
Terima kasih yang masih setia menanti Baby El. Dan semua dukungan yang telah diberikan
Tetap dukung Baby El yah readers, dengan Like Komen dan Vote.
Happy Reading
💐💐💐💐💐💐💐
"Bertahanlah Tante!!! Sebentar lagi kita sampai dirumah sakit." Ucap Henry, dengan air mata yang terus berhamburan.
"Ta-tante, ti-tip E-do ya." Tante Mirna memaksakan senyumnya, Menahan sakit yang luar biasa disekujur tubuhnya. Bahkan kemeja putih Henry kini ikut berwarna darah, namun dia tak lagi memperdulikannya.
"Iya Tante harus bertahan ya." Arga membuka suara."
"Ka-kalian ha-harus jan-ji, ber-teman de-ngan E-do." Suara Ibu Mirna semakin lirih dan terbata.
"Tante, jangan banyak bicara dulu ya, Tante harus tenang, kita sudah sampai di rumah sakit. Tante pasti selamat, Tante harus kuat." Henry terus menyemangati Tante Mirna, yang sudah dia anggap ibu nya sendiri.
Ibu Mirna sudah ada di brankar dorong pasien, mereka membawanya di ruang ICU. Namun Henry dan Arga harus menunggu diluar. Henry pun harus menjamani pengobatan.
Dalam perjalanan ke rumah sakit, Arga sempat menghubungi Edo. Tentu saja dia sangat terkejut, baru saja ibunya menelepon, menanyakan kue yang diinginkannya.
"Edo tolong tenanglah, beliau sedang ditangani di dalam. Kita harus mendoakan kesembuhan beliau." Ucap Arga menenangkan Edo.
Edo segera menuju rumah sakit, dengan kecepatan tinggi, Edo yang masih berusia 15 tahun mengendarai mobil dengan ugal-ugalan. Dia tak memperdulikan apapun, yang ada dikepalanya hanya ibunya.
"Kau bilang aku harus tenang hah?"Bentak Edo. "Ibu ku sedang sekarat di dalam sana. Dan semua itu karena dia." Tunjuknya pada Henry.
Henry baru saja dijahit bagian lengan yang robek, dia juga sudah berganti pakaian. Orang suruhan Daddynya yang membawakannya.
"Maafkan aku Do, ini semua adalah kecelakaan." Henry menunduk, ia merasa sangat bersalah. Bermacam andai kata muncul dibenaknya. Tetapi semua sudah terjadi, andai kata tak akan mengubah keadaan.
"Maaf mu tidak menyembuhkan ibuku." Tubuh Edo meluruh, pada sandaran kursi yang ia duduki.
"Do, jangan seperti ini, ibumu pasti tak akan senang, jika mengetahui putranya tak bisa menjaga emosinya." Arga terus berusaha menenangkan Edo.
1 jam lamanya mereka menunggu. Edo sibuk mondar mandir, seperti setrikaan baju. Berbagai prasangka berkecamuk dalam otaknya.
__ADS_1
Pintu ruangan dibuka, bersama dengan datangnya ayah Edo. Tuan Abimanyu sudah dikabari, oleh orang kepercayaanya. Saat itu juga dia meninggalkan meeting pentingnya, dan memilih kembali ke Jakarta.
"Bagaimana keadaanya dok?" Tanya Edo dan ayahnya bersamaan. Henry merapat bersama Arga.
"Mohon maaf, pasien tidak dapat kami selamatkan. Beliau terlalu banyak kehilangan darah, dan luka serius di bagian kepalanya. Membuatnya sulit bertahan, karena sebagian otak kecilnya mengalami pembengkakan, dan cairan darah merembas."
"Dengan sangat menyesal, kami meminta maaf, dan turut berbela sungkawa. Semoga Bapak dan adik semua diberi ketabahan dan kesabaran." Ucap dokter yang menangani Ibu Mirna.
Tes. Cairan bening lolos begitu saja. "Dokter pasti bercanda kan?" Edo mengguncang bahu sang dokter.
"Maaf, saya harus menangani pasien lain." Bagi dokter mengalami hal seperti ini merupakan kegagalan baginya. Melihat tangis keluarga pasien adalah hal yang paling dia benci. Namun semua kehendak Tuhan, tak ada satupun yang mampu mengubahnya.
"Ayahhhh."
"Edoooo"
Ayah dan anak itu saling berpelukan, meluapkan kesedihan yang mereka rasakan. Begitupun dengan dua pemuda yang sedari tadi memperhatikan apa yang dokter sampaikan.
"Ga, aku seorang pembunuh." Henry jatuh terduduk dilantai.
"Aku benci diriku Ga, aku tak berguna." Henry menjambak rambutnya sendiri.
"Tolong tenanglah!! Edo membutuhkan semangat dari kita, kita harus selalu mendukungnya, seperti yang Tante Mirna katakan."
"Aku tak sanggup melihatnya Ga, bayangan Tante Mirna selalu menghantuiku. Semua karena diriku Ga, aku berdosa." Henry terus menyalahkan dirinya sendiri.
Bahkan saat pemakaman Ibu Mirna, Henry tak menghadirinya. Dia mengurung diri dikamarnya, dan selalu menyalahkan dirinya. Atas semua yang terjadi pada Edo dan keluarganya. Hal itu justru membuat Edo semakin marah.
Hubungan Henry dan Edo pun merenggang, begitupun Tuan Adi dan Tuan Abimanyu. Padahal dulunya mereka adalah sahabat baik. Tuan Abimanyu berulang kali meminta maaf pada Tuan Adi dan juga Edo. Mereka memaafkannya, tetapi siapa yang tahu isi hati seseorang.
Arga masih berteman dengan Edo, meskipun ketika ada Henry, Edo selalu menghidar. Begitupun Henry, dia tak sanggup menatap wajah Edo, karena ia akan terus dihantui rasa bersalahnya.
Ternyata setelah diselidiki lebih lanjut, kecelakaan itu adalah sebuah kesengajaan. Target utamanya ialah Henry, tetapi Ibu Mirna yang menjadi korban.
Tuan Abimanyu segera mengusut hingga tuntas masalah ini. Dia berhasil menemukan orang dibalik kecelakaan itu, dia adalah koleganya sendiri. Yang tak terima, karena HS Group memutuskan kotrak perjanjian mereka. Banyak kecurangan yang orang itu lakukan.
Sejak saat itu, Henry selalu diawasi, kemanapun dia pergi pasti ada pengawal bayangan yang membuntutinya, begitupun Arga. Dia adalah mata- mata berjalan untuknya.
__ADS_1
...----------------...
"Tuan, Apa Anda mendengarkanku?" Arga menepuk bahu Tuan Abimanyu dengan pelan.
"Ahhh yaaa" Tuan Abimanyu berjingkat, dia melempar bolpoin yang dipegangnya.
"Maaf jika mengagetkan Anda, tetapi ini adalah hasil dari penyelidikan kami." Nathan menyodorkan map berwarna merah.
"Disana ada bukti kecurangan, dan siapa saja yang menerima aliran dana darinya." Nathan berhasil meretas data dari alamat IP tempo hari.
"Ya Tuan, dan orang itu sudah digenggaman kita, masuk dalam perangkap yang kita buat. Bahkan akan termakan umpannya sendiri." Arga menimpali.
"Ya, aku percaya pada kalian, apa Henry sudah mengetahuinya?"
"Saya sudah menjelaskan semuanya dengan rinci Tuan. Jadi Anda tak perlu kuatir tentang hal itu." Arga menjawab dengan tegas.
Ternyata memang benar, semua ada kaitannya satu sama lain, dengan kejadian foto dan juga kekacauan yang terjadi. Dia adalah orang yang sama, dengan orang yang menyuruh Rena.
Tuan Abimanyu mengepalkan tangannya erat, giginya gemeletuk menahan amarah. "Berani sekali dia bermain-main denganku!!" desisnya.
Arga dan Nathan menatap ngeri pada Tuan Abimanyu. Seperti harimau yang siap menerkam mangsanya.
Tuan, wajahmu sangat menyeramkan, pantas saja kau dijuluki Macan Tidur, oleh putramu sendiri. Ternyata seperti inilah ketika macam itu bangun. Sangat mengerikan. Nathan membatin.
Arga sedikit terbiasa, karena sudah mengetahui perangai Tuan sekaligus ayah angkatnya. Dia adalah orang yang penyayang dan tak menilai orang dari derajatnya.
Dia orang yang lembut dan berwibawa, terutama didepan seluruh karyawan dan koleganya.
Tetapi dia juga bisa menjadi sangat menakutkan, ketika apa yang menjadi miliknya terusik. Dia tak akan segan membanting lawan hingga ketitik terlemahnya. Bahkan jika perlu orang itu tak akan bisa bangkit lagi.
TBC
Yang mau intip Baby El di igeh boleh lohh...
@keynan7127
Terima Kasih
__ADS_1