
Happy Reading
💐💐💐💐💐💐
Perjalanan berikutnya, Paris Perancis. Kota mode dunia setelah London. Paris adalah kota tujuan turis paling populer di dunia, dengan 30 juta pengunjung asing per tahun. Terdapat sejumlah marka tanah terkenal di antara berbagai atraksinya, bersama dengan institusi terkenal dan taman terpopuler di dunia.
Diantaranya menara eiffel yang masuk dalam struktur terkenal di dunia. Tak heran jika Adel dan Henry, tak ingin melewatkan kesempatan untuk menjelajah menara besi yang dibangun di Champ de Mars di tepi Sungai Seine, Paris. Dan beberapa tempat lainnya, seperti Museum Louvre atau Musée du Louvre, Arc de Triomphe atau Gerbang Kemenangan.
Bahkan bangunan yang mereka tempati menyuguhkan pemandangan indah menara eiffel. Yah kamar itu menghadap langsung dimenara eiffel, menara tertinggi saat dibangun.
"Sayang, ngapain disini? hmm." Henry memeluk istrinya dari belakang, membuat Adel memalingkan wajahnya, seketika bertemu dengan wajah Henry yang sangat dekat dengannya. Adel segera menjauhkan wajahnya, kembali menikmati indahnya bangunan yang menjulang tinggi dihadapannya.
"Menikmati pemandangan." jawab Adel sekenanya.
"Yah pemandangan disini sangat indah." ucap Henry yang menatap lain ketempat dua gundukan indah Adel.
"Kau benar, andaikan aku bisa membawa El kemari, pasti lebih menyenangkan." Henry mendengus, selalu saja El yang ada dipikiran Adel.
"Ya lain kali aku ajak kalian kesini." Henry merapatkan tubuhnya, sore ini Henry tak ingin kemanapun, karena dia sudah meniapkan makan malam romantis di bawah indahnya cahaya lampu menara eiffel dimalam hari.
"Dad, lepas."Adel meronta, ingin dilepaskan.
"Biarkan seperti ini sebentar."Henry mendekapnya semakin erat, mengendus aroma tubuh Adel yang menjadi candu baginya.
"Bersiaplah! aku akan mengajak istri cantik ku jalan-jalan." ucapnya setelah puas menikmati indahnya sore bersama sang istri.
"Hmm, kau juga Dad." Adel membiarkan Henry diluar, angin sore semakin menggelitik. Meskipun sudah masuk musim semi, suhu disana 11°C hingga 17°C, gak pake pendingin sudah dingin pasti ya. Tetapi disiang hari bisa juga mencapai 28°C seperti musim panas.
Henry menepati janjinya, membawa Adel untuk berkeliling. Melihat indahnya kota Paris di malam hari. "Sayang tunggu disini sebentar, jangan kemana-mana." Henry menjauhkan tubuhnya, menemui seseorang yang entah siapa.
Adel merasa kagum dengan indahnya malam disini. Dia sedikit memundurkan tubuhnya saat ada seorang pelayan restorannyang lewat didepannya. "Nona tidak apa-apa?" tanya orang itu.
"Iya, terima kasih sudah menolong saya." ucap Adel membetulkan pakaiannya, semakin malam menjadi semakin dingin, Adel lupa tak membawa mantel hangatnya.
__ADS_1
"Pakailah! disini mulai dingin." ucap orang itu, yang tak lain adalah Rey.
"Kak Rey, kau disini?" tanya Adel mempertajam penglihatannya yang silau akan lampu dihadapannya.
"Ya ini aku, apa kabar?" Rey memakaikan mantel hangat pada Adel.
"Baik, Kakak sendiri?"
"Seperti yang kau lihat." seperti biasa, Rey selalu lembut padanya, bahkan lensung pipi yang selalu menghiasi wajahnya tak memudar saat Adel bertemu dengannya.
"Sedang apa Kak Rey disini?" Adel kembali bertanya.
"Liburan." jawabnya singkat.
"Oh ya, sendiri aja nih?"
"Sebenarnya aku ada pertemuan dengan kolega, dia seorang disainer ternama. Dan kami ada janji temu disini." Kedua orang itu terlibat canda tawa, Adel dipersilahkan duduk dimeja Rey yang tak jauh dari sana. Kebetulan orang yang ditunggu Rey belum datang.
Namun ada sepasang mata yang terus mengawasi mereka. Dia tak lain adalah Henry, suami Adel. Henry mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras menahan amarah.
"Bagus ya, aku baru berpaling sebentar, sekarang kau sudah tertawa senang bersamanya " gerutu Henry, dia mendekati kedua orang yang saling melempar candaan.
"Iya Dad, ini Kak Rey kami tak sengaja bertemu..." Henry tak mengindahkan ucapan Adel, dia segera menarik Adel dengan paksa.
"Dad, sakit.." Adel meronta, Rey tak tinggal diam dia mengejar Adel dan Henry.
"Tuan tunggu, ini salah paham." Rey sedikit berlari mengejar mereka.
Henry menghempaskan tangan Adel, dia juga melepas mantel yang Adel kenakan secara paksa. "Dia istriku, mau apapun terserah padaku." Henry melempar mantel itu secara kasar.
"Saya tau itu, tolong jangan kasar seperti ini, ini salah saya." Rey berusaha menjelaskan, tetapi Henry tak ingin mendengarkan. Henry memakaikan mantel yang dia kenakan ditubuh Adel.
"Bukan urusan mu."
"Tuan ma...." Rey tak bisa lagi turut campur, dia tak ingin kesalah pahaman semakin meluas.
__ADS_1
Maaf Yasmine, aku membuat mu dalam kesulitan. Dan tak ada yang bisa aku lakukan untuk mu.
Rey sudah mengetahui semuanya, bahwa Adel sudah menikah dengan Henry. Tetapi dia tak menyangka bisa bertemu Adel disini, semuanya serba kebetulan. Namun dia menyesal, lebih baik dia tak bertemu Adel jika kejadiannya akan seperti ini.
"Kita pulang." Henry membawa Adel dengan lembut, tak kasar seperti tadi. Mood nya tak lagi baik, laparnya hilang hanya kemarahan yang mendomunasi. Bahkan makan malam yang digadang-gadang romantis hancur begitu saja. Ambyar.
"Tapi, katanya mau makan..."
"Cari tempat lain, disini gak ada makanan yang enak." Henry memberi kode pada Bejo untuk membereskan semuanya.
Yah, selama liburan ini, Bejo dan kawanannya yang dan beberapa koneksi yang mengamankan liburan Henry. Tanpa sepengetahuan Adel tentunya. Karena Adel tak ingin mencolok dengan kehadiran para ajudan.
Henry membanting pintu kamarnya, membuat Adel ketakutan, dia tak pernah melihat Henry semarah ini padanya. Henry marah pada dirinya sendiri, karena meninggalkan Adel sendirian tadi. Seharusnya dia membiarkan Adel selalu menempel padanya, sehingga kejadian ini tak perlu terjadi.
"Dad, maaf." Adel memeluknya dari belakang, membuat Henry sedikit meredakan emosinya.
Henry berusaha mengatur nafasnya, untuk meredam amarahnya. Bagaimanapun ini kesalahannya yang membiarkan Adel seorang diri.
"Aku tak akan mengulanginya lagi." Adel terisak dipunggung sang suami, Membuat Henry semakin merasa bersalah.
"Aku tak menyalahkan mu." Henry membalikkan badan, meraup wajahnya kasar. Henry tak bisa melihat Adel menangis, itu membuatnya ikut sakit.
"Aku yang harus minta maaf." Henry mengulurkan tangannya untuk menghapus jejak air mata diwajah cantik sang istri.
"Benaran gak marah lagi?" Adel mendongakkan wajahnya, menatap wajah sang suami.
"Ya, maaf seharusnya aku tak meninggalkan mu sendiri tadi." Henry menarik sudut bibirnya keatas membentu lengkungan.
"Aku tak sengaja ber...." telunjuk Henry berada dibibir Adel, memberi isyarat Adel untuk diam.
"Sudahlah, jangan bahas itu lagi. Kamu memang harus dihukum." Henry mengangkat tubuh istrinya keatas ranjang. Merebahkannya perlahan, selanjutnya kalian bayangkan sendiri apa yang terjadi selanjutnya.
Hanya benda mati yang menjadi saksi indahnya malam yang mereka berdua lalui bersama. Bejo sudah mengatur makan malam dibalkon kamar yang mereka tempati. Tentunya setelah berperang butuh asupan gizi yang cukup. Ditemani temaram lampu dan indah nya kota Paris dimalam hari. Terutama menara Eiffel yang memancarkan cahayabpaling terang diantara semuanya.
TBC
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya ya.
TERIMA KASIH