuk yang Henry rasakan menghilang begitu saja. Pemandangan yang ada di depan matanya seolah mengisi kembali semangat hidupnya.
Adel dengan telaten memberikan ASI untuk Baby Al. Sesekali ia juga bercelotah pada bayi yang belum mengerti. Hanya bisa mendengarkan namun belum merespon dengan baik. "Sayang, sudah kenyang?" Adel mengusap pelan hidung Baby Al.
"Dad, Kau lihat. Dia mirip sekali dengan El waktu bayi. Hanya bola matanya yang berbeda. Dan ini versi cewek." Adel terkekeh membayangkan El waktu masih bayi. Namun tidak dengan Henry, ia merasa sesuatu yang menusuk relung hatinya terdalam. Ia bahkan tak mengetahui perkembangan Baby El dulu.
Demi mengedepankan ego, Henry harus kehilangan setiap moment bahagianya bersama putra pertamanya. Melihat perubahan mimik wajah suaminya. Adel mendekatkan Baby Al padanya. "Tolong jaga El sebentar, Mami mau ke kamar mandi." Adel menaruh Baby Al dengan hati-hati, bayi itu tak tertidur. Ia membuka matanya, menatap Daddynya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Perlahan tangan Henry terangkat, namun ia urungkan kembali. Perlahan ia mulai menyentuh wajah halus yang masih merah. Matanya merah, berkaca-kaca.
Begitu bodohnya Aku yang dulu. Bagaimana bisa mengabaikan bayi yang tak bersalah untuk melampiaskan kekesalan ku?
Adel tak mengganggu moment Henry dan putri kecilnya. Henry begitu serius menatap Baby Al. Ia bahkan tak mendengar ketukan pintu dari luar kamarnya. "Mami, lama nih. El kan mau lihat Baby Al." El nyelonong masuk, bocah itu sudah rapi dengan seragam sekolahnya.
"Baby Al, Daddyyy... Kakak El mau cium." Begitu pintu di buka, El segera berlari ke atas ranjang. Menemui Daddy dan Baby Al disana.
"Huum... Tapi Kakak El, mau cium Baby Al. Muachh..." El mengecup wajah adiknya dengan perlahan. Ia juga mengusap bekas kecupannya.
Baby Al malah menguap. Membuat El mendengus. "Hihh.. Dicium malah ngantuk. Emangnya Kakak ini obat tidur?"
"Kakak El, Baby Al kan masih bayi. Jadi belum mengerti. Baby Al mengantuk, karena semalam ia sering terbangun." Adel duduk di sebelahnya. Baby Al menatap mereka bertiga bergantian. Seolah ingin mengatakan sesuatu. Namun ia hanya bisa menatap dan menangis.
"Uuummmm... Kakak gemesss...." El mengapit wajah Al dengan kedua tangannya. Sehingga bayi itu menangis.
"Kakak El, harus lembut sama adik Al." tegur Henry, Henry memberikan pengertian pada El perlahan. Sedangkan Adel menenangkan Baby Al dengan menimangnya.
"Dad, dulu El bayi, apa nangis juga?" pertanyaan El menjadikan tubuh Henry terasa kaku. Bahkan untuk menjawabnya, mulutnya seperti terkunci.
__ADS_1
"Semua bayi sama Kakak El, dulu El bayi juga begitu. Iya kan, Dad?"
"Ah, ya. Benar yang Mami katakan." Henry menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Melirik Adel yang masih menimang si kecil Al.
Jangan mengatakan apapun yang akan menyakiti perasaan El.
Begitulah arti tatapan Adel. Ia tak ingin mengetahui yang sebenarnya. Hal itu akan membuat hubungan keduanya renggang. "Kakak El, buku sekolah sudah siap semua?" Adel mengalihkan pembicaraan.
"Udah, Mam. Tapi El mau dibantuin Mami, kerjain PR lagi."
"Kemari, Kakak El. Bagaimana kalau dibantuinya sama Daddy? Mau gak?" Adel menepuk sofa di sebelahnya.
"Emmmpt..." El mengangguk, namun raut kekecewaan dari wajahnya tak bisa ia sembunyikan. "Kakak El, kesekolah dulu. Bye Baby Al." El mencium adik bayinya dengan gemas. Ia kembali membangunkan Baby Al, yang baru saja tertidur dalam dekapan Mami Adel.
"Kakak El, mau gak di antar Daddy?" El mangangguk dengan antusias. "Oke. Daddy mandi dulu. Kakak El, tunggu di bawah ya."
"Yeay. Jangan lama-lama, Dad. Nanti El terlambat, El gak mau di hukum." ucapnya seraya mengecup Daddynya. El hanya mau mengecup sekilas. Tetapi tak ingin jika wajahnya dikecup. Dia selalu beralasan jika ia malu. Sudah menjadi Kakak.
"Mami gak dapat sun juga nih?"
"Muaaachhh.... Muachhh... Baby Al." Ia kembali mengerjai adik bayinya. El segera berlari ke luar kamar. Adel hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah jahil El. Ia kembali menimang putri kecilnya. Namun Baby Al masih menangis.
"Kita bersih-bersih dulu, Sayang." Adel membersihkan tubuh Baby Al dengan sangat hati-hati. Ternyata memang benar, bayi itu merasa tak nyaman dengan dirinya sendiri. Setelah dibersihkan, Adel membawanya ke balkon kamar. Berjemur sebentar, karena sebelumnya Baby Al hampir terkena penyakit kuning pada bayi. Sehingga ia harus di hangatkan dibawah sinar matahari pagi selama beberapa menit.
Note: Bukan di jemur ya. Kalau di jemur nanti yang ada kering. Hehehe... Dan juga gak baik jika terlalu lama.
TERIMA KASIH
__ADS_1