
Happy Reading
💐💐💐💐💐💐
"Apa ada yang ingin kamu jelaskan sayang?" ucap Henry pelan namun penuh penekanan.
Adel tak berani mengangkat wajahnya, dia benar-benar ketakutan. "Apa secepat ini dia tau tentang kebohongan ku?" ucap Adel dalam hati.
"Eng-enggak ada." ucap Adel sangat pelan.
"Baiklah, kita kesini hanya untuk memastikan kesehatan mu. Kita akan pergi berlibur, jadi harus melampirkan tes kesehatan." ucap Henry santai, dia benar-benar pandai menutupi kemarahan di depan semua orang.
"Mari Nyonya." Dua orang dokter itu membawa Adel keruang pemeriksaan, Dokter Alvin menunggu diluar. Cukup lama mereka menunggu, Henry duduk sambil menopamg dagunya sendiri. Membayangkan hal yang tidak-tidak.
"Tenanglah! semua akan baik-baik saja." Alvin menepuk bahu Henry, membantu menenangkan Henry yang berperang dengan pemikirannya masing-masing.
"Dad, aku sudah selesai, apa kau tidak diperiksa juga?" tanya Adel dengan wajah lega, setidaknya dia tak menjelaskan hal apapun pada suaminya.
"Bagaimana dok?" tanya Henry, dia langsung berdiri, mengabaikan Adel disampingnya.
"Mari bicara diruangan saya." Dokter Alvin memimpin jalan, diikuti Henry dan Adel. Serta kedua orang dokter wanita dibelakangnya.
"Kondisi istri Anda baik-baik saja. Anda tak perlu cemas, hal yang Anda keluhkan biasa terjadi pada seseorang yang lama tidak berhubungan. Terlebih mungkin Nyonya Adel dalam kondisi tegang dan kurang rileks. Untuk kedepannya, Anda bis melakukannya dengan lebih lembut." ucap salah satu dokter kandungan.
Henry merasa lega, karena apa yang ditakutkan tak terjadi. "Baik, terima kasih."
"Kalian berdua bisa kembali bekerja." ucap Dokter Alvin pada dua orang dokter kandungan. Keduanya pamit untuk kembali melanjutkan tugasnya.
Begitupin Henry yang menggandeng tangan Adel dengan wajah berbinar. Adel ikut tersenyum, karena Henry tak lagi marah padanya.
Berbeda dengan kedua orang dokter wanita, yang baru saja keluar dari ruangan kepala rumah sakit, Dokter Alvin. "Aku takut, bagaimana kalau kita ketahuan berbohong?" ucap seorang dari mereka.
"Hanya kita berdua yang tahu, lagi pula Nyonya Adel yang menjamin keselamatam dan pekerjaan kita." ucap seorang lainnya.
Flash Back On
"Dokter saya tau ini hanyabalasan supaya saya diperiksa. Tetapi saya ingin memgatakan sesuatu yang penting." Kedua dokter itu saling melirik, kemudian mengangguk.
"Saya baru pasang IUD sebulan yang lalu, memang sampai sekarang masih terasa nyeri. Tetapi saya punya alasan sendiri, pertama karena sebelumnya saya pernah ada masalah dengan kehamilan sebelumnya. Kedua saya membutuhkan waktu untuk memulihkan trauma dari pasca caesar."
"Jadi saya mohon dengan sangat, tolong bantu saya, saya hanya tidak ingin membuat suami saya cemas tentang keadaan saya." ucap Adel memohon.
"Tapi kami hanya menjalankan tugas. Kami tak mungkin berbohong, terlebih pekerjaan kami taruhannya."
"Saya mohon, berika alasan apapun yang masuk akal padanya." ucap Adel memelas.
"Saya jaminannya, saya tidak akan membawa nama Anda berdua. Saya sendiri yamg akan menjelaskan pada suami saya. Dan saya juga akam memberikan kompensasi untuk kalian."
"Tapi kami tak berani."
"Saya mohon, saya harus bekerja, dan mengurus balita. Saya mohon." Adel kembali memohon.
"Baiklah! tapi Anda harus menjelaskan kepada suami Anda nanti."
"Iya, saya yang akan melakukannya."
Maaf Dad, aku belum siap. Aku takut kejadian sebelumnya terulang lagi. Aku belum sanggup jika harus kembali kehilangan.
"Baiklah! tetapi Anda harus segera kembali jika keluhan yang Anda rasakan tak kunjung membaik dalam satu bulan kedepan." ucap dokter itu memperingatkan.
__ADS_1
"Baik Dok, terima kasih banyak." Adel berkaca-kaca, dia sedih harus membohongi suami dan keluarganya.
Flash Back Off
Henry menuju HS Group dengan wajah ceria, setelah mengantarkan Adel, perasaanya benar-benar lega. Ternyata semua itu hanya ketakutannya saja. Semua itu tak terbukti.
"Ahem, yang lagi bahagia." ledek Arga yang baru saja keluar dari ruangannya. Dia mendapati Henry yang berjalan sambil senyum-senyum sendiri.
"Iya dong! makanya buruan kawin biar kamu ngerasain." Henry membuka pintu ruangannya dan menutupnya tanpa menunggu Arga.
"Nikah dulu kali." ucap Arga dibelakangnya.
"Ya itu maksud ku."
"Memang Kakak Ipar ku punya sejuta pesona." puji Arga membayangkan wajah Adel.
"Hei, jangan mesum." Henry melempar gulungan tisu pada Arga.
"Kamu yang mesum, aku hanya kagum padanya. Dia bisa membuat orang tertawa sendiri, bisa juga membuat orang seketika muram."
"Hahaha... itulah indahnya cinta." Henry menopang dagunya dengan kedua tangan bersandar dimeja kerjanya.
"Makan tuh cinta, dulu aja gensinya selangit...."
Henry menarik telinga Arga, membuatnya mengaduh kesakitan. "Berani mengatai ku? kau kutuk jadi bayi lagi kamu."
"Lah enak jadi bayi, imut-imut seperti El." Arga menjulurkan lidahnya.
"Hah, percuma ngomong sama kamu." Henry melepaskan telinga Arga.
"Apa agenda ku hari ini?" tanya Henry dengan wajah serius, dia menemukan kembali semangatnya.
Keduanya berkutat pada pekerjaan yang menguras energi. Seharian jadwalnya penuh dengan meeting dan rapat dengan orang-orang penting.
Ditengah kesibukannya, Henry menyempatkan diri menghubungi Adel yang tak kalah sibuknya. Adel harus memastikan semuanya berjalan dengan lancar sebelum dia kembali mengambil cuti minggu depan.
Nathan sudah mengatur semuanya, dia juga memajukan beberapa jadwal Adel. Agar nantinya tak terlalu kuwalahan saat Adel tidak ada, meskipun Tuan Wira terkadang membantu. Tetapi Nathan harus bisa mengandalkan dirinya sendiri.
Sebenarnya Henry sudah melarang Adel bekerja setelah menikah, tetapi Adel tak bisa begitu saja melepas tanggung jawabnya. Terlebih Eyang telah mempercayainya. Membuat Adel harus bekerja keras, untuk terus memajukan Wiranata Corporation.
...----------------...
Satu minggu berlalu, tak terasa besok adalah hari keberangkatan Adel dan Henry pergi berlibur. Bulan madu yang tertunda katanya.
"Ada apa? hmm." kenapa kamu gak bersemangat gitu?" Henry memeperhatikan Adel yang termenung dibalkon kamarnya.
"Dad, apa kita tak bisa membawa El?" tanya Adel pelan. Henry duduk disebelah Adel, menyandarkan kepala sang istri di dada bidangnya.
"Sayang kita kan mau bulan madu, honey moon. Kalau mengajak El sama saja kita gak bisa punya waktu berdua." Henry membelai surai panjang Adel.
"Tapi aku gak bisa jauh darinya, terlebih satu minggu kita disana." Adel berkaca-kaca, membayangkan satu minggubtak bertemu si bocah gembul.
"Kalau kita kesana, terus siapa yang menjaga El?"
"Wulan, dia juga ikut kalau El ikut." Henry mendesah frustasi.
"Sekalian aja diajak semua orang dimansion." Henry mendengus kesal.
"Ide bagus Dad." Wajah Adel berbinar. "Kita bisa menikmati liburan bersama keluarga, pasti sangat menyenangkan."
__ADS_1
"Oke, lain kali kita atur waktu lagi, supaya bisa liburan bersama. Tapi sekarang lain, Arga harus mengurus semuanya disini. Selama aku gak ada, Dia yang akan membantu Daddy, dan ada Wulan yang menjaga El. Ada Mommy dan Ama juga."
Wajah Adel kembali muram, tetapi sekarang ini El sudah terbiasa bersama Wulan. Bocah itu mulai mengerti jika diberi tahu. Tetapi tak jarang Adel membawanya bekerja saat pekerjaannya senggang.
Ya kali honye moon bawa si bocah gembul. Yang ada aku gak akan bisa berduaan sama kamu, dia akan terus merengek Mami, Mami dan Mami.
Dengan terpaksa, Adel mengiyakan. Benar yang dikatakan Henry, mereka perlu quality time untuk berdua. Untuk membangun ikatan diantara keduanya agar lebih dekat lagi.
Henry dan Adel berangkat pagi-pagi. Adel benar-benar berat meninggalkan El, tetapi itu juga untuk melatih El. Supaya terbiasa dengan orang lain.
"Bye sayang, Mami kerja dulu ya." Adel menghadiahkan banyak kecupan diwajah El.
"Bye Mami, Ti ati ya." ucapnya polos, Wulan yang membisikkan kalimat itu ditelinga El.
"Iya sayang, kamu baik-baik ya dirumah. Jangan rewel, nurut sama Mama, sama Oma." Adel tak juga melepaskan pelukannya.
"Yes Mam, El tan pintal. El nuyut cama Mama."
"Anak pintar, Daddy pergi dulu ya. Dahhh."
"Dahh Daddyyy... Dah Mamiii..." El melambaikan tangannya.
"Iya sayang." Adel kembali mencium kedua pipi gembul El.
"Jaga El dengan baik Lan, kalau ada apa-apa langsung hubungi aku." Adel menahan genangan dikedua sudut matanya.
"Iya-iya bawel, sudah sana berangkat. Jangan lupa oleh-olehnya."
"Iya, minta apa?"
"Ponakan baru." teriak Wulan menjauh membawa El pergi. Kalau tidak, Adel pasti gak akan berangkat.
Wajah Adel seketika memanas, Henry hanya terkekeh melihat wajah Adel yang bersemu merah.
"Mom, Dad, Ama, tolong jaga El ya." ucap Adel.
"Iya, kamu ini sudah seperti mau berangkat TKW aja, kalian kan mau senang-senang malah sedih gitu." Nyonya Amel memeluk menantunya.
"Kami berangkat dulu, semuanya kita pamit." ucap Henry merangkul Adel untuk memasuki mobil yang telah disiapkan.
"Huuhuuu... El, jangan rewel ya." tangis Adel pecah, Henry membawanya dalam dekapannya. Dia juga sedih meninggalkan El, tetapi tak akan lama. Lagi pula Henry sudah terbiasa berpisah lama dengan El. Seperti saat dirinya menjalani pengobatan tangannya.
Tidak seperti Adel, dia jarang sekali jauh dari El. Membuat ikatan batin keduanya lebih erat. Benar-benar seperti ibu dan anak kandung.
Adel tak mengindahkan Henry yang terus berceramah untuknya, bahkan baju Henry sebagian basah karena air matanya. Hingga matanya sembab dan hidungnya memerah, Adel baru merasa lega setelah menumpahkan kesedihannya.
"Sudah puas?" tanya Henry yang melihat wajah Adel sembab. Adel hanya menganggukkan kepalanya.
"Hahaha.. lihatlah wajah istri cantik ku sekarang seperti badut." Henry menertawakan Adel, membuatnya menutup wajahnya dengan telapak tangannya.
"Katanya cantik, tapi seperti badut." Adel mengerucutkan bibirnya.
"Hahaha... kamu lebih menggemaskan dari pada El." Henry tak bisa menghentikan tawanya, membuat Adel tambah kesal.
Adel menutupi wajahnya menggunakan masker dan kacamata hitam. Henry masih terkekeh meskipun mereka sudah tiba dibandara. Mereka berjalan menuju heli pribadi yang terparkir ditempat khusus. Membuat keduanya tak perlu mengantri untuk masuk kedalamnya.
TBC
Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Terus ikuti yah. Jangan lupa bayar thor dengan like komen dan vote sebanyak-banyaknya.
__ADS_1
TERIMA KASIH