
Hai readers, author ucapkan banyak terima kasih atas semua dukungan yang diberikan.
Yang belum semoga berkenan meninggalkan jejak like komen dan vote yah.
Terus ikuti keseruan Baby El.
Happy Reading
💐💐💐💐💐💐💐
Hari ulang tahun Ansell, atau Baby El, akhirnya tiba. Pagi ini semua pelayan sibuk, mempersiapkan hidangan dan memastikan tak ada yang kurang dalam acara ini.
Tuan Abimanyu dan Henry hanya mengundang teman terdekat mereka. Dokter Alvin, dokter Wulan, Edo dan beberapa kerabat.
Ibu Sari juga hadir, atas undangan Nyonya Amel secara langsung. Bahkan kehadirannya seperti kejutan untuk Adel, dia tidak tahu mengenai kedatangan ibunya.
Baby El sudah mengenakan setelan tuxedo bayi berwarna biru dan putih, senada dengan Henry. Begitupun Adel dan Rena, mereka mengenakan gaun berwarna biru muda. Yang telah dipersiapkan oleh Nyonya Amel.
Sedangkan Tuan Abimanyu menggunakan baju warna navy, Nyonya Amel dan Ama dengan gaun senada, warna navy. Semua pelayan dengan kemeja putih dan celana serta rok warna biru tua.
Yah tema acara ini adalah warna biru, atas ide dari Adel. Hari ini Henry benar benar menuruti perkataan Ama, agar dia menjalankan peran seorang ayah.
Jangan ditanya tentang perasaanya, sedih, bahagia, terharu bercampur menjadi satu. Tetapi dia berusaha meyakinkan pada semua orang, bahwa dirinya baik-baik saja.
Begitupun Adel, dia sudah diwanti-wanti Ama, bahwa dia harus akur dengan Henry. Demi kebahagiaan El, seolah mereka adalah keluarga bahagia, yang saling menyayangi satu sama lain.
"Kau tampan sekali sayang." ucap Adel. Dia sedang memangku El, saat ini dirinya tengah dirias. Awalnya Adel menolak, tapi apalah dayanya, Ama dan Nyonya Amel sedikit memaksa.
"Mammmm mammmma..." oceh El. Dia memperhatikan Adel dicermin.
"Anda juga sangat cantik Nyonya." puji sang perias.
"Semua wanita itu cantik, Pak, eh..."
"Heiii saya sudah cantik begini, harus panggil incesss." ucapnya centil. Adel mengernyit, tetapi dia hanya menurut. Yah, periasnya tipe tangan gemulai gituuu.
"Ini atas kerja keras Anda sesss." Adel mengikuti orang itu.
"Anda memang sudah cantik, saya tinggal memoles sedikit."
"Yups, aku juga pangling Del." ucap Rena di depan pintu.
"Kau juga cantik Ren." katanya tersipu malu.
"Berikan El padaku, kau gantilah pakaian mu." Rena mengajak El bermain.
Adel segera ke kamar mandi, berganti dengan gaun yang dipersiapkan Nyonya Amel, sedangkan si tulang lunak diminta keluar kamar.
"Haiii cucu Oma, kau tampan sekali." puji Nyonya Amel. Ansell hanya sibuk dengan mainannya, nengabaikan ucapan Oma nya.
__ADS_1
"Dimana Adel?" tanyanya.
"Sedang beganti gaaauun...."
"Ya Tuhan, kau sangat cantik Del." puji Nyonya Amel, dia tak menyangka bahwa dihadapannya adalah Adel. Biasanya Adel jarang make up hanya bedak tipis dan lipbalm agar tak terlihat pucat.
"Ahhh Nyonya juga cantik." Adel terlihat menunduk.
"Bagaimana Nyonya?" tanya sang perias.
"Yah, tak sia sia aku membayarmu."
"Sebentar, aku belum selesai." dia menyuruh Adel kembali duduk, ia harus menata rambut Adel. Agar terlihat rapi dan lebih menawan.
"Rena, Adel, segeralah turun, aku akan menemui Ama dulu."
"Baik Nyah." jawab Rena, Adel hanya mengangguk.
Setelah selesai dirias, mereka bertiga menuju taman belakang, tempat acara ulang tahun El.
Adel menggendong El, Rena di samping kanan El. Semua orang terpana, tak terkecuali si manusia kutub. Dia mematung ditempatnya, tak berkedip memandang Adel. Hari ini Adel terlihat sangat berbeda. Begitupun Arga dan Dokter Alvin.
Ya Tuhan, dia sangat cantik. Arga
Bidadari, satu kata untuknya, sempurna. Dokter Alvin
"Ehmmm." deheman Tuan Abimanyu menyadarkan mereka.
"Kau ingat tugasmu Son?" bisik Tuan Abimanyu.
"Lalu aku harus apa?" Henry mengernyit.
"Dasar anak bodoh, jemput dia kemari." lirik Nyonya Amel.
Ama segera mendorong tubuh Henry, sambil mengedipkan matanya. Namun tubuh kekar itu tak bergerak sedikitpun. Hanya sedikit berguncang. Mau tak mau Henry melangkah maju, dia mengikuti perintah mommy dan Ama nya.
"Tuan mau apa kemari?" tanya Adel menautkan kedua alisnya.
"Tentu saja membawa El, kau jangan terlalu percaya diri." ucap Henry datar.
"Tuan Anda sangat tampan." gumam Rena, tetapi Henry mendengarnya.
"Tentu saja, ketampanan El menurun dari ku." ucap Henry sombong.
"Tetapi lebih tampan El." lanjut Rena, Adel hanya terkikik. Wajah Henry yang semula sombong menjadi mengkerutkan alis, Adel menahan tawanya, dia senang melihat wajah Henry, lucu sekali.
Rena segera pergi menuju tempat Ama duduk, dia sangat haus, dia langsung menyambar minum di samping tempat duduk Ama.
__ADS_1
"Dasar manusia kutub, sombongnya selangit." gerutu Adel.
"Heiii kau mengataiku?" Henry menatap tajam Adel.
"Ahaaahaaa.. mana berani Tuan." Adel tersenyum paksa.
Henry segera mengambil El dari gendongan Adel, tetapi tangan El memeganng helai rambut Adel yang tergerai.
"Aaawww." teriak Adel, dia kesakitan memegangi rambutnya. Henry segera menoleh, tepat dihadapan Adel yang mendongakkan kepala.
Deggg deggg duggg
Jantung keduanya berpacu lebih cepat, cukup lama mereka dalam posisi itu. Hingga El menyentuh wajah Adel.
Keduanya terlihat gugup, saling menjauhkan diri, El sudah melepaskan cekalan pada rambut Adel. Henry segera meninggalkan Adel, namun langkahnya terhenti, saat suara cempreng memanggilnya.
"Tuan, kau sangat tampan." teriak pemilik suara itu. Semua orang disana menatap Gaby, si pemilik suara cempreng.
"Siapa yang mengundangnya Dad?" bisik Nyonya Amel.
"Ntahlah, ku kira dia sudah punah Mom." sahut Tuan Abimanyu. Mereka berdua sangat tak nyaman dengan kehadiran Gaby, begitupun Ama, dia hanya memandang sinis pada nya.
"Hmmmm..." Henry merapatkan diri pada Adel. Namun Adel reflek menjauh, Henry memeluk Adel dengan tangan kirinya. Karena tangan kanannya menggendong El.
"Diamlah!, atau aku akan melemparmu kekolam." bisik Henry.
Adel merasa sangat risih, tetapi dia juga tak ingin menjadi tontonan orang banyak. "Haii nona, Anda datang." ucap Henry menyeringai.
"Dia siapa?" tunjuk Gaby pada Adel. Wajahnya menyiratkan ketidaksukaan.
"Dia siapa El?" tanyanya pada bayi tampan itu.
"Mammmm mammmmi..." sahut El.
"Anda dengar Nona, dia Mommy El." Henry berlalu, tanpa melepas pelukannya pada Adel. Mereka berjalan beriringan, layaknya sebuah keluarga bahagia.
Ama memberi dua jempol pada cucunya itu, begitupun Tuan Abimanyu mengedipkan matanya. Arga dan Dokter Alvin saling melempar pandangan, mereka benar- benar bingung dengan susana ini.
Sejak kapan Henry bisa bersikap baik pada Adel? Dan bisa selembut itu pada Ansell, putranya. Mungkin itulah yang ada dibenak kedua orang itu.
Sementara Gaby mendengus, dia menghentakkan kakinya. Dengan wajah memerah menahan kesal.
"Kau datang Nona?" tanya Edo, dia baru saja sampai. Gaby menoleh, dia menatap Edo dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Drama akan segera dimulai." Edo menyeringai. Kemudian menabrak bahu Gaby, dan meninggalkannya disana. Edo menuju tempat acara, menemui keluarga Syahreza.
TBC
Terima kasih
__ADS_1